Merawat Marwah Musyawarah

LirboyoNet, Kediri – Betapapun seseorang mempelajari sesuatu, jika ia hanya membaca dan mengunyah sendiri ­–tanpa mengutarakannya pada orang lain– ia masih menjadi pelajar yang belum utuh. “Separuh kepahamanmu atas sesuatu berada bersama temanmu. Karenanya, bermusyawarahlah agar sempurna kepahamanmu,” begitu kira-kira ungkapan para ahli hikmah.

Pada Kamis malam hingga Jumat sore kemarin (15-16/09), ratusan santri Lirboyo berkumpul di gedung Lajnah Bahtsul Masail. Mereka adalah para siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) yang telah dipilih oleh para mustahiq (wali kelas). Mereka sengaja dipilih sebagai perwakilan masing-masing kelas, guna mendapatkan penyegaran tentang bagaimana musyawarah seharusnya berlangsung. Even yang bernama Penataran Keroisan ini diselenggarakan oleh Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM), sebuah badan otonom milik MHM.

“Yang kita bahas sekarang adalah sistem. para sesepuh dahulu, telah merumuskan cara-cara tertentu agar musyawarah bisa berjalan efektif dan menghasilkan,” buka ustadz Hamim Hudlori, salah satu pemateri pada acara itu.

Sistem yang telah dibangun itu, menurutnya, dalam perjalanannya hingga kini telah menghasilkan lulusan Lirboyo yang mumpuni, tangguh dalam ruang-ruang musyawarah. Sedari bahtsul masail tingkat desa hingga even internasional.

Namun, sistem hanya akan menjadi catatan di atas kertas, jika potensi manusia yang berkecimpung di dalamnya tak juga dibangun. Hanya akan menjadi sejarah yang tidak bisa dibanggakan. Great Wall di China menjadi buktinya. Batu-batu disusun setinggi mungkin, setebal mungkin. Tujuannya jelas: musuh akan berpikir ratusan kali untuk menyerang kerajaan. Namun kita tahu, China runtuh tanpa lubang di tembok mereka. “Mereka lupa untuk membangun mindset para penjaga (tembok China). Musuh tinggal menjatuhkan mental dan moral mereka (agar dapat masuk ke dalam),” kisah beliau.

Membangun potensi musyawarah yang dimiliki santri inilah yang tidak memiliki sistem pasti. Karena pada dasarnya, setiap santri memiliki antisipasi tersendiri. Menurut ustadz Abdul Kafi Ridho, pemateri yang lain, untuk memacu semangat musyawarah, akan sulit untuk menemukan konsep yang paten. “Kita tidak bisa menyamaratakan antara santri yang baru bisa mendengar, yang mulai membaca syarah (kitab lanjutan), yang tiap malam ikut bahtsul masail. Kalian harus mampu melihat (potensi dan problem) kalian sendiri.”

Namun paling tidak, yang perlu ditanamkan dalam-dalam adalah mengenal manfaat sesungguhnya dari musyawarah. Rasulullah pernah bersabda, “tak akan rugi orang yang istikharah, dan tak akan menyesal orang yang bermusyawarah.”

Dalam bermusyawarah, masih menurut ustadz Abdul Kafi, simpul-simpul keruwetan dalam otak akan terurai. Apalagi ketika terlibat dalam perdebatan bermutu. Otak akan tertuntut untuk memahami, menganalisa, dan mengkritisi suatu pemikiran dengan cepat. Hanya dalam forum musyawarah akan didapatkan hal-hal baru dalam waktu singkat. Keterangan kitab syarah, para senior, dan catatan-catatan akan sulit, bahkan tidak dapat, diperoleh ketika hanya mengandalkan sekolah maupun muthala’ah (belajar) sendiri.

Demi itu, kita perlu mencermati sebuah kalimat yang diungkapkan oleh Al-Ghazali, al-ilmu la yu’thika ba’dhah hatta tu’thika kullaka”. Ilmu tidak sudi memberikan sebagian dirinya kepadamu hingga kamu bersedia mempersembahkan dirimu untuk ilmu sepenuhnya.][

Lubbul Ushûl Sebagai Materi Kuliah Ushûl

LirboyoNet, Kediri – Kuliah ushuliyah, salah satu metode pengayaan berbasis seperti seminar, di mana pihak Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L) mendatangkan seorang tutor yang berkompeten di bidang terkait.

Sabtu kemarin (10/09), dua hari sebelum hari raya Idul Adha, kuliah ushuliyah kembali diagendakan. LBM masih mengundang tutor yang sama, KH. Azizi Hasbullah dari Blitar. Beliau merupakan salah satu alumnus ponpes Lirboyo dan sekarang aktif sebagai dewan perumus di LBM PWNU tingkat Jawa Timur. Dengan menggunakan materi kitab Lubbul Ushûl, sebuah kitab ushul fiqh yang menjadi ringkasan kitab Jam’ul Jawami’. Kitab yang ringkas dan amat padat ini mampu beliau uraikan hingga berjam-jam, meskipun batas materinya hanya beberapa halaman.

Mulai bab “Al-Amr”, rencananya kitab ini masih akan digunakan sebagai acuan dalam kuliah ushûl fiqh hingga tutup aktifitas LBM P2L tahun ini. Kuliah Ushûl Fiqh sendiri sudah istikamah digelar paling tidak sebulan satu kali sejak dua tahun lalu. Hebatnya, meski sudah dua tahun istikamah dan memasuki tahun ketiga, materi kitab Lubbul Ushûl baru mencapai sekitar 30%. Maklum saja, pembahasannya tidak buru-buru dan cenderung mengutamakan kajian mendalam.

Peserta kajian ushûl fiqh sendiri biasanya adalah santri-santri senior. Mereka adalah santri-santri yang sudah mulai memasuki tahap pengembangan materi dalam aktivitas belajarnya. Kuliah ini dibuka dengan pembacaan materi dari moderator, dilanjutkan penjelasan materi dari tutor, dan ditutup dengan sesi  tanya-jawab. Para peserta bebas mengajukan pertanyaan apapun yang masih berkaitan dengan materi. Kadang, peserta menanyakan kolaborasi dan kerancuan dari kasus-kasus furu’iyyah dalam fikih yang dikombinasikan dengan kitab Lubbul Ushûl. Adakah kejanggalan di sana? Bahkan pertanyaan dan pembahasan akhirnya sering merembet ke disiplin ilmu lain yang masih berhubungan dengan Ushûl Fiqh. Seperti misalnya, mempertanyakan kembali teologi Mu’tazilah. Sebagai catatan, pengarang Lubbul Ushûl sering mencantumkan pendapat kalangan Mu’tazilah sebagai perbandingan dalam beberapa qoul-qoul yang termaktub.

Kitab Lubbul Ushûl: sebuah sari pati dua ilmu ushûl, ushûl fiqh dan ushûludin (tauhid). Jika masih kurang puas dan butuh penjelasan lebih tentang kitab ini, anda bisa merujuk kitab Ghôyatul Wushûl karangan Syaikh Zakariyya Al-Anshôry, pengarang yang juga menulis Lubbul Ushûl. Dan pengembangan lebih bisa dilihat di Hasyiyah Thorîqotul Hushûl, karya ulama nusantara yang pernah menjabat sebagai Rais ‘Am PBNU, KH. MA. Sahal Mahfudz, Kajen Pati.[]

Proyeksi Santri Luar Negeri

LirboyoNet, Kediri – Di sela pengawasan atas perpindahan kamar Blok S Selasa kemarin (06/09), Agus Abdul Qodir Ridwan, Ketua Umum Pondok Pesantren Lirboyo, menyempatkan diri untuk mengunjungi kamar santri luar negeri, yang masih berada dalam lingkup Blok S.

Dalam kunjungannya itu, beliau tidak hanya sebatas ingin mengetahui keadaan mereka. “Kalian itu santri-santri yang jauh. Pastinya banyak hal yang berbeda dengan yang di rumah kalian,” buka beliau. Para santri yang berada di dalam kamar hanya tersenyum kecil, sambil saling sikut dengan temannya.

Selain bahasa, mereka harus terbiasa dengan makanan yang tersedia. Pernah salah satu dari mereka, saat awal kedatangannya, hanya makan mie instan hingga beberapa bulan. “Saya coba (memakan sayuran dan lauk yang ada), gak kuat perut saya,” tukas Takai, santri asal Pattani, Thailand yang sekarang menapaki kelas dua tsanawiyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.

Namun, bukan mendengarkan cerita itu yang menjadi tujuan utama dari kunjungan dini hari itu. Diiringi bisingnya keadaan di luar kamar karena perpindahan kamar masih saja belum usai, beliau sampaikan kepada mereka, bahwa sebagai santri yang berasal dari daerah sangat jauh, tentunya tanggungjawab yang ada di pundak mereka demikian besar. Karenanya, di malam itu juga, beliau laksanakan apa yang menjadi keputusan pondok, yakni mengutus salah seorang santri yang dianggap mumpuni dalam kajian kitab, untuk ikut tinggal di kamar itu bersama mereka. Ia ditugaskan untuk menemani proses belajar mereka.

Dengan ini, para santri luar negeri akan mendapatkan pengajaran yang lebih. Tidak hanya di kelas, mereka juga akan dibimbing jauh lebih intens di dalam kamar. Harapannya, mereka benar-benar mendapatkan bekal keilmuan yang cukup jika kemudian mereka pulang ke masyarakat masing-masing.

“Kalian akan menjadi corong masyayikh Lirboyo di rumah kalian masing-masing. Pondok ingin kalian benar-benar siap untuk terjun di masyarakat kalian nantinya. Itu sangat berat,” nasihat beliau.

Selain itu, demi perhatian khusus ini, dalam waktu dekat pondok akan membentuk kepengurusan Himpunan Pelajar (HP) Luar Negeri. Untuk diketahui, selama ini urusan daftar-mendaftar di pondok, para santri luar negeri masih mengikuti Himpunan Pelajar Banyumas. Segera saja, beliau juga meminta para penghuni kamar untuk segera memilih, siapa yang pantas masuk dalam kepengurusan HP nantinya.

Semoga apa yang menjadi ikhtiar pondok dapat berbuah sesuai harapan. Meminjam ungkapan KH. Mustofa Bisri, mereka adalah Mbah Manab, Mbah Marzuqi, Mbah Mahrus dengan ukuran yang lebih kecil, yang mustinya mampu berbaur dan menebar dakwah di manapun mereka tinggal.][

Gedung Al Ikhlas II Sempurna Sudah

LirboyoNet, Kediri – Penambahan lokal kelas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) berlangsung Kamis (01/09) kemarin. Lokasinya berada dalam komplek gedung Al-Ikhlas II. Setelah sebelumnya masih berjumlah 14 ruang, hari itu bertambah dua lokal. Itu artinya, gedung yang berdiri tiga lantai itu sudah rampung dibangun. Tidak ada lagi lantai kosong, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Dari 16 ruang itu, tiga yang berada di lantai satu diperuntukkan basecamp khusus kelas II & III Aliyah. Adapun ruang lainnya menjadi lokal kelas madrasah.

Tidak semua santri dilibatkan pada roan (istilah gotong royong di dalam pesantren) yang berlangsung sejak 06.30 itu. Hanya beberapa tingkatan kelas yang dipilih, mengingat jumlah bangunan yang ditambah tidak sebanyak sebelum-sebelumnya.

Meski begitu, roan yang dilakukan secara bergilir ini tetap saja riuh. Teriakan-teriakan para santri seperti mencoba mengalahkan deru mesin cor yang berputar. Apa yang mereka lakukan itu tentu saja untuk menambah semangat mereka dalam mengayunkan timba-timba yang berisi adukan cor yang keluar dari mesin.

Sebelum roan dimulai, seperti yang telah terbiasa, dilakukan doa bersama. Pagi itu, KH. A. Habibulloh Zaini hadir mewakili jajaran pengasuh. Dengan didampingi oleh KH. Athoillah S. Anwar, Agus HM. Dahlan Ridlwan dan beberapa Mudier MHM, beliau memimpin tahlil.

Selesai pada sekitar pukul 14.00 Wis, roan diakhiri dengan makan bersama seluruh santri yang terlibat.][

Khutbah Idul Adha

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهَِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأصِيْلًا لَاإلهَ إلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّه ِالْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلّه ِالَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِتَعْظِيْمِ شَعَاءِرِهِ لِأَنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوْبِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ عَلَّامُ الْغُيُوْبِ وَأشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدَهُ وَرَسُوْلُهُ حَسَنُ الْخُلُقِ وَالْمَحْبُوْبِ اَللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ نَالُوْا غُفْرَانَ الذُّنُوْبِ
أَماَّ بَعْدُ فَيَا أَيُّهاَ النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ …

Jamaah Shalat Ied yang berbahagia …
Pertama-tama saya mengajak kepada diri saya pribadi dan jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan, memperkokoh iman dan selalu berusaha agar Islam kita semakin kuat. Meningkatkan ketakwaan merupakan wujud syukur kita kepada Allah SWT yang telah menganugerahi kita kehidupan. Allah yang tak pernah berhenti memberi kita nikmat-nikmat dan segala anugerah. Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, Beliau yang telah menuntun umat manusia menuju jalan kebenaran, pembawa sejatinya kebenaran, teladan sempurna dan terbaik sepanjang zaman. Juga semoga tercurah kepada ahli baitnya, para sahabat dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

BACA JUGA : TATA CARA MENJADI BILAL IDUL ADHA

Alangkah indahnya jika kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari. Alangkah eloknya kehidupan, jika pribadi kita senantiasa menumbuhkan rasa kepedulian kepada sesama, kepekaan kepada lingkungan sekitar dan rela berkorban. Alangkah damainya negeri Indonesia tercinta kita ini, jika setiap diri kita senantiasa memupuk rasa persatuan dan cinta tanah air.

Pagi ini, umat Islam di berbagai belahan dunia melaksanakan salah satu perintah Allah SWT yakni sholat idul adha. Gemuruh suara takbirnya menggema di jagat raya mulai maghrib kemarin malam sampai tanggal 13 Dzulhijjah besok. Dan pada bulan yang mulia ini juga, umat Islam melaksanakan dua ibadah akbar, yaitu haji dan qurban. Ibadah haji dan kurban adalah syiar keluhuran dan keagungan Islam. Syiar haji dan kurban bukanlah ajang pamer kekayaan dan kemewahan, melainkan kebanggaan dan keunggulan beribadah yang ditujukan hanya untuk Allah SWT. Ibadah haji merupakan syiar persatuan umat Islam. Ini karena mereka yang pergi ke Tanah Suci Makkah itu hanya mempunyai satu tujuan, untuk menunaikan perintah Allah atau kewajiban rukun Islam yang kelima.

Dalam memenuhi tujuan tersebut mereka melakukan perbuatan yang sama, memakai pakaian yang sama, mengikut tata tertib yang sama. Perkumpulan mereka di Padang Arafah menghilangkan status dan perbedaan hidup manusia sehingga tidak dapat dikenal siapa kaya, hartawan, rakyat biasa, raja atau sebagainya. Semua mereka sama, memakai pakaian selendang kain putih tanpa jahit. Bisa dikatakan, disana semuanya sama. Ini menggambarkan persatuan dan satu hatinya kita sebagai umat Islam. Dan gambaran inilah yang semestinya diamalkan dalam kehidupan umat Islam sehari-harinya, baik bagi mereka ketika kembali ke negaranya masing-masing, ataupun bagi kita yang belum dikasih kesempatan mengunjungi baitulloh.

Jamaah Shalat Ied yang berbahagia…
Sungguh beruntung orang yang bisa memenuhi panggilan ilahi, pergi ke tanah suci. Yaitu mereka yang dianugerahi istitho’ah (kesanggupan) sesuai perintah Allah SWT dalam al Quran surat Ali Imron ayat 97:

وَللهِ عَلَى النّاسِ حِجُّ البَيتِ مَنِ استَطاعَ إِلَيهِ سَبيلًا
”Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke baitullah”

Maksud istitho’ah atau kemampuan disini adalah orang Islam yang baligh, sehat akal, sehat jasmani dan rohani, merdeka (bukan budak) dan bekalnya cukup untuk menunaikan ibadah haji serta tidak meninggalkan kewajiban nafkah keluarga yang ditinggalkan.

Bagi kita yang belum dapat kesempatan itu, janganlah berkecil hati atau malah iri pada mereka. Semua itu adalah bujuk rayu setan. Karena meskipun kita belum ke tanah suci, banyak kebaikan lain yang bisa kita lakukan dari tanah kelahiran.

Jamaah Shalat Ied yang dimuliakan Allah …
Salah satu kebaikan yang mulia itu adalah menyembelih qurban. Berqurban merupakan suatu bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat. Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah.” (QS. Al Kautsar: 2)

Harapan yang ingin dicapai dalam qurban adalah murni keikhlasan dan ketakwaan, bukan yang lain. Bukan hanya daging atau darahnya hewan qurban. Allah Ta’ala berfirman,

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.”(Qs. Al Hajj: 37)

Ayat tersebut jelaslah mengatakan maksud dari berqurban bukan hanya menyembelih saja, karena Allah SWT. tidaklah butuh pada segala sesuatu. Yang Allah harapkan dari qurban adalah keikhlasan, ihtisab (selalu mengharap-harap pahala dari-Nya) dan niat yang shalih. Karena hanya ketakwaan dari kitalah, yang dapat mencapai ridho-Nya. Inilah yang seharusnya menjadi motivasi ketika seseorang berqurban yaitu ikhlas, bukan riya’ atau berbangga dengan harta yang dimiliki, dan bukan pula menjalankannya karena sudah jadi rutinitas tahunan.

Dengan disyariatkannya qurban, kaum muslimin dilatih untuk mempertebal rasa kemanusiaan, kepedulian, mengasah kepekaan terhadap masalah-masalah sosial, mengajarkan sikap saling menyayangi terhadap sesama. Meski waktu pelaksanaan penyembelihan kurban dibatasi (10-13 Dzulhijjah), namun jangan dipahami bahwa Islam membatasi solidaritas kemanusiaan. Kita harus mampu menangkap makna dari ibadah yang kita lakukan, bukan hanya sebagai rutinitas tahunan belaka. Oleh karenanya, semangat untuk terus ‘berkurban’ harus senantiasa kita lestarikan meski ‘perayaan’ Idul Adha telah usai.

Jamaah Idul adha yang dirahmati Allah …
Momentum Idul Adha sekarang ini yang teraplikasi dengan pelaksanaan ibadah haji dan qurban merupakan saat yang tepat untuk memacu diri kita berusaha lebih keras dan sungguh-sungguh agar terwujud lingkungan yang baik dan memperoleh ridha Allah Swt.

Dalam kondisi bangsa seperti saat ini, sudah sepatutnya kita banyak berharap dan mendoakan mudah-mudahan para pemimpin kita, elit-elit kita, dalam berjuang tidak hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompoknya, tapi untuk kepentingan bangsa dan negara, kepentingan rakyatnya.
Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk rela berkorban demi kepentingan bangsa, negara dan agama. Amiin ya robbal alamin.

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ. وَنَفَعَنِي وَاِيِّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلْ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ اِنّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ. فَاسْتَغْفِرُوْا اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHUTBAH KEDUA

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ كَبِيْرًا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ والاَهُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ… أَمَّا بَعْدُ : أَيــُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمٌ، فَأَكْثِرُوْا مِنَ الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأيــُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْحَمْنَا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاً طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَام. اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَام. اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر…

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah