Istisqa TNI dan Santri: Berharap Perginya Asap

LirboyoNet, Kediri – Hari ini (28/10) matahari baru naik sepenggalah ketika belasan santri Pondok Pesantren Lirboyo naik ke truk watercanon milik Brigade Infanteri 16 Wira Yudha Kediri. Pasalnya, di lapangan Brigif akan dilaksanakan salat istisqa bersama para prajurit TNI.

Lettu Infanteri Nur Wahid menyebut,  kegiatan ini merupakan perwujudan surat dari pusat, yang menghendaki seluruh Koramil maupun Kodam untuk melaksanakan salat istisqa. Instruksi ini terkait dengan makin parahnya bencana asap yang kini melanda sebagian besar wilayah Indonesia. Kebakaran hutan sudah merambah hingga Sulawesi, bahkan Papua.

“Agar bencana di Jambi, Kalimantan, Papua dan daerah lain bisa segera diakhiri,” harap Lettu yang juga menjabat sebagai Pabintal (Perwira Pembinaan Mental) ini.

Meskipun anggota TNI di Brigif 16/Wira Yudha ini berjumlah 300 orang, jamaah salat istisqa ‘hanya’ berjumlah sekitar seratus dua puluhan orang.  Itupun sudah ditambah belasan santri. Ini karena sebagian besar dari mereka sedang bertugas di luar, semisal Papua, Kalimantan, Aceh, dan di daerah lain.

Salat Istisqa ini diimami oleh KH. Athoillah Shalahudin Anwar, pengasuh Ponpes Lirboyo Unit HM Antara. Di ujung khutbah,  Gus Atho’, sapaan akrab beliau, mengajak seluruh jamaah untuk berdoa bersama, semoga hujan segera diturunkan oleh Allah. Sehingga kekeringan, kebakaran, dan bencana asap yang diderita masyarakat Indonesia segera hilang dan dapat menjalani kegiatan sehari-hari seperti sediakala.][

Arti Penting Salat

Oleh: KH. Ahmad Idris Marzuqi

Para Pembaca yang kami hormati… Saat ini telah banyak kita saksikan kemunkaran dan kemaksiatan di mana-mana. Dari lingkungan yang kecil (keluarga), sampai pada lingkungan yang besar (negara). Umat sekarang semakin jauh dari petunjuk Allah SWT tidak lagi mengindahkan aturan-aturan syariat. Kewajiban-kewajiban diabaikan, banyak orang Islam yang telah meninggalkan salat, enggan menunaikan zakat, dan juga kewajiban-kewajiban yang lain. Mereka lebih senang dengan perbuatan maksiat yang hanya merupakan kesenangan dan kenikmatan sesaat. Na’udzubillah.

Tidak mengherankan, karena dunia ini adalah tipu daya. Terasa sejuk pada penglihatan, dan manis dalam kecapan, walaupun dalam hakikatnya adalah busuk. Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata:

الدُّنْيَا جِيْفَةٌ فَمَنْ أَرَادَ مِنْهَا شَيْأً فَلْيَصْبِرْ عَلَى مَخَالَةِ الْكِلَابِ

“Dunia itu ibarat bangkai. Maka siapapun yang menghendakinya, bersabarlah untuk menjadi teman anjing.”

Sudah seharusnya kita perlu menyimak kembali dawuh Nabi SAW. berikut:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikerumuni oleh hal-hal yang dibenci (oleh nafsu), sedangkan neraka dihiasi dengan hal-hal yang menyenangkan dan menggiurkan.”

Bagaimana tidak, segala hal yang bernilai ibadah pasti akan terasa berat karena ia akan selalu berhadapan dengan nafsu yang tak henti-henti menghalanginya. Kecuali pada hamba-hamba yang telah dianugerahi nikmatnya beribadah. Allah SWT. berfirman QS Al-Baqoroh:45:

وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Sesungguhnya (salat) itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu.”

Jika umat Islam telah jauh dari ajaran-Nya, maka agama menjadi tinggal nama. Tak ada lagi wibawanya. Nabi SAW. bersabda:

الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ فَمَنْ أَقَامَهَا فَقَدْ أَقَامَ الدِّيْنِ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدِّيْنِ

“Salat adalah tiang agama, maka barang siapa yang mengerjakannya, maka ia telah menegakkan agama, dan barang siapa meninggalkannya maka ia telah sama dengan merobohkan agama.”

Jika kita simak hadis Nabi SAW. di atas, ternyata kebobrokan agama Islam bukan karena serangan musuh-musuhnya, melainkan karena ulah dari umat Islam sendiri karena tak lagi mengindahkan petunjuk dan ajaran agamanya.

Sebagai bagian dari umat manusia, seharusnya kita tidak hanya diam melihat kenyataan ini. Jika kondisi yang semacam ini dibiarkan, umat akan semakin terpuruk, agama tinggal nama. Na’udzubillah. Merupakan kewajiban kita bersama untuk saling mengingatkan dan tolong-menolong dalam kebaikan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah:2.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ… الآية

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

Kita tentunya takkan rela jika saudara kita tertimpa musibah. Kita juga tidak rela apabila saudara kita tersesat. Bukankah setiap muslim adalah saudara bagi muslim yang lain?

Para pembaca yang terhormat… Rasulullah SAW. bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa yang melihat kemunkaran, hendaklah ia mencegahnya dengan kekuatan, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu lagi hendaklah ia mengingkarinya dalam hati, hal ini adalah kewajiban yang terendah bagi orang yang beriman.” HR. Muslim.

Apabila kita telah melihat banyak kemunkaran dilakukan atau kewajiban telah diabaikan, maka sudah menjadi perintah syariat unluk melakukan amar makruf dan nahi mungkar semampu kita. Jika tidak, maka kita dianggap setuju dengan kemaksiatan. Tuntutan dari syariat pada kita minimal kita mengakui bahwa hal itu adalah kemunkaran. Allahumma hadza munkarun fa azilhu. Rasulullah SAW. bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ، وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ، أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْ عِنْدِهِ، ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلَا يَسْتَجِيبُ لَكُمْ

 “Demi Dzat yang mana diriku berada dalam kekuasaan-Nya, Perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemunkaran, atau Allah akan membuatmu merintih/mengadu dengan menurunkan siksa padamu. Dan ketika kamu meminta pada-Nya, maka Allah tidak meluluskannya.”

#Disarikan dari Majalah MISYKAT

Persetubuhan Islam (dan) Nusantara

LirboyoNet, Kediri – Pada Kamis malam Jumat (22/10) lalu, Seminar bertemakan Islam Nusantara digelar di Aula Pondok Pesantren Lirboyo Unit HY (Haji Yakub). KH. Reza Ahmad Zahid Lc. MA, putra sulung dari almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus, menjadi pemateri tunggal pada malam itu.

Seminar yang dihadiri sekitar tiga ratus santri itu dibuka dengan pemaparan beliau tentang perjuangan para ulama dalam memelihara kemerdekaan Republik Indonesia, yang beberapa bulan setelah teks proklamasi dibacakan, ada gelagat dari Sekutu untuk menjajah RI kembali.

“Dalam situasi yang genting itu, KH. Hasyim Asy’ari membangun dialog dengan Kiai Abbas Buntet, Cirebon. Diputuskanlah Kiai Abbas menjadi Panglima Angkatan Laut. Beliau juga berdialog dengan Kiai Faqih Langitan, yang kemudian menjadi Panglima Angkatan Udara,” Beliau mengulang cerita yang telah didapatkan dari salah seorang santri Kiai Faqih, bahwa ketika Kiai Faqih menunjukkan jarinya ke arah pesawat musuh, seperti dikomando, pesawat itu terbang sesuai ke mana jari beliau diarahkan. Kalau menuding ke bawah, jatuhlah ia.

“Dan yang menjadi Panglima Angkatan Darat adalah syaikhina Mahrus Aly,” lanjut beliau, yang notabene cucu dari almaghfurlah KH. Mahrus Aly.

Ketika itu, KH. Mahrus Aly mengutus salah satu santrinya, Syafi’i Sulaiman untuk memata-matai pasukan Inggris. Setelah dibacakan hizb bermacam-macam, Syafi’i yang saat itu masih berusia 15 tahun melenggang masuk ke markas pasukan Inggris, yang dipimpin oleh Brigjen AWS. Mallaby itu.

Dengan kecerdasannya, dia hafalkan peta kekuatan musuh. Dari jumlah tentara, tank, persediaan senjata, pesawat yang dimiliki, sampai rute dan denah perang. Dia haturkan semuanya kepada KH. Mahrus Aly. Oleh Mbah Mahrus, sapaan akrab KH. Mahrus Aly, laporan itu diantarkan kepada Mayor Mahfudz, kemudian diteruskan kepada Kiai Suyuti, dan disampaikan kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Pada tanggal 9 November, Kiai Abbas Buntet yang ditunggu-tunggu oleh KH. Hasyim Asy’ari, meminta santri yang diajaknya dari Cirebon untuk menyimpan biji-biji kacang hijau. “Jangan sampai biji-biji itu jatuh ke tanah,” ucap Gus Reza meniru perintah Kiai Abbas. Ketika beliau dihadang musuh di Semarang, beliau meminta kacang hijau tadi. Dilemparkannya ke tanah. Sejurus kemudian, kacang hijau itu berubah menjadi satu pasukan tentara.

Setelah materi pembuka yang berkaitan erat dengan latar belakang Hari Santri Nasional itu, beliau mengemukakan bahwa setidaknya ada dua opini besar terkait proses masuknya Agama Islam ke bumi Nusantara. Kubu pertama menyatakan bahwa Islam menjadi obyek yang diterjemahkan sesuai budaya setempat. Adapun sebagian pakar Islam Indonesia yang lain, lebih memilih pelunakan Nusantara sebagai jalan yang diambil oleh para penyampainya.

Dari dua opini ini, Islam me-Nusantara dan Nusantara menjadi Islam, Gus Reza menawarkan jalan tengah. “Islam datang ke Indonesia melalui persetubuhan dengan budaya Nusantara. Keduanya punya andil yang setara, fifty-fifty. tidak ada unsur pemerkosaan diantara kedua pihak.” Konsep Islam tidak direduksi sehingga ada yang hilang ketika diterjemahkan oleh budaya. Pun tidak semena-mena kepada budaya dengan bukti bahwa banyak tradisi Islam yang berbeda dengan budaya di tempat di mana Islam lahir.

Islam dan Nusantara tumbuh dan berkembang bersama-sama. Keduanya mengalami peristiwa dan cobaan hidup yang serupa, sehingga tidak ada benturan yang bisa menyebabkan keduanya berkelahi.

Islam Nusantara berbeda samasekali dengan Islam di kawasan lain, terutama Asia Selatan. Di India, karena Islam datang melalui ekspansi dan peperangan, maka hingga saat ini perkelahian Islam-Hindu masih saja terjadi. Hal serupa juga dialami negara Pakistan, yang notabene adalah negara yang lahir dari pertikaian agama di India. Gesekan antara Sunni dan Syiah belum juga bisa diredam hingga hari ini.

Apakah Islam Nusantara adalah konsep aliran baru? Gus Reza mengutip kaidah di dalam kitab Lubb al-Ushul, “أضحىية الولد أضحية الأم”. Sebagian ulama menafsiri kedua susunan idhofiy ini dihubungkan dengan huruf “في”. Sembelihan anak di dalam sembelihan ibu. Ini berarti bahwa ketika seekor sapi disembelih, sementara ada bayi di dalam kandungannya dan ikut mati, maka cukuplah sembelihan ibunya untuk menghalalkan daging si bayi.

Islam Nusantara adalah Islam di dalam Nusantara. “Seperti halnya Mc Donald. Di Indonesia, McD menemani ayamnya dengan nasi. Kalau di negara asalnya, bukan dengan nasi, tapi kentang. Di Indonesia memang ditemani kentang. Tapi pakai nasi juga. (sebanyak apapun, -red) kentang buat orang Indonesia cuma camilan.” terang Gus Reza.

Meskipun Islam di Indonesia diwarnai budaya yang beragam dan berbeda dengan tanah kelahirannya, dia adalah Islam yang juga dikehendaki oleh Rasulullah. Samasekali bukan aliran, golongan, maupun sekte baru dalam Islam.

Acara pada malam itu berakhir pukul 01.40 WIs (Waktu Istiwa’) atau sekitar pukul 01.00 WIB.

Cukup singkat memang, mengingat tema seminar malam itu cukup berat dan masih hangat untuk diperbincangkan. Namun toh, lebih dari cukup untuk memuaskan dahaga para santri pondok pesantren Lirboyo Unit HY akan kajian-kajian islam-sosial seperti ini. ][

Makalah seminar bisa lihat di sini

Tradisi Lembaga Islam Nusantara

Oleh: KH. Reza Ahmad Zahid, Lc. MA.

Perkembangan Islam di Asia Tengggara

Menurut Thomas W. Arnold: The preaching of Islam: Islam di Asia Tenggara sejatinya memiliki watak yang ramah, damai dan toleran. Hal ini disebabkan oleh penyebaran agama Islam di Asia Tenggara yang dilakukan secara damai, terutama di Indonesia yang dilakukan dengan jalan perdagangan dan sufistik, berbeda dengan cara penyebaran di Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika yang disebarkan melalui ekspansi. Sehingga penyebaran agama Islam yang dilakukan dengan damai memiliki nilai tersendiri dalam hubungan dengan socio-cultural masyarakat Nusantara. Menurut Naquib al-Atthas, Kedatangan Islam ke kawasan Asia Tenggara merupakan pencerahan bagi masyarakat setempat, karena Islam sangat mendukung intelektualisme yang tidak terlihat pada masa Hindu dan Buddha.

Proses Islamisasi Indonesia

Strata sosial kultural masyarakat Jawa sebelum kehadiran Walisongo sangat dipengaruhi oleh kehidupan animis-panteistik yang dikendalikan oleh para pendeta, guru ajar, biksu, wiku, resi dan empu. Mereka dianggap mempunyai kemampuan mistis dan kharismatik. Kedudukan vital mereka diambil alih para wali dengan tetap berfokus pada kehidupan mistic-religious. Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan Kebudayaan Islam.

Karakteristik pergantian budaya lokal oleh budaya Islam masih perlu dibahas lebih dalam, apakah pergantian tersebut dalam konteks konversi ataukah adhesi? Sejarah Islam di Indonesia beranjak pada corak umum atau watak kebudayaan Islam yang datang, untuk kemudian ‘menyetubuh’ ke dalam struktur kebudayaan masyarakat Nusantara. Hal ini berangkat dari satu postulat bahwa pengislaman Indonesia ternyata terjadi tanpa ‘melukai’ dan menghilangkan, bukan hanya simbol-simbol dari agama dan kepercayaan pra-Islam, melainkan bahkan antara unsur esoteris dari kedua belah pihak ternyata mengalami penyatuan yang substantif. Disinilah yang menyatakan bahwa Islamisasi di Indonesia merupakan praktik konversi digugat, karena term tersebut mengindikasikan terjadinya proses penaklukan antara Islam universal, dengan agama lokal, dimana yang terjadi bukan sebuah dialog antara dua kebudayaan, melainkan ‘ikonoklasme’ (penghancuran ikon budaya lokal oleh imperialisasi kebudayaan global). Dari sini, maka proses Islamisasi di Indonesia kemudian lebih tepat disebut ‘adhesi’ dimana agama Islam dengan agama pra-Islam mengalami proses dialog, yang mengakibatkan seorang Muslim Indonesia menjadi muslim tanpa kehilangan akar tradisi keagamaan Hindu-Budha. Bahkan secara radikal tesis sinkretisme yang menyatakan bahwa bukan Islam yang menaklukkan agama Jawa, tetapi struktur kebudayaan Jawalah yang memaksa Islam untuk tunduk kepada sistem keyakinan yang mengacu pada mistisisme.

Menarik kiranya tesis Woodward yang menggambarkan kesamaan karakteristik Islam Nusantara pada geo-kultural Kerala (India Selatan) yang berada di pantai Malabar. Hal tersebut misalnya dapat dilihat dari kesamaan bentuk masjid yang terbuat bukan dari batu atau bata merah, melainkan dari kayu dengan tiga susun atap (Meru) seperti terdapat di Masjid Demak, masjid keraton Kota Gede serta Imogiri Yogyakarta. Model masjid ini menjadi mainstream -khususnya di Jawa-, yang membuktikan sebuah proses Hinduisasi, dimana pembentukan masjid berangkat dari arsitektural kuil-kuil Hindu. Demikian juga organisasi sosial dalam keagamaan yang berorientasi ulama seperti pesantren di Indonesia, dan madrasah di Kerala yang diarahkan pada penghafalan dan pengulangan teks-teks klasik Arab serta penghormatan para wali, yang kebanyakan merupakan tokoh asli lokal. Kepemimpinan kiai juga terdapat di Kerala yang disebut ‘thangal’ di mana kepemimpinan kharismatik ini kemudian digerakkan untuk melaksanakan berbagai ritual kerakyatan semisal ziarah ke makam keramat, hidangan yang diberikan saat pelaksanaan ritual (di Jawa: selametan dan di Kerala: Nercha) dengan bentuk makanan dari tepung beras (appem, appam).

Sebagian bentuk metode dakwah Walisongo dengan media paduan budaya lokal yang sampai saat ini masih menjadi simbol tradisi dan budaya Indonesia antara lain:

  1. Sunan Ampel: MOH LIMO (Moh Main, Moh Ngombe, Moh Maling, Moh Madat, Moh Madon).
  2. Sunan Bonang: Suluk Wijil, Gubahan Gamelan Jawa, Tembang Tombo Ati, Dalang wayang.
  3. Sunan Giri: Mainan anak-anak seperti: Jelungan, Jamuran, Lir-Ilir, Cublak Suweng, Gending Asmaradana dan Pucung.
  4. Sunan Kalijaga: Wayang, baju taqwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, dsb.
  5. Sunan Kudus: hampir sama denga sunan Kalijaga seperti halnya beliau membuat pancuran wudlu sebanyak delapan yang juga termasuk melambangkan delapan jalan Buddha.
  6. Sunan Muria: Sinom dan Kinanthi.

Pesantren Sebagai Pusat Penyebaran Islam

Pesantren sebagai pusat transmisi Islam di Nusantara sudah berdiri sejak menyebarnya Islam ke Nusantara pada abad ke-15. Tokoh yang pertama kali mendirikan pesantren adalah Syeikh Maulana Malik Ibrahim (W. 1419 H.) yang berasal dari Gujarat, India sekaligus tokoh pertama yang mengislamkan Jawa. Maulana Malik Ibrahim dalam mengembangkan dakwahnya menggunakan masjid dan pesantren sebagai pusat transmisi keilmuan Islam. Pada gilirannya, transmisi yang dikembangkan oleh Syeikh Maulana Malik Ibrahim ini melahirkan Walisongo dalam jalur jaringan intelektual Islam/Ulama. Dari situlah kemudian Raden Rahmat (Sunan Ampel) mendirikan pesantren pertama di Kembang Kuning, Surabaya pada tahun 1619 M. Selanjutnya sunan Ampel mendirikan pesantren di Ampel Denta, Surabaya. Pesantren ini semakin lama dan semakin terkenal dan berpengaruh luas di Jawa Timur pada saat itu. Pada tahap selanjutnya, berdiri pesantren baru di berbagai tempat, seperti Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Pacitan, Lamongan, dan Raden Fatah di Demak, Jawa Tengah. Dalam konteks inilah, pesanten tetap menjadi pusat transmisi Islam kedua setelah Masjid pada periode awal abad XVI.

Dalam pengamatan Pigeaud dan De Graaf, pesantren diandalkan sebuah komunitas independen yang tempatnya jauh, di pegunungan dan berasal dari lembaga sejenis zaman pra-Islam, Mandala Danaysrama. Memang beberapa waktu setelah Jawa di Islamkan, tempat-tempat pertapaan masih di pertahankan. Bahkan dalam karya-karya sastra Jawa klasik seperti serat Cabolek dan serat Centhini, sejak permulaan abad XVI telah banyak pesantren-pesantren yang masyhur yang menjadi pusat-pusat pendidikan Islam tertua yang merupakan kombinasi antara madrasah dan pusat kegiatan tarekat. Dengan demikian, pesantren sebagai pusat transmisi Islam Nusantara mencerminkan pengaruh asing yang bercampur dengan tradisi lokal yang lebih tua. Pesantren tidak murni model kelembagaan Islam Nusantara, melainkan campuran antar berbagai kelembagaan Islam yang ada di dunia Islam.

Menurut Martin Van Bruinessen: Pada awal datangnya Islam, transmisi keilmuan Islam dilakukan denga proses belajar mengajar di Masjid, Halaqah, Kuttab, atau mungkin madrasah dan itulah yang menjadi cikal bakal pesantren. Selanjutnya, masih menurut Martin, bahwa pada tahun 1819 M. sewaktu Belanda melakukan swipping lembaga pendidikan di Jawa, mereka tidak menemukan satupun lembaga yang berbentuk pesantren melainkan proses belajar mengajar seperti yang telah disebutkan di atas.

Makna Santri dan Pesantren

Pesantren menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti, “Asrama tempat santri atau tempat murid-murid mengaji.” Adapun ‘santri’ memiliki banyak arti dan asal bahasa, di antaranya adalah:

  1. Santri adalah seorang pelajar sekolah agama. (arti umum)
  2. Santri adalah sebutan bagi penduduk jawa yang menganut agama Islam dengan sungguh-sungguh. (Clifford Geertz)
  3. Santri berasal dari bahasa Sanskerta yang berasal dari kata Sant yang berarti orang baik dan Tra yang berarti menolong. Jadi, santra berarti orang baik yang suka menolong. (Abu Hamid)
  4. Santri berasal dari bahasa Sanskerta yang berasal dari kata Sastri yang artinya melek huruf atau Cantrik yang artinya orang yang mengabdi kepada guru. (Nur Cholis Madjid)
  5. Santri berasal dari bahasa India, Shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama dan buku-buku pengetahuan. (Johns dan C. C. Berg)
  6. Santri berasal dari bahasa Tamil, Sattiri yaitu orang yang tinggal di sebuah rumah miskin atau bangunan secara umum. (Robson)

Fungsi dan Klasifikasi Pondok Pesantren

Di atas telah disebutkan, bahwa pesantren memiliki fungsi sebagai pusat pengembangan agama Islam. Fungsi ini telah ada sejak adanya pesantren dan sejak disebarkannya Islam di Indonesia. Akan tetapi, seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan manusia, sekarang pesantren telah menjadi suatu lembaga yang multi fungsi, di antaranya adalah: sebagai lembaga dakwah, lembaga pengkaderan ulama, pengembangan ilmu pengetahuan baik itu ilmu agama, umum dan bahkan skill atau keterampilan dan sebagai lembaga pengabdian masyarakat.

Adapun karakteristik pondok pesantren, secara garis besar dapat kita bagi dalam dua bagian, yaitu: Pesantren Salafy dan Khalafy. Pesantren Salafy adalah pesantren yang tetap mempertahankan pengajaran kitab-kitab klasik (yang dikenal dengan istilah kitab kuning). Adapun Pesantren Khalafy adalah pesantren yang telah memasukkan pelajaran-pelajaran umum dalam sebaran kurikulumnya. Di samping kedua istilah tersebut, biasanya pesantren salafy disebut sebagai pesantren tradisional dan pesantren khalafy disebut sebagai pesantren modern. Ada juga yang menambahkan satu lagi tipologi pondok pesantren, yaitu pondok pesantren kombinasi, yakni yang mengkombinasikan antara ilmu agama dan ilmu umum dalam satu pesantren. Bahkan secara spesifik, penyebutan pesantren terkadang tergantung pada karakteristik sang kiai yang mengasuh pesantren tersebut. Bila sang kiai memiliki keahlian di bidang baca dan hafalan Alquran, maka pesantren tersebut dinamakan sebagai pondok Tahfidzil Quran (hafalan Alquran). Bilamana sang kiai memiliki keahlian di bidang ilmu tasawuf dan tarekat, maka pesantrennya dinamakan pondok tarekat. Bahkan, bisa saja terjadi penamaan pondok pesantren dengan nama pesantren ilmu suwuk (pentabiban) atau politik, bilamana sang kiai memiliki profesi di kedua bidang tersebut.

Sistem Pendidikan dan Pengajaran Pondok Pesantren

Pada prinsipnya, pesantren memegang teguh suatu keyakinan bahwa mencari ilmu itu adalah kewajiban bagi seluruh umat muslim. Mengajarkan ilmu yang telah ditimba itupun suatu hal yang wajib. Dalam pesantren dikatakan bahwa ‘Sampaikanlah apa-apa yang telah kamu dapatkan dari-Ku (wahai Muhamad) walaupun hanya se-ayat.’

Ilmu yang dipelajari oleh santri adalah ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu konsentrasi lain bila pesantrennya memiliki karakteristik khalafy atau kombinasi. Contoh daripada ilmu agama antara lain: ilmu nahwu, sharaf, balaghah, fikih, ushul fiqh, tafsir, hadis, dan lain-lain. Untuk mencapai ilmu-ilmu tersebut, para santri dibekali satu pengertian tentang niat mencari ilmu hanyalah untuk menghilangkan kebodohon dan menegakkan agama Allah SWT. Bila demikian, maka mencari ilmu memiliki nilai ibadah. Karenanya, kita harus selalu menjaga tingkah laku kita dan selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT. Doktrin inilah yang harus dipegang oleh santri dan harus diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Kiai, guru atau ustadz termasuk komponen utama dalam pondok pesantren. Sebagai orang yang memiliki wawasan keagamaan yang tinggi, kiai memiliki posisi yang luhur. Para santri sudah seharusnya memberi rasa hormat dan taat kepada sang kiai. Karena kiai bukan hanya sebagai mediator transformasi ilmu akan tetapi juga membimbing para santri untuk menjadi orang yang benar. Maka, kiai adalah sumber cahaya bagi santrinya. Barang siapa yang mendekat maka dia akan tercerahkan dan barang siapa yang menjauh maka dia akan suram.

Adapun bentuk pengajaran di lingkungan pondok pesantren adalah dengan memakai sistem klasik bandongan (halaqoh), yakni dengan cara membentuk satu lingkaran dengan duduk bersila dan saling berhadap-hadapan antara guru dan murid. Kemudian sistem sorogan, yakni satu-persatu murid membaca kitab di hadapan guru dan kemudian guru membenarkan bacaan dan menjelaskan isi kitab yang dibaca. Ada juga sistem klasikal, yaitu sistem pengajaran modern dengan membagi setiap tingkatan di setiap kelompok atau ruangan dengan penataan menejemen yang sistematis.

Bahan Bacaan: Antologi NU, LTNU; The Religion of Java, Clifford Geertz; Sistem Pendidikan Madrasah dan Pesantren di Sulawesi Selatan, Abu Hamid; Bilik-Bilik Pesantren, Nurcholis Madjid; Tradisi Pesantren, Zamakhsari Dhofier; Pembaruan Pendidikan di Pesantren lirboyo, Ali Anwar; The Preaching of Islam, Thomas W. Arnold; Ta’limul Muta’allim, Zarnuji; Kitab Kuning, Martin Van Bruinessen; dll.

Dipresentasikan pada acara “Seminar Islam Nusantara” di Pondok Pesantren Haji Ya’qub (PPHY) Kota Kediri, dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2015. Judul asli artikel adalah, “Pondok Pesantren Sebagai Tradisi Lembaga Pendidikan Islam Nusantara.”

Dies Maulidiyah Tribakti Ke 49

LirboyoNet, Kediri – Kampus yang sudah berusia setengah abad ini, tadi siang (24/10) kembali meluluskan para sarjananya. Sebanyak 492 mahasiswa diwisuda dalam Rapat Senat Terbuka yang bertempat di Gedung Aula Al Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo. Perinciannya sebanyak 402 mahasiswa adalah Sarjana Strata 1 (S-1) dan selebihnya adalah mahasiswa Saejana Strata 2 (S-2).

Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) sendiri adalah perubahan nama dari Universitas Islam Tribakti (UIT) Kediri. Kampus yang berdiri pada tanggal 9 Muharram 1386 H. (30 April 1965 M.) kemudian baru diresmikan oleh Menteri Agama RI kala itu, Prof. KH. Syaefuddin Zuhri, tanggal 9 Rajab 1386 H./ 25 Oktober 1966 M. dengan 2 (dua) Fakultas: Tarbiyah dan Syariah. Dan dalam perkembangan selanjutnya UIT Kediri mendapat status Diakui dengan SK. Menteri Agama RI. Nomor: 178 Tahun 1970 untuk dua fakultas, Syariah dan Tarbiyah dengan program Sarjana Muda.

Saat ini, IAIT memiliki beberapa jurusan. Pada tingkat Strata 1 (S-1) ada Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Akhwal Syakhsiyyah, Perbankan Syari´ah, Komunikasi dan penyiaran Islam, serta prodi Psikologi Islam. Selain itu, sudah membuka pula jenjang Strata 2 (S-2) dengan program studi pendidikan Islam.

“Kami berharap, kalian yang diwisuda hari ini dapat menjadi gerbong perubahan dan kemajuan agama dan bangsa. Kalian sudah ditakdirkan menjadi harapan Allah sebagai pemegang teguh agama Islam, karena barangsiapa yang ditakdirkan oleh Allah untuk mendapatkan kebaikan, oleh Allah akan dipahamkan kepadanya masalah-masalah agama. Kalian harus mampu berjuang demi melestarikan nilai-nilai agama Islam ala thoriqoh ahlussunnah wal jamaah,” ungkap KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, Rektor IAIT, dipenghujung orasinya. Selian beliau, dalam acara wisuda kali ini pada hadirin juga bisa menimba ilmu pada Habib Abdullah bin Muhammad Baharun, Yaman, yang sejak kemarin berkunjung di Lirboyo. ][

Brosur Isntitut Agama Islam TRIBAKTI Lirboyo Kediri :
-Brosur 1
-Brosur 2

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah