Memegang Tafsir Quran Saat Haid

Admin yang terhormat. Seorang wanita yang sedang haid, apakah boleh memegang tafsir quran, seperti Shafwatu al Bayan li Ma’ani Alqur’ani al Karim?

Fitri

Admin – Saudari Fitri yang berbahagia. Hukum menyentuh atau membawa Alquran bagi orang yang hadats (tidak suci) masih diperselisihkan oleh para ahli fikih:

  1. Menurut Imam Dawud al Dzahiri, hukumnya diperbolehkan secara mutlak, walaupun Alquran tersebut tidak disertai tafsir. Pendapat ini juga disampaikan Imam Hakim dan Imam Hammad, guru Abu Hanifah. Dalil yang menjadi pijakan mereka dalam mencetuskan hukum tersebut adalah: Pertama, Rasulullah pernah mengirimkan surat yang di dalamnya tertulis ayat-ayat Alquran kepada Raja Heraqles. Padahal Raja Heraqles dalam keadaan hadats. Kedua, firman Allah dalam surat al Waqi’ah [56]: 77-79

إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ.  فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ.  لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” Menurut mereka, maksud kalimat Alquran dalam ayat tersebut adalah Alquran yang ada di Lauh Mahfudz, sehingga yang dimaksud al Muthahharun adalah para malaikat. Jadi, Alquran yang ada di dunia tidak haram disentuh. Ketiga, hadis Rasulullah Saw.:

لَا يَمُسُّ الْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

Artinya: “Tidak boleh menyentuh al Quran selain orang yang suci (orang mukmin).” Kalimat Thahir (orang yang suci) dalam hadis di atas maksudnya adalah orang-orang mukmin, yang berarti setiap orang mukmin diperbolehkan menyentuh atau membawa Alquran. Penafsiran hadis ini berdasarkan firman Allah surat al Taubah [9]: 28:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ فَلَا يَقْرَبُوا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَٰذَا … الآية

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini.”

Dan berdasar hadis Rasulullah Saw. yang disabdakan saat Abu Hurairah merasa enggan berkumpul bersama para sahabat karena beliau sedang junub (berhadas besar):

سُبْحَانَ اللّٰهِ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْجُسُ

Artinya: “Maha Suci Allah, sesungguhnya orang mukmin tidaklah najis.”

  1. Menurut mayoritas ahli fikih, membawa Alquran diperbolehkan jika disertakan dengan benda lain -meskipun hanya sebuah jarum kecil- asalkan berniat membawa benda yang menyertai Alquran, bukan berniat membawa Alquran atau berniat membawa keduanya sekaligus. Diperbolehkan juga membawa Alquran yang disertai tafsir, atau keterangan-keterangan lain seperti asbab al nuzul (sebab-sebab ayat Alquran diwahyukan), fadhilah ayat dan lain sebagainya. Hal ini jika tafsirnya atau keterangan-keterangan itu lebih banyak daripada ayat Alquran itu sendiri. Pendapat ini juga disampaikan oleh Abu Makhramah dan Imam Romli.

Ulama madzhab Syafi’i menjelaskan, Alquran yang tulisannya bercampur dengan tafsir -seperti kitab Tafsir Jalalain- dan Alquran yang tulisannya terpisah dari tafsirnya -seperti tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani al Quran– memiliki hukum yang sama. Tentang hukum menyentuh Alquran, menurut Imam Romli diperbolehkan asalkan tidak menyentuh pada bagian tulisan Alquran.

Perlu diketahui bahwa kitab tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani Alquran memuat beberapa keterangan berupa: Asbab al Nuzul, Tafsir, dan Faharis (Daftar Isi). Sehingga jelas bagi kita bahwa menyentuh atau membawa kitab tafsir Shafwatul Bayan li Ma’ani Alquran diperbolehkan, namun hukumnya makruh. Dijelaskan dalam kitab Itsmid al ‘Ainaini:

[مسألة] يَحِلُّ حَمْلُ قُرْآنٍ مَعَ تَفْسِيْرٍ مَشْكُوْكٍ فِيْ أَكْثَرِيَّتِهِ عِنْدَ (حج) كالضَّبَّةِ وَالْحَرِيْرِ

Artinya: “Halal membawa Alquran disertai tafsir yang perbandingan banyaknya masih diragukan menurut Imam Ibnu Hajar, seperti masalah tambalan dengan perak dan masalah kain sutera.”

[مسألة]: لَا تُعْطَى حَوَاشِي الْمُصْحَفِ حُكْمَ التَّفْسِيْرِ عِنْدَ (حج) وَقَالَ (م ر): الْحُكْمُ وَاحِدٌ

Artinya: “Bagian tepi Alquran tidak sama hukumnya dengan Alquran menurut Imam Ibnu Hajar. Sedangkan menurut Imam al Ramli hukumnya sama dengan Alquran.”

[مسألة]: حَيْثُ كَانَ التَّفْسِيْرُ أَكْثَرَ لَا يَحْرُمُ مَسُّ الْمُصْحَفِ مُطْلَقاً، وَقَالَ (م ر): الْعِبْرَةُ فِي الْحَمْلِ بِالْجَمِيْعِ وَفِي الْمَسِّ بِمَوْضِعِهِ.

Artinya: “Jika jumlah huruf tafsir lebih banyak dari pada jumlah huruf Alquran, maka tidak haram menyentuh kitab tersebut secara mutlak. Imam Al Romli mengatakan, hukum membawa kitab memandang pada keseluruhan kitab, sedangkan hukum menyentuh hanya pada bagian yang disentuh saja.”

[مسألة]: لَا يَحِلُّ حَمْلُ قُرْآنٍ وَمَتَاعٍ بِقَصْدِهِمَا (تحفة) وَيَحِلُّ عِنْدَ (م ر)

Artinya: “Haram membawa Alquran bersama benda lain dengan niat membawa keduanya (kitab Tuhfah). Namun menurut Imam al Ramli hukumnya halal.”

Dalam kitab Bughyaah al Mustarsyidin (Sayyid Abdurrahman bin Muhammad) menjelaskan:

وَاعْتَمَدَ (م ر) وَالْخَطِيْبُ حُرْمَةَ مَسِّ السَّاتِرِ لِلْمُصْحَفِ فَقَطْ ، وَجَوَّزَ أَبُوْ مَخْرَمَةَ مَسَّ جَمِيْعِ الْجِلْدِ. فَائِدَةٌ : قَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ : يَجُوْزُ حَمْلُ الْمُصْحَفِ وَمَسُّهُ بِحَائِلٍ. وَقَالَ دَاوُدُ : لَا بَأْسَ بِهِمَا لِلْمُؤْمِنِ مُطْلَقاً. وَقَالَ طَاوُسُ : يَحِلَّانِ لِآلِ مُحَمَّدٍ مَعَ الْحَدَثِ اهـ شَرْحُ الدَّلَائِلِ

Artinya: “Imam al Romli dan Imam Khathib berpendapat, ‘Haram menyentuh penutup Alquran.’ Sedangkan Abu Makhramah memperbolehkan menyentuh seluruh sampul Alquran. (Faidah) Abu Hanifah memperbolehkan menyentuh dan membawa Alquran dengan alas/penghalang. Imam Dawud berpendapat, ‘Orang mukmin diperbolehkan menyentuh atau membawa Alquran secara mutlak.’ Sedangkan Imam Thawus berkata, ‘Keduanya (menyentuh dan membawa Alquran) halal bagi keturunan Nabi Muhammad Saw. meskipun dalam keadaan hadas.’

Kembali Pada Renungan yang Terlupakan

“Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Yunus [10]: 3)

Ayat di atas menyuguhkan sebuah renungan kepada para makhluk-Nya. Sebuah renungan yang selalu dilupakan oleh para hamba-Nya. Renungan bahwa segala sesuatu itu hendaknya dilakukan dengan bertahap, tidak dilakukan tergesa-gesa. Dalam ayat tersebut merekam kejadian penciptaan langit dan bumi dalam enam masa. Kenapa Tuhan Yang Maha Esa menciptakan keduanya dalam jangka cukup lama, tidak dalam sekejap saja. Padahal kita tahu jika Allah adalah Dzat yang ketika ingin mewujudkan sesuatu pasti akan terwujud dan sekejap langsung jadi; “Kun Fayakun”. Diantara ulama yang menginterpretasikan ayat tersebut, ada yang memberikan sebuah statemen jika hikmah dibalik penciptaan langit dan bumi dalam enam masa itu adalah agar para manusia sadar jika segala sesuatu yang ingin dilakukan hendaknya secara bertahap, tidak atau jangan sampai dilakukan dengan adanya ketergesa-gesaan.

Sesuatu yang diidam-idamkan jika terwujud pasti akan memberikan sebuah kesan yang sungguh berarti pada orang yang mempunyai keinginan tersebut. Untuk menuju kesana, tentu diperlukan sebuah usaha keras agar keinginan bisa tercapai dengan sempurna. Dan bukanlah hal yang mudah proses menuju kesana, karena banyak kerikil tajam yang siap menghadang. Setiap individu pasti mempunyai keinginan, namun keinginan itu belum tentu atau tidak akan pernah terwujud jika ia tidak mau melakukan usaha secara intensif. Ini merupakan harga mati jika keinginannya ingin terwujud. Seseorang bisa menyandang gelar ulama, karena berkat usaha keras yang dilakukannya dan yang pasti untuk menempuhnya diperlukan tenggang waktu yang tidak sebentar. Dia harus mempelajari, membahas, menelaah ulang, dan lain sebagainya yang mestinya butuh waktu cukup lama. Tidak bisa diraih secara instan seperti menimba air dari dalam sumur.

Ketika seseorang telah mempunyai suatu keinginan dan dia telah merencanakan usaha untuk kesana dengan membuat beberapa langkah, yang perlu dia lakukan selanjutnya ialah hendaknya menjalaninya dengan pelan-pelan. Sikap ini dibutuhkan karena ketika menjalani suatu hal dengan tanpa adanya kehati-hatian, bisa-bisa ketika telah sampai pada tujuan dia akan sedikit menemui keganjalan karena merasa telah salah arah. Adanya sikap hati-hati yang dimanifestasikan dengan pelan-pelan atau bertahap, sebenarnya berguna untuk menanggulangi hal-hal yang tidak diinginkan. Sedang tindakan tergesa-gesa adalah sebuah kebiasaan yang negatif. Apalagi ciri khas grusa-grusu-nya itu, membuat orang di sekitar menjadi tidak ‘mantap’. Disamping tindakan yang kurang baik, agama pun mengatakan jika tindakan tergesa-gesa merupakan salah satu tindakan musuh bebuyutan kita, setan.

Sebenarnya kalau kita mau merenungkan semua hal yang diciptakan oleh Allah Swt., pasti kita akan menemukan secercah kebeningan hati karena telah merasa mendapat pentunjuk atau hidayah-Nya. Ingat, merenungkan apa yang diciptakan, bukan Yang Menciptakan. Sebab jika pikiran kita merenungkan pada sang Pencipta, akal kita tidak akan pernah menjamah kesana. Bahkan yang paling ditakuti adalah malahan bisa jadi kita tersesat terlalu jauh.

Banyak sekali ayat Alquran yang menyetir tentang perenungan tentang apa-apa yang telah diciptakan-Nya. Seperti dalam surat Ali Imran ayat 190-191: 190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka’.”

Dalam ayat tersebut dijelaskan, bahwa termasuk orang berakal atau kata lainnya pintar adalah orang yang mau berfikir tentang penciptaan langit dan bumi. Tujuan perenungan itu adalah agar mengetahui jika segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi pasti ada hikmahnya. Dan biasanya orang yang mengoptimalkan pikirannya dengan seringnya merenung tentang ciptaan Tuhan, pasti akan mempunyai ide-ide cemerlang. Bahkan tidak hanya sampai di situ, bisa jadi ide itu dikembangkan sehingga menjadi sebuah bidang ilmu khusus, seperti kemajuan teknologi saat ini.

Dalam pembahasan sikap tergesa-gesa, sebenarnya agama Islam juga dalam melarangnya ada banyak sekali hikmah yang terkandung. Hanya saja tidak ada atau jarang yang tahu. Seperti anjuran pelan-pelan ketika makan. Ketika makanan sampai di mulut, ada anjuran sebaiknya tidak langsung ditelan, tapi dikunyah terlebih dahulu sampai benar-benar halus. Hikmah yang terkandung, menurut ahli pencernaan, adalah jika makanan yang masuk ke dalam perut tidak dalam keadaan halus, maka akan merusak lambung, karena lambung adalah termasuk organ tubuh yang sensitif. Makan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dengan tempo sedang, juga akan menghindarkan tersedak, tergigit, kerja organ pencernaan pun jadi lebih ringan dan proses pencernaan berjalan sempurna. Makanan yang tidak dikunyah dengan baik akan sulit dicerna dan dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan kanker di usus besar.

Kalau kita sejenak mau melirik kembali tentang historis Nabi tatkala menerima wahyu, mungkin kita akan sadar jika memang perlakuan tergesa-gesa bukanlah hal yang baik. Kisah ini terekam dalam Alquran surat al-Qiyamah ayat 16-19: “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.”

Dulu, Nabi Muhammad ketika menerima wahyu lewat malaikat Jibril sempat ditegur oleh Allah karena tergesa-gesa menggerakan bibirnya sebelum Jibril membacakan wahyu itu. Teguran kepada Nabi yang terekam rapi dalam Alquran ini secara tidak langsung juga menyuruh kita agar tidak melakukannya.

Dari sedikit ulasan ini mungkin dapat ditarik sehelai benang merah, jika sikap tergesa-gesa itu memang sungguh sikap yang tidak baik diterapkan dalam semua tindakan dan banyak akibat yang fatal jika orang telah terlanjur melakukannya. Oleh karenanya, mulailah dari sekarang kita mengatur pola hidup dengan sikap yang tenang, tidak tergesa-gesa. Disamping karena sikap ini banyak menguntungkan, Allah pun akan menyayangi kita sehingga kita akan mendapatkan pahala dari-Nya. Sebab sikap tenang adalah sikap yang dicintai-Nya. Wallahu A’lam bis Shawab.

Penulis : Zainal Faruq

Mengurai Radikalisme Agama

Judul Asli : Mengurai Radikalisme Agama dengan Mengaplikasikan Keaswajaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam waktu yang singkat dan keterbatasan penulis, tidak mudah untuk mengurai radikalisme agama secara tuntas dan komprehensif. Namun demikian, setidaknya tulisan berikut cukup untuk pengantar mengenali radikalisme agama.  Yang dengan memahaminya kita akan mampu melihat  radikalisme agama, sehingga kita bisa menghindari dan membendungnya.

Sekilas Tentang Agama Islam

Islam adalah agama kedamaian, keselamatan dan kasih sayang. Bukti paling konkrit mengenai hal ini adalah, bahwa Allah Swt menamakan agama ini dengan sebutan Islam. Secara literal, kata Islam diambil dari bahasa arab yang berasal dari akar kata salima yaslamu salaman, sebuah kata-kata indah yang menunjukkan arti kedamaian, keselamatan, keamanan, kenyamanan dan perlindungan. Jika kita merenungkan dengan mendalam makna-makna tersebut, kita akan mendapati bahwa semua prinsip dasar dalam agama Islam (sebagaimana diceritakan dalam hadis Jibril ) yaitu, Islam, iman dan ihsan semuanya merupakan manifestasi dari makna tersebut.

Islam. Suatu ketika Nabi Saw ditanya, “Siapakah muslim sejati?”  Beliau menjawab, “Al-muslimu man salima an-nasu min lisanihi wa yadihi (seorang  dikatakan muslim sejati  jika ucapan dan perbuatanya tidak merugikan orang lain)”.

Iman. Secara literal kata iman berasal dari akar kata amina ya’manu amnan yang menunjukkan arti kedamaian dan perlindungan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits dari Abi Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda, “Al-mu’minu man aminahu an-nasu ala dima’ihim wa amwalihim (mukmin sejati adalah seseorang yang orang lain merasa nyawa dan hartanya aman darinya)”.

Ihsan. Kata ihsan berasal dari trilateral (tsulasi mujarrod) berupa hasuna yahsunu husnan yang berarti kebaikan, kebajikan dan keindahan. Dari kata inilah Nabi Saw mengatur segala persoalan yang berkaitan dengan bersosial dan bermasyarakat, sebagaimana hadis beliau, “Ittaqillah haitsu ma kuntum wa atbi’issayyi’ata al-hasanata wa khaliqi an-nas bi khuluqin hasanin (bertakwalah kepada Allah dimana pun kalian berada, hapus perbuatan jelek dengan kebaikan, dan bergaulah dengan manusia dengan pergaulan yang baik/ akhlaq yang baik”.

Islam adalah agama yang moderat, dalam hal akidah meyakini Tuhan hanya ada satu, tidak anti Tuhan juga tidak meyakini Tuhan banyak. Dalam berbagai persoalan juga demikian, sebagaimana Firman Allah Swt:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا 

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”. QS. Al-Baqoroh: 143

 وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا 

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal”. QS. Al-Isro`: 143

وَلا تَجْهَرْ بِصَلاتِكَ وَلا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَلِكَ سَبِيلا 

“Dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”. Qs. Al-Isro`: 110

 وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ 

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah swt kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagianmu dari (kenikmatan) duniawi. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. QS. Al-Qoshosh: 77

Ayat –Ayat di atas menjelaskan bahwa ajaran Islam selalu moderat. Orang tidak boleh berlebihan dalam mengalokasikan harta, atau boros, di saat yang sama tidak boleh kikir. Waktu salat tidak boleh terlalu keras, agar tidak mengganggu, juga tidak boleh pelan, sehingga tak terdengar. Sehingga kita bisa menilai, jika ada yang berlebih-lebihan, seperti salat dengan suara dengan speaker yang sangat keras dan mengganggu, meski dengan alasan syiar Islam, meramaikan masjid, atau alasan lain atas nama agama, hal tersebut bukan ajaran Islam.

Apa itu radikal?

Kata radikal berasal dari bahasa latin “radix”  yang bermakna akar. Secara bahasa, radikalisme adalah suatu paham atau aliran yang menghendaki adanya perubahan atau pergantian sistem di masyarakat dengan cara kekerasan atau drastis.

Sebenarnya, keinginan adanya perubahan  masih dianggap wajar dan positif jika disalurkan melalui jalur perubahan yang benar, dan terutama tidak beresiko terjadi pertumpahan darah dan tidak merusk stabilitas politik dan keamanan, namun jika dilakukan dengan cara-cara kekerasan dan pertumpahan darah tentunya hal ini tidak dibenarkan. Dr. Said Ramadlan al-Buthi dalam kitabnya al-Islam Maldzu Kulli al-Mujtama’at al-Insaniyat manyatakan, “Kita perlu bertanya, apakah subtansi Islam sesuai dengan sistem revolusi (mewujudkan perubahan dengan kekerasan)?” Pertanyaan tersebut langsung kami jawab, masyarakat Islami tidak mungkin bisa berdiri kokoh jika mengandalkan kekerasan dan pertumpahan darah, karena masyarakat Islami sejak dulu sampai sekarang tidak pernah terwujud dengan cara seperti itu.

Sebuah tindakan radikal, sebenarnya bisa terjadi dalam setiap aspek kehidupan, baik agama, politik maupun yang lain, tidak hanya terfokus pada satu agama tertentu, seperti kasus teror pada kaum muslim  di Palestina, Pakistan, Irlandia, Bosnia, Chechnya, Pattani, Khasmir dan Rohingya yang dilakukan oleh ekstrimis Hindu, Buddha, Yahudi dan Katolik. Namun pasca runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 11 september 2001 lalu, radikalisme seperti mengalami penyempitan makna dan hanya digunakan sebuah istilah untuk suatu tindak kekerasan atas nama agama, dan jika lebih kita sempitkan lagi, agama Islam. Dan inilah fokus pembahasan kita.

Radikalisme dalam sikap keagamaan bisa ditandai dengan hal berikut:

  • Sikap tidak toleran, tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain.
  • Bersikap revolusioner, cenderung menggunakan kekerasan dalam mencapai tujuan.
  • Umumnya radikalisme muncul dari pemahaman agama yang konservatif dan tekstual.
  • Kelompok radikal selalu merasa sebagai pihak yang memahami ajaran Tuhan. Karenanya mereka suka menganggap kelompok selain mereka adalah sesat

Benih-benih radikalisme dalam Islam sebenarnya sudah muncul sejak abad pertama Hijriyyah, benih ini ditunjukkan dengan sikap intoleran dan eksklusif oleh kaum Khawarij. Kaum Khawarij pada mulanya merupakan pengikut Sayyidina Ali Ra. Munculnya gerakan ini berawal dari perang Shiffin yang terjadi antara kelompok Sayyidina Ali Ra dan Mu’awiyyah Ra, ketika perang berlangsung dan kelompok Sayyidina Ali Ra hampir memenangkan peperangan, kubu Mu’awiyyah menawarkan perundingan sebagai penyelesaian permusuhan, dan Sayyidina Ali Ra menerima tawaran tersebut. Kesediaan Sayyidina Ali Ra untuk berunding menyebabkan kurang lebih 4000 pengikutnya memisahkan diri dan membentuk kelompok baru yang dikenal dengan nama Khawarij. Kelompok ini sangat menolak perundingan yang dilakukan Sayyidina Ali. Bagi mereka permusuhan hanya bisa diselesaikan dengan hukum Tuhan, bukan dengan perundingan, sehingga muncul jargon mereka la hukma illa lillah. Karena kelompok Sayyidina Ali bersedia menyelesaikan persoalan dengan perundingan, maka mereka dianggap kafir dan dituduh sebagai pengecut oleh Khawarij. Hal ini yang menyebabkan Khawarij melegitimasi tindakan teror mereka terhadap umat Islam yang tidak sependapat, bahkan salah satu anggota mereka Abdurrahman bin Muljam berhasil membunuh Ali Ra.

Faktor Munculnya Radikalisme Islam

Banyak sekali faktor penyebab tumbuhnya ideologi ini, butuh pengkajian lebih serius untuk mengidentifikasinya, karena memang hampir semua penyebabnya  tidak tunggal dan butuh terhadap hal-hal atau kepentingan yang lain untuk menjadi faktor tindakan  radikal.

  1. Faktor Keagamaan

Tidak semua kesalahan dalam memahami agama dapat mengantarkan pada tindakan radikal, tentu kesalahan dalam memahami rukun-rukun sholat dan wudlu’ tidak akan menyebabkan radikalisme, namun dalam beberapa persoalan keagamaan, kesalahan dalam memahaminya akan berakibat fatal. Diantaranya sebagai berikut:

  • Takfir

Sikap serampangan dalam mengkafirkan tentu ujung-ujungnya akan menganggap nyawa dan harta seseorang yang dianggap kafir halal. Beberapa kelompok radikal membenarkan  aksi terornya  karena menganggap bahwa setiap negara yang tidak menerapkan syariat Islam, dan tidak mendukung mereka dalam upaya mendirikan khilafah atau bahkan tidak sependapat dengan mereka adalah kafir, sehingga layak menjadi sasaran jihad. Tentu sikap seperti ini sangat tidak sesuai dengan karakteristik Ahlusunnah wal Jama’ah. Imam ahlusunnah wal jama’ah, imam Asy’ari menjelang akhir hayatnya berkata pada murid-murid beliau, “Bersaksilah untukku, bahwa aku tidak mengkafirkan siapapun dari ahlul qiblat (mereka yang shalatnya menghadap qiblat), sebab mereka semua (pada hakikatnya) menunjuk pada Tuhan yang satu”.

  • Jihad dan Hubungan dengan Non Muslim

Mengartikan jihad hanya sebagai bentuk perang fisik saja memang salah, namun harus kita akui bahwa memang salah satu aplikasi jihad berupa perang fisik melawan non muslim. Akan tetapi inti letak kesalahan dalam memahaminya adalah mengenai manathul hukmi (alasan munculnya hukum) dalam jihad. Dalam sebuah kaidah dinyatakan “wujudnya sebuah hukum tergantung wujudnya illat”. Dalam persoalan ini, hukum wajib berjihad tentu jika wujud illatnya. Banyak kelompok radikal yang mengklaim  bahwa alasan/illat dalam jihad adalah bentuk kekufuran seseorang. Ini tidak sesuai dengan firman Allah swt ‏:

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ 

“Allah Swt tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah Swt menyukai orang-orang yang berlaku adil”. QS. Al-Mumtahanah: 8 

Harus diakui bahwa Islam membenarkan peperangan dalam rangka membela diri dari peperangan, serta menolak penganiyaan, atau dengan kata lain untuk meraih rasa aman dan damai bagi semua pihak. Tetapi yang pertama harus digarisbawahi adalah bahwa sifat dasar kaum  beriman adalah tidak menyukai perang.  Ini ditegaskan oleh Alquran ketika berbicara tentang kewajiban berperang demi tegaknya keadilan perdamaian. Allah Swt berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ 

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Swt mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 165

Sekali lagi, peperangan dibenarkan bila tidak ada lagi jalan lain untuk menghindarkan penganiyaan dan memantapkan keamanan kecuali dengan perang. Karena itu, bila peperangan terjadi, maka semua yang tidak terlibat harus dipelihara. Anak-anak dan perempuan harus dilindungi, pepohonan jangan ditebang, lingkunagan jangan dirusak.

Perang juga harus dihentikan, ketika penindasan sudah tidak dijumpai. Allah swt berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَلا عُدْوَانَ إِلا عَلَى الظَّالِمِينَ 

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah Swt. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang dzalim”. QS. Al-Baqoroh: 193 

  • Kesadaran Pluralitas

Kesadaran bahwa kita hidup bersama-sama dengan berbagai macam aliran dan agama, juga ikut ambil bagian munculnya agama. Sebab jika tidak menyadari demikian, niscaya akan memaksa orang lain untuk mengikutinya, bahkan dengan cacian dan celaan. Hal inilah yang menjadi akar munculnya radikalisme. Allah Swt dengan tegas menyatakan tidak ada paksaan dan larangan pada agama lain:

 لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Bagisiapapun yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui”. QS. Al-Baqoroh: 256 

وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لآمَنَ مَنْ فِي الأرْضِ كُلُّهُمْ جَمِيعًا أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ 

“Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” QS. Yunus. 99 

وَلا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ 

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah Swt dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan Setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan”. QS. Al-An’am: 108 

Larangan memaki tuhan-tuhan dan kepercayaan pihak lain merupakan tuntunan agama guna memelihara kesucian agama-agama dan guna menciptakan rasa aman, serta hubungan harmonis antar umat beragama. Manusia sangat mudah terpancing emosinya bila agama dan kepercayaannya disinggung. Ini merupakan tabiat manusia, apapun kedudukan sosial atau tingkat pengetahuannya, karena agama bersemi di dalam hati penganutnya, sedang hati adalah sumber emosi. Berbeda dengan pengetahuan, yang mengandalkan akal dan pikiran. Karena itu dengan mudah seseorang mengubah pendapat ilmiahnya, tetapi sangat sulit mengubah kepercayaannya walau bukti-bukti kekeliruan kepercayaan telah terhidang kepadanya.

Di sisi lain, memaki tidak menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Agama Islam datang membuktikan kebenaran, sedang makian biasanya ditempuh oleh mereka yang lemah. Sebaliknya, dengan makian boleh jadi kebatilan dapat tampak di hadapan orang-orang awam sebagai pemenang. Karena itu, suara keras si pemaki  dan kekotoran lidahnya tidak pantas dilakukan oleh seorang muslim yang harus memelihara lidah dan tingkah lakunya. Makian juga dapat menimbulkan antipati terhadap yang memaki. Sehingga jika hal itu dilakukan oleh seorang muslim, maka yang dimaki akan semakin menjauh.

  1. Faktor Sosial-Politik

Berabad-abad lamanya Islam mengalami masa keemasan, kemajuan teknologi, militer dan kebudayaan serta luasnya wilayah kekuasaan Islam pada masa lalu, kini hanya tinggal sejarah saja. Dimulai sejak abad pertengahan, kebangkitan eropa-amerika mulai terasa, ditandai dengan kebangkitan renaisans, mereka mengembangkan teknologi-teknologi yang memudahkan mereka menuju kehidupan yang lebih maju, hingga akhirnya kekuatan militer luar biasa yang mereka miliki satu-persatu mulai mengekspansi wilayah Islam, sejak runtuhnya khilafah terakhir umat Islam, dinasti Ottoman, hampir semua negara Timur Tengah yang menjadi pusat sentral umat Islam dan negara-negara berpenduduk muslim di Asia dijajah oleh barat. Meski setelah negara -negara berpenduduk Islam sudah mulai merdeka, penjajahan  barat dalam waktu lama menyebabkan kebudayaan dan pemikiran mereka mulai mempengaruhi umat Islam, banyak anak-anak muda umat Islam menimba ilmu dari mereka. Namun di sisi lain banyak kalangan masyarakat muslim yang masih memperjuangkan kebudayaan mereka dan sangat menolak dengan hal-hal berbau barat. Tidak terima umat Islam dianggap kalah dan tidak ‘sudi’ mengakui superioritas barat, mereka menggunakan segala cara termasuk kekerasan dalam perjuangannya. Mereka menganggap bahwa realitas dunia saat ini adalah realitas konflik. Mulai dari memperjuangkan pendirian khilafah baru, jihad sporadis, dan aksi-aksi radikal lain. Hingga pada puncaknya mereka mengkafirkan saudara seimannya yang tidak sependapat.

Sebagai penutup, perlu kita sadari bahwa kebersamaan dan berpedaan adalah realitas yang tidak dapat dipungkiri. Mungkin bagi kita, mereka berada di pihak yang salah atau bahkan sesat. Namun, keyakinan kebenaran kita, jangan sampai memicu tindak kekerasan. Cukup sudah sejarah kelam kita jadikan pelajaran. Membangun bangsa dengan persatuan yang kuat, kita jadikan cita-cita bersama. Allah Swt berfirman:

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ 

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS. Ali Imron: 105

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ 

“Sekiranya Allah Swt menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”. QS. Al-Maidah: 48

Sekian. Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Muhamammad Hamim HR.

Jadwal Pengajian Ramadlan Pondok Lirboyo 2016

LirboyoNet, Kediri – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadlan kali ini Pondok Pesantren Lirboyo juga menggelar pengajian kilatan. Tahun ini 63 Qori’ akan membacakan lebih dari 50 judul kitab dengan berbagai disiplin ilmu, mulai tafsir (surat yasin), fikih, akhlak, dll. Diagendakan, pengajian kilatan ini akan selesai sebelum acara Haul Simbah KH Abdul Karim, tanggal 20 Ramadlan / 25 Juli 2016.

Terkait administrasi santri kilatan, para santri atau peserta pengajian kilatan diharuskan menyelesaikannya sebelum tanggal 10 Ramadlan 1437 H./ 14 Juli 2015 M. Administrasi yang dimaksud adalah membayar syahriyah sebesar Rp. 35.000,- dengan perincian Rp 30.000,- untuk syahriyah dan Rp. 5.000,- untuk bantuan listrik.

Untuk jadwal pengajian, silahkan download di sini.

Kontruksi Nalar dan Perkembangan Ahlus Sunnah wal Jamaah

Menilik sejarah umat Islam di masa akhir khilafah dan masa-masa setelahnya, Ahlus Sunnah Wal Jamaah merupakan kekuatan riil yang berkembang dan mengakar melalui perjuangan di luar lingkaran pertikaian. Saat konflik mulai merusak berbagai sendi kehidupan umat, sekelompok sahabat dan generasi sesudahnya selalu bersikap tawasuth; mengambil jalan tengah, dan tawazun; seimbang di dalam menyikapi setiap persoalan, dan bersikap tasamuh; toleran, adil dan netral di dalam menghadapi perselisihan.

Pada saat terjadi perselisihan politik antara sahabat Ali Ibn Abi Thalib dengan Muawiyah Ibn Abi Sufyan, terdapat beberapa sahabat yang bersikap netral dan menekuni bidang keilmuan. Sikap netral seperti itu juga dilanjutkan oleh beberapa tokoh tabi’in dan tabi’ al-tabi’in. Dalam kondisi seperti ini, terdapat sejumlah sahabat antara lain: Ibn Umar, Ibn Abbas, Ibn Mas’ud dan lain-lain, yang menghindarkan diri dari konflik dan menekuni bidang keilmuan dan keagamaan. Dari kegiatan mereka inilah kemudian lahir sekelompok ilmuan sahabat, yang mewariskan tradisi keilmuan itu kepada generasi berikutnya. Selanjutnya melahirkan para muhadditsin (ahli hadis), fuqaha (para ahli fikih), mufassirin (para ahli tafsir), dan mutakallimin; para ahli ilmu kalam. Kelompok ini selalu berusaha untuk mengakomodir semua kekuatan, model pemikiran yang sederhana, sehingga mudah diterima oleh mayoritas umat Islam dan mengakar kuat sebagai kekuatan riil dalam ideologi, syariat, maupun bidang-bidang yang lain.

Pada kurun berikutnya, potret “perjuangan tradisional” serupa dikembangkan oleh Al-Asy’ariy dalam menegakkan akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah. Sebagaimana telah terdahulu, awalnya Al-Asy’ariy belajar kepada Al-Jubba’i, seorang tokoh Mu’tazilah dan sementara waktu Al-Asy’ariy menjadi penganut Mu’tazilah, sampai tahun 300 H. Dan setelah beliau mendalami paham Mu’tazilah hingga berusia 40 tahun, terjadilah debat panjang antara beliau dengan gurunya, Al-Jubba’i dalam berbagai masalah, terutama masalah Kalam. Perdebatan itu membuat Al-Asy’ariy meragukan konsep akidah Mu’tazilah, dan pada masa berikutnya mengikrarkan dirinya keluar dari Mu’tazilah, dan  berjuang memantabkan Ahli Sunnah wal Jamaah.

Al-Asy’ariy membuat sistem hujjah yang dibangun berdasarkan perpaduan antara dalil nash (naql) dan dalil logika (‘aql). Dengan ini beliau berhasil memukul telak hujjah para pendukung Mu’tazilah yang selama ini mengacak-acak eksistensi Ahli Sunnah Wal Jamaah. Bisa dikatakan, sejak berdirinya aliran Asy’ariyah inilah Mu’tazilah berhasil dilemahkan dan dijauhkan dari kekuasaan. Setelah sebelumnya sangat berkuasa dan melakukan penindasan terhadap lawan-lawan debatnya, termasuk di dalamnya Imam Ahmad bin Hanbal.

Kemampuan Al-Asy’ari dalam melemahkan Mu’tazilah bisa dimaklumi, karena sebelumnya Al-Asy’ariy pernah berguru kepada mereka. Beliau paham betul seluk beluk logika Mu’tazilah dan dengan mudah menguasai sisi dan titik lemahnya. Meski awalnya kalangan Ahlus Sunnah sempat menaruh curiga kepada beliau dan pahamnya, namun eksistensinya mulai diakui setelah keberhasilannya memukul Mu’tazilah dan komitmennya kepada akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Di masa pemerintahan Islam dikuasai Bani Abbasiyah, terjadi perdebatan sengit antara para ulama dan tokoh-tokoh teologi yang ditimbulkan akibat masuknya nilai-nilai filsafat non-Islam terutama dari barat (Yunani). Karena akar filsafat dan teologi mereka berangkat dari mitos tanpa dasar agama samawi yang kuat. Hal ini menimbulkan gejolak di dunia Islam dan berubah menjadi pertentangan tajam. Dalam tubuh umat Islam, pertentangan ini terkonsentrasi pada tarik menarik antara dua kutub utama yaitu Ahlus Sunnah yang mempertahankan paham berdasarkan nash (naql) dan Mu’tazilah yang cenderung menafikan nash (naql) dan bertumpu kepada akal semata. Karena inilah mereka disebut dengan kelompok rasionalis.

Memanfaatkan pemerintahan yang didominasi oleh pengagum filsafat, Mu’tazilah pada akhirnya berhasil mempengaruhi penguasa saat itu untuk memaklumat faham Mu’tazilah sebagai akidah resmi negara. Mu’tazilah berhasil memboncengi kekuasaan khilafah Abbasiyah semenjak khalifah al-Ma’mun hingga kepemimpinan al-Mutawakkil. Mu’tazilah yang memegang kendali kekuasaan mencoba melakukan upaya pembatasan gerak dan pencekalan terhadap lawan-lawan mereka. Memanfaatkan isu-isu akidah, mereka berupaya melikuidasi dan melenyapkan tokoh lawannya. Perlawanan “Islam tradisional” berbasis Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak bisa terelakkan, dan mulai menghebat pada saat barisan Ahlus Sunnah dikomandani oleh dua tokoh ulama yang cukup berpengaruh, Al-Asya’ri dan Al-Maturidi. Mereka dalam hal ini menjadi kutub kekuatan madzhab akidah yang sedang mengalami gempuran hebat dari kelompok rasionalis yang saat itu memang sedang di atas angin.

Al-Asy’ari dan Al-Maturidi mencoba menangkis semua argumen kelompok rasionalis dengan menggunakan bahasa dan logika lawannya. Argumentasi dalil nash (naql) tidak begitu efektif digunakan sebagai alat penangkal argumen, karena lawan sejak semula sudah mengesampingkan dan menafikan dalil nash. Dapat kita saksikan sistematika hujjah Al-Asy’ary dan Al-Maturidi menyajikan kombinasi antara dalil aqli dan naqli. Pada masanya, metode ini sangat efektif untuk meredam argumen lawan.

Tentu tidak tepat membandingkannya dengan zaman yang berbeda. Karena kebutuhan dan bahasa umat tiap masa selalu berkembang dinamis. Mereka yang tidak memahami sejarah, atau bahkan tidak memahami konstruksi pemikiran Al-Asy’ary dan Al-Maturidi hanya memotret sisi rasionalisasi dalam kitab-kitab Al-Asy’ary dan Al-Maturidi maupun pengikutnya. Mereka yang tidak memahami duduk permasalahan, tergesa-gesa menuduh bahwa madzhab teologi ini sesat. Padahal di masanya, mayoritas ulama berada di pihak Al-Asy’ari dan Al-Maturidi, karena mereka menyaksikan pertarungan dan pergulatan pemikiran antara Ahli Sunnah dan kelompok rasionalis.

Dan secara de facto, mazhab akidah Asy’ariyah dan Al-Maturidi memang madzhab yang paling banyak dianut umat Islam secara tradisional dan turun temurun di dunia Islam. Di dalamnya terdapat banyak ulama, fuqaha, imam dan sebagainya. Meski bila masing-masing imam itu dikonfrontir satu persatu dengan detail pemikiran Asy’ari, belum tentu semuanya menyepakati.

Sejarah mencatat bahwa hampir semua imam besar dan fuqaha dalam Islam adalah pemeluk madzhab akidah al-Asy’ari dan Al-Maturidi. Antara lain Al-Baqilani, Imam Haramain Al-Juwaini, Al-Ghazali, Ibnu Abdis Salam, Ibnu Daqiq Al-‘Id, Al-Fakhrur Razi, AI-Baidhawi, Al-Amidi, Asy-Syahrastani, Al-Baghdadi, Ibnu Sayyidinnas, Al-Balqini, al-Iraqi, An-Nawawi, Ar-Raffi, Ibnu Hajar Al-‘Asqallani, As-Suyuti dan lain sebagainya. Dari kalangan mufassirin mutaqaddimin, ada Al-Qurthubi, Ibn Katsir, Ibn ‘Athiyah, Abu Hayyan, Fahr Ad-Din Ar-Razi, Al-Baghawi, Abu Laits, Al-Wahidi, Al-Alusi, Al-Halabi, Al-Khathib As-Sarbini. Mufassirin muta’akkhirin diwakili, Syekh Dr. Wahbah Az-Zuhaili, Ibn ‘Asur dan lain-Iain. Sedangkan dari wilayah barat, khilafah Islamiyah ada Ath-Tharthusi, Al-Maziri, Al-Baji, Ibnu Rusyd (al-Jad), Ibnul Arabi, Al- Qadhi ‘lyyadh, Al-Qurthubi dan Asy- Syatibi.

Para ulama pengikut mazhab Hanafiyah secara teologis umumnya adalah penganut paham Al-Maturidiyah. Sedangkan mazhab Al-Malikiyah dan Asy-Syafi’iyyah secara teologis umumnya adalah penganut paham Asy’ariyah. Mayoritas universitas Islam terkemuka di dunia menganut paham Al-Asy’ariah dan Maturidiyah seperti Al-Azhar di Mesir, Az-Zaitun di Tunis, Al-Qayruwan di Maroko, Deoban di India, dan masih banyak lagi universitas lainnya.

Sehingga tentunya mereka yang menilai Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiah sesat perlu berpikir ulang, karena dengan menganggap sesat mereka, tentu saja kita perlu mengeluarkan para ulama di atas dari garis Islam, begitu juga universitas Islam dan para pemimpinnya. Bahkan semestinya mayoritas umat Islam sepanjang masa pun harus dianggap sesat dan keluar dari garis Islam. Tentu saja ini tidak sederhana dan bukan persoalan mudah. Kesimpulan obyektifnya, tidak mungkin dipungkiri bahwa Al-Asy’ariyah dan Al-Maturidiah adalah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena fakta sejarah membuktikan bahwa akidah ini telah disepakati oleh mayoritas ulama dan diamini serta diterima dengan sukarela oleh mayoritas umat Islam secara turun temurun.][

Penulis : Darul Azka

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah