Pelatihan Membuat Sabun dan Shampo

LirboyoNet, Kediri – Selasa pagi hingga Rabu sore (17-18/10) kemarin, puluhan santri Pondok Pesantren Lirboyo menikmati hari yang wangi. Ini karena mereka sedang mengikuti “Short Course Cara Membuat Sabun dan Shampoo”. Penyelenggaranya adalah Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, yakni pukul 10.30-12.00 WIs diperuntukkan bagi santri putri. Sementara santri putra mendapat jatah waktu pukul 13.30 WIs-15.00 WIs.

Pada hari pertama, setelah beberapa materi disampaikan, Bapak Agus Tri Widodo selaku pemateri mengajak semua peserta untuk menjalankan proses pembuatan sabun bersama-sama. Mulai dari pencampuran bahan, pemberian warna, hingga penuangan sabun pada cetakan.

Di sela-sela penjelasan, banyak istilah-istilah yang digunakan nampak asing di telinga para santri. Wajar saja, karena memang di kurikulum pesantren jarang ditemukan pelajaran-pelajaran sains semacam kimia maupun fisika. Karena itu, kegiatan ini dapat menjadi penambah wawasan santri akan ilmu-ilmu di luar pesantren.

Di hari kedua, para santri giliran mendapat pengetahuan tentang cara memproduksi shampoo. Caranya pun relatif mudah, sama ketika mereka mempraktekkan pembuatan sabun di hari sebelumnya.

Bapak Teguh Suwito S. Sos, perwakilan dari Dinas Koperasi menegaskan, Dinas Koperasi berusaha untuk memberikan pelatihan skill kepada masyarakat Kota Kediri, termasuk para santri Lirboyo. “Paling tidak, jika mereka sudah mempunyai skill dan bekal, kesempatan untuk berwirausaha semakin lebar,” kata beliau.

Keinginan pemerintah ini diamini oleh jajaran pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Sumbangan berupa alat produksi sabun dan shampo dari Dinas Koperasi dan UMKM ini akan dimanfaatkan oleh para santri dalam waktu segera. ][

 

Menuju Ekonomi Yang Lebih Baik

Manusia, sebagaimana fitrahnya, adalah makhluk Allah SWT. yang memiliki dua dimensi sekaligus. Di satu sisi, ia adalah makhluk sosial, disamping juga merupakan pribadi yang berdiri secara independen, sebagai unit dari lingkungan sosialnya. Dari perspektif yang berbeda, manusia juga merupakan kombinasi unik dari tubuh (baca; materi) dan jiwa (moral, spiritual). Karena itu, sangat wajar jika kemudian ia memiliki dua kebutuhan yang berbeda sebagai ‘efek’ dari dua bagian dirinya. Untuk itu, ia berusaha memberdayakan sebaik-baiknya segala potensi dan sumber daya yang telah dianugerahkan Allah SWT. sebagai wujud pelaksanaan tugasnya; khalifah-Nya di muka bumi.

Sayangnya, dalam perkembangan selanjutnya tidal banyak manusia yang sukses menjalankan amanatnya sebagai khalifah. Khalifah yang ditugaskan untuk mengelola bumi dan isinya demi kebahagiaan dunia-akhirat sebagai pemenuhan kebutuhan tubuh dan jiwanya. Alih-alih, banyak diantara mereka malah terjebak dalam pemenuhan yang berlebih pada kebutuhan-kebutuhan materi saja. Terlebih pada zaman yang telah dikenal sebagai post-modern, penekanan berlebih pada sisi materi manusia semakin nampak terlihat. Akibat langsung dari hal itu adalah semakin terpikatnya perhatian manusia dari kebutuhan yang bersifat ruhaniah yang sebenarnya justru lebih esensial dan penting untuk dipenuhi.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa produk budaya yang sedemikian materialistis merupakan hasil ‘pemikiran’ Eropa dan Amerika abad pertengahan, dimana keduanya pada saat itu sedang mengalami revolusi pemikiran dan kebudayaan; dalam arti luas, dari agama yang saat itu terasa kehilangan relevansinya menuju Eropa yang tercerahkan (renaissance). Salah satu mainstream pemikiran Eropa saat itu yang berpengaruh luas adalah apa yang dikenal sebagai positivisme dengan August Comte sebagi pemukanya. Dari pemikiran yang demikian, terlahirlah kemudian sebuah ‘anak’ baru yang di kenal dengan empirisme yang mengasumsikan bahwa diluar apa yang bisa ditangkap dan diteliti indera adalah tidak ada, hal ini dengan sendirinya telah menafikan esensi terpenting dari manusia itu sendiri, yaitu ruh.

Menjadi wajar bila kemudian teori ekonomi yang lahir pada waktu itu menjadi sangat terpengaruh dengan materialisme ini. Pada saatnya, sistem ekonomi yang lahir pada masa itu yang kemudian digunakan  oleh  sebagian besar masyarakat dunia- berorientasi pada pambangunan materi. Salah satu akibat dari hal ini adalah terjadinya ‘sesuatu’ yang kemudian dikenal sebagai kapitalisme, dimana setiap orang bebas mengelola dan memiliki sumber ekonominya sendiri tanpa ada sesuatupun yang membatasinya. Suatu hal yang pada saat ini menjadi sebab dari carut-marutnya perekonomian dunia.

Hal ini bisa dijelaskan, bahwa mereka melegalkan setiap penguasaan modal yang dicapai melalui transaksi ekonomi dalam bentuk apapun, berdasar pandangan bahwa puncak kebahagiaan manusia ada pada materi. Yang terjadi kemudian, mereka menjadi semakin kaya dengan segala kekayaannya, ditambah lagi mereka berusaha menambah kekayaannya dengan cara apapun tanpa batasan apapun. Salah satunya adalah dengan mengeksploitasi kemanusiaan itu sendiri. Yang kini terjadi adalah bahwa bisnis yang melibatkan banyak uang adalah lebih menarik untuk dijalankan, dan tentu hal itu adalah bentuk bisnis yang didorong oleh pemenuhan kebutuhan (baca; keinginan atau kesenangan), yang sebetulnya tidak terlalu penting dibanding dengan agenda-agenda kemanusiaan itu sendiri, semisal peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan.

Sebuah fakta yang tersaji di depan kita bersama adalah bahwa bisnis fashion, pornografi, dan entertainment lebih dihiraukan dari pada usaha yang benar-benar nyata untuk melakukan agenda-agenda kemanusiaan secara umum. Hal ini terdorong oleh kenyataan bahwa ternyata hal semacam itu lebih menghasilkan uang, sekalipun hal itu harus mengorbankan aspek-aspek moral kemanusiaan itu sendiri.

Dari sinilah kemudian lahir konsumsi mubazir yang muncul dari usaha persuasif (baca; iklan) yang dilakukan terhadap konsumen secara sistematis yang berakibat alam bawah sadar mereka dikuasai oleh barang-barang itu, dan pada akhirnya menggiring mereka pada sikap hedonis. Namun ternyata hal ini justru semakin membuat perekonomian menjadi jenuh, yang merupakan akibat dari penguasaan berlebih segelintir orang terhadap sumber-sumber ekonomi.

Beberapa bos klub sepakbola Eropa misalnya, dengan mudahnya mengeluarkan uang jutaan poundsterling hanya untuk ‘bermain-main’ dengan sebuah klub semacam Real Madrid, Chelsea, Manchester United, dan lain sebagainya. Sementara di bagian lain dari bumi kita ini, jutaan orang tertimpa bencana kelaparan, dan sebagian yang lain harus bersusah payah untuk mendapatkan sesuap nasi. Sebuah kesimpulan, bahwa sistem ekonomi yang saat ini dikembangkan oleh pelaku ekonomi dunia adalah sebuah sistem yang kehilangan orientasinya, sehingga ia tidak lagi menjadi fokus. Dampak nyata dari hal ini adalah terjadinya krisis ekonomi global, yang tidak hanya melanda kawasan dunia ketiga. Amerika dan Eropa, dua pusat  ekonomi  dunia  saat ini ternyata juga merasakan dampak negatif dari krisis ini.

Tidak jauh beda keadaan yang dialami oleh negara-negara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Alih-alih membangun sistem yang bernafaskan Islam, dalam beberapa kondisi yang dialami malah lebih buruk. Semua itu merupakan efek dari mengiblatnya sistem ekonomi negara-negara tersebut pada Barat, ditambah beberapa ketidaksesuaian sistem yang berakibat pada semakin memburuknya keadaan.

Sebenarnya, orang-orang Islam di negara yang berpenduduk mayoritas muslim berpeluang untuk menemukan sistem yang jauh lebih baik dibandingkan sistem yang telah lama dikenal. Perubahan-perubahan besar yang dilakukan oleh kaum muslimin bisa diwujudkan dengan mengenal sistem ekonomi yang telah dibahas selama ratusan tahun oleh para ahli hukum dengan beberapa penyesuaian dengan sistem ekonomi yang dikenal masyarakat modern. Usaha ini pelan-pelan dilakukan oleh ekonom-ekonom muslim yang mengenal tradisi (baca; buku-buku klasik), di samping juga mempelajari sistem ekonomi yang dikenal saat ini. M. Umer Chapra misalnya, dalam bukunya yang berjudul Towards a Just Monetery System melakukan ikhtiar untuk menemukan sistem ekonomi yang Islami dalam arti sebenarnya.

Tidak jauh berbeda. Negara-negara muslim ternyata juga mengalami krisis yang kurang lebih sama dengan negara barat dalam beberapa hal, malah lebih buruk. Karena sistem ekonomi yang mereka gunakan merupakan ‘plagiat’ dari sistem ekonomi yang diusung dari Barat. Padahal sebenarnya umat Islam mempunyai sistem ekonomi yang mampu menuntaskan masalah.

Dalam memahami persoalan yang demikian, Islam tidak hanya menawarkan solusi yang bersifat kosmetik belaka. Namun meniscayakan suatu perubahan komprehensif dengan tujuan akhir adanya sebuah perubahan menyeluruh. Tidak hanya dalam bidang ekonomi, tapi juga dari sisi sosial kemasyarakatan dan pribadi yang menjadi pelaku ekonomi itu sendiri.

Dalam Islam,  kita  dilarang untuk berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu, termasuk dalam melakukan aktivitas ekonomi. Menjadi jelas bahwa ekonomi bukanlah merupakan tujuan utama Islam, ia hanya menjadi salah satu sarana. Menumpuk harta merupakan salah satu tindakan yang tidak terpuji. Karenanya, jika hal ini betul-betul diperhatikan, faktor yang menyebabkan instabilitas ekonomi model Barat bisa dikurangi bahkan bisa dihilangkan sama sekali. (dad)

Kelahiran Ahlussunnah

Abu Hasan Al-Asy’ari, tokoh yang berjasa mempopulerkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah, adalah seorang mantan Imam Agung aliran mu’tazilah. Hujjah-hujjahnya adalah oase bagi jamaah mu’tazilah yang setiap subuhnya berjumlah ribuan itu. Suatu hari di bulan Ramadlan, Rasulullah mendatangi beliau dalam mimpi. “Tolonglah ajaranku,” perintah Rasulullah kepada Ali bin Ismail, nama asli beliau. Lantas, beliau memberhentikan pengajian selama dua hari. Waktu itu beliau pergunakan untuk mendalami kajian tafsir dan hadis.

Di kesempatan selanjutnya, Rasulullah kembali hadir dalam mimpinya dengan perintah yang sama. Kemudian beliau jawab, “Bukankah sudah kulakukan ya Rasul?” Rasulullah tetap meminta Abu Hasan untuk menolong ajaran Rasul. Setelah beliau cerna dalam-dalam, terbukalah hati beliau, bahwa yang dimaksud Rasulullah adalah meluruskan akidah umat yang terlanjur dibelokkan oleh paham mu’tazilah. Sejak saat itu Abu Hasan memproklamirkan diri keluar dari mu’tazilah dan merumuskan akidah sesuai permintaan Rasulullah.

Sejak saat itu pula, paham mu’tazilah meredup dengan segera. Padahal, di masa sebelumnya, akidah mu’tazilah sangat sulit untuk ditaklukkan. Karena para ulama sebelumnya berdebat dengan mu’tazilah hanya menggunakan dalil naqli. Sementara mu’tazilah memilih untuk taqdimul aqli, mendahulukan akal daripada nash. Ketika keduanya berseberangan, mutlak kebenaran adalah milik akal.

Dalam membantah mu’tazilah, Imam Abu Hasan memiliki pendekatan lain. Beliau dengan cerdas menggabungkan antara naqli dan aqli. Mu’tazilah yang senang menterjemahkan filsafat Barat (Yunani) pun kelimpungan. Bagaimana tidak, Abu Hasan belajar akidah mu’tazilah selama tiga puluh tahun. Dan di masa masih menjadi pemimpin mu’tazilah, tidak ada seorangpun dari golongannya mampu menandingi rasio dan kelugasan beliau. Inilah yang membuat akidah asy’ariah seakan berkuasa dan mu’tazilah tumbang.

Dari kesuksesan yang dialami Imam Asy’ari inilah, kerancuan hukum mempelajari filsafat terjawab. Bahwa filsafat bukan sesuatu yang haram. Bahkan, Imam Ghazali dalam salah satu risalahnya menyebut bahwa belajar filsafat bertaraf fardhu kifayah. Bagaimana bisa kita melawan para rasionalis dan liberalis, jika kita tidak memahami pola pikir mereka? Tentu kita akan dihajar habis-habisan, seperti ahlussunnah pra-Asy’ari.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Tentunya, filsafat yang bisa kita tempuh tidak sampai ke ranah bebas tanpa aturan. Tidak sampai ‘membebaskan ruang dari Tuhan’ seperti yang dialami oleh lembaga pendidikan atau kampus di berbagai daerah. Kita sudah mempunyai kaidah agama yang menjadi rule untuk kita taati.

Sebenarnya, sebelum dipopulerkan oleh Imam Asy’ari, ajaran ahlussunnah sudah berupa benih di tangan Sayyidina Abdullah bin Abbas. Ahlussunnah merupakan reaksi dari ketidakmampuan Islam bertahan dari perpecahan sejak ditinggal sang pembawanya, Rasulullah SAW.

Perpecahan di dalam tubuh Islam sudah dimulai bahkan sebelum jenazah Rasulullah dikebumikan. Kita tentu ingat peristiwa pembai’atan Abu Bakar sebagai Khalifah, yang didahului perdebatan kecil antara Muhajirin dan Anshar. Di saat itu, watak asli kaum Arab mencuat. Mereka sebelum Rasulullah datang sebagai juru damai, adalah kaum yang sangat loyal pada kelompoknya. Bani Hasyim, Khazraj, Aus, sering berseteru dengan kelompok bani lain. Ini membuktikan bahwa Rasulullah adalah juru damai paling tangguh.

Memang, perseteruan kecil yang terjadi di saat berkabung itu dapat diredam oleh Sayyidina Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Namun lubang perpecahan menganga jua ketika muncul gerakan emoh zakat dari beberapa orang. Ini terjadi hanya beberapa waktu dari resminya Abu Bakar menjadi Khalifah. Mereka menganggap, kewajiban zakat sudah gugur ketika Rasulullah wafat, karena sudah tidak ada lagi doa dari Rasulullah untuk mereka yang berzakat. Peristiwa ini ditengarai sebagai perpecahan pertama yang sudah diprediksi oleh Rasulullah di dalam hadisnya yang masyhur, tentang terpecahnya umat Islam menjadi puluhan golongan itu.

Perpecahan akhirnya benar-benar tumpah ketika sayyidina Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah. Muncullah golongan Rawafidl (pendukung Ali) dan Khawarij (penolak kebijakan Ali). Jelas, perpecahan ini bukan akibat dari perbedaan akidah, melainkan politik yang memaksa mereka bertingkah. Lantas, demi mengukuhkan posisi mereka, masing-masing dari dua kubu merumuskan akidah sendiri, sehingga mereka yang tidak sesuai dengan rumusan yang telah diputuskan dianggap kafir. Di masa inilah menyemai hadis-hadis maudlu’. Mereka menggunakan nama Rasul untuk menguatkan tindakan-tindakan mereka.

Memandang suasana semakin keruh, Abdullah bin Abbas, sahabat yang sangat cerdas, menarik diri dari pertikaian ini, dan merumuskan akidah yang benar. Beliau lah orang pertama yang mencetuskan istilah Ahlussunnah wal jamaah (aswaja). Hal ini berdasarkan pada ucapan beliau saat mentafsirkan ayat:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

 Beliau berkata: “Yakni pada hari kiamat, ketika bersinar wajah para pengikut ahlussunnah wal jama’ah dan menghitam wajah pengikut bid’ah.”

Istilah ahlussunnah beliau gunakan demi membedakan diri dengan kaum Rawafidl dan Khawarij. Memang, ada hadis yang didatangkan oleh beberapa pihak berbunyi, “Siapakah mereka ya Rasulullah (satu golongan yang selamat itu)?” “Mereka adalah ahlussunnah wal jamaah”. Namun oleh mayoritas ulama, hadis ini patut dikoreksi kembali.

Abdullah bin Abbas menegaskan, aswaja tidak terpengaruh apapun, selain yang datang dari Rasulullah. Berbeda dengan Rawafidl maupun Khawarij yang mengkafirkan sahabat yang tidak sepaham dengan mereka, beliau menganggap semua yang datang dari sahabat dapat diterima kebenarannya.

Kenapa? Karena hanya sahabat lah golongan yang memahami ajaran Rasul. Memang, seringkali ditemukan pendapat yang terlihat silang sengkarut antar sahabat. Namun, aswaja menyikapinya dengan bijak. Logikanya sederhana. Kita misalkan satu kampung rombongan ziarah Walisongo. Di antara mereka ada ustadz dan anak muda. Setelah ke makam, ziarah dilanjutkan ke Monas. Kalau kita tanya ke ustad, tentu dia menjawab ‘Makamnya ramai sekali.’ ‘Kalau monasnya gimana?’ ‘Alah, monas ya gitu-gitu aja. Cuma tugu yang ada emasnya’. Sementara anak muda akan menjawab ‘Makamnya ya tetap gitu aja.’ ‘Kalau monasnya?’ ‘Wah, di sana ramai.’

Perbedaan latar belakang tentu berakibat pada perbedaan tingkat kepahaman dan penafsiran. Meskipun sumbernya sama persis. Dan kita, aswaja, tidak bisa menghakimi siapakah yang benar, karena kita tidak ikut dalam perjalanan ziarah sebagaimana pemisalan di atas.

Apa yang menjadi dasar keyakinan aswaja adalah “Kullu shohabiy udulun.” Setiap sahabat itu adil. Semua pendapat sahabat benar. Tidak ada yang bisa dibatalkan. Namun, kita punya wewenang untuk memilih, pendapat mana yang akan kita gunakan. Ini sangat berbeda dengan Rawafidl maupun Khawarij.

Dan juga, bagaimana mungkin kita menafikan kabar dari sahabat, jika mereka adalah perekam terbaik ajaran Rasulullah. Mereka mengikuti setiap perkataan, perbuatan dan taqrir (ketetapan) yang dikeluarkan Rasulullah. Kita tidak bisa melaksanakan salat, kecuali dengan melihat ‘rekaman’ yang disimpan oleh para sahabat.

Kita patut bersyukur. Ajaran aswaja dapat lahir dan sedemikian rupa mengalir memenuhi sungai-sungai akidah Nusantara sejak lampau. Karena jika tidak, mungkin saja kitalah aktor utama penyebar terorisme atas nama agama. Atau mungkin juga kita tergiur akan ujaran, “kembali ke ajaran Rasulullah” dan mengunyahnya mentah-mentah. Alhamdulillah.][

#Disarikan dari Seminar Aswaja Sebagai Penyeimbang Agama dan Budaya oleh KH. Muhibul Aman Ali (Pasuruan) di Lirboyo, 05 Nopember 2015.

Memantapkan Peran Aswaja

LirboyoNet, Kediri – Malam Jum’at memang “sakral”, terlebih kemarin (05/11). Pasalnya, di Aula Al Muktamar dilaksanakan agenda tahunan Jam’iyyah Nahdliyyah. Kegiatan ini menjadi salah satu tanggungjawab yang dibebankan kepada M3HM (Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien).

Dalam kesempatan kali ini, para santri berkesempatan untuk berdialog dengan KH. Muhibul Aman Ali, salah satu pengasuh Ponpes Roudlotul Ulum, Besuk, Kejayan, Pasuruan. Manual acara kurang lebih serupa dengan seminar keagamaan yang sudah-sudah, yakni penjabaran materi yang diikuti oleh sesi tanya jawab.

Menurut Bapak Abdul Kholiq Dauli, Ro’is Am M3HM, mengutip dari dawuh almaghfurlah KH. Ahmad Idris Marzuqi, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat akidah yang semakin hari semakin dirongrong oleh pihak-pihak luar. Karena sangat riskan untuk melepas santri bergumul dengan masyarakat tanpa membekali mereka dengan akidah yang cukup, karena permasalahan akidah kontemporer di masyarakat terus berkembang.

Gus Muhib, panggilan akrab KH. Muhibul Aman Ali, membuka orasi beliau malam itu dengan mengisahkan latar belakang lahirnya organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. “Perkembangan aliran Wahabi di tanah kelahiran Islam pada waktu itu, membuat para alim Nusantara waswas. Gerakan mereka semakin gencar untuk meratakan monumen-monumen bersejarah milik umat muslim.” Kemudian, sebagai reaksi dari membabi-butanya Wahabi, dibentuklah Komite Hijaz, yang bertugas untuk mereduksi kegiatan wahabi dengan berdiplomasi. Beberapa kiai dikirim ke Arab Saudi. “Jadi lahirnya Nahdlatul Ulama (NU) adalah bentuk reaksi keprihatinan para ulama, terkait masa depan Islam nantinya,” ujar beliau. Itu pula yang mendasari kembali dilahirkannya aliran ahlussunnah wal jamaah oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari.

Bertemakan “Aswaja sebagai Penyeimbang Agama dan Budaya”, apa yang disampaikan oleh Gus Muhib sangat mudah diterima oleh para santri. Sehingga acara yang berlangsung hingga pukul 02.30 itupun terasa masih kurang. “Kalau begini, saya berani sampai Subuh,” ujar beliau melihat antusias para santri. Namun, mengingat kesehatan beliau yang terlihat belum pulih, acara dicukupkan ketika beliau sudah menjawab beberapa pertanyaan dari santri.

Sebelumnya, di tengah-tengah penjelasan beliau yang lugas dan renyah, Gus Muhib menegaskan bahwa Islam sebenarnya berpeluang besar untuk menjadi penguasa dunia. Hal ini terjadi di masa-masa akhir kekhalifahan Umar bin Khattab. Di Timur, pasukan yang dipimpin Sa’ad bin Abi Waqash berhasil meruntuhkan kerajaan Farsi. Direbutnya Istana Mada’in, yang disebut-sebut sebagai istana terindah yang pernah ada.

Beliau yang juga merupakan alumnus Ponpes Lirboyo tahun 1997 melanjutkan, bahwa di waktu yang hampir bersamaan, tentara Abu Ubaidah berhasil menjatuhkan kerajaan Romawi Timur (syarqi) di Syiria. Pasukan itu pun sudah berhasil memasuki Italia, dan hampir saja meruntuhkan kerajaan Romawi Barat (gharbi), andai saja di pusat pemerintahan tidak terjadi kekacauan, yakni terbunuhnya Khalifah sayyidina Umar bin Khattab. “Kalau toh sampai Roma berhasil diduduki, tidak akan ada sejarah eropa seperti sekarang. Tidak bakal ada Amerika. Namun Allah mempunyai rencana lain.”

Acara itu dipungkasi oleh beliau dengan memberikan beberapa wejangan untuk santri. “Kebosanan dan keengganan belajar berasal dari ketidakpahaman. Tapi kalau kita alasan tidak paham, terus kitab ditutup, kapan pahamnya? Biasakan membaca kitab sebelum tidur. Dipaksa. Karena belajar itu seperti merayu perempuan. Kalau dirayu terus, lama-lama akan luluh juga,” maqolah beliau ini diiringi tawa ringan ribuan para santri. ][

Aswaja Sebagai Penyeimbang Agama dan Budaya

Oleh : KH. Muchib Aman Ali*

Secara bahasa, ahlussunnah wal jama’ah adalah golongan atau kelompok yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Rasul dan petunjuk para sahabat dalam menjalankan ajaran agama yang meliputi aspek akidah, syariah dan tasawuf. Sebagaimana lazimnya sebuah nama, istilah ahlussunnah wal jama’ah tidak muncul begitu saja, tetapi ada rentetan peristiwa sejarah yang melatarinya. Konon, nama aswaja pertama kali dinyatakan oleh sahabat Rasulullah SAW sayyidina Abdullah bin Abbas RA ketika ditanya mengenai tafsir dari Alquran dalam surat Ali Imron:106 :

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ

Beliau berkata: “Yakni pada hari kiamat, ketika bersinar wajah para pengikut ahlussunnah wal jama’ah dan menghitam wajah pengikut bid’ah.”

Dengan demikian dapat dipahami bahwa istilah aswaja sebenarnya merujuk kepada sekelompok umat Islam yang pada saat itu berada di antara dua golongan besar, yaitu Khowarij dan Rowafidl. Dua kelompok ini diyakini sebagai kelompok ekstrem kanan dan kiri dalam sejarah Islam. Dua kelompok yang saling mengkafirkan. Lahirnya dua kelompok ini bermula dari persoalan politik, yaitu kebijakan khalifah Sayyidina Ali yang tidak segera melakukan pengusutan atas terbunuhnya khalifah sayyidina Utsman, sebagaimna yang dejelaskan dalam kitab-kitab sejarah Islam.

Namun pada perkembangan berikutnya, perselisihan itu menjurus pada persoalan agama. Kenyataan ini melahirkan keprihatinan yang sangat mendalam di kalangan sahabat Rasulullah SAW seperti Abdullah bin Abbas, sehingga beliau mengajak masyarakat untuk kembali kepada ajaran Rasulullah SAW. Periode ini dalam sejarah Islam disebut dengan al-mihnah al-kubro al-ula.

Beberapa tahun sebelum lahirnya dua kelompok ekstrem ini, umat Islam pernah mengalami masa kejayaan yang luar biasa, khususnya pada masa pemerintahan sayyidina Umar bin Khottob. Jatuhnya dua negara super power kala itu dalam kekuasaan Islam, yaitu Rum Syarqi di Damaskus dan Farsi di Iran adalah puncak dari kejayaan Islam. Bayangkan, negeri sekuat Farsi, yang bala tentaranya amat sangat terkenal di seluruh dunia dan berhasil menaklukkan negeri belahan timur bumi ini, jatuh, hancur melawan pasukan Islam yang pada saat yang hampir bersamaan juga bertempur melawan pasukan Romawi yang menguasai belahan barat bumi ini.

Penduduk negeri Rum Syarqi pada waktu itu mayoritas beragama Kristen, sebagaimana agama resmi yang dianut oleh Rum Ghorbi sebagai pusat pemerintahan bangsa Romawi. Jatuhnya bangsa Rum dalam wilayah kekuasaan Islam selanjutnya melahirkan benturan budaya pemikiran Islam dan pemikiran Kristen barat. Sebagaimana diketahui, dalam sejarah pemikiran barat, filsafat Yunani adalah salah satu tradisi pemikiran yang berkembang pesat di bangsa Romawi sejak sebelum masa Rasulullah SAW. Pada saat penduduk Rum berpindah agama, terjadilah benturan budaya dan pemikiran Islam dan budaya Barat. Benturan pemikiran ini selanjutnya melahirkan paham Mu’tazilah, yaitu paham pemikiran agama yang lebih mendahulukan akal daripada teks agama. Pengaruh pemikiran baru ini pada awalnya banyak berkembang pada aspek teologi. Sebab, aspek ini memang yang paling mudah mendapat pengaruh filsafat. Karena dipandang lebih simpel dalam memahami konsep ketuhanan. Namun pada perkembangan berikutnya, pengaruh pemikiran ini juga masuk pada aspek teks agama, nubuwwah, ghoybiyyat bahkan fikih dan tasawuf. Paham ini bisa dikatakan sebagai nenek moyangnya paham liberalisme Islam.

Paham Mu’tazilah ini mengalami puncaknya pada abad ketiga hijriyah karena memperoleh dukungan sepenuhnya dari tiga khalifah dinasti Abbasiyyah sebelum Al-Mutawakkil, yaitu khalifah Al-Ma’mun (Abdullah bin Harun Ar-rasyid. 198-218 H./813-833 M.), Al-Mu’tashim Billah (218-227 H./833-841 M.) dan Al-Watsiq Billah (227-232 H./841-846 M.).

Al-Ma’mun memang sudah lama dikenal sebagai pecinta filsafat yang berasal dari Yunani, Koptik dan Kaldan. Al-Ma’mun bahkan mempersilahkan orang-orang Nasrani, Yahudi dan Majusi untuk membangun rumah-rumah ibadah mereka di Baghdad. Kedekatan Mu’tazilah dengan penguasa Abbasiyyah sebenarnya telah terjadi semenjak lama, yakni berawal ketika Al-Manshur menjalin persahabatan dengan Amr bin Ubaid (143 H./758 M.) salah seorang tokoh Mu’tazilah yang menjadi kawan dekat Washil bin Atho’ (80-130 H.).

Periode ini menurut ahli sejarah Islam di sebut dengan al-mihnah al-kubro ats-tsaniyah. Puncaknya ketika Khalifah Al-Ma’mun mengeluarkan kebijakan fit and proper test pada aparat pemerintahannya. Pejabat yang diangkat harus berasal dari orang yang berakidah Mu’tazilah. Dalam pelaksanaannya, bukan hanya aparat pemerintahan saja yang diperiksa, tetapi juga sejumlah ulama. Bahkan ada yang sampai wafat di penjara atau disiksa. Di antara ulama yang menjadi korban kekejaman Al-Ma’mun ini adalah Imam Ahmad bin Hambal yang beberapa bulan masuk penjara, Imam Nashr Al-Khuza’i dan perowi madzhab Syafi’i Imam al-Buwaithi.

Dominasi paham Mu’tazilah baru berakhir pada saat Al-Mutawakkil berkuasa (232-247 H./847–861 M.). Dua tahun setelah Al-Mutawakkil berkuasa, tepatnya pada tahun 234 H./848 M., Al-Mutawakil mengambil kebijakan baru dengan membatalkan paham Mu’tazilah sebagai madzhab resmi negara. Al-Mutawakkil juga melarang tegas pembicaraan mengenai Alquran makhluq dan keyakinan Mu’tazilah lainnya. Sebagai gantinya, Al-Mutawakkil memerintahkan para fuqoha’, ahli hadis dan ahli tafsir untuk menyebarkan ilmunya, khususnya seputar sifat Allah SWT sesuai dengan petunjuk Alquran dan hadis jauh dari keyakinan Mu’tazilah.

Pada tahun 237 H./851 M., Al-Mutawakkil mengeluarkan kebijakan yang lebih tegas, yaitu memberhentikan Ahmad bin Abi Dawud, seorang tokoh Mu’tazilah dan menggantikannya dengan Yahya bin Aktsam. Al-Mutawakkil juga menahan tokoh-tokoh Mu’tazilah yang lainnya, seperti Abul Walid bin Abi Dawud serta saudara-saudaranya kemudian mendeportasi mereka jauh dari Istana Khalifah. Dalam perkembangan selanjutnya, kelompok Mu’tazilah kembali mendominasi pada masa kekuasaan Dinasti Buwaihi di Baghdad. Akan tetapi masa ini tidak lama, sebab Bani Buwaihi segera digulingkan oleh Bani Saljuk yang menganut paham ahlussunnah wal jamaah terutama sejak pemerintahan Alp Arslan dengan perdana menterinya Nizham al-Mulk.

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa lahirnya beragam penyimpangan paham dalam agama Islam tidak terlepas dari dua hal: Pertama; kepentingan politik, sebagaimana yang terjadi pada masa al-mihnah al-kubro a-ula. Kedua; benturan budaya, sebagaimana yang terjadi pada masa al-mihnah al-kubro ats-tsnaiyah. Di sisi lain, eksistensi aswaja dapat dengan mudah menyesuaikan dengan beragam budaya di belahan bumi ini. Inilah bukti kebenaran paham aswaja.

Sebagaimana diketahui bahwa ajaran Rasulullah Muhammad SAW berlaku untuk seluruh manusia sejak masa Rasulullah SAW sampai hari kiamat dan berlaku untuk seluruh umat di dunia. Artinya ajaran agama Islam yang benar-benar bersumber dari Rasulullah SAW haruslah ajaran agama yang dapat menembus ruang dan waktunya, tidak kaku, tidak ekstrem tetapi juga tidak kebablasan, mampu berakulturasi dengan budaya masyarakat di mana saja. Dalam konteks Indonesia, tradisi Islam lokal adalah contoh kebenaran ajaran aswaja. Selamatan tujuh hari, selamatan desa, selamatan kandungan tiga bulan, tujuh bulan dan macam-macam tradisi lokal lainnya, dapat diselaraskan dengan ajaran aswaja oleh para Walisongo dan para kiai sepanjang memiliki maksud yang baik dan dilakukan dengan cara yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Meskipun tidak ditemukan contoh persisnya pada zaman Rasulullah SAW, inilah bukti kebenaran aswaja, bukti yang tidak terbantahkan, sebagaimana Rasulullah SAW mampu menyelaraskan ragam budaya bangsa Arab pada saat itu sepanjang tidak bertentangan dengan pokok ajaran Islam. Inilah hakekat dari “Islam Nusantara”.

Pasuruan, 28 Oktober 2015.
*Pengasuh Ponpes Roudlotul Ulum, Besuk, Kejayan, Pasuruan. Alumnus Ponpes Lirboyo tahun 1997. Materi ini disampaikan dalam Seminar Jam’iyyah Nahdliyah Majelis Musyawarah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (M3HM) 05 November 2015 di Aula Al-Muktamar.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah