Takzim Kiai, Santri Ini Bersepeda 300 Kilometer

LirboyoNet, Kediri – Syaeful Badrul Alaina, seorang santri, bersepeda pancal menempuh jarak hingga 300 kilometer dari Jogjakarta menuju Kediri. Pemuda berusia 23 tahun itu melakukannya untuk menghadiri haul KH Imam Yahya Mahrus pengasuh HM Al-Mahrusiyah Lirboyo, Sabtu (5/12/2015). Di pondok itu dia pernah menuntut ilmu.

Syaeful menempuh perjalanan ratusan kilometer itu selama dua hari. Dia berangkat dari Sleman sejak Kamis (3/12/2015) sore dan tiba di Kediri pada Jum’at (4/12/2015) sore. Tunggangannya sepeda onthel Federal jenis street cat. Sepeda yang cukup tua untuk masa kekinian.

Menempuh trayek Jogja-Kediri dengan bersepeda bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Selain kondisi jalan maupun medan yang banyak tanjakan dan turunan, juga musim sedang memasuki pancaroba ini.

“Misalnya saat melintas di wilayah Caruban yang banyak hutannya itu, dan pas hujan. Tidak ada tempat untuk berteduh,” ujar Syaeful saat ditemui di kantor majalah Misykat kawasan Lirboyo, Minggu (6/12/2015).

Belum lagi dia harus bersaing dengan kendaraan besar yang kadang tidak menghiraukan keberadaannya. Pernah suatu kali dia harus turun dari aspal karena sebuah truk tronton melaju kencang dari arah belakang.

Namun segala kesulitan yang dia hadapi selama perjalanan, menjadi sirna berganti suka cita sesampainya di lokasi tujuan. Dia tiba di pesantren yang membesarkannya tepat sebelum acara haul itu dimulai. Sehingga dia dapat berpartisipasi pada seluruh rangkaian acara yang digelar pondok.

Momentum itu menghidupkan kenangan-kenangannya semasa menempuh ilmu. Melepas rindu dan bertukar pikiran kepada sesama alumni yang hadir, yang sudah bertahun-tahun tidak saling sua. Serta tentu mencari berkah dengan sowan kepada para pengasuh pesantren.

“Saya puas lahir batin,” ungkap Syaeful.

Syaeful mengaku bersusah payah dan nekat melakukannya sebagai bagian dari rasa takzimnya kepada kiai panutannya itu. Sosok kiai yang telah membekalinya ilmu untuk mengarungi kehidupan dunia sebagai bekal akherat nanti.

Santri kelahiran Indramayu itu mondok di sana rentang waktu tahun 2006 hingga 2009. ‘Nyantri sekaligus bersekolah aliyah pada pondok yang kini diasuh oleh KH Reza Ahmad Zahid putra almarhum KH Imam Yahya Mahrus itu.

Kelar mondok, dia kini mengabdi sebagai guru di Madrasah Ibtidaiyah AL-Amin di Sleman. Rasa hormatnya kepada sang kiai itulah yang membuat ikatan batin dengan pondoknya itu tetap terpelihara.

KH Reza Ahmad Zahid mengungkapkan, apa yang dilakukan oleh santri itu adalah potret dari hubungan harmonis yang terbangun secara baik antara murid dan gurunya. “Keterikatan yang mendalam antara santri dan kiai,” ujar kiai yang akrab dengan sapaan Gus Reza ini. (*)

Pewarta : M Agus Fauzul Hakim | Editor : Hari Istiawan | Sumber 

Haul Keempat KH Imam Yahya Mahrus

LirboyoNet, Kediri – Perbanyaklah mengingat kematian. Bagi maut, tidak ada hal yang banyak kecuali ia mempersedikitnya. Karena betapapun banyak prestasi yang dihasilkan di dunia, baik jabatan, kesenangan dan kenyamanan, mereka semua akan menemui satu-satunya jalan buntu: kematian.

Dalam keterangan sebelumnya, Al-Habib Prof. Dr. Abdullah Baharun menyebut bahwa kehidupan di dunia sangatlah singkat. Hanya sebatas mampir untuk berteduh di bawah pohon, kemudian berlalu.

Beliau yang merupakan rektor Universitas Al-Ahqaf Yaman, hadir di tengah-tengah jamaah dalam peringatan Haul KH. Imam Yahya Mahrus, salah satu pengasuh Ponpes Lirboyo yang wafat pada 15 Januari 2012. Hari Sabtu kemarin (06/12) adalah haul almaghfurlah yang keempat.

Diawali dengan bacaan manaqib Syaikh Abdul Qadir Al Jilani “Faidlur Robbaniy”, acara dilanjutkan dengan shalawat diba’iyyah, kemudian tahlil yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, pengasuh Ponpes Lirboyo.

Acara ini dihadiri oleh segenap dzuriyah Ponpes Lirboyo. Ribuan santri Ponpes HM Al Mahrusiyah Lirboyo juga tampak memenuhi lapangan Ponpes HM Al Mahrusiyah III yang menjadi tempat acara. Mereka hadir di sana atas bantuan TNI, Polri, dan beberapa instansi lain yang bersedia mengantar-jemput mereka dengan beberapa truk dan bus yang dimiliki. Tak ketinggalan, para alumni pun ikut menghadiri haul kiai yang terkenal humoris dan humanis ini.

Dari ribuan hadirin itu, ada satu orang yang menarik perhatian. Dia adalah alumnus pesantren yang didirikan oleh almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus ini. Tepatnya alumnus tahun 2009. Dari Jogjakarta, dia memilih menggunakan transportasi sepeda pancal miliknya. Total, dia harus mengayuh sepedanya sepanjang 300 km.Sejak beliau wafat, baru dua kali saya berkunjung ke sini. Beberapa kali saya dijumpai beliau lewat mimpi. Alhamdulillah, kali ini saya masih bisa diberi kesempatan untuk ziarah ke makam beliau dan ikut memperingati haul beliau,” ungkap Saiful, yang sekarang menjadi tenaga pengajar di salah satu madrasah di Sleman, Jogjakarta ini.][

Zakat Tanaman Karet

Apakah tanaman karet wajib di zakati? Berapa nisabnya?

Ghofur

Admin – Menurut ulama Hanafiyah dan pendapat Imam Syafi’i dalam qaul qadim, tanaman karet wajib di zakati dengan 10%. Karena, disamakan dengan tanaman zaitun yang dibuat minyak. Menurut Abu Hanifah, segala tanaman yang meningkatkan hasil bumi wajib dikeluarkan zakatnya dengan 10% jika disirami dengan air hujan dan 5% jika di sirami dengan pengairan yang diusahakan sendiri, semisal dengan cara pengeboran dan Iain-Iain. Dan menurut Imam Syafi’i, wajib dikelurkan zakatnya 2,5%, apabila penghasilan berupa uang sudah satu nisab emas (77,5 gr) dan mencapai satu tahun, atau kurang satu nisab tapi punya uang yang dapat memenuhi satu nisab, sebagai mana keterangan di bawah ini:

وَأُخِذَ مِنْهُمَا مَعًا الْعُشْرُ إِذَا سُقِيَا بِسَمَاءٍ أَوْ عَيْنٍ، وَنِصْفُ الْعُشْرِ إِذَا سُقِيَا بِغُرْبٍ. وَقَدْ أَخَذَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ مِنَ الزَّيْتُوْنِ قِيَاسًا عَلَى النَّخْلِ وَالْعِنَبِ.

 

Artinya: “Dan diambil zakat dari keduanya (kurma dan anggur) sepersepuluh (10%) jika disirami dengan air hujan atau sumber mata air, dan setengahnya sepersepuluh (seperduapuluh atau 5%) jika disirami dengan cara menuangkan (mengusahakan) air sendiri. Para ulama mengambil persamaan hukum dari zaitun dengan kurma dan anggur.” (ar Risalah juz 1 hal. 223, 224.)

(قَالَ الشَّافِعِيُّ): أَخْبَرَنَا مَالِكٌ أَنَّهُ سَأَلَ ابْنَ شِهَابٍ عَنِ الزَّيْتُونِ فَقَالَ: فِيهِ الْعُشْرُ وَخَالَفَهُ مَالِكٌ فَقَالَ: لَا يُؤْخَذُ الْعُشْرُ إلَّا مِنْ زَيْتِهِ وَجَوَابُ ابْنِ شِهَابٍ عَلَى حَبِّهِ.

 

Imam Syafi’i berkata: “Imam Malik pernah bercerita bahwa beliau bertanya kepada Ibnu Syihab mengenai (zakat) dari tanaman zaitun, maka Ibnu Syihab menjawab, ‘Zakatnya sepersepuluh (10%).’ Namun, Imam Malik berbeda pendapat. Beliau berpendapat, ‘Tidak diambil  (zakatnya) sepersepuluh (10%) kecuali dari minyaknya, sedangkan jawaban Ibnu Syihab dari bijinya’.” (al ‘Um juz 7 hal. 260)

(قَالَ أَبُو حَنِيفَةَ فِي قَلِيلِ مَا أَخْرَجَتْهُ الْأَرْضُ وَكَثِيرِهِ الْعُشْرُ) حَدُّ الْقَلِيلِ الصَّاعُ وَمَا دُونَهُ لَا شَيْءَ فِيهِ وَقِيلَ حَدُّهُ نِصْفُ صَاعٍ. وَفِي السِّمْسِمِ الْعُشْرُ فَإِنْ عُصِرَ قَبْلَ أَنْ يُؤْخَذَ مِنْهُ الْعُشْرُ أُخِذَ مِنْ دُهْنِهِ وَلَمْ يُؤْخَذْ مِنَ الشُّجَيْرَةِ شَيْءٌ وَكَذَا الزَّيْتُونُ عَلَى هَذَا وَيَجِبُ الْعُشْرُ فِي الْجَوْزِ وَاللَّوْزِ وَالْبَصَلِ وَالثُّومِ فِي الصَّحِيحِ.

 

Artinya: “Abu Hanifah berpendapat tentang tanaman yang dihasilkan bumi, sedikit ataupun banyak zakatnya adalah sepersepuluh (10%). Takaran sedikit di sini adalah satu sha’’ sedangkan sebawahnya tidak termasuk. Namun menurut pendapat lain, takaran terkecil adalah separuh sha’. Dan dalam permasalahan minyak wijen, terdapat kewajiban membayar zakat sepersepuluh (10%). Jika dipanen sebelum diambil sepersepuluhnya, maka diambilkan dari minyaknya. Dan tidak ada zakat dari tanaman belukar sebagaimana tanaman zaitun. Dan dalam qaul shahih, wajib zakat pula sepersepuluh (10%) dari tanaman kenari, buah badam atau almond, bawang merah, dan bawang putih.” (al Jauharat an Nayirah juz 1 hal 481, 482.)

Nah, dalam tanaman apapun yang dihasilkan oleh bumi, semua ada zakatnya. Sedangkan ukuran satu sha’ dalam hitungan gram negara Irak adalah 2197,444 gr, dalam hitungan gram negara Mesir adalah 2162,784 gr, dalam hitungan ‘urf Usmany 2390,1536 gr, dalam hitungan Syar’i Abu Hanifah 2613,364 gr, dalam hitungan 3 Imam (selain Abu Hanifah) 1882,038 gr. Namun sebagian ulama ada beberapa pendapat yang menghitung sekitar 2,5 kg.

Profil Luqman dan Petuah-petuahnya

An-Nâqil : Dar El Azka & Fauzi Hamzah

وَلَقَدْ ءَاتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: ‘Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.”

Luqman, nama lengkapnya adalah Luqman bin Faghur bin Nakhuur bin Tarih. Demikian pendapat yang dikemukakan Muhammad bin Ishaq. Menurut versi lain, nama lengkapnya Luqman bin ‘Anqo’ bin Saduun.

Dalam sebuah hadis, Ibnu Umar menyatakan “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW. bersabda: ‘Luqman bukanlah seorang Nabi. Akan tetapi ia adalah seorang hamba yang gemar tafakkur, berkeyakinan baik dan cinta kepada Allah. Hingga Allah mencintainya dan kemudian menganugerahi hikmah kepadanya.” Pendapat jumhur ulama pun mengungkapkan bahwa beliau adalah seorang wali yang saleh. Meski pendapat lain menyatakan beliau adalah seorang nabi.

Suatu ketika seorang laki-laki mendapati Luqman sedang berbicara dengan hikmah. Ia pun terheran heran dan bertanya, “Bukankah Anda adalah penggembala kambing?” Luqman menyahut, “Benar.” “Lalu, bagaimana Anda bisa mendapat derajat seperti itu?” tanyanya. Ternyata Luqman memberikan jawaban yang cukup mengherankan, “Demikian ini aku peroleh adalah dengan selalu besikap jujur dalam berbicara, menunaikan amanat yang aku emban dan menghindari hal-hal yang tidak berguna.”

Postur Luqman adalah sosok laki laki yang berkulit hitam dan berbibir tebal. Bila beliau memergoki seseorang yang memandanginya, beliau akan berkata, “Jika engkau melihatku orang yang berbibir tebal, tapi yang mengalir dari bibir ini adalah perkataan yang lembut. Dan jika engkau melihatku berkulit hitam, tapi hatiku seputih kapas.”

Sebenarnya Allah telah menyodorkan satu di antara dua pilihan kepada Luqman. Menjadi khalifah di bumi (nabi) atau mendapatkan hikmah. Dan ternyata Luqman lebih memilih diberi hikmah. Pada saat beliau tertidur di tengah hari, tiba tiba ada suara memanggilnya, “Wahai Luqman, bukankah Allah telah memperkenankan engkau menjadi khalifah di bumi? Sehingga engkau bisa menegakkan hukum dengan haq?” Luqman menjawab, “Bila Allah memberikan pilihan kepadaku, maka aku akan memilih selamat dan dijauhkan dari cobaan. Dan bila Allah menegaskan pada hanya satu pilihan, maka aku hanya akan patuh dan taat. Karena aku yakin Allah akan memberikan pertolongan kepadaku.” Kemudian suara malaikat tadi bertanya lagi, “Wahai Luqman, bukankah engkau diperkenankan untuk mendapatkan hikmat?” Dengan indah beliau menjawab, “Sesungguhnya seorang hakim itu berada pada posisi yang sangat berat dan yang paling keruh. Ia akan dikelilingi orang-orang teraniaya dari segala penjuru. Bila ia bersikap adil, ia akan selamat. Sebaliknya bila ia melakukan kekeliruan, berarti ia akan tersesat jalan menuju surga. Seseorang yang menjadi hina di dunia akan lebih baik daripada menjadi orang mulia. Barang siapa yang memilih dunia dari pada akhirat, ia akan dicampakkan dunia dan tak dapat memperoleh akhirat.” Malaikat tercengang kagum mendengar jawaban yang disampaikan Luqman. Kemudian Allah memerintahkan untuk memberinya hikmat.

“Hikmat” adalah pemahaman yang mendalam dalam bidang agama, kecerdasan akal dan kebenaran dalam ucapan.

(وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ ( لقمان 13

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’.”

Luqman adalah seseorang yang paling sayang dan cinta kepada anak-anaknya. Maka sepantasnya beliaupun ingin memberikan hal yang terbaik untuk mereka. Karena itulah yang mula-mula dinasihatkan kepada anaknya adalah menghindarkan diri dari mempersekutukan Allah dengan apapun. Mempersekutukan Allah adalah bentuk kazaliman. Sebab mempersamakan Dzat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak berarti meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya.

Sewaktu turun ayat 82 surat Al An’am yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk,” para sahabat menjadi gundah gulana. Mereka bertanya tanya siapa di antara mereka yang tidak mencampur adukkan keimanannya dengan kezaliman. Kemudian Rasulullah menjelaskan, “Sesungguhnya tidak demikian. Tidakkah kalian ingat nasihat Luqman kepada anaknya: Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya perbuatan syirik adalah bentuk kezaliman yang besar.”

Selanjutnya Allah memperkokoh nasihat Luqman tadi dalam ayat:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ  وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”

Kepatuhan dan berbuat yang terbaik kepada kedua orang tua adalah suatu perintah Allah. Terlebih lagi terhadap seorang ibu. Sebab berbulan-bulan lamanya beliau mngandung anaknya dengan menanggung segenap penderitaan. Setelah itu, siang malam selalu disibukkan dengan menyusui, merawat, menjaga dan mengasuhnya dengan penuh kecintaan. Hingga tiba waktunya untuk menyapihnya setelah ia genap berumur dua tahun. Karena itu lah sudah sepantasnya beliau lebih berhak untuk kita hormati dan kita muliakan.

Akan tetapi, kepatuhan ini tidak bersifat mutlak. Ini hanya berlaku untuk selain perintah melakukan pelanggaran-pelanggaran syari’at dan mengabaikan ketentuan-ketentuan syara’. Termasuk di dalamnya perintah kedua orang tua kepada anaknya untuk mempersekutukan Allah. Tidak sekalipun seorang anak diperkenankan tunduk dan patuh pada perintah orang tuannya untuk berbuat syirik.

Ayat ini diturunkan pada waktu Sa’ad bin Malik masuk Islam. Ibunya yang tahu bahwa anaknya telah masuk Islam, bersumpah untuk melakukan aksi mogok makan dan minum hingga Sa’ad mau keluar lagi dari Islam. Walau toh ibunya telah berbuat begitu kepadanya, ia tetap bersikap baik kepada ibunya dan membujuknya untuk makan. Hingga pada hari ke tiga dan ibunya tetap tidak mau makan, Sa’ad berkata, “Wahai bunda, walaupun engkau memiliki seratus nyawa sekalipun, tidak akan pernah aku meninggalkan agamaku ini.” Ketika ibunya tahu bahwa anaknya tidak akan goyah imannya, maka ia pun menghentikan aksinya dan mau makan.

Dalam ayat ini pula Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepadaNya dan berterima kasih kepada kedua orang tuanya. Kata Sufyan bin ‘Uyainah: “Barang siapa telah melakukan salat lima waktu, berarti ia telah bersyukur kepada Allah. Dan barang siapa telah mendo’akan kedua orang tuanya setelah salat lima waktu, berarti ia telah bersyukur kepada kedua orang tuanya.”

Ketika anaknya bertanya kepada Luqman, “Wahai abah, apabila aku telah melakukan satu kesalahan yang tidak pernah bisa dilihat oleh siapapun, bagaimana Allah bisa mengetahuinya?” Beliau menjawabnya dengan sebuah nasihat yang tertuang dalam ayat:

يَابُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“(Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui’.”

Nasihat ini adalah petuah terakhir beliau yang disampaikan kepada anaknya. Sebab petuah ini sangat begitu membekas di hati anaknya. Sehingga karena rasa takutnya yang begitu mendalam, empedunya pecah kemudian meninggal dunia.

يَابُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ  وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ  وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِير

“Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Di samping salat yang menjadi tugas ritual kita, amar ma’ruf nahi munkar yang memang semestinya menjadi garapan kaum muslimin, sebagaimana dinasiahatkan Luqman, sudah semestinya kita menghiasi diri kita dengan perilaku dan budi pekerti yang baik. Kita mesti lebih banyak berlatih untuk berlaku sabar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah, dalam menahan diri dari melakukan larangan-larangan Allah. Juga bersabar dalam mengahadapi segala bentuk bencana dan cobaan yang menimpa diri kita.

Berusaha menghindarkan diri kita sejauh-jauhnya dari sifat sombong dan membanggakan diri sendiri. Bersikap tenang dalam berjalan dan tidak menampakkan keangkuhan. Lemah lembut dalam bicara dengan suara sedang.

Menurut pendapat Wahb, Luqman telah membicarakan sebanyak dua belas ribu hal dengan hikmah. Di antaranya: “Wahai ananda, jadikanlah taqwa sebagai harta dagangmu, tentu engkau akan beruntung besar.” “Jangan engkau menjadi orang yang lebih lemah dari pada ayam jago. Ia akan bersuara di waktu sahur sementara kamu masih merasa hangat di balik selimutmu.” “Jangan kau tunda taubatmu, karena kematian akan mendatangimu dengan tiba tiba.” “Kamu tidak akan pernah menyesal untuk bersikap diam dalam hal-hal yang tidak berguna. Sebab bila berbicara itu adalah perak, maka bersikap diam adalah emas.” “Pergaulilah para ulama dan dengarkanlah kata-kata hukama. Karena Allah menyuburkan bumi dengan tetesan air hujan. Siapa yang bohong berarti telah sirna air mukanya. Dan siapa yang berbudi pekerti buruk ia akan banyak merasakan kesusahan. Memindah batu besar dari tempatnya akan lebih gampang dari pada memahamkan orang yang tidak faham.” “Jangan kamu mempelajari sesuatu yang belum kamu ketahui sehingga kamu telah mengamalkan apa yang kamu ketahui.” “Dunia adalah lautan yang sangat dalam. Sudah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Karena itu jadikanlah taqwa sebagai perahumu untuk mengarunginya. Isinya adalah keimanan dan layarnya adalah tawakal kepada Allah. Barangkali saja kamu akan selamat.” “Berharaplah kepada Allah dengan pengharapan yang tidak menjadikanmu berani berbuat maksiat. Takutlah kepada Allah dengan rasa takut yang tidak menjadikanmu merasa putus asa dari rohmat Allah.” “Menjauhlah dari berhutang. Karena ia akan membuatmu terhina di siang hari dan merasa susah di malam hari.” “Ketika engkau telah terlahir ke dunia, berarti dunia telah membelakangimu dan akhirat telah menghadangmu. Rumah yang kamu tuju dalam perjalanan ini lebih dekat dari pada rumah yang telah kamu tinggalkan.” “Budi pekerti dan akhlak mulia bukanlah sekedar adat yang mesti kita lakoni. Tapi ia adalah sebuah pranata dan tatanan, yang mau tidak mau, harus kita terapkan dalam berbagai corak kehidupan.”

Apapun keberadaan kita, bagaimana pun posisi kita, nilai yang mesti kita tonjolkan adalah akhlaqul karimah. Seperti yang telah dicontohkan Luqman lewat pribadinya atau pun nasihat-nasihat untuk anaknya.

Dari ilustrasi dan profil beliau yang begitu monumental, sebenarnya tersimpan sebuah rahasia kepribadian insan yang berkualitas kamil. Ketika beliau mendapatkan anugerah untuk menentukan pilihan antara dua kemuliaan, mendapatkan derajat kenabian dan mendapat hikmah, ternyata beliau lebih memilih hikmah bukan kenabian. Bukan karena derajat itu lebih tinggi, akan tetapi semua itu semata-mata atas kearifan beliau mengkoreksi dirinya terlalu berat menyandang gelar kenabian. Beliau mengkhawatirkan dirinya merasa tidak mampu mengembannya dengan baik.

Begitulah sosok Luqman sang pujangga hikmah, dari bibir tebal meluncur kalam-kalam pelipur hati yang bebal, dan dari si kulit hitam bertebaranlah berjuta makna kehidupan penerang hati yang kelam. Semoga kita diberikan hikmah-hikmahnya, amin.

Di Manakah Perdamaian?

Oleh: Radhi Rodliyuddin

Sungguh amat celaka bila semua nurani manusia seolah telah tersingkir dan ditinggalkan oleh nilai-nilai kasih sayang. Hawa nafsu yang bermuara pada kekejaman dan kebiadaban di muka bumi ini kian menggejala. Kesepakatan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan semakin luntur. Sementara itu, kemajuan teknologi yang merupakan prestasi prima karsa manusia ternyata mempunyai sifat ambivalen (bertentangan). Di satu sisi, membuahkan manfaat dan perdamaian, tapi di sisi lainnya menimbulkan banyak kerusakan, perpecahan, dan peperangan.

Sehingga tak dipungkiri nantinya akan menimbulkan semakin hilangnya fungsi moral keagamaan yang selanjutnya akan membias pada segi-segi kehidupan lainnya. Sebab, kenyataan yang tampak di tengah-tengah masyarakat era transisional sekarang ini, menunjukkan gejala yang sangat jauh dari harapan bersama. Masyarakat senantiasa dihadapkan oleh berbagai masalah yang terus timbul. Munculnya peperangan, kerusuhan, kenakalan remaja, pergaulan bebas, pengangguran, dan yang lebih memprihatikan lagi dampak akibat dari pengaruh budaya asing yang sangat negatif, yang dalam hal ini merupakan realita yang harus dipikirkan dan diatasi bersama.

Teknologi yang awaInya dipandang sebagai perubahan dan kemajuan ilmu pengetahuan, lama kelamaan dipandang sebagai roh jahat yang sarat dengan pertanda bencana dan penghancuran moral agama. Tidak ada jalan yang dapat ditempuh, selain mengembalikan agama sebagai satu-satunya jalan keluar guna memberikan kekuatan moral sebagai inspirator menuju tekad perdamaian dan penyejuk kehidupan. Di mana penyebab utamanya adalah moral, keimanan, dan ketakwaan yang dimiliki masyarakat kurang memadai dan menyentuh seluruh hati sanubari masyarakat. Sebagai pengakuannya, Syaikh Muhammad Rasyid Ridha mengatakan: “Tiadanya perdamaian di kalangan umat beragama lantaran mereka tidak menganut ajaran-ajaran agama secara benar.”

Persoalannya adalah karena banyak sekali aliran-aliran yang dengan lantangnya mengibarkan bendera agama, akan tetapi -sayang- kelantangannya hanya sekedar atas nama atau bahkan hanya sebagai tempat melindungkan diri agar kebobrokan dan keculasan mereka tidak terlacak oleh masyarakat luar. Mengadakan seminar-seminar keagamaan atau apapun bentuknya semata-mata bukan untuk mengurai kekusutan dunia atau menyelesaikan problema masyarakat, melainkan untuk mencari kepuasan batin, sehingga aktivitas agama justru akan semakin memperbesar egoisme dan hedonisme terselubung. Malahan primordialisme akan bermunculan dibawah payung keagamaan yang tidak menutup kemungkinan friksi-friksi (perpecahan) bakal muncul kembali jika tidak dibenahi semenjak dini.

Semua pemeluk agama harus selalu mengingat bahwa Tuhan menurunkan agama bukan untuk memecah belah manusia dalam perkubangan darah yang mengerikan. Sebab, tak ada manusia yang menginginkan kekacauan dan kekerasan di muka bumi ini, melainkan kesejahteraan dan kebaikan adalah kehendak yang selalu diharapkan setiap insan. Dalam kaitan itu, agama Islam yang tampil dengan salam dan damai, senada dengan fitrah, ketika kesepakatan untuk menjunjung tinggi perdamaian bertambah pudar. Maka alangkah indahnya ajaran yang damai dan sejuk apabila diterapkan dan menjadi pedoman seluruh manusia pada zaman sekarang.

Namun apabila kesucian perdamain itu sendiri telah dikotori oleh kepentingan-kepentingan individualis ataupun kelompok, bahkan kecurigaan dan saling tuding dengan berbagai macam tuduhan kesesatan atau murtad, hanya dengan berbeda aliran yang tidak sepaham dan sejalan, maka keluarlah putusan “Kafir kamu! Neraka kamu!” Di situlah tujuan aliran yang semula dianggap benar sesuai tuntutan yang diemban Rasul akan tumbuh kebingungan, kerancuan, kegelisahan, dan keserakahan yang akan menghantui di setiap umat dimanapun. Karena di setiap sudut perbedaan pendapat, tertanam setan dan bala tentaranya.

Pertentangan yang menghinggapi dari berbagai aspek kehidupan di antara negara yang maju sama halnya dengan negara yang biadab. Bangsa yang memelopori dan acapkali mendewakan slogan hak-hak asasi, terbukti di dalamnya justru penuh dengan kekejian dan nafsu busuk belaka. Untuk itu, Islam harus difungsikan kembali sebagai kekuatan moral yang mampu menyuburkan aspirasi perdamaian dan penyejuk kehidupan. Islam harus tampil dengan misinya, yaitu salam dan damai sebagaimana yang telah diteladankan oleh Nabi, sebagaimana yang dikatakan oleh seorang pemuka agama Hindu ternama di India, Munshi Promchand: “Tidak benar jika Islam disebarkan dengan pedang. Kalau memang ada cara-cara semacam itu dipakai untuk menyebarkan agama, maka itu tak akan hidup lama. Sebab, yang sebenarnya mengapa Islam tersiar di India, adalah lantaran sikap sewenang-wenang kaum berkasta Hindu terhadap Kaum Sudra yang tidak berkasta.” Agama Hindu, Budha, Nasrani, Islam dan agama-agama besar di dunia ini semuanya menganjurkan perdamaian, minimal atas dirinya.

Dalam Surat al Anfal ayat 16 Allah SWT. berfirman: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kalian kepadanya, dan bertakwalah kepada Tuhan. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Akan tetapi, dalam sejarah tercatat, atas nama agama kerap kali manusia mengesahkan peperangan dan tindakan-tindakan kebiadaban. Dan ironisnya, itupun sering terjadi disemua agama. Mungkinkah disamping menganjurkan perdamaian, terdapat pula ayat yang mengandung perintah perang? Sebagaimana dalam Surat al Baqarah ayat 190 yang sering dijagokan sebagai ayat jihad: “Dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, tetapi jangan melampuai batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” Akan tetapi, dalam ayat tersebut jelas sekali motivasi utamanya adalah untuk membela diri atau pempertahankan perdamaian.

Islam adalah agama yang damai, namun terkadang kaum muslim harus melindungi perdamaian itu dengan perang dan pedang. Maka dari itu, perdamaian dunia merupakan tugas yang amat besar dihadapi umat Islam pada zaman mutakhir ini, harus benar-benar dipikirkan dan dihayati kembali keseluruhan sistem Islam. Sebab dimungkinkan kemerosotan Islam itu sendiri akan dimanfaatkan oleh negara-negara adi kuasa yang berkepentingan, dan seakan-akan memelihara peperangan terus berkecambuk dan perdamaian terkoyak-koyak. Sebab dengan demikian, mereka akan muncul sebagai juru selamat dan mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan memasarkan produksi persenjataan mereka, sekaligus sebagai uji coba.

Karena itulah, sepatutnya setiap umat manusia menyadari, terutama bagi umat Islam, bahwa jihad untuk menegakan kebenaran tidak selamanya senapan yang harus berbicara. Bahkan secara sayup-sayup namun pasti, Rasulullah SAW. mangajak segenap umat manusia untuk mengupayakan perdamaian sesuai dengan sabdanya: “Wahai segenap umat manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh. Bermohonlah kepada Allah akan kehidupan yang sejahtera.” (*)

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah