HIMASAL Yaman Gelar Khataman Qur’an

LirboyoNet, Yaman – Tarim, Hadhromaut, Yaman (09/12/2015). Mahasiswa Indonesia, Yaman, Tanzani, Somalia, China, Thailand, Malaysia, menggelar Khatamann Qur’an dan Tahlil bersama atas wafatnya KH. M. Abdul Aziz Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyi’in, Paculgowang, Jombang, adik KH. Anwar Manshur, Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Acara yang dipelopori oleh HIMASAL (Himpunan Alumni dan Santri Lirboyo) Cabang Yaman ini bertempat di Aula gedung Fakultas Syari’ah Wal Qonun Universitas Al-Ahgaff Tarim, Hadhromaut, Yaman.

Acara yang dipimpin oleh salah satu dzurriyah Pondok Pesantren MIS, Sarang, Rembang, sekaligus alumni Pondok Lirboyo, Imam Rahmatullah ini turut dihadiri Habib Umar Asseggaf, sebagai ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI), dan juga ketua Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Yaman, M. Tohirin Shodiq.

Gus Imam Rahmatullah menyampaikan, bahwa dunia pesantren merasa sangat kehilangan dengan meningggalnya kiai yang tawaduk, penuh keteduhan, dan tekun memperjuangkan dunia pesantren.

“Kami para santri khususnya dan seluruh dunia pesantren merasa sangat kehilangan atas wafatnya kiai yang karismatik, tawaduk dan getol memperjuangkan dunia pesantren dengan segenap kemampuan beliau,” tutur Gus Imam Rahmatullah.

Mantan ketua Asosiasi Mahasiswa Indonesia (AMI) periode 2014/2015 ini juga menyatakan bahwasannya kiprah KH. Abdul Aziz Manshur dalam dunia politik bukan karena hasrat untuk menjadi politikus, melainkan atas sebab ingin memperjuangkan cita-cita pesantren.

“Beliau terjun ke ranah politik itu merupakan bentuk pengorbanan beliau untuk memperjuangkan dunia pesantren, bukan karena hasrat duniawi ingin menjadi politikus,” ujar Gus Imam Rahmatullah.

Ketua HIMASAL Yaman, Gus Zadit Taqwa menyampaikan, akan di laksanakan salat ghaib pada tiga titik di Kota Tarim, Hadhromaut, Yaman, pada hari Jum’at (11/12/2015) yaitu pada masjid Jami’ Tarim (tempat salat Jum’at Habib Salim Asyathiry), masjid Raudhoh (tempat salat Jum’at Habib Umar bin Khafidz bin Syekh Abu Bakar) dan masjid Jami’ Aidid.

“Insyaallah kami akan mengkonfirmasi masalah salat ghoib pada takmir di masjid Jami’, masjid Raudhoh, serta masjid Aidid,” terang Gus Zadit Taqwa selaku ketua HIMASAL Yaman.

Agenda Khataman Qur’an di tutup dengan shalat ghoib berjama’ah yang dipimpin langsung oleh ketua HIMASAL Yaman dan dilanjutkan dengan beramah tamah.

(H. R. Badrul/Mohammad Ziq)

Kasih Sayang Sesama Makhluk

Diceritakan dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Allah SWT memberikan belas kasihnya kepada mereka yang berbelas kasih. Maka berbelas kasihlah pada makhluk Allah yang ada bumi, agar makhluk Allah yang ada di langit berbelas kasih pada kita.”

Ada sebuah kisah dari Sahabat Umar. Suatu ketika saat Umar berjalan di Kota Madinah, beliau menjumpai seorang anak kecil. Di tangan anak tersebut, ada seekor burung kecil. Dia bermain-main dengan burung tersebut. Karena kasihan melihat burung kecil itu dipermainkan si anak, Umar lantas membeli dan melepaskan burung tersebut. Ketika Umar telah wafat, seorang ulama besar bertemu dengan Sahabat Umar dalam mimpi.

Dalam pertemuan itu, sang ulama bertanya kepada Sahabat Umar. “Wahai Umar, saat ini keadaan seperti apakah yang Allah berikan kepadamu?”

Umar menjawab, “Alhamdulillah, aku bahagia. Allah mengampuniku.”

“Kira-kira karena tindakan atau ibadah apa yang akhirnya Allah memberikan engkau ampunan? Karena engkau dermawan, atau sebab adilmu, ataukah karena kezuhudanmu?” Tanya sang ulama lagi.

“Setelah orang-orang meletakkanku di liang lahat, menguburku di dalamnya, meninggalkanku sendirian di sana, datanglah dua malaikat. Malaikat yang menyeramkan, membuat persendianku gemetar karena kedatangan mereka. Sesaat kemudian mereka meraihku dan mempersilahkan aku duduk. Aku tahu, saat itu mereka akan bertanya kepadaku. Tapi sebelum mereka bertanya, aku mendengar suara tanpa rupa. ’Hai malaikat, tinggalkan hambaku itu. Jangan kalian takut-takuti dia. Aku menyayangi dia dan mengampuni segala dosanya, karena suatu ketika dia menyayangi seekor burung di dunia maka aku menyayangi dia dalam kubur’,” jawab Sahabat Umar.

Ada sebuah kisah lain tentang kasih sayang sesama makhluk ini. Suatu ketika, seorang ahli ibadah dari golongan bani Israil berjalan melewati sebuah tumpukan pasir. Karena saat itu dia sedang lapar, dia berpikir andai saja pasir itu adalah tepung, tentu bisa dimakan dan mengobati kelaparan banyak orang.

Kemudian Allah menurunkan wahyu pada seorang nabi dari nabi-nabi bani Israil, “Katakan pada dia (ahli ibadah yang melihat tumpukan pasir), Aku telah memberi dia jatah pahala sebanyak jumlah pahala jika pasir itu berubah jadi tepung lalu dia bersedekah dengan tepung itu. Barangsiapa menyayangi hambaku, maka Aku akan jauh lebih sayang padanya. Ketika melihat pasir tadi dia berkata, ‘Andai pasir ini tepung, tentu akan bermanfaat untuk orang banyak yang sedang kelaparan,’ maka Aku memberi dia pahala sebagaimana jika dia bersedekah dengan pasir itu jika telah menjadi tepung.”

Demikianlah, betapa ajaran Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mengasihi sesama. Bukan malah menebar kebencian, baik dengan non muslim maupun sesama muslim. Jika masih ada oknum yang menganggap keberadaan seorang muslim di lingkungannya akan berbahaya, berarti dia belum kenal bagaimana sejatinya karakter muslimin. Bila masih ada yang berpikir pesantren adalah sarang teroris, jelas dia tidak kenal dengan apa itu pesantren yang sesungguhnya. /-

Mengenang Kiai Abdul Aziz Manshur

KH. Ahmad Mustofa Bisri menulis dalam akun Facebooknya, “Usianya kira-kira sepantaran denganku. Pernah sebentar akrab di Pesantren Lirboyo Kediri, sebelum aku pulang dan pindah ke Krapyak Yogja. Orangnya ganteng. Pintar. Lembut. Belakangan sering ketemu sudah menjadi tokoh ulama yang kiprahnya tidak terbatas sekitar pesantren. Terakhir menjabat sebagai Ketua Dewan Syuro PKB. Hari ini aku kaget mendengar KH. Abdul Aziz Mansur, adik KH. Anwar Mansur Lirboyo itu wafat. Innã liLlãhi wainnã ilaiHi rãji’ün. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzuulahu wa wassi’ madkhalahu waja’alil jannata matsaah… Al-Faatihah.”

“Kiai A. Aziz Mansur, seorang kiai pengasuh pesantren Paculgowang, Jombang yang polos dan ‘terjebak’ menjadi politisi demi kemaslahatan umat sesuai ijtihadnya.”

Salah seorang menantu KH. M. Abdul Aziz Manshur menulis:

Semasa kecilnya, saat Kiai Abdul Aziz Manshur di Lirboyo sering memperhatikan kakek sekaligus gurunya, KH. Abdul Karim atau Mbah Manaf. Dilihatnya sang kakek tidak pernah tidur di malam hari. Selesai memberikan pengajian kepada para santri, sang kakek selalu saja menghabiskan malamnya dengan shalat sunnah dan berdzikir hingga pagi. Jika pun tidur, sangat sebentar.

Karena penasaran lalu Aziz kecil pun dengan polos bertanya kepada ibunya, Nyai Salamah, yang merupakan putri KH. Abdul Karim. “Mak, Mbah iku nek mbengi kok gak tau turu to Mak? (Mak, Kakek kalau malam kok tidak pernah tidur)”.

“Iyo Le, Mbahmu eling oleh titipan anake wong sak pirang-pirang. Gak wani turu nek durung ndongakno santri-santri. (Iya Nak, Kakekmu selalu ingat mendapat titipan anaknya orang banyak. Tidak berani tidur kalau belum mendoakan santri-santri)”, jawab sang bunda.

Selamat Jalan, Kiai

”Jika satu ulama wafat, maka ada sebuah lubang dalam Islam yang tak dapat ditambal kecuali oleh generasi penerusnya,” al-Ghazali.

Pagi tadi langit Kediri cerah, mentari di ufuk timur tampak indah. Cuaca yang bikin sumringah mereka yang memulai aktivitas mencari maisyah. Atau juga kang santri di Lirboyo tingkat Ibtidaiyah yang harus masuk sekolah, meski suasana hati mereka tak begitu cerah. Ya, karena selepas kabar wafatnya KH. M. Abdul Aziz Manshur diumumkan pada speaker-speaker dini hari kemarin, 8 Desember 2015, suasana duka menyelimuti tiap-tiap asrama.

Para peziarah semakin berjubel yang datang dari berbagai daerah.
Para peziarah semakin berjubel yang datang dari berbagai daerah.

Saat mentari makin meninggi, LirboyoNet berangkat ke Jombang beserta dengan rombongan jajaran pengurus dan pengajar Pondok Pesantren Lirboyo. Yang kebetulan tadi pagi ada jam sekolah, mereka berangkat selepas lonceng pulang sekolah menggema. Mereka ada yang rombongan dengan roda empat, banyak juga yang menaiki roda dua.

Sesampainya di kompleks Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin, Paculgowang, Jombang, pesantren yang diasuh almaghfurlah, dari speaker masjid terdengar pengumumam salat jenazah yang ke 27 akan segera dimulai.  Kami beserta rombongan bergegas menuju masjid, sebagian terlihat mengambil air wudhu dahulu. Di halaman masjid, belum tampak berjubelnya peziarah, karena ternyata banyak muazziyyin yang kami yakin karena alasan khusus harus rela hanya datang untuk ikut salat jenazah.

Beberapa dzurriyah terlihat mengambil tanah dari kubur dan membacakan sesuatu pada tanah tersebut, sebelum melemparkannya ke dalam liang lahat.
Beberapa dzurriyah terlihat mengambil tanah dari kubur dan membacakan sesuatu pada tanah tersebut, sebelum melemparkannya ke dalam liang lahat.

Matahari semakin tinggi, bahkan panasnya sudah menyengat, ketika para peziarah semakin berjubel yang datang dari berbagai daerah. Meski begitu mereka tetap antusias mengantri untuk bisa ikut menyalati dan memberikan penghormatan yang terkahir kepada almaghfurlah. Saat jamaah salat Dhuhur digelar, sudah tampak ribuan peziarah datang hingga masjid tidak bisa menampung salat jamaah. Salat jenazah terakhir di imami oleh KH. Nurul Huda Djazuli, Ploso, Kediri.

Terik matahari semakin bertambah panas, ketika para peziarah berebut ingin ikut memikul jenazah, atau setidaknya meraih keranda yang dipindahkan dari masjid ke kediaman almaghfurlah guna dilakukan prosesi pelepasan terakhir oleh pihak keluarga.

“…Beliau itu kalau sedang mengaji tidak bisa diganggu gugat. Bahkan maaf, kalau beliau itu diundang untuk ceramah akan menyanggupi, asal tidak mengganggu mengaji. Itu yang harus kita contoh dari beliau…” ungkap KH. Abdullah Kafabihi Mahrus dalam sambutan atas nama keluarga.

Setelah prosesi pelepasan terakhir selesai dengan ditutup doa oleh KH. M. Anwar Manshur, jenazah langsung diberangkatkan ke tempat peristirahatan terakhir yang hanya berjarak beberapa puluh meter arah barat kompleks pesantren. Talqin dilakukan oleh KH. Nurul Huda Djazuli, Ploso, Kediri, dilanjutkan dengan tahlil bersama yang dipimpin oleh KH. A. Habibullah Zaini, Lirboyo, Kediri.

KH. A. Habibullah Zaini saat memimpin tahlil didampingi KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. M. Anwar Manshur dan KH. Zainuddin Djazuli.
KH. A. Habibullah Zaini saat memimpin tahlil didampingi KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. M. Anwar Manshur dan KH. Nurul Huda Djazuli.

Waktu belum begitu sore, baru menunjukkan pukul 14:05 WIB saat tahlil bersama selesai, tapi langit Jombang mulai redup pertanda hujan akan turun. Kebanyakan peziarah berduyun-duyun bersiap kembali ke rumah masing-masing, sebagian yang lain terlihat masih tetap berada di area maqbarah. Baru juga beberapa kilometer meninggalkan Paculgowang, masih di kawasan Jombang, perjalanan pulang LirboyoNet beserta rombongan ditemani hujan lebat hingga masuk kawasan Kediri.

Selamat jalan, kiai. Mudah-mudahan pada kehidupan berikutnya panjenengan dan kami semua akan dikumpulkan kembali. Amin ya rabbal alamin. Teruntuk beliau KH. M. Abdul Aziz Manshur, alfatihah…  /-

Takzim Kiai, Santri Ini Bersepeda 300 Kilometer

LirboyoNet, Kediri – Syaeful Badrul Alaina, seorang santri, bersepeda pancal menempuh jarak hingga 300 kilometer dari Jogjakarta menuju Kediri. Pemuda berusia 23 tahun itu melakukannya untuk menghadiri haul KH Imam Yahya Mahrus pengasuh HM Al-Mahrusiyah Lirboyo, Sabtu (5/12/2015). Di pondok itu dia pernah menuntut ilmu.

Syaeful menempuh perjalanan ratusan kilometer itu selama dua hari. Dia berangkat dari Sleman sejak Kamis (3/12/2015) sore dan tiba di Kediri pada Jum’at (4/12/2015) sore. Tunggangannya sepeda onthel Federal jenis street cat. Sepeda yang cukup tua untuk masa kekinian.

Menempuh trayek Jogja-Kediri dengan bersepeda bukanlah suatu perjalanan yang mudah. Selain kondisi jalan maupun medan yang banyak tanjakan dan turunan, juga musim sedang memasuki pancaroba ini.

“Misalnya saat melintas di wilayah Caruban yang banyak hutannya itu, dan pas hujan. Tidak ada tempat untuk berteduh,” ujar Syaeful saat ditemui di kantor majalah Misykat kawasan Lirboyo, Minggu (6/12/2015).

Belum lagi dia harus bersaing dengan kendaraan besar yang kadang tidak menghiraukan keberadaannya. Pernah suatu kali dia harus turun dari aspal karena sebuah truk tronton melaju kencang dari arah belakang.

Namun segala kesulitan yang dia hadapi selama perjalanan, menjadi sirna berganti suka cita sesampainya di lokasi tujuan. Dia tiba di pesantren yang membesarkannya tepat sebelum acara haul itu dimulai. Sehingga dia dapat berpartisipasi pada seluruh rangkaian acara yang digelar pondok.

Momentum itu menghidupkan kenangan-kenangannya semasa menempuh ilmu. Melepas rindu dan bertukar pikiran kepada sesama alumni yang hadir, yang sudah bertahun-tahun tidak saling sua. Serta tentu mencari berkah dengan sowan kepada para pengasuh pesantren.

“Saya puas lahir batin,” ungkap Syaeful.

Syaeful mengaku bersusah payah dan nekat melakukannya sebagai bagian dari rasa takzimnya kepada kiai panutannya itu. Sosok kiai yang telah membekalinya ilmu untuk mengarungi kehidupan dunia sebagai bekal akherat nanti.

Santri kelahiran Indramayu itu mondok di sana rentang waktu tahun 2006 hingga 2009. ‘Nyantri sekaligus bersekolah aliyah pada pondok yang kini diasuh oleh KH Reza Ahmad Zahid putra almarhum KH Imam Yahya Mahrus itu.

Kelar mondok, dia kini mengabdi sebagai guru di Madrasah Ibtidaiyah AL-Amin di Sleman. Rasa hormatnya kepada sang kiai itulah yang membuat ikatan batin dengan pondoknya itu tetap terpelihara.

KH Reza Ahmad Zahid mengungkapkan, apa yang dilakukan oleh santri itu adalah potret dari hubungan harmonis yang terbangun secara baik antara murid dan gurunya. “Keterikatan yang mendalam antara santri dan kiai,” ujar kiai yang akrab dengan sapaan Gus Reza ini. (*)

Pewarta : M Agus Fauzul Hakim | Editor : Hari Istiawan | Sumber 

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah