Kamar Lama Atawa Baru

LirboyoNet, Kediri – Semula, KH. Abdul Karim (muassis Pondok Pesantren Lirboyo) tidak berniat samasekali untuk mendirikan sebuah pondok yang di kemudian hari menjadi besar ini. Saat beliau didatangi oleh beberapa remaja yang ingin belajar, beliau mengiyakan. Namun, rumah beliau yang hanya sepetak tidak layak untuk menampung mereka, di samping mereka bisa saja tidak merasa nyaman jika tinggal serumah dengan guru mereka. Walhasil, diantara mereka ada yang meminta izin untuk membangun kamar di sekitar rumah beliau. Lagi-lagi, beliau mengiyakan.

Itulah mengapa, kamar-kamar di pondok Lirboyo cenderung terlihat tidak tertata. Karena memang pembangunan kamar tidaklah menjadi prioritas sesepuh. Sehingga, kamar-kamar yang ada adalah hasil dari usaha para santri sendiri. Maka wajar jika kamar tidak berpola rapi layaknya pesantren-pesantren lain.

Dalam perkembangannya, kini, persepsi ini tetap dipegang teguh oleh para penerus. Hanya, mengingat pertumbuhan minat masyarakat akan pesantren meningkat pesat, mau tak mau menuntut pondok untuk bergerak kreatif.

Selain menera ulang (sensus) seluruh kamar yang terdapat di pondok, pondok juga memiliki inisiatif lain. Beberapa kamar yang berpenghuni gado-gado (berisikan santri dari berbagai daerah) dirapikan. Selasa (06/09) kemarin, kamar Blok S menjadi obyek inisiatif itu. Sekadar diketahui, tidak seperti blok lain yang mengumpulkan santri dari daerahnya masing-masing untuk tinggal dalam satu kamar maupun blok, kamar Blok S terdiri dari puluhan kamar, yang setiap kamarnya terdiri dari santri dari berbagai daerah.

Inisiatif ini sudah disosialisasikan kepada mereka, para penghuni Blok S, sejak awal tahun. Setelah melewati beberapa kali jejak pendapat dengan ketua kamar, disepakatilah perpindahan itu. Keputusannya, para santri akan dikelompokkan sesuai dengan daerah masing-masing.

Beberapa hari sebelumnya, mereka sudah mulai menyiapkan barang masing-masing. Di malam terakhir, beberapa kamar mengadakan semacam acara perpisahan. Puncaknya, selasa malam Blok S ramai santri yang hilir mudik memindahkan kardus dan koper ke kamar baru mereka. Ada raut senang dan kecewa. “Sedih juga sebenarnya. Sudah bertahun-tahun tinggal, ini diminta pindah. Mau gimana lagi, ini adalah hasil istikharah dan usaha para pimpinan pondok. Yang jelas, (pengelompokan ini) dinilai lebih baik,” tukas Maulana, santri yang juga siswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien kelas III Aliyah.

Sebenarnya, ada hal serius yang melatarbelakangi inisiatif ini. Menurut Sekretaris Umum pondok, Abdul Khobir, ini sudah dicanangkan sejak lama. “Awalnya, ada santri dari satu daerah. Setelah di rumah, ia menjadi tokoh. Tapi karena dulunya di pondok dia ikut kamar lain daerah, dia tidak aktif di Himasal (Himpunan Alumni Santri Lirboyo) maupun kumpulan lain. Itu karena kurangnya komunikasi dulu di pondok dengan teman sedaerahnya.”

Dengan dirapikannya kamar ini, setidaknya, memberi kesempatan lebih bagi para santri untuk mengenal dan berkomunikasi lebih intens dengan teman sedaerahnya, sehingga ketika pulang nanti, akan terjalin hubungan alumni yang komunikatif dan erat. Himasal pun dapat berjalan baik yang berimbas pada lancarnya dakwah dan i’lai kalimatillah. Semoga.][

 

Sejenak Mengenang Imam Al-Ghazali

Kebanyakan orang pasti pernah mengalami masa depresi. Kegalauan yang biasa sampai luar biasa. Ketika ada masalah yang kian banyak dan makin bertumpuk, atau ada sejuta pertanyaan tak terjawab, ‘saklar’ kesadaran itu otomatis ‘padam’.

Imam Al-Ghazali mengalami petualangan ilmiah yang luar biasa hebat. Rihlah tholabul ‘ilminya panjang dan “melelahkan”. Tapi dengan hasil yang tak mengecewakan, Hujjatul Islam ini mampu menguasai tidak hanya satu disiplin ilmu. Tidak cukup satu gelar saja untuk menggambarkan kepakarannya. Beliau bukan hanya pakar fiqih, kalam, dan ushul, beliau lebih dari itu semua. Namun dihari-hari  terakhirnya, beliau lebih memilih sembunyi dan pulang ke kampung halamannya. “Ingin dikenal orang sebagai warga Thus biasa, seperti halnya petani dan pedagang lainnya”. Begitulah mungkin. Sekedar menyebutkan beberapa karyanya, dalam ushul fiqih, Al-Mushtasfanya adalah salah satu dari empat kitab ushul terbaik yang pernah ada, yang kemudian di resume menjadi Al-Mahshul. Dalam fiqh, Al Basith,Al-Wasith,dan Al-Wajiz adalah kitab-kitab pokok Mazhab Syafi’i. Hampir seluruh kitab-kitab ulamamutaakhirin merujuk kepada tiga kitab tersebut. Bisa dibilang, kalau kita sedang belajar  fiqh ala Syafi’iyyah atau  ushul fiqh, disitu ada “ilmunya imam Al-Ghazali”. Beliau adalah pahlawan sejati Ahlussunah yang gigih membela islam sunni dari dua ancaman besar pada masa itu, rasionalis Mu’tazilah dan Syiah garis keras Isma’iliyyah. Juga ancaman umum dunia intelektual, Filsafat Yunani. Banyak orang menilai Imam Al- Ghazali sebagai filsuf, namun dari kiprah beliau tak nampak kalau beliau adalah seorang filsuf. Justru sebaliknya, beliau adalah mistikus.

Imam Al- Ghazali, nama lengkapnya Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Al-Thusi. Bergelar Hujjatul Islam. Di dunia barat beliau dikenal dengan nama Algazel. Ditanah kelahirannya, Thus, beliau dilahirkan tahun 1059 M/450 H. Dan beliau wafat.diusianya yang ke lima puluh lima.

Al-Ghazali kecil terlahir dari keluarga miskin. Beliau punya seorang saudara kandung bernama Ahmad. Ayah beliau sehari-hari bekerja sebagai pemintal wol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ayah beliau terkenal orang  yang saleh, sangat mencintai para ulama dan gemar melayani mereka. Sering ayah beliau menghadiri majlis-majlis pengajian, disitu tak jarang ayah beliau menagis berkaca-kaca. Dalam do’anya, ingin sekali beliau dikaruniai putra-putra  yang kelak menjadi ulama besar. Do’a ayah Al-Ghazali dijawab oleh Allah SWT. dikemudian hari. Baik Al-Ghazali maupun saudaranya, Ahmad, keduanya sama-sama  menjadi  ulama besar.

Ketika ayahnya wafat kedua bersaudara ini dititipkan kepada kerabatnya agar dididik, supaya diajari tentang  agama. Ketika kerabat ayahnya tak mampu lagi membiayai mereka, mereka berdua masuk ke madrasah setempat agar bisa mendapatkan makanan. Bermula dari sini, rihlah ilmiah Al-Ghazali dimulai. Al-Ghazali kecil ngaji di tanah kelahirannya bersama saudara kandungnya,  Ahmad ditempat yang diasuh Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Zâdzakâni. Setelah sekian lama, beliau pindah ke Jurjan, ngaji bersama Syaikh Abi Nashr Al-Isma’ili. Beliau membuat Ta’liqot, catatan hasil belajar, tanpa menghafalkannya. Sepulang dari sana, rombongan Al-Ghazali dirampok, dan semua barang bawaan dijarah. Termasuk buku ta’ilqot Al-Ghazali selama di Jurjan. Al-Ghazali diejek oleh pimpinan perampok ketika hendak meminta kembali buku ta’liqotnya, “Kalau saja buku ini hilang kamu tak lagi punya ilmu apa-apa.” Kalimat ini menjadkian beliau terpacu untuk menghafalkan seluruh ilmunya. Setibanya  kembali di rumah, beliau menghafalkan seluruh ilmu yang dia dapatkan.

Setelah beberapa saat  dirumah, Al-Ghazali memutuskan ikut rombongan pelajar yang hendak berangkat ke Naisabur, Khurasan. Negri itu dikenal sebagai kotanya ilmu pengetahuan. Disana adalah tempat para pelajar mengadu  nasib, karena menjadi tempat asimilasi ilmu pengetahuan dari berbagai tokoh besar. Disana beliu memutuskan untuk ngaji kepada tokoh sentral Mazhab Syafi’I, salah satu ulama terbesar dimasanya, Imam Al-Haramain yang mengasuh Madrasah Nidzamiyyah Naisabur. Madrasah yang diprakarsai Alp Arslan. Disinilah akhirnya beliau dapat mengukuhkan dan menguasai pemahaman tentang  fiqh, ushul, ilmu khilaf, jadal, manthiq, hikmah, dan filsafat. Padahal usia beliau kala itu baru menginjak dua puluh delapan tahun. Beliau aktif menulis karya ilmiah, dan mengikuti aktifitas keilmuan lain. Karir beliau menanjak dan beliau mulai memiliki nama besar. Murid kesayangan Imam  Al-Haramain ini bahkan sampai dijiluki Al-Bahr Al-Mughdiq (Lautan luas-deras) oleh gurunya. Al-Ghazali juga mulai diminta membantu mengajar oleh gurunya dan menggantikan gurunya jika berhalangan. Bahkan beliau adalah orang yang dipersilahkan duduk ditempat duduk gurunya, Imam Al-Haramain. Sepeninggal gurunya, beliau meninggalkan Madrasah Nidzamiyyah Naisabur menuju tempat perdana mentri Nidzamul Mulk didekat kota Naisabur. Tempat itu dikenal sebagai perkumpulannnya ulama-ulama besar berdiskusi. Al-Ghazali yang memang juga jago berdebat segera mendapat nama dan diakui kehebatnnya. Popularitas beliau segera menanjak. Nama Al-Ghazali cukup disegani karena kedalaman ilmunya. Beliau segera diundang  oleh perdana mentri Nidzamul Mulk yang memang mencintai ilmu pengetahuan ke Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Sebuah gudang ilmu pengetahuan yang bergengsi dimasanya.  Ketika tiba di Baghdad  tahun 1091 M/484 H puncak karir imam Al-Ghazali mencapai babak baru.

Nama Imam Al-Ghazali semakin bersinar. Maklum, Baghdad adalah ibukota pemerintahan islam “yang sah” saat itu. Dan Madrasah Nidzamiyyah Baghdad seolah menjadi sentralnya ilmu pengetahuan diseluruh dunia islam. Fatwa-fatwanya bisa mencapai pelosok negeri. Karya-karyanya dibaca dan dikaji dimana-mana. Diusia beliau yang tergolong masih muda, tiga puluh tiga tahun, bisa dikatakan semua sudah diraih Imam Al-Ghazali. Hidup di istana sebagai penasihat perdana mentri Nidzamul Mulk, fasilitas hidup serba mewah, penghormatan setinggi-tingginya, dan menjadi profesor di Madrasah Nidzamiyyah Baghdad. Seperti mimpi, padahal tiga puluh tahun silam, beliau masih hidup dalam kubangan kemiskinan ditengah-tengah keluarga yang nyaris tak memiliki “nama” di Thus. Nama Imam Al-Ghazali segera dikenal sebagai imamnya orang-orang Iraq, setelah sebelumnya dikenal sebagai imamnya orang-orang Khurasan.

Di Baghdad beliau dikenal gigih memperjuangkan Mazdhab Ahlusssunnah Al-Asy’ari dari serangan bermacam-macam ancaman aktual kala itu. Permasalahan akidah kala itu menjadi pembahasan mainstream, dimana semua orang mengaku benar, dan semua orang mengaku yang paling selamat. Selain itu, dalam karyanya, “Tahafut Al-Falasifah” (kerancauan filsafat), Imam Al-Ghazali mempersoalkan keberadaan filsafat sebagi polemik. Jika saja filsafat hanya berkaitan dengan fenomena dunia yang nampak, seperti kedokteran, astronomi, atau matematika, bukan masalah metafisika  yang membahas ketuhanan, maka filsafat akan sangat berguna. Tidak mungkin doktrin emanasi dibuktikkan. Dan anggapan mereka bahwa tuhan terlalu agung untuk tahu hal-hal yang juz’I, partikular, adalah realitas rendah yang tak masuk akal. Akhirnya, menurut beliau filsuf jadi tidak filosofis karena menggali sesuatu yang diluar kemampuan mereka. Meskipun begitu, sanggahan Imam Al-Ghazali segera mendapat tanggapan dari Ibn Rusydi, ulama Andalusia, yang segera menulis karya tandingan, “Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan KitabTahafut Al-Falasifah). Adu argumen tak terelakkan, ketika konon Imam Al-Ghazali dengan mudah menjawab kitab Ibn Rusydi dengan karyanya “Tahafut Al-Tahafut Al-Tahafut” (Kerancauan kitab Tahafut  Al-Tahafut). Imam Al-Ghazali juga menghadapi konflik internal dalam madzhabnya sendiri. Banyak kalangan yang mencoba menyerang pemikirannya, dan menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak. Bisa dibaca dalam karya-karyanya, beliau cukup prihatin dengan kondisi sosial kala itu.

Sifatnya yang amat kritis sangat mempengaruhi perjalanan intelektualnya. Ketika akhirnya beliau mulai ditimpa kegalauan yang luar biasa. Keresahan intelektual ini mulai dialami empat tahun setelah beliau tinggal di Baghdad dalam puncak karirnya. Beliau adalah orang yang dirundung nestapa atas ketidak pastiannya kesimpuan-kesimpulan yang beliau hasilkan. Setiap kesimpulan yang beliau rumuskan pada suatu hari, akan beliau klaim salah pada hari yang lain. Semakin dalam beliau menggali pengetahuan, semakin banyak saja hal yang tidak beliau ketahui. Pada awal karirnya, Imam Al-Ghazali percaya pada fakta-fakta indrawi. Tapi tak lama kemudian beliau mempertanyakannya kembali. Kemudian beliau beralih menjadi orang yang percaya dengan logika. Namun akhirnya hal ini dikritik juga. Banyak orang yang menilai pemikiran beliau inkonsisten, ambigu, dan kontradiktif. Tentu saja sulit membaca sepak terjang wawasan Imam Al-Ghazali karena keilmuwannya yang kaya. Banyak sarjana-sarjana modern di timur dan barat banyak yang gagal menyimpulkan benang merah pemikiran beliau. Beliau bukan saja sosok yang misterius bagi banyak orang, namun barangkali juga bagi dirinya sendiri.

Kekecewaan-kekecewaan banyak beliau alami ketika bergelut dalam ilmu kalam dan filsafat. Hingga pada bulan Rajab 488 H, tulis Imam Al-Ghazali dalam Al-Munqidz Min Al-Dzalal, selama hampir enam bulan hari demi hai beliau dilanda kebimbangn dan kegalauan luar biasa.

Hingga akhirnya pada tahun yang sama, 1094 M. beliau tidak mampu lagi berbicara sepatah katapun untuk sekedar member kuliah pada murid-muridnya. Imam Al-Ghazali mengalami depresi  klinis, para dokter dengan tepat mendiagnosis adanya konflik batin mendalam dalam jiwanya.

Aku pernah memaksakan diri untuk mengajar pada suatu hari. Namun lidahku tak mampu mengucapkan sepatah katapun.” (Al-Munqidz Min Al-Dzalal)

Akhirnya beliau mengambil keputusan yang mencengangkan. Beliau mengundurkan diri dari dunia keilmuan, meninggalkan seluruh pencapaian prestisiusnya, dan memilih mengembara ke Damaskus. Beliau meminta saudara kandungnya, Syaikh Ahmad untuk menggantikan posisi beliau di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih melupakan nama besarnya di dunia intelektual. Babak lain perjalanan Imam Al-Ghazali sudah dimulai. Beliau menyendiri dan beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayah di Damaskus. Untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Baitul Maqdis, mengunjungi maqam Nabi Ibrahim AS. Disana beliau bernadzar tiga hal, tidak akan lagi menerima harta pemberian apapun dari penguasa, tidak akan pergi menemui penguasa, dan tidak akan lagi berdebat dengan siapapun. Dalam syairnya yang terkenal, Imam Al-Ghazali bersenandung;

تركت هوي ليلي و سعدي بمعزل ><و عدت الي تصحيح أول منزل

ونادت بي الأشواق: مهلا فهذه ><منازل من تهوى رويدك فأنزل

Aku Pernah tinggalkan Laela dan Su’ada sendiri ditempat terasing. Aku kini pulang, membenahi rumahku yang awal. Kerinduan demi kerinduan memnggilku. Oh, pelan-pelan saja tuan. Inilah rumah-rumah orang yang engkau cinta. Aku singgah….”

Ketika beliau kemudian pulang ke tanah kelahirannya, Thus. Disini beliau mempertahankan nadzarnya diatas maqam Nabi Ibrahim AS. Untuk tidak mendekati penguasa dengan menolak surat permintaan penguasa Baghdad agar kembali mengajar di Madrasah Nidzamiyyah. Beliau lebih memilih hidup sederhana di Thus, dengan sebuah lahan miliknya, yang cukup sederhana untuk menghidupi keluarga kecil beliau. Beliau tidak tergiiuar dengan tawaran hidup kaya raya dan mapan dengan menjadi professor di Madrasah Nidzamiyyah.

Ketika menunaikan ibadah haji dan umrah, beliau kembali singgah di Damaskus dan kembali sambil menutup pintu, Imam Al-Ghazali beriktikaf di menara barat masjid Jami’ Ummayyah. Pada saat inilah, menurut cerita, beliau mengarang master piecenya, Ihya’ ‘Ulum Al-Din.

Ada yang mengatakan setelah ini beliau singgah di Mesir dan Iskandariyyah, beliau sempatkan, menurut cerita, mengunjungi Maqam Imam Syafi’I dan Imam Muzani. Lalu saat hendak kembali pulang melewati Khurasan, beliau singgah tak berapa lama di Baghdad. Di pondoknya Abi Sa’id Naisaburi dekat Madrasah Nidzamiyyah. Namun bukan dalam rangka kembali mengajar, beliau hanya sempatkan singgah beberapa saat untuk kemudian menuju Khurasan dan pulang ke Thus. Di tanah kelahirannya ini Imam Al-Ghazali membangun “pondok” kecilnya dengan sekitar seratus lima puluh murid, beliau menghabiskan masa-masa akhirnya dengan mengkhatamkan Alquran, mengaji dan kegiatan lain sehingga waktu beliau tak pernah kosong dari hal-hal positif. Beliau kembali menolak dengan beragam alasan ketika datang kembali surat permohonan dari perdana mentri Iraq supaya Imam Al-Ghazali mau mengajar kembali di Madrasah Nidzamiyyah.

Nihayatus sâlik bidâyatuhu. Masa-masa akhir “seseorang” kadang justru adalah kembali mengulangi masa-masa awal yang dulu ia tinggalkan. Hanya saja dengan sikap yang lebih matang.

Disarikan dari kitab Thâbaqât Al-Syafi’iyyah Kubrâ, Pengantar Kitab Al-Bâsith dan Al-Munqidz Min Al-Dzalal.

 

Renungan Hikmah Haji

Islam selalu menarik untuk digali. Banyak hikmah-hikmah tersembunyi dibalik disyari’atkannya berbagai macam ibadah oleh Allah SWT lewat perantara nabi besar Muhammad SAW. Salah satunya adalah ibadah haji, ibadah tahunan yang rutin dilakukan umat islam dari seluruh dunia ini telah menjadi identitas agama islam. Dialah salah satu pilar dan rukun islam, dan dengan ditunaikannya akan menjadi benar-benar sempurna islam seseorang.

Haji ternyata bukan ritus ibadah biasa yang manfaatnya hanya kembali kepada hamba masing-masing. Sama seperti ibadah yang lain, haji memiliki rahasia sendiri, yang sedikit banyak telah disitir dalam alquran.

Haji juga momen istimewa berkumpulnya umat muslim dari seluruh penjuru dunia. Kearifan agama islam yang secara tidak langsung mengajarkan umatnya agar memiliki jiwa sosial disalurkan lewat salat jamaah lima waktu. Aktifitas ini menjadi pemersatu, tidak ada istilah tuan yang terhormat dan budak, karena setiap orang berdiri berdampingan lurus dalam satu barisan. Dalam intensitas yang lebih besar, setiap muslim dari suatu daerah dikumpulkan dalam satu majlis salat jumat. Aktifitas sosial perlahan terbentuk, dan semakin kuat karena setidaknya dalam setahun dua kali mereka juga dikumpulkan dalam salat hari raya.

Hal tersebut seolah belum cukup, dalam ritus haji, tidak hanya umat muslim yang berasal dari satu daerah yang berkumpul. Umat muslim dari seluruh dunia dikumpulkan dalam satu kalimat yang sama. Mereka menuju baitullah yang sama, dan mereka menyerukan doa yang sama.

Manusia saling mengenal, mereka bisa bertukar beragam hal yang bermanfaat dan akhirnya berguna bagi kehidupan. Karena saling mengenal merupakaan salah satu sebab timbulnya rasa saling menyayangi. Dari sinilah Allah SWT mensyari’atkan salat berjamaah, salat jumat, salat hari raya, dan pada akhirnya wuquf di Padang Arafah. Wukuf di Padang Arafah merupakan perkumpulan umat islam yang terbesar. Berkumpulnya umat islam di Padang Arafah yang agung ibarat kata menjadi kongres besar agama islam. Orang-orang islam berkumpul dari berbagai penjuru dunia setiap tahun sekali untuk menyatukan tujuan dan sebagai bentuk persatuan umat muslim. Hanya saja, kita umat muslim hari ini telah kehilangan salah satu tujuan penting ini. Banyak dari kita hanya menilai kalau menunaikan ibadah haji tujuannya untuk sekedar menggugurkan kewajiban, dan agar bisa mendapat gelar Al-Hâj (yang telah berhaji).” Kurang lebih tulis pengarang kitab Hikmatul Hajj, Wa Tharîqati A’mâlihi ‘alâ Al-Madzâhib Al-Arba’ah.

Alkisah, ketika Allah SWT mewahyukan kepada nabi Ibrahim AS untuk membangun Kakbah, bahu membahu beliau beserta putra kesayangannya, nabi Isma’il AS membangun pondasi Kakbah hingga utuh berdiri. Sebagai salah satu amal jariyah yang tak pernah putus-putus pahalanya. Allah SWT kemudian berfirman,
{وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ } [الحج: 27]
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj; 27)Nabi Ibrahim AS kemudian berdiri diatas maqam Ibrahim dan berseru, “Wahai para hamba Allah! Penuhilah panggilan Allah.” Kemudian secara ajaib, atas kuasa Allah SWT, orang-orang dari berbagai penjuru dunia, bahkan mereka yang hidup dan tinggal di daerah pedalaman sekalipun mulai berdatangan menuju Kakbah untuk memenuhi seruan nabi Ibrahim AS. Hingga kini, para jamaah haji selalu disunahkan membaca talbiyyah, bacaan “Labbaikallahumma labbaik”. Yang kurang lebih jika diartikan, “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu”.Hikmah Ibadah HajiHaji adalah momen yang tepat untk saling tukar informasi. Tentu zaman dahulu ketika belum datang era digital dan globalisasi, orang memanfaatkan musim haji untuk berkirim kabar. Jikapun terjadi sesuatu dengan komunitas muslim di negri asal masing-masing, maka jamaah bisa minta bantuan pada jamaah lain yang memiliki komunitas yang jauh lebih kuat memanfaatkan momen haji. Itu salah satu contoh yang dikemukakan oleh Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab Hikmah Al-Tasyri’nya. Ketika semua umat muslim dari beragam etnis berkumpul, haji juga bisa menjadi pusat akulturasi budaya. Mekah seolah menjadi “pusat kebudayaan sementara” karena berbagai peziarah yang datang punya latar belakang adat istiadat yang berbeda-beda tumpah menyatu. Bisa disatukan kala bangsa Turki, misalkan dengan budayanya bertemu dengan bangsa China dengan budayanya. Cara hidup yang berbeda di suatu negri  muslim mungkin akan cocok diterapkan di negri muslim yang lain. Para jamaah bisa saling berbagi pengetahuan dan bertukar pengalaman.

Haji juga merupakan ibadah yang bisa menjadi cara untuk mensyukuri nikmat. Seperti tertera dalam kutub al-salaf, segala ibadah yang kita lakukan ada yang dipenuhi dalam rangka memenuhi hak sebagai seorang hamba, dan adakalanya dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Yang istimewa, ibadah haji mencakup kedua-duanya. Jelaslah dalam haji kita menampakkan kehambaan kita, tidak boleh berhias, memakai minyak wangi bahkan menyisir rambut saja dilarang. Muhrim juga diwajibkan memakai baju yang sangat sederhana tanpa jahitan. Yang dengan keadaan apa adanya ini, sang hamba mengharap akan kasih sayang tuhannya. Sedangkan menampakkan rasa syukur, adalah dengan menginfaqkan harta dan kesehatan yang kita miliki guna menunaikan ibadah haji. Sesuai makna dan hakikat syukur yang benar.

Zaman dahulu, muslim haji adalah musim yang amat ditunggu-tunggu bagi penduduk tanah haram. Berkahnya terasa karena jutaan jamaah haji tidak mungkin rasanya pulang tanpa menyempatkan diri untuk sekedar membeli sesuatu. Sektor perekonomian bisa membaik dengan datangnya tamu-tamu dari berbagai belahan dunia ini. Seperti kita tahu, tanah haram, terutama Mekah adalah negri yang amat mengandalkan perdagangan untuk menunjang kelangsunan hidup. Di Mekah, orang tidak mungkin bercocok tanam karena tanahnya yang gersang dan jarang turun hujan. Dengan datangnya musim haji, berkah bagi para penduduk Mekah yang umumnya pedagang sangat dirasakan.

Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi juga menambahkan, jikalau ibadah haji adalah pelajaran memurnikan akhlak. “Orang yang tengah menunaikan ibadah haji adalah orang yang tengah berpidah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.” Dalam tanda kutip, kita tentu mengetahui akan jauh berbeda rasanya orang yang telah menyelesaikan ritus hajinya. “Dan menjadi orang yang telah diberikan kenikmatan akhlak.” Kita bisa gambarkan, tatkala seorang hamba hendak melangkahkan kaki keluar rumah, ia telah mengakui kesalahan dan bertaubat atas segala dosa-dosa yang ia perbuat. Seraya yakin akan ampunan-Nya. Ia punya gambaran niatan yang baik untuk tak pernah sekalipun mengulangi lagi kesalahan yang telah lewat dimasa lalu.

Maka mari kita syukuri datangnya musim haji tahun ini, kita selalu berdoa, semoga ada di antara kita yang nantinya bisa segera menyusul saudara muslim kita, untuk menziarahi tanah haram. Atau bagi yang sudah pernah, tak ada salahnya berdoa semoga bisa kembali mengulang masa-masa indah itu.[]

Setelah Sepuluh Tahun: Lulus Sorogan Tingkat Ulya

LirboyoNet, Kediri – Gedung Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM-P2L) Senin lalu (22/8) dipenuhi ratusan siswa dari berbagai tingkatan kelas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Mereka berkumpul dalam suasana sejuk demi menggairahkan kembali motivasi belajar di pondok pesantren dan menumbuhkan kembali hasrat dalam menuntut ilmu. Demi menghadiri Pembukaan Aktivitas Sorogan LBM itu, banyak santri bahkan tak mendapatkan ruang kosong di dalam ruangan, hingga terpaksa mengikuti acara dari luar gedung.

Pembukaan ini diisi dengan beberapa rangkaian. Salah satunya, motivasi yang disampaikan oleh Agus H. Said Ridwan. “Yang patut diperhatikan dalam kegiatan sorogan LBM adalah, sorogan itu bukan hanya sekedar datang, belajar, kemudian pulang. Selesai. Tidak begitu. (Hal yang juga penting adalah) peserta sorogan wajib kenal dengan penyorognya. Begitu juga sebaliknya.” Dengan begitu, akan terjalin suatu hubungan baik antara guru dan murid sehingga barokah yang diperoleh lebih besar. Jelas, ini akan berimbas pada hasil belajar santri.

Sebagaimana diketahui, sorogan adalah metode pembelajaran santri aktif di hadapan seorang guru. Mereka, para santri, bergantian membaca kitab kosong mereka di depan guru (baca: penyorog) untuk mendapatkan koreksi dan tashih (pembenaran). Metode ini umum digunakan dalam mayoritas pesantren untuk belajar Alquran dan kitab kuning.

Yang berlaku selama ini, terutama di LBM P2L, santri tidak hanya membaca teks yang tertera. Mereka juga dituntut untuk membacakan maknanya. Padahal, mereka tidak diperbolehkan membawa kitab yang bermakna. Walhasil, cara yang demikian ini mengharuskan mereka, terutama bagi yang masih pemula, untuk mempelajari materi berkali-kali di berbagai tempat, agar dapat menghafal tarkib (susunan kalimat) dan makna dengan tepat.

Untuk menjaga kualitas belajar santri, Cak Said, sapaan akrab beliau, menekankan bahwa kualitas penyorog juga menjadi faktor utama dalam menentukan hasil santri bimbingannya. Maka, LBM tidak main-main dalam menyeleksi siapa saja yang berhak menjadi penyorog.

Di sela pembukaan itu, peristiwa yang langka, bahkan satu-satunya. dalam kurun satu dekade terakhir semenjak diberlakukannya sistem tingkatan pada kegiatan sorogan, baru pertama kali terdapat santri yang berhasil mendapatkan sertifikasi kelulusan pada tingkatan paling tinggi (Ulya).

Sebagai informasi, sorogan LBM mempunyai dua kelompok/kategori: Sullam Taufiq dan Fathul Qorib. Keduanya masing-masing mempunyai tiga tingkatan: Ula; Wustho; dan Ulya. Untuk menyeleksi santri sehingga bisa naik tingkatan, diberlakukan ujian yang bisa dibilang berat. Jauh lebih berat daripada ujian yang diselenggarakan madrasah. Hal ini memang dilakukan untuk menjaga kualitas intelektual santri Ponpes Lirboyo. Tentunya, harus ada perjuangan ekstra keras dalam mencapai tingkatan Ulya, apalagi hingga mendapat penilaian lulus.

Santri yang telah berjuang keras itu adalah Muhammad Syafi’ul Umam, siswa kelas III Tsanawiyah. Masa perjuangannya dalam sorogan memang terbilang singkat. Ia mendaftar untuk masuk sorogan di awal tahun pelajaran 2015-2016, saat ia masih kelas II Tsanawiyah, dan lulus setahun kemudian. Namun ia harus mengorbankan banyak hal. Diantaranya, pengajian kitab kuning yang dibacakan para masyayikh dan dzuriyah. Padahal, ia sangat menyukainya. “Mau bagaimana lagi. Tapi sudah jadi prinsip saya, fokus. Selama fokus terjaga, kita akan mendapat banyak hal,” ujarnya.

Meski begitu, ini bukanlah prestasi, jika tidak mampu menjaga kualitas dan keistiqamahan dalam belajar. “Jika dibilang ini adalah prestasi LBM dalam mencetak santri yang berkualitas, ya terserah. Bagi kami, ini bukan sebuah prestasi karena ini sudah menjadi tugas kami. Yang penting adalah belajar dan terus belajar,” tukas Abdullah Anas, salah satu pengurus LBM.][

Musyawarah Al-Mahalli: Musyawarah Tingkat Lanjut

LirboyoNet, Kediri –Jika masih belum puas adu pendapat di musyawarah Fathul Qorib, mari dilanjutkan di musyawarah Al-Mahalli.” Begitu kira-kira salah satu ungkapan yang dikemukakan untuk menjawab tuntutan santri Ponpes Lirboyo yang haus akan ilmu pengetahuan. Tidak hanya lewat musyawarah Fathul Qorib yang sifatnya lebih terbuka, ada musyawarah tingkat lanjut yang biasanya diikuti oleh santri-santri senior. Dengan standar kitab Al-Mahalli atau nama lainnya Kanzur Rôghibîn, sebuah syarah dari matan kitab yang sangat fenomenal karangan Imam Zakariya Al-Nawâwî, Minhâjut Thâlibîn, musyawarah ini digelar sama seperti jam musyawarah Fathul Qorib. Mulai pukul 23.00 Wis hingga sekitar pukul 02.00 Wis. Hanya saja musyawarah ini digelar setiap malam ahad dengan sistem yang berbeda dan lebih matang.

Musyawarah kitab Al-Mahalli, memiliki dua metode. Metode Talkhîs dan metode Manshûl (Manhaj Ushûl). Metode Talkhîs adalah dengan meringkas khilafiyyah (silang pendapat) antara empat imam utama rujukan ulama mutaakhirin, yaitu Imam Ibnu Hajar Al-Haitami, Imam Syihabuddin Romli, Imam Zakariya Al-Anshôry, dan Imam Khâtib Al-Syirbini yang teradi dalam satu permasalahan yang diajukan dalam soal. Peserta musyawarah  harus jeli membaca perbedaan pendapat diantara empat imam tadi supaya bisa menghasilkan kesimpulan yang objektif. Rujukannya juga berasal dari kitab-kitab karangan empat imam tersebut, seperti Mughni Muhtaj dan Al-Iqna’ nya Imam Khâtib Al-Syirbini, Tuhfatul Muhtaj, Fathul Jawwad, berikut kitab fatawi nya Imam Ibnu Hajar, Nihayatul Muhtaj nya Imam Romli, dan Fathul Wahhâb, dan Ghurorul Bahiyyah nya Imam Zakariyya Al-Anshôri. Persiapannya kadang memakan waktu hingga dua hari, maklum kitab karangan empat imam tersebut bukan hanya itu saja. Persiapan secara insedependen yang diikuti masing-masing kelas tadilah yang akan membawa kesimpulan penting untuk dimusyawarahkan nantinya.

Setiap kelas harus bisa mempresentasikan hasil musyawarah independen mereka dengan selama “dua hari” sebelum naik panggung. Hasil kesimpulan setiap kelas yang telah dipresentasikan kemudian dibahas mana yang paling berbeda.

Untuk musyawarah dengan metode manshûl (Manhaj Ushûl) akan lebih sulit lagi. Pasalnya setiap kelas dituntut harus bisa menggali cara pandang dan istinbath dari empat imam yang berbeda pendapat. Ranahnya bukan lagi membahas fiqh, namun lebih berkutat pada ushûl fiqh dan metode menggali hukum dari dalil-dalil yang ada. Musyawarah manshûl biasanya hanya dilaksanakan sebulan sekali, mengingat tingkat kesulitannya. Musyawarah manshûl biasanya diikuti oleh peserta yang sama.

Pesertanya berasal dari siswa tingkat ‘Aliyyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien dan minimal siswa kelas tiga Tsanawiyyah. Para perumus dan dewan rois Lajnah Bahtsul Masail pun tak lupa turut mengikuti musyawarah sebagai pihak yang “mendamaikan” adu pendapat. []

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah