Mari Bertaubat Sebelum Kiamat

Oleh: KH. Abdullah Kafabihi Mahrus

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُوْ عَنِ السَّيِّئَاتِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نالْهَادِيْ جَمِيْعَ الْمَخْلُوْقَاتِ إِلَى أَحْسَنِ الطُّرُقَاتِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ:

 

Pembaca yangdimuliakan Allah …

Usia dunia saat ini sudah sangat tua. Gempa bumi, banjir, gunung meletus, dan berbagai bencana terjadi di bumi ini. Ibarat seorang lansia yang terjangkit berbagai penyakit, tak ada harapan dalam hidupnya selain akhir hayat yang membahagiakan.

Pembaca yang budiman …

Sebagai khalifah (pemimpin, red) di muka bumi ini, tak bisa kita pungkiri bahwa semua bencana itu terjadi atas ulah kita sebagai penghuni bumi. Allah Berfirman :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (الروم ٤١)

 

Artinya: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Oleh karena ltu, sebagai penghuni dan khalifah di muka bumi, tak ada yang patut kita lakukan selain bertaubat dan mohon ampun kepada Allah. Karena, hanya dengan bertaubat kepada Allah lah dosa-dosa kita akan diampuni dan kita akan selamat dan ancaman adzab Allah di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ (التحريم ٨)

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Pembaca yang dirahmati Allah …

Marilah kita belajar dari Nabi Muhammad SAW. sebagai teladan bagi semua makhluk. Beliau bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّيْ أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ  رواه مسلم

 

Artinya: “Wahai manusia, bertaubatlah kalian kepada Allah dan mohon ampunlah kepadaNya, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya sebanyak seratus kali dalam sehari.”

Nabi Muhammad adalah makhluk terbaik yang tak pernah melaksanakan dosa. Meski demikian, beliau bertaubat dan mohon ampun kepada Allah setidaknya 100 kali dalam sehari. Hal ini tak lain adalah untuk memberi teladan kepada kita tentang pentingnya bertaubat dan mohon ampun kepada Allah.

Pembaca yang budiman …

Taubat kita akan dapat diterima oleh Allah jika kita melaksanakan tiga hal, yaitu: menghentikan perbuatan maksiat yang kita lakukan, menyesalinya, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Jika dosa yang kita lakukan berhubungan dengan hak sesama manusia, maka kita juga harus meminta keikhlasannya untuk memaafkan dosa yang kita lakukan.

Pembaca yang budiman …

Sebelum matahari terbit dari ufuk barat, Allah akan selalu menerima taubat kita. Maka dari itu, marilah kita introspeksi diri kita. Hapus segala dosa dan kesalahan dengan bertaubat mengingat usia dunia saat ini sudah sangat tua dan kiamat sudah semakin dekat. Nabi SAW. bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ (رواه أحمد الترمذي)

 

Semoga Allah memaafkan dosa-dosa yang selama ini kita lakukan, dan kita tergolong orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat. Amin.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

Nilai Pekerjaan Manusia

“Masing-masing dari kalian adalah penggembala. Dan masing-masing akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.”

Sesungguhnya, setiap tindakan manusia memiliki nilai, baik maupun buruk. Setiap manusia akan dimintai pertanggunganjawaban atasnya. Itulah nilai perbuatan manusia. Nilai itu tidak dimiliki oleh hewan maupun tumbuhan. Hanya tindakan manusia yang dinilai Tuhan.

Dalam pengertian ushuliy, hukum dipahami sebagai khithab Allah yang terkait dengan tindakan-tindakan orang mukallaf (af’alul mukallafin) baik berbentuk tuntutan atau pilihan (al Ibhaj bab Hukum). Frase tindakan-tindakan mukallaf, menunjukkan kepada kita bahwa hukum terkait dengan seluruh perbuatan manusia, dari yang paling remeh hingga yang paling revolusioner. Semua ada ketentuan hukumnya. Karena itu, dalam beberapa kitab fikih, disebutkan bahwa setiap orang wajib mengetahui terlebih dahulu hukum tindakan (pekerjaan) yang akan dikerjakannya, (Tanwir al Qulub bab Muamalah).

Kata lain dari perbuatan atau tindakan adalah pekerjaan. Setiap pekejaan kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan. Dengan demikian, kita harus berhati-hati dalam pekerjaan kita. Hati-hati dalam hal ini dapat berarti luas. Ada yang bersifat ke dalam, adapula yang bersifat ke luar. Bagian pertama terkait dengan hubungan manusia dengan Tuhannya. Sedang yang kedua terkait dengan diri sendiri dan sesamanya. Yang terkait dengan Tuhan, biar menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya. Kita hanya akan membicarakan tindakan manusia yang terkait dengan sesamanya.

Suatu ketika, Rasulullah SAW. berjalan-jalan di pasar. Dalam perjalanannya itu, Rasul SAW. melihat tumpukan bahan makanan. Beliau kemudian memasukkan tangannya ke dalam kantung makanan tersebut. Dari bagian bawah kantung makanan tersebut, tangan Rasulullah merasakan basah-basah. Padahal, bagian atasnya terlihat kering dan baik. Rasulullah SAW. kemudian bertanya kepada sang penjual. “Apakah ini?” Sang penjual menjawab, “Basah-basah tersebut dikarenakan air hujan.” Rasulullah berkata, “Mengapa barang yang basah tidak kau taruh di bagian atas, agar dapat dilihat calon pembeli?” Rasulullah SAW. melanjutkan, “Barang siapa menipu (seseorang dari golongan) kami, maka ia bukan bagian dari (golongan) kami.”

Setiap orang dibekali kemampuan membedakan dalam pekerjaannya, mana yang termasuk penipuan dan mana yang bukan. Sehingga kita tahu bahwa penipuan adalah perbuatan yang disengaja. Karena, jika penipuan itu dilakukan tidak sengaja, maka tidak dinamakan penipuan. Dengan demikian, seorang manusia telah dipercaya (oleh Tuhan) untuk menjaga diri ketika bekerja. Seterusnya, ketika seseorang melakukan penipuan, maka ia telah mengkhianati dan mendustai tiga hal sekaligus; agamanya, dirinya, dan orang-orang di sekitarnya.

Bekerja bukanlah suatu hal yang hina. Namun juga tidak seharusnya ia membuat kita hina. Abu Hasan As Syadzili (1257-1195 M./656-591 H.), sufi besar dari Tunisia mengatakan, “Barang siapa bekerja dan menjaga kewajiban-kewajiban Tuhannya, maka sempurnalah proses mujahadah-nya.” Sufi besar lain, Abu Abbas Al Mursi (1219-1287 M./ 616-686 H.) mengatakan, “Jagalah hukum kausalitas (sebab-akibat) dan hendaknya seseorang menjadikan koin transaksinya sebagai tasbih, kapaknya sebagai tasbih, mesin jahitnya sebagai tasbih, dan langkah perjalanan dagangnya juga sebagai tasbih.” (al Minah as Saniah)

Abu Mawahib as Sya’rani menjelaskan bahwa manusia yang bekerja memiliki segi-segi kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia yang hanya beribadah saja dalam hidupnya. Pertama, jerih payah usahanya akan dinikmatinya sendiri. Hal ini karena ia makan dari usahanya sendiri, bukan dari pemberian (sedekah) orang lain, yang konon dianggap sebagai sesuatu yang kotor, sehingga Nabi SAW. melarang keluarganya memakan barang sedekahan.

Kedua, tidak ada kesombongan dan merasa paling pintar dan berilmu atas orang lain. Dengan demikian, dalam hal ini ia akan melihat dirinya lebih rendah, dan orang lain lebih tinggi. Rendah hati sangat dianjurkan oleh Nabi. Ingat, rendah hati, bukan rendah diri.

Ketiga, keselamatan dari kerancuan berpikir tentang Tuhan, Utusan (Rasul), dan hukum-hukum-Nya. Ia akan menjadi manusia yang hidup hanya untuk mengabdi kepada-Nya, juga orang-orang diperintah Tuhan untuk menjaganya.

Keempat, pekerjaan seseorang yang telah menghidupi banyak makhluk Allah beserta kesulitan-kesulitannya, adalah sebagian dari pelebur dosa. Nabi SAW. pernah bersabda, “Sebagian dosa, ada yang tidak dapat dilebur kecuali oleh kesulitan-kesulitan dalam mencari nafkah.” (al Minah as Saniah)

Ali al Khawwas berkata, “Bagiku, manusia yang mencari makan dengan bekerja, walaupun dari pekerjaan yang makruh, seperti tukang bekam dan petugas kebersihan, jauh lebih baik daripada seorang ahli ibadah yang mencari makan dengan agamanya, dan mendapatkan makan dengan kesalehannya.” (al Minah as Saniah) Dengan demikian, sekecil apapun tindakan, perbuatan, dan pekerjaan kita, sangat bernilai bukan? Tentunya hal ini juga harus dibarengi dengah niat yang tulus dan ikhlas.

Penulis: Muhammad KH.

Hati-Hati, TBC Bisa Menjangkit Santri

LirboyoNet, Kediri – Mikobakterium Tuberkulosa sangat senang dengan ruangan yang lembab, gelap, dan pengap. Bakteri penyebab Tuberkulosis (TBC) ini bisa tumbuh dengan cepat. Dengan kata lain, jika kamar santri Lirboyo ada yang jarang terkena sinar matahari, ruang ventilasi minim, dan sering becek, entah karena dekat dengan jeding kobok ataupun gantungan sarung telesan, maka peluang terjangkit penyakit TBC sangat besar.

Dokter Dedi Wahyu, utusan dari Puskesmas Campurejo, menyebut bahwa penyakit ini tidak bisa dipandang sebelah mata. “Di Indonesia, menurut data terakhir, setiap harinya ada 1.260 orang menderita TBC. Dan 175 diantaranya meninggal dunia.” Karena itu, para santri harus berhati-hati.

Penyakit yang menyerang paru-paru ini bisa diderita siapa saja. “Kalau sampeyan pernah mendengar TBC itu penyakit keturunan, ataupun santet, itu mitos yang keliru. TBC adalah penyakit menular. Tidak ada itu kalau orangtuanya TBC, anaknya juga. Bukan seperti itu,” tukas Dokter Dedi.

Tiga ratus santri yang hadir di Aula Muktamar Selasa pagi itu (24/11) tampak serius mendengarkan materi. Karena mereka sadar, penyakit TBC tidak dapat dideteksi sejak awal. Dia baru diketahui ketika sudah beranak pinak.

Dokter juga mengingatkan, jika sudah terkena penyakit ini, harus mengurangi intensitas meminum kopi. “Kopi itu penuh kafein. Dia dapat mempercepat proses metabolisme tubuh dan sangat berpengaruh pada daya kerja obat. Jika obat biasanya aktif selama 10-12 jam, kopi akan memperpendeknya hingga menjadi empat jam saja.”

Acara “Sosialisasi Tuberkulosis” ini merupakan inisiatif LKNU (Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama) Kota Kediri, yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kota Kediri. Ini adalah bentuk program yang dicanangkan oleh LKNU yang bernama CEPAT (Community Empowerment of People Against Tuberculosis), sebagaimana yang diakui oleh Dra. Niswatus Syarifah M. Pd, selaku koordinator program CEPAT-LKNU.

Selain penyuluhan TBC, LKNU juga mengadakan kegiatan Donor Darah Santri. Maka, digandenglah PMI Kota Kediri sebagai pelaksana. Bak gayung bersambut, ratusan santri itu segera antri untuk mendaftarkan dirinya. “Saya merinding. Maklum. Baru pertama kali ikut donor,” kata Wahyu, salah satu santri kelas tiga Tsanawiyah.

“Kegiatan (donor darah) ini sebenarnya sudah pernah dilaksanakan di Ponpes Lirboyo. Tapi itu sudah lama sekali,” ujar Bapak Hamim Hudlori, Ketua Tiga Pondok Pesantren Lirboyo.

Dilaksanakan sejak pukul 10.00 pagi, acara baru selesai sekitar pukul 14.00. Ini tak lain karena antusias para santri untuk ikut mendonorkan darahnya. “Donor darah ini sebagai wujud rasa terima kasih kita kepada negara, yang telah merestui tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ulama dan santri dahulu rela berkorban demi bangsa. Maka kita selayaknya penerus, juga harus ikut memberikan sumbangsih. Ini bisa dimulai dari darah yang kalian donorkan,” terang KH. Ahmad Subakir, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kediri dalam sambutannya.][

Semaan Alquran Bersama Kapolda

LirboyoNet, Kediri –  Menurut analisis Prof. Komarudin Hidayat, Indonesia hanya menempati posisi ke-140 sebagai negara yang menerapkan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan bermasyarakat. Sementara negara yang kehidupan masyarakatnya paling sesuai dengan ajaran Rasulullah adalah New Zealand, yang notabene muslim di sana hanya menjadi minoritas.

Irjen Pol (Purn) Untung S Radjab, mantan Kapolda Jawa Timur, mengungkapkan fakta ini di dalam acara “Semaan Alquran Mantab Polda Jatim 2015”, Rabu (25/11) di Surabaya. Menurutnya, Indonesia sebagai negara berpenduduk muslim terbanyak masih gagal dalam menanamkan nilai-nilai Islam. “Kita masih senang menyibukkan diri dengan ritual-ritual yang tidak bernilai positif. Kita suka sekali meributkan salah-benar,” imbuhnya.

Dengan latar belakang seperti inilah, Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur berinisiatif menggerakkan kegiatan masyarakat menuju ke arah yang lebih positif. Salah satunya adalah acara ini. Tidak tanggung-tanggung, Irjen Pol Anton Setiadji selaku Kapolda Jatim menginstruksikan kepada seluruh Polres di seantero Jawa Timur untuk mengikuti kegiatan ini. Dari Banyuwangi, Pacitan, hingga Tuban. Telah disediakan panggung luas untuk mengakomodir para hadirin di lapangan kantor yang terletak di Jl. Ahmad Yani No. 166, Wonocolo Surabaya ini.

[ads script=”1″ align=”center”]

Selain itu, beberapa pondok pesantren juga diundang. Termasuk diantaranya Pondok Pesantren Lirboyo. Tiga puluh santri dipilih, mereka dijemput dari pondok dan diantar dengan dikawal mobil Patwal.

Acara sebenarnya dimulai sejak subuh, dan berakhir pada petang hari, tepat saat adzan Maghrib. Hujan yang mengguyur deras tidak mengurangi semangat para mustami’in. Setelah jamaah Isya, baru dilantunkan dzikir khas Dzikrul Ghofilin. Pelaksanaan ini, menurut bapak Kapolda, sesungguhnya bertujuan untuk mewujudkan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang aman, tertib, dan kondusif. “Masyarakat cek iso kerjo enak, petani kerjo enak, pedagang yo iso kerjo enak. Inisiatif sudah kita lakukan, kerja keras sudah, bermacam kegiatan kreatif juga sudah. Kita tinggal berdoa. Kalau kok tidak sesuai harapan, ya sudah. Wong usaha kita sudah maksimal kok,” imbuh beliau.][

Pelatihan Membuat Sabun dan Shampo

LirboyoNet, Kediri – Selasa pagi hingga Rabu sore (17-18/10) kemarin, puluhan santri Pondok Pesantren Lirboyo menikmati hari yang wangi. Ini karena mereka sedang mengikuti “Short Course Cara Membuat Sabun dan Shampoo”. Penyelenggaranya adalah Dinas Koperasi dan UMKM Kota Kediri. Pelaksanaannya dibagi menjadi dua gelombang. Gelombang pertama, yakni pukul 10.30-12.00 WIs diperuntukkan bagi santri putri. Sementara santri putra mendapat jatah waktu pukul 13.30 WIs-15.00 WIs.

Pada hari pertama, setelah beberapa materi disampaikan, Bapak Agus Tri Widodo selaku pemateri mengajak semua peserta untuk menjalankan proses pembuatan sabun bersama-sama. Mulai dari pencampuran bahan, pemberian warna, hingga penuangan sabun pada cetakan.

Di sela-sela penjelasan, banyak istilah-istilah yang digunakan nampak asing di telinga para santri. Wajar saja, karena memang di kurikulum pesantren jarang ditemukan pelajaran-pelajaran sains semacam kimia maupun fisika. Karena itu, kegiatan ini dapat menjadi penambah wawasan santri akan ilmu-ilmu di luar pesantren.

Di hari kedua, para santri giliran mendapat pengetahuan tentang cara memproduksi shampoo. Caranya pun relatif mudah, sama ketika mereka mempraktekkan pembuatan sabun di hari sebelumnya.

Bapak Teguh Suwito S. Sos, perwakilan dari Dinas Koperasi menegaskan, Dinas Koperasi berusaha untuk memberikan pelatihan skill kepada masyarakat Kota Kediri, termasuk para santri Lirboyo. “Paling tidak, jika mereka sudah mempunyai skill dan bekal, kesempatan untuk berwirausaha semakin lebar,” kata beliau.

Keinginan pemerintah ini diamini oleh jajaran pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Sumbangan berupa alat produksi sabun dan shampo dari Dinas Koperasi dan UMKM ini akan dimanfaatkan oleh para santri dalam waktu segera. ][

 

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah