Mengambil Resiko Terendah

Waktu terus berputar dan tak mengenal kata kompromi. Manusia yang beruntung adalah mereka yang pandai memanfaatkan waktu dengan baik dan benar. Mereka yang tahu kapan dan apa yang harus mereka lakukan. Karena hidup ini adalah pilihan. Tentunya hanya orang yang dapat memillh dengan tepat saja yang benar-benar sukses menjalani kehidupannya. Tak takut dan tak ragu untuk memutuskan problem yang dihadapi.

Menentukan pilihan bukanlah perkara mudah. Pilihan yang tepat takkan pernah terwujud tanpa keahlian mengukur dan menimbang konsekuensi dan segala resikonya. Sebab, resiko akan selalu ada di setiap gerak langkah manusia. Tak ada satu pun dari mereka yang akan tebebas dari resiko terhadap apa yang mereka pilih. Mereka yang tak pernah menyadarinya akan merugi. Sebaliknya, mereka yang memahami dan mengerti keniscayaan ini merupakan manusia pilihan.

Menentukan pilihan bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai hal yang biasa dan lumrah. Tak perlu mesti begini atau harus begitu. Menganggap mudah semua yang terjadi pada dirinya. Mungkin mereka juga ada benarnya, toh pilihan itu juga akan jatuh, meski dia tak pernah memilihnya. Namun, hal itu juga berarti membiarkan dirinya untuk menerima yang bukan pilihannya sendiri. Karena pada dasarnya, saat dia tak mau memilih, itulah pilihannya. Memilih untuk tidak memilih. Membiarkan dunia yang menentukan gerak langkahnya.

“Bekerjalah dengan cerdas,” demikian orang bijak mengatakan. Artinya, kecerdasan dan kemampuan dalam memilih sesuatu memiliki korelasi penting. Setiap pilihan harus dilandasi pertimbangan matang agar hasil yang diperoleh sesuai yang diharapkan. Mereka yang bekerja dengan hanya mengandalkan kekuatan flsik, tanpa melibatkan kecerdasan otak, maka hasil yang diperoleh nyaris mustahil sesuai yang mereka harapkan.

Berbicara soal pilihan, teringat cerita tiga ekor ikan yang memberikan pelajaran berharga. Alkisah, hiduplah tiga ekor ikan yang sama-sama ingin menikmati indahnya laut yang diterangi rembulan. Ikan pertama naik ke permukaan laut dan bersandar di semak bebatuan. Pilihan lokasi ini bukan tanpa pertimbangan. Jika tiba-tiba muncul nelayan yang ingin menangkap ikan, sulit bagi nelayan tersebut untuk menangkapnya karena tertutup batu karang.

Tak mau kalah dengan ikan pertama, ikan yang kedua juga naik ke permukaan laut, namun dengan pilihan lokasi berbeda. Ia tidak ikut bersembunyi di balik bebatuan layaknya ikan yang pertama. Ia memilih berada di tengah laut yang lebih luas untuk menikmati indahnya malam. Pertimbangan ikan kedua ini, andai saja ada nelayan yang datang, maka ia akan berlari secepat mungkin untuk menghindarinya. Ia menikmati indahnya rembulan sambil tetap waspada kalau-kalau ada bahaya yang mendekatinya.

Sedangkan ikan yang ketiga merasa gengsi jika tak dapat menikmati indahnya rembulan dari permukaan laut. Sebagaimana kedua temannya, ikan ketiga ini juga naik ke permukaan laut dan memilih lokasi sebagaimana pilihan ikan kedua, di tengah laut. Hanya saja, ia tak mempunyai persiapan layaknya ikan kedua yang selalu waspada akan bahaya yang bisa datang sewaktu-waktu. Ikan ketiga ini sejatinya sadar betul akan bahaya yang mengintai setiap waktu. Namun, karakternya yang memang selalu menganggap gampang segala persoalan, ia cenderung kurang waspada.

Setelah sekian lama mereka menikmati temaram indah sang bulan, apa yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga. Si ikan pertama, karena tempatnya yang sulit dijangkau oleh nelayan, ia tenang-tenang saja. Seandainya pun nelayan mendekat, toh ia dengan mudah bersembunyi di balik batu-batu karang. Sementara si ikan kedua, langsung berenang secepat kilat begitu melihat ada nelayan yang datang. Lokasi yang memudahkannya melarikan diri dari sergapan maut si nelayan.

Berbeda dengan kedua temannya, nasib naas menimpa si ikan ketiga. Sifat ceroboh dan tidak waspada menjadikan ikan ketiga ini terjerat jaring sang nelayan. Ia hanya bergerak tak berdaya di tengah lilitan jaring sang nelayan dan pasrah akan nasib buruk yang menimpanya. Beberapa waktu kemudian, ia tak lagi menggerakkan tubuhnya. Kesedihan mendalam membuatnya malas menggerakkan tubuhnya.

Melihat ikan yang terjerat di jaringnya tak bergerak, sang nelayan menyangka ikan itu sudah mati. Dengan ceroboh sang nelayan melepas ikan tersebut tanpa menyadari akibatnya. Sementara si ikan yang merasa mendapat peluang untuk menyelamatkan diri, tanpa pikir panjang langsung berenang secepat ia mampu. Akhirnya, ia lolos dari jeratan maut yang sudah di depan mata.

Dari cerita tersebut, banyak pelajaran berharga yang dapat kita petik. Orang yang sangat hati-hati dalam menentukan pilihan, ia akan dengan tenang menghadapi masalah. Karena dia telah mengambil (merencanakan) langkah ke dua, ke tiga, atau bahkan lebih, sebelum langkah pertama dijalankan. Dengan persiapan sematang ini, maka sedikit sekali kemungkinan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Karena itu, sebelum menentukan pilihan, perlu kiranya terlebih dahulu kita memilah dan milih resiko terkecil dari setiap tindakan yang kita lakukan. Seperti ikan pertama, ia sangat berhati-hati dalam menetukan pilihannya. Ia tak mau mengambil resiko terlalu besar hanya untuk menikmati keindahan malam itu. Ikan kedua juga termasuk pandai dalam menghitung dan mengukur resiko yang bakal ia hadapi. Sehingga tak kaget lagi ketika ia menghadapi kenyataan yang ada.

Yang terbilang ceroboh hanya ikan ketiga, ia hanya berpikir untuk bersenang-senang saja tanpa menimbang kemungkinan yang sangat memilukan akan terjadi. Padahal semua itu bisa berakibat fatal pada kelangsungan hidupnya. Bisa kita bayangkan, seandainya ia tidak lolos dari nelayan itu, seandainya nelayan itu lebih hati-hati memegang buruannya, maka kemungkinan utamanya ia akan menjadi santapan sang nelayan. Berarti pula cerita kehidupannya sudah berakhir.

Tapi di balik kecerobohannya itu, tentunya juga banyak memberi ia pelajaran akan pentingnya kehati-hatian. Bila saja resikonya bukan kematian, tentunya akan lebih baik dari pada hanya berdiam diri tak melakukan apa-apa. Sebab, berdiam diri takkan pernah melahirkan pengalaman yang membawa dia untuk memahami hidup.

Akhirnya, tak perlu disimpulkan, tentu jelas mana yang terbaik, hanya perlu sedikit direnungkan lagi. Jika kita memilih seperti ikan pertama, yang pasti tak akan menemui tantangan yang membuat hidup ini lebih bersemangat. Ikan kedua, maka tentunya juga membahayakan, mengingat ancaman dan kemungkinan akan terjadi mengerikan. Ikan ketiga lebih mengerikan. Bahaya di belakangnya lebih nyata. Dan mungkin masih ada satu lagi ikan yang tak mau menikmati kehidupan. Mungkin kematian malah lebih baik baginya. Mana yang harus dipilih? Up to you!

 

Penulis: Dedy Abd. Ghony

HIMASAL Cabang Pagu-Kayen

STRUKTUR PERSONALIA PENGURUS
HIMPUNAN ALUMNI SANTRI LIRBOYO (HIMASAL)
ANAK CABANG PAGU – KAYEN KEDIRI
Masa Khidmah : 2015-2020

I. PELINDUNG

1. KH. Mahmud
2. K. M. Marwan Khotib

II. PENASEHAT

1. K. A. Bahruddin
2. KH. Drs. Hamzah Abdul Ghoni
3. K. M. Zainuddin
4. KH. Ishomuddin
5. K. Mashudi

III. DEWAN HARIAN

Ketua : Bpk. Zainal Fanani
Wakil Ketua : Bpk. Habibulloh
Sekretaris : Bpk. Amiruddin
Wakil Sekretaris : Bpk. M. Nuruddin
Bendahara : Bpk. Koirul anam

IV. DEPARTEMEN – DEPARTEEN

A. Penerangan dan Dakwah
1. Bpk. Imam Hanafi
2. Bpk. Irfan Ali

B. Pendidikan dan Kader
1. Bpk. Imam Fakhruddin
2. Bpk. Musta’in

C. Ekonomi dan Keuangan
1. Bpk. Syuhada’
2. Bpk. Ulin Nuha

D. Organisasi
1. Bpk. Afif Mahbub
2. Bpk. Fathurrohman

E. Luar Negeri
1. Bpk. Isyhari

F. Bahtsul Masa-il
1. Bpk. Daimul Ihsan S.ag.
2. Bpk. Saiful Anwar
3. Bpk M. Bahrul Ulum

G. Falak
1. Bpk. Abdul Halim
2. Bpk. Imam Bahruddin

H. Ta’lif Wan Nasr
1. Bpk. Huda
2. Bpk. Wahidin

HIMASAL Cabang Provinsi Riau

STRUKTUR PERSONALIA PENGURUS
HIMPUNAN ALUMNI SANTRI LIRBOYO (HIMASAL)
CABANG HIMASAL PROVINSI RIAU
Priode : 2015-2020

I. DEWAN PENASEHAT

1. KH. Maksudi Jamsari
2. KH. Musyani Jamsari
3. KH. Muhaimin
4. KH. Arif
5. KH. Rohmat H. Nawawi
6. KH. Tawaburrohim
7. KH. Misbahuddin
8. Drs. H. M. Syahid
9. Bpk. Tulkhah Ubaidillah, S.Ag

II. DEWAN HARIAN

Ketua Umum : Bpk. Slamet Bahri, S.Pdi
Ketua Satu : Bpk. Sulaiman Basyir, S.Pdi
Ketua Dua : Bpk. M. Salis, S.Pdi

Sekretaris Umum : Bpk. Mudhofir, SH.i
Sekretaris Satu : Bpk. Rohmat
Sekretaris Dua : Bpk. Komaruddin

Bendahara Umum : Bpk. Abdul Munir
Bendahara Satu : Bpk. Asyrofi, SE.i
Bendahara Dua : Bpk. Binuri

III. DEPARTEMEN-DEPARTEMEN

A. Penerangan dan Dakwah
1. KH. Abu Yazid, SH. M.Pdi
2. Bpk. Sirojul Munir, M.Ag
3. Bpk. M. Zulqornain

B. Pendidikan dan Kader
1. Bpk. Mizan Fadholi, S.IP
2. Bpk. Syaiful Arifin
3. Bpk. Syuhada’

C. Ekonomi dan Keuangan
1. Bpk. M. Tohir
2. Syafi’i Basyir
3. Bpk. Fuad Hasyim
4. Bpk. M. Da’im

D. Keorganisasian
1. Bpk. Tafsiruddin, M.Pdi
2. Bpk. Sulthon Hidayat
3. Bpk. Bukhori

E. Luar Negeri
1. Bpk. H. Salim
2. Bpk. M. Mahfud
3. Bpk. Abdussyakur, S.Pdi

F. Lajnah Batshul Masa-Il
1. KH. Hamdani
2. Bpk. Abdul Kholiq
3. Bpk. Abdul Mu’id

G. Tim Falak
1. KH. Muhaimin
2. KH. Syahrudin
3. Bpk. Muhtar, S.Pd

H. Ta’lif Wan Nashr
1. H. Arif Rezasyah, Lc
2. Bpk. M. Misro
3. Bpk. Amiruddin, S.Ag

HIMASAL Cabang Majalengka

STRUKTUR PERSONALIA PENGURUS
HIMPUNAN ALUMNI SANTRI LIRBOYO (HIMASAL)
CABANG MAJALENGKA
Masa Khidmah : 2015-2020

I. DEWAN PENASEHAT

KETUA : KH. Drs. Saeful Uyun
Sekretaris : KH. Hidayat Tamami
Anggota : KH. Abdillah Ismail, K. Sholehuddin M.Ag, KH. Abdullah Masduqi, KH. Masrur Jaelani M.Ag, KH. Oo Abdul Qodir, K. Mahrus Sukatma, KH. M. Nursalim, K. M. Nasihuddin, K. Eri Busaeri

II. DEWAN PENGURUS HARIAN

Ketua Umum : Bpk. Amin Sefullah S.Pd.I
Wakil Ketua Satu : K. Ahmad Sujai
Wakil Ketua dua : Bpk. Hasan Bakri S.Pd.I
Sekretaris : Bpk. Moch. Ikhwan
Wakil Sekretaris Satu : Bpk. M. Irfan S.Pd.I
Wakil Sekretais Dua : Bpk. Ust. Baban Bayanullah
Bendahara : Bpk. Nunu Sholehuddin
Wakil Bendahara Satu : Bpk. Oong Sya’roni
Wakil Bendahara Dua : Bpk. Asep Banin

III. DEPARTEMEN – DEPARTEMEN

A. Penerangan dan Dakwah

1. Bpk. Wawan Ali Ridwah
2. Bpk. Asep Rosyadi
3. Bpk. Totong Khoirul Ihsan
4. Bpk. Abd. Basyir

B. Pendidikan Dan Kader

1. Bpk. Ade Mu’min S.Pd.I
2. Bpk. Asep Saefur Rohman
3. Ust. Asep M.Pd.I

C. Departemen Ke Organisasian

1. Bpk. Yayat Syarif Hidayat
2. Bpk. Mu’adz Asikin
3. Bpk. Asep Saefuddin
4. Bpk. Bahrul Ulum

D. Departemen Keuangan Dan Ekonomi

1. Bpk. Enceng Nasruddin
2. Bpk. Husen
3. Bpk. Hasan Bashri
4. Bpk. Munawir
5. Bpk. Hamam

E. Lajnah Bahtsul Masa’il

1. KH. Cecep Jamal Khoanji
2. Hamamam
3. Hamim Muhaimin

Saat Cinta Tersandung Kehendak Orang Tua

Kisah cinta Laila-Majnun dan Siti Nurbaya adalah salah satu kisah cinta mengharukan sepanjang sejarah kehidupan manusia yang sampai saat ini tetap dikenang. Kisah percintaan mereka harus berakhir dengan air mata dan penderitaan yang mendalam saat kehendak orang tua menjadi batu penghalang, sehingga meski hati Laila hanya untuk Qois, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa mencinta tanpa bisa memiliki.

Tak bisa dibayangkan jika kisah percintaan semacam itu harus terulang kembali dalam pentas kehidupan modern saat ini. Tetapi, apa yang terjadi pada masa silam bukan hal yang mustahil akan terulang di masa mendatang. Sebab, kehidupan ini menyimpan beragam teka-teki yang penuh misteri, tak hanya kebahagiaan namun juga ada penderitaan.

Cinta tak direstui tak ubahnya disuguhi buah si malakama “dimakan bapak mati, tidak di makan ibu yang mati”. Sebuah pilihan yang benar-benar membingungkan dan tak bisa ditentukan. Dalam kondisi seperti ini seseorang akan serba salah dalam menentukan pilihannya, antara mengikuti kehendak cintanya ataukah kehendak orang tuanya, yang pasti akan ada hati yang tersakiti apapun yang dipilih.

Namun, yang mesti menjadi catatan dalam keadaan seperti ini adalah bahwa tak ada yang mengharuskan seseorang tunduk dan patuh pada kehendak hatinya. Secara norma agama dan sosial mengikuti kehendak orang tua adalah suatu keharusan bagi seorang anak, kepatuhan kepada kedua orang tua adalah perintah agama yang semua orang mengetahuinya karena ridhollah fii ridhol walidain, ridha Allah terletak pada ridha kedua orang tua. Sehingga, tidak heran ketika ada sahabat Nabi yang hendak ikut serta berperang, Nabi tidak langsung mempersilahkannya sebelum ia mendapat restu dari orang tuanya, “Wahai, Rasulullah… Aku ingin ikut berperang bersamamu,” pinta sahabat Jahimah kepada Nabi. “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Tanya Nabi. “Iya..” jawabnya. “Kalau begitu pulanglah, mintalah izin kepadanya karena surga berada di telapak kaki keduanya.” (HR. Bukhori)

Hadis di atas bisa dipahami bahwa kalau fardu kifayah saja harus ada izin dari orang tua, apalagi yang mubah. Maka dari sini adalah sebuah keharusan dan sebagai bentuk etika yang luhur seorang anak haruslah meminta doa dan restu orang tua sebelum mengambil keputusan untuk menempuh hidup baru. Doa restu kedua orang tua mutlak dibutuhkan untuk mengiringi perjalanan hidup mengarungi bahtera rumah tangga.

Sekarang, saat orang tua tidak merestui dikarenakan pertimbangan yang matang, maka tidak ada alasan bagi seorang anak untuk tidak mengikuti kehendak mereka. Sebab sejatinya tidak ada orang tua yang tak ingin melihat anaknya tersenyum bahagia, hanya saja mereka juga tak ingin melihat anaknya terjerumus pada derita disebabkan pilihan hatinya yang salah, sebab kesalahan sedetik memilih pasangan hidup maka penderitaannya akan dirasakan selamanya. Disinilah mengapa orang tua terkadang enggan memberikan doa restu.

Hati memang tak bisa dikompromi. Saat hati sudah terlanjur cinta, sangat sulit untuk bisa dilupa. Namun demikian, pilihan hati masih bisa dicari dan diganti meski hal itu butuh waktu yang amat panjang dan menyulitkan, takkan selamanya derita itu ada, inna ma’al usri yusroo. Namun halnya dengan orang tua, apapun yang terjadi, ibu tetaplah dia yang melahirkan dan membesarkan kita dan ayah tetaplah dia yang banting tulang demi menjaga keberlangsungan hidup kita, maka akankah hanya karena sedetik kehadiran orang lain, air susu ibu selama bertahun-tahun akan dibalas dengan air tuba?][

 

Penulis: Musthofa

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah