HIMASAL Cabang Jember

STRUKTUR PERSONALIA PENGURUS
HIMPUNAN ALUMNI SANTRI LIRBOYO (HIMASAL)
CABANG JEMBER
Masa Khidmah : 2015-2020

I. PENASEHAT

1. K. Hamdan
2. H. Sulaiman
3. K. Luqman Hakim
4. K. Hidayat Ahmad
5. KH. Nur Kholis
6. H. Hasim
7. H. Muhtar
8. K. Abdulloh Hirzuna
9. K. Thoyib
10. H. Bahrudin
11. K. Zainudin

II. DEWAN HARIAN

Ketua Umum : K.Yusuf Masduqi
Wakil Ketua : Bpk. Adib Fauzi, Bpk. Imam Juremi dan H. Munir

Sekretaris : Bpk. Jahrowi
Wakil Sekretaris : Bpk. Abdul Rohim, Bpk. Shoutul Azkiya dan Bpk. M. Farid Wajdi

Bendahara : Bpk. Hanafi
Wakil Bendahara : H. Nadhim

III. DEPARTEMEN – DEPARTEMEN

A. PENERANGAN DAN DAKWAH : Bpk. Nur Muhammad, Bpk. Syaiful Ulum dan Bpk. Agus Wasilan

B. PENDIDIKAN DAN KADER : Bpk. Masruhan Zuhri, Bpk. Imam Bukhori dan H. Sulthon

C. EKONOMI DAN KEUANGAN : H. Ahmad, Bpk. Abd. Kholiq dan Bpk. Ubaidilah

D. ORGANISASI : Bpk. Samsul Muhana, Bpk. Fatkhul Maki dan Bpk. Imam Syafi’i

E. BAHTSUL MASA-IL : K. Abdul Karim, K. Rohmatulloh dan K. Fatkhurrozi

F. TA’LIF WA NASYR : Bpk. Miftahul Huda, Bpk. Nur Bayin dan Bpk. Jamhari

G. HUMASY : Bpk. Harun, Bpk. Sanhaji, Bpk. Israhun Niam, Bpk. Luqman Hakim, Bpk. Nahrowi, Bpk. Habibul Imam, Bpk. Zainal Arifin, Bpk. Abd. Rohim, Bpk. Nur Hadi dan Bpk. Gufron.

Malam Takdzim Maulidun Nabi

LirboyoNet, Kediri – Malam itu (23/12), ribuan tahun yang lalu, Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Dan perayaan maulid, kelahiran beliau, senantiasa diperingati sepanjang tahun dengan beragam cara dan tradisi yang berbeda-beda di seluruh penjuru dunia. Ada yang membacakan Maulid Al-Barzanji, ada yang melantunkan Maulid Al-Diba’i, dan berbagai macam perayaan lainnya. Segala macam perayaan ini adalah wujud dari kegembiraan atas lahirnya Nabi, Sang Pemberi Syafa’at.

Di malam itu pula, Pondok Pesantren Lirboyo kembali memperingati hari lahir Baginda Nabi dengan perayaan sederhana di serambi Masjid Lawang Songo. Peringatan maulid di sini memang selalu sederhana. Tidak dengan gegap gempita, dekorasi sana-sini, maupun penceramah kondang. Namun kesederhanaan inilah yang membuat acara menjadi lebih khidmat.

Diliputi suasana antusias dari santri yang tidak pulang liburan maulud lalu, serambi masjid nampak penuh sesak dipadati oleh mereka. Peringatan maulid dengan tema, “Malam Takdzim” ini dihadiri oleh segenap masyayikh dan dzuriyyah Pondok Pesantren Lirboyo, seperti KH. M. Anwar Manshur, KH. Habibullah Zaini, dan KH. Atho’illah S. Anwar.

Acara dimulai dengan beberapa kasidah oleh “Antadulla”,  sebuah grup rebana dari komunitas santri Luar Jawa. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tawassul. Setelah dibacakan Maulid Al-Diba’i, acara ditutup dengan doa oleh KH. M. Anwar Manshur.

Di tengah-tengah acara, Mbah War, sapaan akrab KH. M. Anwar Manshur, menyampaikan bahwa kita patut bahagia dan bersyukur bisa terlahir menjadi umat Nabi Muhammad SAW. “Wong sing atine bungah kaleh lahire kanjeng nabi mbenjing bakal disyafa’ati (Orang yang berbahagia dengan kelahiran Nabi Muhammad nanti akan mendapat syafa’at).” Lebih-lebih, kita sebagai santri yang seharusnya dapat senantiasa meneladani perilaku keseharian dari Nabi Muhammad SAW. Beliau menambahkan, “Senajan wes sak menten dangune, tetep saget melu nopo sing didawuhne Nabi Muhammad. (Walaupun sudah terpaut sekian lama, kita tetap bisa ikut apa yang diperintahkan Nabi Muhammad dulu.)”

Kita yang hidup di zaman yang jauh dari zaman Rasulullah, harus bisa mempertahankan apa yang telah digariskan oleh Nabi. “Ganjarane podo karo seket shohabat (Pahala hidup di zaman seperti ini ibarat pahalanya limapuluh sahabat),” tekan beliau, mengingat betapa beratnya perjuangan dan tantangan yang harus dihadapi oleh umat Islam sekarang.

Setelah ditutup, segenap yang hadir malam itu menikmati suasana kebersamaan dengan ngeblek bersama. Meskipun dengan lauk “ala kadarnya”, puluhan eblek yang dikeluarkan oleh panitia habis tidak tersisa. Bahkan saking banyaknya santri yang hadir, ada beberapa yang tidak mendapat bagian.][

Kumpulan surat (untuk ibu)

Hari pertama di pesantren.

Ibu, ini adalah hari pertama Adrian menapakkan kaki di pesantren. Rasanya asing. Apa Adrian akan sanggup bertahan di sini?

Hari ke-4 di pesantren.

Assalamu’alaikum… bagaimana kabar Ibu di sana? Adrian baik-baik saja. Semoga Ibu juga baik-baik saja. Amin. Sudah beberapa hari Adrian di pesantren ini. Tapi, tetap saja rasanya masih asing. Masih kepikiran rumah terus.

Bu, Adrian kangen sama Ibu, Bapak, Paman, Bibi, semuanya. Oh iya, bagaimana kabar Nenek? Tolong bilangin ke Nenek kalau Adrian kangen sama Nenek. Adrian sayang ibu. Dadah, Ibu.

Hari ke-5 di pesantren

Bu, hari ini Adrian dihukum. Dihukum karena terlambat sekolah. Padahal Adrian terlambat ada alasannya. Waktu mau berangkat Adrian nyari sandal tapi gak ketemu-ketemu sampai terlambat. Tapi tetap saja Adrian dihukum.

Hari ke-7 di pesantren.

Bu, hari ini adrian dihukum lagi. Cuma gara-gara gak hafal pelajaran saja disuruh jalan jongkok di depan kelas. Iya kalau cuman sekali, lah ini berkali-kali. Ibu tahu kan kalau menghafal bahasa orang yang tidak dimengerti itu tidak mudah? Ibu juga tahu kan kalau Adrian paling susah buat menghafal sesuatu?

Sudah dua hari ini Adrian dihukum karena tidak hafal pelajaran. Adrian sedih, Bu. Ini baru dua hari paha Adrian sudah sakit semua. Nyeri. Kalau Adrian gak hafal terus bagaimana, Bu? Adrian pengen nangis, Bu.

Hari ke-11 di pesantren:

Mulai dari hilangnya sandal Adrian, sekarang Adrian kalau kemana-mana gak pakai sandal. Gak pakai alas kaki. Awalnya agak jijik apalagi kalau jalannya becek. Tapi mau bagaimana lagi? Kata teman Adrian, percuma beli lagi, nanti juga hilang lagi.

Beberapa hari gak pakai sandal, telapak kaki Adrian pecah-pecah. Mungkin karena kepanasan waktu pulang sekolah. Rasanya kaki kaya dibakar, Bu.

Hari ke-15 di pesantren:

Sudah lima hari berturut-turut Adrian dihukum. Sejak awal kan Adrian sudah menolak keputusan Ibu dan Bapak buat masukin Adrian ke pesantren. Apalagi pesantren yang banyak hafalannya. Adrian gak cocok di sini, Bu! Adrian gak betah! Apa Ibu mau kaki Adrian diamputasi karena keseringan jalan jongkok?

Tapi biarlah, Bu. Jangan Ibu hiraukan keluhan Adrian. Adrian yakin, meski Adrian menjerit-jerit pun keputusan Ibu dan Bapak tidak akan berubah. Rasanya sakit, Bu.

Hari ke-16 di pesantren:

Hmmm, hari ini Adrian gak belajar, Bu. Capek. Biarin besok jalan jongkok lagi. Sekalian saja biar kecapean terus sakit sekalian. Biar gak masuk sekolah, atau mungkin sekalian pulang.

Hhh, rumah! Biasanya kalau malam-malam begini paling enak nonton TV sambil makan mie buatan Ibu. Mie kesukaan Adrian yang paling enak sedunia. Sayangnya Ibu sudah lama gak buatin Adrian mie. Huh! Adrian kangen, Bu. Pengen pulang.

Hari ke-20 di pesantren:

Bu, kemarin Adrian cerita sama temen kamar yang sudah dua tahun di sini. Adrian tanya, bagaimana bisar bisa betah? Terus, kenapa kok susah hafalan? Gimana biar mudah dan cepat hafal?

Katanya, sih, kalau mondok harus fokus. Gak boleh mikir yang aneh-aneh. Tapi, apa mikirin rumah itu aneh? Terus, katanya kalau di pondok harus ingat tujuan mondok. Yang bikin bingung, tujuan Adrian mondok apa? Kan yang ngirim Adrian ke pondok Ibu sama Bapak.

Terus, katanya, kalau masalah hafalan semua orang bisa hafal asal orang tersebut tekun dan bersungguh-sungguh. Berarti Adrian belum tekun ya, Bu? Belum bersungguh-sungguh ya, Bu?

Kalau memang dengan mondok dapat membuat Bapak dan Ibu bahagia, Adrian akan berusaha bersunguh-sungguh. Adrian akan menjadi santri yang tekun buat Ibu, buat Bapak. Adrian akan berusaha.

Hari ke-26 di pesantren:

Bu, Adrian dua hari ini gak dihukum. Alhamdulillah hafal, walaupun sebelum-sebelumnya dihukum terus. Gak tau kok bisa hafal. Padahal cuma Adrian baca terus bolak-balik. Eh, gak taunya hafal sendiri.

Bu, Bapak capek ya kerja terus buat biayain Adrian? Mondok pasti juga ada biayanya. Buat makan, beli kitab dan lain-lain. Kasihan Bapak, Bu. Adrian bisanya menghabiskan uang saja! Gak bisa bantu-bantu Bapak. Harusnya dulu Ibu sama Bapak turutin saja keinginan Adrian buat bantuin Bapak bekerja. Tapi, Bapak sama Ibu tetap berbulat tekad.

Hari ke-31 di pesantren:

Bu, bagaimana kabarnya? Maaf Adrian jarang kirim surat ke Ibu. Tapi alhamdulillah, Adrian sekarang sudah mulai biasa di sini. Juga sudah jarang dihukum. Ya, cuma sekali-dua kali saja. Bu, tapi rasanya masih ada yang janggal, Bu.

Hari ke-35 di pesantren:

Hmm, Bu, sebenernya kejanggalan di hati Adrian itu, mondok itu buat apa sih? Kalau cuma makan, tidur, sekolah, hafalan, terus ngerepotin Bapak saja, mending Adrian kerja saja bantuin Bapak. Bapak sudah berumur. Apalagi waktu adrian berangkat ke pondok, Bapak sering sakit-sakitan. Tapi meskipun sakit, Bapak tetap saja bekerja. Gak kaya Adrian yang sedikit-sedikit mengeluh. Adrian gak tega Bu, sama Bapak. Kasihan Bapak.

Hari ke-43 di pesantren:

Bu, kemarin Adrian nangis berat. Soalnya kejanggalan di hati Adrian semakin membesar. Ibarat orang buta yang berjalan di tengah kegelapan. Hari ini Adrian menangis lagi, Bu. Bukan karena kegelapan tersebut. Tapi karena ada setitik cahaya yang mampu menyinari kegelapan dan membuat semuanya menjadi lebih jelas.

Tadi, seusai salat jamaah, Mbah Yai dawuh banyak hal. Seolah-olah ditujukan buat Adrian. Jawaban atas semua kejanggalan-kejanggalan Adrian.

Adrian sekarang paham maksud Ibu dan Bapak ngirim Adrian ke pesantren. Mungkin mondok terlihat begitu sepele, tapi faedah dibalik semua itu begitu besar. Begitu luar biasa.

Pesantren  itu tempat pelatihan, tempat pembelajaran. Belajar menjadi pribadi yang bertakwa, berakhlak, pribadi yang kelak menjadi contoh ketika hidup di masyarakat. Faedahnya banyak, Bu! Diajari tentang pentingnya ilmu agama, elajar bersosialisasi dan masih banyak yang gak bisa Adrian sebutin satu persatu.

Di dalam pesantren, kata Mbah Yai, juga termasuk ibadah, membantu orang tua, menegakkan agama, juga berperang melawan kebodohan. Sungguh bodohnya Adrian pernah menolak belajar di pesantren. Adrian sekarang paham. Adrian mengerti. Adrian bersyukur bisa mendapatkan kesempatan belajar di sini, Bu. Apalagi tidak ada yang tahu kapan detak jantung akan berhenti.

Maaf ya, Bu. Terimakasih. Mulai sekarang Adrian akan rajin belajar dan bersungguh-sungguh.

Hari ke-91 di pesantren:

Assalamu’alaikum, Bu. Bagaimana kabar Ibu? Maaf, Adrian gak ngabarin Ibu. Adrian sudah betah di sini. Banyak teman, berdiskusi keilmuan, belajar hal-hal baru, banyaklah pokoknya. Kalau pulang sih pasti pengen. Tapi Adrian sudah bertekad buat pulang kalau sudah tamat, sudah berilmu. Adrian masih belum berilmu.

Oh iya, sekarang yang Adrian bingungkan gimana ngirim surat-surat ini ke Ibu? Apa tanpa dikirim Ibu sudah tahu? Sudah baca? Bagaimana ngirimnya? Bu, Adrian kangen Ibu. Bapak di rumah juga pasti kangen sama Ibu. Ibu baik-baik ya di sana! Adrian sayang Ibu.

Hari ke-237 di pesantren:

Bu, Adrian sedih kenapa Paman sama Bibi gak jujur sama Adrian? Kenapa Ibu gak bilang kalau Bapak pergi ke tempat Ibu juga? Bahkan Adrian belum mengucapkan maaf… dan terimakasih. Kenapa Bapak gak pamit sama Adrian? Kenapa begitu cepat? Kenapa Bapak dan Ibu pergi ninggalin Adrian?

Sudah lebih dari tujuh hari Bapak pergi. Ibu gak ngasih tau Adrian. Paman dan Bibi baru ngasih tau tadi. Rasanya sepi, Bu. Sedih….

Hari ke-245 di pesantren:

Assalamu’alaikum, Bu. Bagaimana kabarnya Ibu? Di situ ada Bapak juga kan? Bapak juga baik-baik saja kan, Bu? Adrian di sini baik-baik saja. Semoga semuanya baik juga. Amin.

Semenjak Bapak pergi ke tempat Ibu, Paman dan Bibi yang biayain adrian. Sebenarnya Adrian ngerasa gak enak. Tapi mau bagaimana lagi? Adrian gak boleh pulang sam Paman dan Bibi. Kata Paman dan Bibi, selama Paman dan Bibi masih sanggup buat biayain, Adrian harus terus belajar di pesantren. Adrian tidak ingin menolak kebaikan untuk kedua kalinya. Walaupun rasa membebani itu masih ada dan terus ada.

Hari ke-1175 di pesantren:

Assalamu’alaikum, Bu! Sudah gak kerasa Adrian sudah Tsanawiyah. Memang mencari ilmu itu menyenangkan, ketika dibarengi kesungguhan dan rasa haus akan ilmu. Seolah rasa haus itu tak kunjung reda.

Bu, hari ini Adrian putuskan untuk berkhidmah di ndalem. Ngalap barokah Mbah Yai, ikut bantu-bantu pondok, belajar praktek di masyarakat. Juga tidak lupa untuk terus belajar.

Beberapa hari lalu, Adrian sudah bicara sama Paman dan Bibi. Katanya kalau keputusan Adrian sudah bulat, terserah Adrian maunya bagaimana.

Oh iya, ada satu pesan Bapak yang selalu Adrian ingat. Kata Bapak, kita harus selalu semangat dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan suatu pekerjaan. Adrian akan terus semangat dan bersungguh-sungguh selagi ada kesempatan untuk Adrian berkhidmah. Doakan Adrian ya, Bu…!

Hari ke-2915 di pesantren:

Assalamu’alaikum! Bu, ini tahun terakhir Adrian di Aliyah. Ketika dibayangkan, rasanya begitu lama. Namun, ketika dijalani dengan sepenuh hati seakan-akan semuanya cepat berlalu.

Hari ke-3247 di pesantren:

Assalamu’alaikum! Ibu, Bapak, dan Nenek baik-baik saja kan? Alhamdulillah Adrian juga sehat.

Tadi pagi adalah acara terakhir. Semacam acara kelulusan atau akhirussanah. Tadi, waktu acara berlangsung, Adrian sempat terbawa suasana haru. Teringat hari-hari pertama masuk sekolah, musyawaroh, muskub, jalan jongkok di depan lokal, berdiri di kelas, dan banyak lainnya.

Semua kenangan itu tiba-tiba hadir bergantian, membuat Adrian tak mampu lagi menahan air mata. Seolah proyektor yang menampilkan sebuah perjuangan panjang. Sembilan tahun, bukanlah secepat kedipan mata. Berawal dari keengganan masuk pesantren sampai akhirnya dapat menghatamkan Aliyah.

Terimakasih ya Rob! Terimakasih ya Bu!

Hari ke-3250 di pesantren:

Assalamua’alaikum Bu, Bapak, Nenek, terimakasih atas doa-doanya. Sehingga Adrian bisa tamat peantren ini.

Bu, Adrian putuskan untuk mengabdi di sini. Adrian masih betah di sini. Mungkin hanya setahun saja. Ya, mungkin….

Hari ke 3615 di pesantren:

Assalamu’alaikum! Tidak terasa sudah satu tahun telah terlewati, besok Adrian akan pulang. Sudah lama Adrian membebani Paman dan Bibi. Sekarang saatnya Adrian yang membantu Paman dan Bibi. Saatnya Adrian untuk terjun ke masyarakat. Menerapkan dan mengamalkan imu yang telah Adrian peroleh.

Malam ini adalah malam terakhir, terbayang semua yang telah terjadi di tempat yang penuh kenangan ini. Canda, tawa. Tangis, semua bercampur menjadi satu. Tidak terasa air mata ini menetes. Ibu, Adrian akan selalu merindukan tempat ini.{}

 

Oleh : Bashori

Sabtu, 24 oktober 2015. Penulis adalah Santri kamar HMC asal Mojokerto

Sepotong Roti Penebus Dosa

Diriwayatkan dari Abu Burdah bin Musa al Asy’ari, bahwasanya ketika menjelang wafat, Abu Musa memberikan nasihat kepada salah seorang putranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita seorang yang mempunyai sepotong roti?” kata beliau.

Dahulu kala, ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ia melakukan ibadah selama lebih dari 70 tahun lamanya. Selama itu pula ia tidak pernah meninggalkan tempat ibadahnya, kecuali pada hari-hari yang telah ditentukan. Hingga pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik. Dan dia pun tergoda dalam bujuk rayunya. Akhirnya, mereka masuk dalam lautan asmara, bergelimang di dalam dosa. Tujuh hari lamanya mereka tenggelam dalam nafsu setan, melakukan hubungan layaknya suami istri.

Setelah itu, ia pun sadar akan perbuatannya yang telah melanggar perintah Tuhan, karena itu ia bertaubat. Kemudian ia melangkahkan kakinya, pergi mengembara. Dalam pengembaraannya ia selalu mengerjakan salat dan bersujud. Setelah sekian lama melanglang buana kesana kemari, akhirnya sampailah perjalanannya ke sebuah pondok yang didiami oleh dua belas orang fakir miskin. Karena sudah sangat letih, ia bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, sehingga akhirnya ia pun tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.

Di samping kedai itu, hidup seorang pendeta yang setiap malam mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu. Masing-masing mendapatkan jatah sepong roti. Suatu ketika datanglah seseorang yang membagi-bagikan sedekah kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok itu. Begitu pula lelaki itu, ia juga mendapat bagian karena disangka orang miskin.

Setelah sedekah selesai dibagikan ternyata ada seorang di antara mereka yang tidak mendapat bagian. Sehingga ia menanyakan kepada orang yang membagikan roti itu: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku?” Orang yang membagikan roti itu pun menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari sepotong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, lelaki itu megambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya orang yang bertaubat itu didapati telah meninggal dunia.

Di hadapan Allah, ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukannya selama lebih kurang 70 tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh hari. Namun ibarat panas setahun hujan sehari. Ternyata kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh hari itu mengalahkan berat timbangan amal yang dilakukan selama lebih dari 70 tahun. Namun untunglah, pahala yang didapat dari memberikan roti itu lebih berat dari dosa yang dilakukan selama tujuh hari, dan akhirnya selamatlah ia dari api neraka yang sangat pedih.

Kepada putranya, Abu Musa berkata lagi: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu.”

 

Oleh: Ieda Assalmiyah, P3TQ Lirboyo

LIM Lirboyo Mempersiapkan Dai

LirboyoNet, Kediri – Dakwah menjadi peristiwa yang tak bakal lekang. Dia harus selalu ada untuk menguak cahaya. Umat memerlukan cahaya dakwah sebagai petunjuk ke mana seharusnya wadag dan jiwa mereka berarah. Kebutuhan umat akan petunjuk belakangan ini telah sedemikian urgen. Dunia yang semakin gemerlap, telah mengaburkan pandangan umat akan cahaya yang seharusnya dianut.

Kebutuhan ini yang menjadi titik tolak Lembaga Ittihadul Muballighin Pondok Pesantren Lirboyo (LIM P2L) dalam menentukan arah juangnya. Safari Ramadlan, yang telah menjadi program bertahun-tahun, kian mendapat perhatian dari masyarakat. Terbukti, dalam beberapa tahun terakhir ini, Safari Ramadlan sudah merambah hingga Luar Jawa. Pontianak misalnya. Dengan dukungan dari masyarakat lokal, para santri yang ditugaskan di sana dapat mengemban amanah dari pondok dengan baik dalam tahun pertama mereka Ramadlan kemarin.

Untuk Ramadlan depan, peran mereka dan santri-santri dari daerah lain, sangat diharapkan untuk memberikan partisipasi lebih. Dalam sidang koordinasi LIM Pusat dan Dewan Harian Safari Ramadlan Daerah, Rabu (16/12) kemarin, diungkapkan bahwa kebutuhan masyarakat akan ilmu agama semakin tinggi.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

“Peran kita telah ditunggu-tunggu masyarakat. Kalau bisa, kita harus ikut dalam pembangunan mental beragama masyarakat,” ucap Harun al-Rasyid, salah satu dewan harian LIM P2L. Maka tidak bisa tidak, para delegasi Safari Ramadlan harus bermu’asyarah dengan masyarakat. “Setelah maulud, akan kita adakan pelatihan khusus untuk para delegasi, bagaimana cara berdakwah yang seharusnya, bagaimana bermu’asyarah, dan sebagainya,” imbuhnya.

Sidang Koordinasi yang dilaksanakan di gedung Rusunawa ini bertujuan untuk mempersiapkan para pengurus Safari Ramadlan Daerah, agar tahu langkah apa yang harus ditempuh untuk membuat sistem yang baik dalam kegiatan safari tahun depan. Mulai dari menentukan tempat, mengonsep kegiatan, mencari dukungan, dan lain-lain.

Dan dalam menikmati liburan maulud kemarin, para pengurus Safari Ramadlan daerahnya masing-masing sudah dapat menentukan tempat yang akan dijadikan lokasi safari. Bahkan sebagian sudah bisa menjalin hubungan yang lebih erat dengan tokoh daerah setempat. Tentu saja agar kegiatan ini dapat berjalan sesuai keinginan dan tujuan LIM khususnya dan Ponpes Lirboyo pada umumnya.][

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah