Memegang Teguh Ajaran Salaf

Oleh: KH. Abdullah Khafabihi Mahrus

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ يُفْتَتَحُ بِحَمْدِهِ كُلُّ رِسَالَةٍ وَمَقَالَةٍ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ نالْمُصْطَفَى صَاحِبِ النُّبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ. وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْهَادِيْنَ مِنَ الضَّلَالَةِ. أَمَّا بَعْدُ…

Pembaca yang Arif….

Dalam kesempatan kali ini, marilah kita telaah lebih dalam lagi ajaran-ajaran Salaf as Shalih. Mereka adalah para Sahabat dan Tabi’in, orang-orang yang hidup pada abad satu dan dua Hijriyah, begitu yang dituturkan al Ghazali dalam Iljam al Awam. Ada satu maqalah:

فَكُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ # وَكُلُّ شَرٍّ فِي اتِّبَاعِ مَنْ خَلَفَ

“Segala kebaikan adalah dengan cara mengikuti orang-orang terdahulu, sedangkan segala kejelekan adalah inovasi atau buatan orang-orang belakangan.”

Dari maqalah ini, yang diutarakan oleh Syekh Ibrahim al Bajuri dalam Jauharah al Tauhid, coba kita renungi, mengapa beliau berpendapat begitu? Telah kita ketahui bahwa Nabi Saw. diutus untuk menyampaikan risalah dari Allah kepada umatnya, tidak ada satupun yang disembunyikan. Maka sudah barang tentu orang-orang yang menerima pertama kali adalah yang setia mendampingi Beliau setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Merekalah para sahabat-sahabat Nabi Saw., orang-orang dekatnaya yang menyaksikan langsung turunnya wahyu. Siang dan malam bersama Nabi Saw., tiada lain untuk menerima dan dapat memahami apa yang diwahyukan Allah kepada Nabi Saw. kemudian diamalkan, setelah itu diwariskan kepada generasi sesudahnya. Mereka adalah orang-orang yang oleh Rasul Saw. diperintah mendengar sabdanya, memahami, menghafal, dan mengajarkannya agar tetap lestari ila yaumi al qiyamah. Rasul Saw. bersabda:

نَضَّرَ اللّٰهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا شَيْئاً، فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ (رواه أحمد والترمذي وابن حبان)

“Allah akan menjadikan baik seseorang yang mendengar sesuatu (hadis) dariku (Nabi Saw.) lalu menyampaikannya sebagaimana ketika ia mendengarnya.”

Pembacayang bijak..

Salaf al Shalih adalah cermin dimana Islam masih dalam kemurniannya, tidak ada aliran-aliran baru yang muncul pada saat itu. Mereka masih berpegang teguh kepada uswah dan akidah terdahulunya, karena menerima secara langsung, pewaris pertama ilmu Islam. Mereka juga gigih dalam memperjuangkan Islam agar tetap bersatu tidak terpecah belah, mengahadang segala kemungkinan yang sesat dan menyesatkan umat. Salaf al Shalih adalah generasi emas umat ini, lebih-lebih pada zaman Shahabat. Ini sesuai dengan hadis Rasul Saw.:

خَيْرُ أُمَّتِيْ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ (رواه الترمذي)

“Sebaik-baiknya umat adalah (mereka yang hidup) pada masaku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya.”

Pembaca yang setia…

Sedikit kita tengok pandangan Salaf dalam menyikapi ayat-ayat mutasyabih yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah yang telah mereka terima, seperti ayat:

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ (طه 5)

“(Tuhan) Yang Maha Pemurah Yang bersemayam di atas ‘Arsy.”

Dan ayat:

يَدُ اللَّهِ فَوْقَ أَيْدِيهِمْ (الفتح 10)

“Tangan Allah di atas tangan mereka.”

Mereka tidak banyak bertanya atau mengerahkan kemampuan untuk mencoba menalar dan menafsirinya dengan akal mereka. Yang mereka lakukan hanyanlah iman dan tashdiq, yakin bahwa apa yang disampaikah Nabi Saw. tentang sifat-sifat Allah adalah benar adanya, dan tiada keraguan sedikitpun di dalamnya. Mengakui akan keterbatasan akalnya memaham ayat tersebut. Mereka pasrah sepenuhnya bahwa Allah dan Rasul-Nya mengerti dan paham maksud dari ayat tersebut tanpa ada perasaan mangganjal di dalam hati. Mereka tidak bertanya, karena mereka mengerti, bertanya tentang hal tersebut adalah bid’ah. Anehnya, ke-bid’ah-an itu sekarang mewabah. Di berbagai forum dan kesempatan, hal tersebut menjadi bahan diskusi yang lagi nge-trend. Mereka asik membahas siapa? Apa? Dan di mana Tuhan? Apakah Tuhan memiliki tangan sebagaimana disebutkan ayat di atas?

Pembaca yang berbahagia…

Pada suatu ketika, Imam Malik pernah disodori pertanyaan oleh seorang laki-laki tentang ayat di atas. Beliau langsung menundukkan kepalanya sejenak, kemudian berkata:

الْإِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوْلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ وَالْإِيْمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ وَمَا أَظُنُّكَ إِلَّا ضَالًّا

“Istiwa’ (menguasai) itu sudah maklum, tapi gambaran tentang itu yang tidak bisa dijangkau akal. Mengimaninya adalah wajib, dan menanyakannya adalah bid’ah. Sungguh saya tidak punya persangkaan padamu kecuali kamu adalah orang yang tersesat.”

Dari sini, bisa kita ketahui betapa berhati-hatinya orang Salaf dalam urusan tauhid, apalagi yang berkaitan langsung dengan dzat Allah dan sifat-Nya. Meraka tidak memberi peluang sedikitpun kepada akal membuat model baru karena itu semua akan membuat mereka sesat sekaligus menyesatkan.

Nabi Saw. bersabda:

اتَّبِعُوْا وَلَا تَبْتَدِعُوْا وَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ لِمَا ابْتَدَعُوْا فِيْ دِيْنِهِمْ وَتَرَكُوْا سُنَنَ أَنْبِيَائِهِمْ وَقَالُوْا بِأَرَائِهِمْ فَضَلُّوْا وَأَضَلُّوْا

“Patuhlah kalian semua, jangan membuat model baru. Kerusakan orang-orang sebelum kamu disebabkan mereka membuat bid’ah (model baru) dalam agama mereka dan meninggalkan ajaran-ajaran Nabi mereka. Akhirnya mereka tersesat dan menyesatkan.”

Pembaca yang arif…

Maka dari itu, mari kita kokohkan akidah kita, sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh aliran-aliran baru yang sekarang mewabah di mana-mana. Kita pegang ajaran salaf, kita jadikan beliau-beliau anutan dalam segala hal, baik itu budi luhur, ibadah, dan akidahnya. Insya Allah kita akan selamat dunia dan akhirat, karena mereka adalah generasi terdekat dengan Nabi Saw., pewaris pertama. Mereka sangat berhati-hati semasa hidupnya, kapan dan di mana mereka melangkah, di situlah mereka memegang teguh apa yang telah di wariskan oleh Nabi Saw. Sebab itu semua tidak lain adalah perintah Rasul Saw., seperti dalam sabdanya:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Berpeganglah atas sunnah-ku dan sunnah Khulafa al Rasyidin, gigitlah dengan gigi geraham sunnah-sunnah-nya.”

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Berhati-hatilah kalian terhadap muhdatsah (hal-hal yang baru), karena sesungguhnya semua muhdatsah itu bid’ah, dan semua bid’ah adalah sesat.”

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Keutamaan Salat Malam

Syahdan. Ada seorang laki-laki yang membeli budak. Setelah budak itu dia miliki, si budak berkata: “Wahai tuanku, izinkan saya meminta tiga persyaratan: Pertama, janganlah tuan melarang saya untuk melaksanakan salat ketika sudah masuk waktunya. Kedua, pekerjakanlah aku siang hari dan janganlah tuan mempekerjakan atau menyibukkanku saat malam hari. Ketiga, buatkanlah rumah untukku yang tidak boleh dimasuki siapapun kecuali diriku”. Sang majikan menjawab: “Akan aku kabulkan permintaanmu. Lihatlah rumah-rumah itu, silahkan kamu memilihnya”.

Budak itu mengelilingi dari satu rumah ke rumah lainnya. Akhirnya dia memilih sebuah rumah yang rusak, sebuah gubug yang tidak layak huni.

Mengetahui pilihan si budak, sang majikan bertanya: “Kenapa kamu memilih gubug itu?” Budak itu menjawab: “Wahai tuanku, apakah anda tidak mengerti bahwa sebuah rumah rusak ketika ada Allah SWT maka akan ramai dan akan menjadi taman?”. Sang majikan akhirnya mengiyakan pilihan si budak dan diapun lantas menempatinya.

Hingga suatu malam, laki-laki itu mengajak teman-temannya untuk sekedar minum dan bermain. Setelah jamuannya sudah habis dan teman-temannya pulang, ia pun pergi mengelilingi rumahnya dan tanpa disengaja ia melihat kamar budaknya yang bersinar dimana cahaya itu turun dari langit. Ia melihat budaknya sedang bersujud dan bermunajat kepada Tuhannya. Dia mendengar si budak berdoa: “Ya Allah, telah Engkau wajibkan atas diri hamba untuk untuk melayani majikan hamba di siang hari. Seandainya tidak seperti itu, hamba tidak akan menyibukkan diri ini dengan siapapun kecuali hamba sibukkan diri ini hanya kepadaMu di waktu siang dan malam hari. Untuk itu, ampunilah hamba”. Tanpa sadar, sang majikan tidak berhenti melihat budaknya yang sedang bermunajat itu hingga fajar muncul. Kilau cahaya dari langitpun kembali naik, hilang, tanpa merusak atap gubug tempat si budak bermunajat.

Sang majikan lantas menceritakan peristiwa malam itu pada istrinya. Pada malam selanjutnya, sang majikan beserta istrinya berdiri di pinggir kamar budaknya, mereka melihat kembali cahaya turun dari langit, sementara budaknya dalam keadaan bersujud, bermunajat kepada Allah hingga terbitnya fajar. Setelah itu mereka berdua memanggil budaknya dan mereka berkata: “Sesungguhnya kamu telah merdeka di hadapan Allah, sehingga kamu melayani orang yang sudah merepotkanmu.” Sang majikan menceritakan apa yang ia lihat bersama istrinya akan karomah yang si budak miliki. Ketika si budak mendengar cerita itu, ia lantas langsung mengangkat kedua tangannya dan berdoa: “Ya Allah, bukankah hamba sudah berdoa kepadaMu agar menutup rahasia dan keadaan hamba. Maka ketika Engkau sudah membuka rahasia hamba ini, cabutlah nyawa hamba ini.” Dan seketika itu juga, budak itu terjatuh. Meninggal dunia.

Bahtsul Masail Kedua Ponpes Lirboyo: Hukum Tax Amnesty

Sekilas Tax Amnesty

Tax Amnesty, atau Pengampunan Pajak adalah salah satu program terbaru Pemerintah Republik Indonesia untuk para wajib pajak yang menunggak pajak atau menunggak administrasinya. Penghapusan sanksi dan denda bagi para wajib pajak ini menjadi kesempatan emas untuk kembali “jujur” pada negara, mengungkap seluruh harta yang sebenarnya dimiliki. Sederhananya, Tax Amnesty merupakan penghapusan pajak yang seharusnya terkena sanksi dengan mengungkap dan membayar uang tebusan.

Sebelum disetujui oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, nama program ini sejatinya adalah Pengampunan Pajak, namun atas instruksi langsung dari beliau, nama Pengampunan Pajak diganti menjadi Tax Amnesty. Alasannya sederhana, kata “pengampunan” biasanya identik dengan orang-orang yang terlibat kesalahan. Sementara program ini umum dan terbuka kepada siapapun pihak yang terkena wajib pajak, baik yang bersalah maupun tidak. Tidak bersalah, dalam artian lupa atau lalai tidak mendaftarkan dokumen perpajakan yang seharusnya didaftarkan.

Dengan adanya Tax Amnesty, seluruh kesalahan-kesalahan di masa lalu yang seharusnya dikenai sanksi, atau lebih beratnya lagi, masuk dalam, jenis tindak pidana akan dihapus asalkan wajib pajak mau melaporkan dan mengungkap harta yang seharusnya terkena pajak.

Tujuan pokok Tax Amnesty ada dua, repatriasi dan deklarasi. Repatriasi untuk mengajak warga Indonesia yang belum melaporkan SPP (Surat Pemberitahuan Perpajakan), sementara deklarasi adalah ajakan untuk terbuka mengungkap semua aset dan properti yang harusnya terkena pajak.

Tax Amnesty sendiri dilatarbelakangi beberapa hal, seperti adanya mini defisit keuangan negara pada akhir tahun 2015 silam. Sampai-sampai uang kesehatan yang sedianya disalurkan ke rumah sakit-rumah sakit untuk biaya BPJS dan lain sebagainya sempat tersendat. Dana yang biasanya tiba di awal bulan terlambat hingga pertengahan bulan. Nasib serupa menimpa dana pendidikan. Dana BOS juga sempat terhambat penyalurannya. Hal ini semakin parah dialami di awal tahun 2016, hingga Indonesia terpaksa menandatangani surat hutang. Dananya yang terbesar pun justru digunakan untuk konsumsi dan menggaji para pegawai. Sebuah tindakan yang tidak sehat: terpaksa hutang bukan untuk membangun negeri, namun justru untuk biaya konsumsi. Meskipun toh kondisi keuangan global juga sedang mengalami penurunan, seperti China yang pertumbuhan ekonominya melambat, dan Amerika yang masih tidak stabil.

Dari sini, pemerintahan Presiden Jokowi segera bertindak cepat untuk mencari solusi. Kemudian muncullah gagasan Tax Amnesty. Dari data yang ada, setidaknya ada lebih dari tiga ribu triliun uang milik pengusaha yang berada di luar negeri dan lolos dari kewajiban pajak di tanah air. Namun data pribadi Presiden Jokowi lebih mengejutkan: jumlah dana yang ada mencapai sebelas ribu triliun. Dana sebesar itu, bisa kita bayangkan jika bisa kembali ke tanah air, tentu akan sangat membantu meningkatkan kualitas perekonomian dan pembangunan negeri.

Sekarang dengan adanya program Tax Amnesty, para pengusaha yang menaruh uangnya di luar negeri mulai berbondong-bondong menarik kembali uangnya kembali ke tanah air. Kepercayaan para pengusaha kepada negeri ini semakin naik. Dan bukan tidak mungkin, beberapa tahun mendatang Indonesia akan semakin maju. Proyek besar pembangunan tol lintas Sumatera dan jembatan Selat Sunda bisa saja semakin dekat menjadi kenyataan.

[ads script=”1″ align=”center”]

Tax Amnesty dalam Kacamata Fiqh

Kemarin malam, Selasa (19/09) sebagai aktivitas rutin, Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo kembali menggelar aktivitas bahtsul masail tingkat pondok yang khusus membahas permasalahan ini. Salah satu yang istimewa dalam bahtsul masail kemarin, beberapa aparatur perpajakan turut hadir menyaksikan jalannya bahtsul masail. Lewat proyektor yang disediakan, salah satu perwakilan dari mereka, Kukuh Hanang Prapanca, dari Kantor pelayanan Pajak Madya (KPP) Malang menjelaskan dengan gamblang mulai definisi, latar belakang, hingga proses yang musti ditempuh untuk mengikuti program Tax Amnesty. Bahkan juga berlangsung sesi tanya jawab yang memakan waktu cukup lama.

Mengenai optimisme program ini, Kukuh mengatakan, “berhasil tidaknya program Tax Amnesty sendiri sudah merupakan pencapaian”. Karena pada kenyataannya, sekarang para pengusaha sudah banyak yang kembali percaya pada negeri ini dan mau menarik kembali uangnya yang beterbangan di luar negeri. Semoga saja, perlahan-lahan kita bisa merasakan dampak positifnya.

Untuk mengunduh hasil bahtsul masail PP. Lirboyo kedua tentang hukum Tax Amnesty, silahkan klik di sini.

Sabtu-Arab, Senin-Inggris, Rabu-Jawa

LirboyoNet, Kediri –Berbicara bahasa, tidak akan lepas dari membicarakan keragamannya. Ada ribuan bahasa di dunia. Di indonesia saja, ada 748 bahasa ibu yang terdata. Dan yang akrab dengan lidah santri Lirboyo adalah bahasa Jawa, Kawi, dan tentu bahasa Arab. Bagaimana dengan bahasa asing yang lain?

Seorang bijak mengatakan, “bahasa adalah pertaruhan: kuasai ia lalu kuasai dunia, atau tinggalkan ia dan menjadi jajahan.” Apa pasal? Karena aktivitas apapun, selama bersinggungan dengan pihak lain, ia butuh komunikasi.  Dan komunikasi yang dapat bertahan lama tentu saja lewat bahasa yang bisa dipaham kedua pihak.

Hanya saja, seberapa penting bahasa lain–selain bahasa ibu kita­– dibaca dan dipelajari? Kita tak tahu pasti. Namun dunia saat ini menuntut kita untuk tidak pasif: berkomunikasi hanya dengan bahasa sendiri. Jika yang terjadi seperti itu, kita memang akan tetap hidup dan berkomunikasi;  tapi kita akan terisolir dan terasing.

Lirboyo, betapapun ia berhati-hati dalam mengisolir diri, bukanlah pesantren yang jumud akan modernisasi. Salah satu kunci modernisasi itu, yakni komunikasi, dirawatnya dengan baik hingga kini. Baik pondok induk maupun unitnya mempunyai beberapa program khusus terkait pengembangan komunikasi. Ambil saja, misalnya, apa yang dilakukan Pondok Pesantren Putri Tahfidzul Quran (P3TQ).

Setiap hari Jumat, para santri putri mendapatkan pengajaran ekstra: pengembangan Bahasa Inggris. Dilaksanakan di Laboratorium Bahasa milik pondok induk, mereka dibimbing oleh Bapak Saiful Asyhad, SH. sejak pukul 07.30 hingga 11.00 Wis (Waktu Istiwa’). Apa yang mereka lakukan selama itu? Macam-macam. Menghafal sentence (susunan kalimat), verb (kata kerja), noun (kata benda), dan beberapa keterangan lain. Di sana, mereka juga diajarkan cara pelafalan yang benar, dan trik-trik merangkai kata.

Tidak berhenti di situ, P3TQ juga memiliki program lanjutan terkait ekstra yang telah berlangsung lama itu. Yakni, kewajiban berbahasa tertentu di hari tertentu. Untuk bahasa Inggris, mereka diwajibkan melafalkannya di setiap hari Senin dan Selasa. Walhasil, mereka terbiasa berbahasa asing bahkan saat mereka sudah berada di rumah. Menurut Bapak Saiful, sampai saat ini, masih banyak lulusan P3TQ yang berkorespondensi dengan beliau. Terutama, konsultasi terkait kualitas bahasa Inggris mereka. “(konsultasi itu diantaranya untuk) buat skripsi, ada yang buat ngajar di sekolah, mau tes kuliah,” terang beliau.

Selain bahasa Inggris, mereka juga diwajibkan berbahasa Arab pada hari Sabtu-Ahad, dan bahasa Jawa pada hari Rabu dan Kamis.

Tentunya, program ini tidak mengganggu samasekali dari tujuan utama mereka: mempelajari agama dengan sungguh-sungguh. Karena apa yang dinanti-nanti masyarakat sebenarnya adalah pengetahuan mereka tentang agama. Sementara ekstra kebahasaan, maupun yang lain, hanyalah sebagai sarana untuk lebih dekat dengan masyarakat.][

Sejarah Masjid Lirboyo

Semula masjid itu amat sederhana sekali, tidak lebih dari dinding dan atap yang terbuat dari kayu. Namun setelah beberapa lama masjid itu digunakan, lambat laun bangunan itu mengalami kerapuhan. Bahkan suatu ketika bangunan itu hancur porak poranda ditiup angin beliung dengan kencang. Akhirnya KH. Muhammad yang tidak lain adalah kakak ipar KH. Abdul Karim sendiri mempunyai inisiatif untuk membangun kembali masjid yang telah rusak itu dengan bangunan yang lebih permanen. Jalan keluar yang ditempuh KH. Muhammad, beliau menemui KH. Abdul Karim guna meminta pertimbangan dan bermusyawarah. Tidak lama kemudian seraya KH. Abdul Karim mengutus H. Ya’qub yang tidak lain adik iparnya sendiri untuk sowan berkonsultasi dengan KH. Ma’ruf Kedunglo mengenai langkah selanjutnya yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pembangunan masjid tersebut.

Dari pertemuan antara H. Ya’qub dengan KH. Ma’ruf Kedunglo itu membuahkan persetujuan, yaitu dana pembangunan masjid dimintakan dari sumbangan para dermawan dan hartawan. Usai pembangunan itu diselesaikan, peresmian dilakukan pada tanggal 15 Rabi’ul Awwal 1347 H. / 1928 M. Acara itu bertepatan dengan acara ngunduh mantu putri KH. Abdul Karim yang kedua , Salamah dengan KH. Manshur Paculgowang.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam tempo penggarapan yang tidak terlalu lama, masjid itu sudah berdiri tegak dan megah (pada masa itu) dengan mustakanya yang menjulang tinggi, dinding serta lantainya yang terbuat dari batu merah, gaya bangunannya yang bergaya klasik, yang merupakan gaya arsitektur Jawa kuno dengan gaya arsitektur negara Timur Tengah.

Untuk mengenang kembali masa keemasan Islam pada abad pertengahan, maka atas prakarsa KH. Ma’ruf pintu yang semula hanya satu, ditambah lagi menjadi sembilan, mirip kejayaan daulat Fatimiyyah.

Selang beberapa tahun setelah bangunan masjid itu berdiri, santri kian bertambah banyak. Maka sebagai akibatnya masjid yang semula dirasa longgar semakin terasa sempit. Kemudian diadakan perluasan dengan menambah serambi muka, yang sebagian besar dananya dipikul oleh H. Bisyri, dermawan dari Branggahan Kediri. Pembangunan ini dilakukan pada tahun sekitar 1984 M.

Tidak sampai disitu, sekitar tahun 1994 M. ditambahkan bangunan serambi depan masjid. Dengan pembangunan ini diharapkan cukupnya tempat untuk berjama’ah para santri, akan tetapi kenyataan mengatakan lain, jama’ah para santri tetap saja membludak sehingga sebagian harus berjamaah tanpa menggunakan atap. Bahkan sampai kini bila berjama’ah sholat Jum’at banyak santri dan penduduk yang harus beralaskan aspal jalan umum.

Untuk menjaga dan melestarikan amal jariyyah pendahulu serta menghargai dan melestarikan nilai ritual dan histories, sampai sekarang masjid itu tidak mengalami perobahan, hanya saja hampir tiap menjelang akhir tahun dinding-dindingnya dikapur dan sedikit ditambal sulam.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah