Bahtsul Masail Pertama PP. Lirboyo: Hukum Bermain Pokemon Go!

LirboyoNet, Kediri– Setelah menjadi “wabah” diseluruh penjuru dunia, gim Pokemon Go! akhirnya mulai dipermasalahkan hukumnya. Lantas sebenarnya apa hukumnya apabila kita memainkan gim ini menurut kacamata fiqh? Mari kita simak hasil rumusan Bahtsul Masail pertama Ponpes Lirboyo yang membahas tentang bagaimana sebenarnya hukum bermain gim ini.

Sebagai catatan, Ponpes Lirboyo secara rutin mengadakan Bahtsul Masail setingkat pondok yang membahas permasalahan-permasalan aktual setiap satu bulan sekali. Hasil-hasil rumusannya semoga bisa bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya,

Untuk hasil rumusan, silahkan mengunduh disini.

Kibarkan Bendera Sebelum Masuk Madrasah

LirboyoNet, Kediri – Kemerdekaan bangsa yang telah diperjuangkan para leluhur, patutlah bagi anak-cucunya untuk menengadahkan rasa syukur. Bagi santri Lirboyo, rasa syukur dapat berupa macam-macam.

Pagi hari itu (17/08), sembari berangkat sekolah, beberapa santri mengusung bendera dari kamarnya hingga ke lokasi kelas. Tentu saja, sambil meneriakkan lagu-lagu kebangsaan. Meneriakkan? Karena suara mereka sangat keras, sehingga menggugah teman-teman mereka yang lain untuk ikut dalam kawanan. Walhasil, dari hanya beberapa santri, bertambah menjadi puluhan yang berada di belakang bendera.

Aroma perayaan juga terasa di pondok-pondok unit. PP HM Al Mahrusiyah misalnya. Dilaksanakan di lapangan sekolah, ratusan siswa dengan khidmat mengikuti upacara bendera. karena telah terbiasa dengan pelaksanaan serupa, para penggawa upacara terlihat siap dan sigap.

Lain halnya yang terjadi di PP HY. Tiang bendera baru berdiri sehari sebelum pelaksanaan upacara. Tempatnya pun bukan di lapangan besar. Para santri merapikan halaman depan kamar berukuran 6×8 meter, yang mereka anggap cukup besar untuk menghelat perayaan.

Meski demikian, mereka tidak kehilangan ruh kemerdekaan yang juga berdiam di berbagai penjuru Nusantara. Para peserta mempersiapkan pakaian mereka masing-masing. Bukan seragam, melainkan apa yang mereka anggap mewakili perasaan mereka akan berartinya sebuah kemerdekaan. Dari seperangkat seragam pramuka, pakaian tentara, hingga jubah mirip kepunyaan Panglima Soedirman.

Tidak ada panggung kehormatan untuk dipasang sebagai tempat pembina upacara. Mereka tak kehilangan akal. Becak lusuh pun mereka manfaatkan sebagai penggantinya.

PPHM juga tidak ketinggalan. Beberapa santri menata halaman blok sedemikian rupa, dan mengibarkan merah-putih di tengah-tengahnya. Puluhan santri yang akan roan (gotong royong) di sawah dan bangunan milik para masyayikh juga mengawali kegiatan hariannya itu dengan menyanyikan Indonesia Raya.

Meski dengan peringatan sederhana, Indonesia yang sudah berusia 71 tahun ini telah menjadi darah dan tulang para santri. Mereka adalah para pewaris ulama dengan cita-cita mulia: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.][

Dari Kediri Menuju Saudi

LirboyoNet, Kediri – Setelah selesai membangun kembali bangunan Ka’bah, Nabi Ibrahim menyeru di atas tempat yang tinggi, sebuah simbol bagi panggilan  kepada seluruh umat manusia dari segala zaman untuk datang dan menghamba di kota yang dahulu sempat bernama “Bakkah” itu.

Di Aula Al Muktamar, suara itu terdengar bergema. Selasa (16/08) kemarin, ratusan jamaah haji berkumpul untuk memenuhi seruan Nabi Ibrahim itu. Empat bus dan beberapa kendaraan lain disiapkan untuk memberangkatkan mereka menuju Surabaya, tempat pemberhentian sebelum berangkat ke Saudi Arabia.

Para jamaah, juga keluarga yang mengantar mereka, mulai berdatangan sejak siang hari. Bermacam ekspresi para jamaah ketika mereka menurunkan koper haji. Mereka usap kepala anak-anak dan cucu dan membisikkan sesuatu. Maklum saja, itu adalah pertemuan terakhir dengan keluarga sebelum nanti kembali dari ibadah haji.

Menjelang maghrib, jamaah sudah lengkap di daftar panitia. Segera saja, rombongan yang sudah menaiki bus masing-masing diberangkatkan. Simbolisasi pemberangkatan itu dilakukan oleh pengasuh Ponpes Lirboyo KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar.

Sebelumnya, walikota muda itu berpesan kepada para jamaah, “Jangan berlebihan di sana. Banyak-banyak ibadah dan berdoa bagi kemashlahatan kita. Jangan sibuk belanja. Barang-barang di sana sama saja (dengan di sini),”. Selayaknya bepergian ke tempat yang jauh, dan ibadah yang butuh tekad teguh, rombongan menengadahkan harapan dan berdoa, dengan dipimpin oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, yang beberapa anggota keluarga beliau juga ikut rombongan haji tahun ini.][

Jumat Bersih Ponpes Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Tidak seperti tahun-tahun kemarin, agenda Jumat yang biasanya diisi dengan libur dan istirahat setelah selama seminggu penuh menelaah kitab kuning, hari ini (12/08) diisi dengan bersih-bersih. Agenda baru yang disosialisasikan oleh pengurus Pondok Pesantren Lirboyo ini dikoordinir oleh pengurus blok asrama santri masing-masing. Sesuai rencana, kegiatan ini akan dilaksanakan di setiap Jumat pagi. Mulai tahun ini jugalah Lirboyo semakin berbenah dalam masalah kebersihan dan ketertiban asrama. Lebih menarik, kalau bersih-bersih pondok biasanya hanya dilaksanakan oleh seksi kebersihan (KBR), sekarang bersih-bersih khusus hari Jumat dilaksanakan oleh semua santri.

Biasanya, tugas yang diamanatkan kepada seksi kebersihan kurang maksimal dijalankan. Memang, personil Seksi Kebersihan berjumlah puluhan santri. Namun apabila kita bandingkan dengan luasnya pondok Pesantren Lirboyo, jumlah mereka tidak sebanding. Akhirnya tugas mereka hanya berkisar menyapu dan mengumpulkan sampah-sampah yang ada di tempat sampah untuk diangkut ke tempat pembuangan. Itupun sudah menyita waktu mereka hingga siang hari.

Sekitar pukul 07.00 WIs (Waktu istiwa”) pengurus mengingatkan lewat pengeras suara yang terpasang di sekitar kamar-kamar santri. “Hari ini agenda jumat bersih,” demikian kira-kira. Sesaat kemudian, mulai nampak banyak santri yang keluar kamar dengan membawa alat-alat kebersihan masing-masing. Ada diantara mereka yang beramai-ramai mengajak santri lain di kamar yang letaknya bersebelahan. Semakin banyak yang ikut, semakin ringan pula tugas yang harus dilakukan.

Secara swadaya santri-santri terlihat bergerombol di sekitar kamarnya masing-masing. Mereka dengan penuh semangat tanpa dikomando membersihkan tempat-tempat yang terlihat kotor dan perlu untuk dibersihkan. Utamanya tempat-tempat yang biasanya luput dari jangkauan seksi kebersihan dan petugas piket kamar masing-masing. Bahkan hingga jeding (tempat wudhu) juga tak meleset dari sasaran. Air yang sudah agak kotor dikuras habis dan tempat di sekitarnya disikat menggunakan sikat khusus.

Pada dasarnya, kegiatan ini sudah pernah dilangsungkan beberapa tahun lalu. “Iya. Dulu memang pernah ada. Namun baru tahun ini diaktifkan kembali,” tukas Maftuch, salah satu pengurus pondok.

Dengan adanya program ini, kebersihan di sekitar areal pondok pesantren menjadi lebih terjamin. Karena yang dibersihkan bukan hanya sampah-sampah yang kelihatan berserakan saja. Rumput-rumput yang sudah meninggi dan tanaman yang terkesan mengganggu pemandangan dapat dibersihkan minimal seminggu sekali.

Diharapkan dengan adanya program ini Pondok Pesantren Lirboyo jauh dari kesan kumuh dan kotor. Karena sebenarnya segala cara sudah ditempuh untuk sebisa mungkin membuat lingkungan pondok tetap asri dan bersih. Bagaimana dengan lingkungan Anda? []

Apa Kabar Musyawarah Fathul Qarib Lirboyo

LirboyoNet, Kediri. Dengan dimulainya kembali seluruh aktifitas Lajnah Bahtsul Masail Ponpes Lirboyo (LBM P2L), dimulai pula seluruh kegiatan ekstra kulikuler penunjang, seperti musyawarah Fathul Qarib perdana yang kamis kemarin malam (11/08) dimulai. Selain musyawarah Fathul Qarib, juga dilaksanakan musyawarah kitab Al-Mahalli yang sedianya di agendakan setiap malam ahad.

Pembukaan musyawarah Fathul Qorib kemarin berlangsung dengan suasana penuh semangat. Antusiasme santri, terutama siswa yang baru menginjak kelas satu tsanawiyyah tahun ini seolah tak terbendung. Ratusan jumlahnya memenuhi gedung LBM P2L guna berpartisipasi meramaikan musyawarah. Bahkan banyak dari peserta yang terpaksa harus duduk di emperan dan teras gedung karena auditorium sudah tidak mampu lagi menampung jumlah peserta musyawarah. Mereka yang bisa masuk, harus rela duduk berdesak-desakan di dalam gedung. Awal tahun pelajaran ini, musyawarah Fathul Qorib materinya dimulai lagi dari awal, “Kitab Ahkâm Thohârah”. Sebagai catatan, akhir tahun pelajaran kemarin, materi musyawarah telah mencapai bab terakhir dan selesai. Khatamanpun dihadiri oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus. Musyawarah dimulai sekitar pukul 23.00 WIs (Waktu Istiwa’) hingga pukul 02.00 WIs lebih. Agus HM. Sa’id Ridhwan, salah satu dewan rois LBM P2L kurang lebih menyampaikan pada pembukaan tadi malam, “Tidaklah pesantren salaf dibangun kecuali mencintai ilmu.” Beliau mengeluhkan, “Banyak orang yang cinta ilmunya saja. Syari’atnya saja” Dalam artian, kebanyakan pencari ilmu kurang membagi kecintaan mereka terhadap shôhibus syâri’at (Dalam konteks ini adalah Nabi Muhammad SAW.), dan justru hanya senang mempelajari syari’atnya saja. Akibatnya, mereka kurang memperhatikan amaliyah dan tidak begitu mementingkan ibadahnya. Kemudian timbulah perasaan kurang ikhlas dalam bertaqarrub dan “penyakit-penyakit” lainnya. “Kalau mencari ilmu kita ekspresikan sebagai cinta kepada Nabi, itu merupakan afdholil maulid” kata beliau mengutip maqolah seorang ulama.

Musyawarah Fathal Qorib merupakan tradisi yang sudah bergulir sejak bertahun-tahun silam. Tradisi ini terus dilestarikan hingga sekarang. Di Lirboyo, musyawarah Fathal Qorib merupakan salah satu ajang yang paling bergengsi bagi setiap angkatan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mulai tingkat Tsanawiyyah hingga ‘Aliyyah. Disinilah setiap angkatan menunjukkan kesiapan dan kematangan mereka dalam beradu argumen. Sehari sebelum musyawarah dilaksanakan, sudah menjadi adat kalau setiap angkatan mengadakan Pra Fathul Qarib. Semacam musyawarah dengan cakupan peserta yang lebih intern demi mempersiapkan materi yang hendak dibahas di gedung LBM P2L. Persiapan menjadi  lebih matang lagi karena biasanya dua hari sebelum musyawarah Pra Fathul Qorib dilakukan musyawarah lagi. Musyawarah ini biasanya dikoordinir oleh pengurus tiap-tiap Himpunan Pelajar santri atau yang sejenis. Anggotanyapun hanya terbatas pada santri-santri di tiap-tiap daerahnya masing-masing. Persiapan yang bisa memakan waktu hingga berhari-hari dengan referensi dari berbagai kitab komentar (Syarah) dan catatan pinggir (Hasyiyah) ini tentu membuat pembahasan musyawarah Fathul Qorib menjadi semakin dalam. Bahkan tidak hanya sekedar membawa referensi standar sebagai bahan acuan bermusyawarah, tak jarang peserta juga menampilkan kitab-kitab yang tergolong besar dan sulit, seperti Majmu’ dan Al-Hâwi Al-Kabîr yang tebalnya puluhan jilid. Pembahsan materi dilakukan pelan-pelan. Sekali pertemuan, biasanya hanya mampu membahas satu fasal atau bahkan setengan fasal saja.

Musyawarah dipandu oleh seorang rois pembaca yang bertugas membacakan materi, dan seorang moderator yang bertugas memimpin jalannya musyawarah. Dewan perumus dan dewan rois LBM P2L juga hadir turut menjadi pengarah. Beliau-beliaulah yang nantinya mendapatkan mendapat bagian akhir untuk menyimpulkan hasil pembahasan, serta melengkapi beberapa kekurangan yang belum sempat terbahas. “Tujun LBM dibangun, untuk mencetak kader yang handal. Setaraf disebut al-‘alim dan al-faqih” kata Agus HM. Sa’id Ridhwan.[]

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah