Kunjungan Rektor Universitas Al Ahqaff

LirboyoNet, Kediri – Alhamdulillah, tadi malam (23/10/2015) sehabis jam wajib belajar bagi santri Ibtidaiyyah dan saat jam istirahat bagi tingkat Tsanawiyah dan Aliyah, para santri Lirboyo dapat menimba ilmu kepada yang mulia Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun menyempatkan diri berhalaqoh dengan para santri.

Bertempat di serambi masjid Pondok Pesantren Lirboyo, sekitar pukul 21.00-22.00 WIB, rektor Universitas Al Ahqaff, Yaman, yang paham betul dengan berbagai hal tentang perkembangan dakwah di Indonesia ini (termasuk tentang Islam Nusantara) menyampaikan ceramah agamanya.

Hadir ikut mendampingi beliau adalah KH. M. Anwar Manshur, KH. Habibullah Zaini, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, sedang dzurriyah Lirboyo yang kebetulan malam tadi tidak sedang berada di luar kota, tampak juga hadir ikut mendengarkan ceramah beliau, duduk santai berbaur dengan para santri.

Banyak hal yang beliau sampaikan. Mulai dari sedikit cerita tentang perkembangan Islam di Indonesia, sampai dengan pentingnya terus menjaga kerukunan antar sesama. Beliau juga banyak memberikan motivasi kepada para santri, “Jika kalian pernah mendengar ada yang mengejek kalian karena memilih belajar di pesantren, mendalami kitab kuning, jangan hiraukan itu. Itu adalah pikiran konyol yang memang semakin hari semakin dikembangkan. Janganlah kalian ragu, teruslah bersungguh-sungguh mencari ilmu agama di pesantren yang penuh barokah ini,” tegas beliau dalam ceramahnya. /-

 

Penjelasan Islam Nusantara

Pada hari Senin 17 Agustus 2015, alhamdulillah guru kita yang mulia Al-Habib Abdullah bin Muhammad Baharun akhirnya sampai di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik. Walaupun pertemuan dengan beliau tidak terlalu lama, akan tetapi hal itu cukup menghibur: karena sudah lama tidak berjumpa dengan beliau.

Dan alhamdulillah dalam pertemuan yang sebentar itu kita dapat menimba ilmu dari beliau. Mulai dari birrul masyayikh (pada pertemuan pertama): karena beliau melihat murid-murid serta alumnus Universitas Al-Ahqoff berbondong-bondong menyambut kedatangan beliau, walaupun rumah alumni rata-rata tergolong jauh dari Gresik, tempat beliau beristirahat.

Kemudian pertemuan untuk keduanya dilaksanakan keesokan harinya, Selasa 18 Agustus 2015, sekitar jam 9.30 WIB. Dan pada pertemuan itu, saya sempat menyodorkan pertanyaan kepada beliau. Kurang lebih yang saya tanyakan adalah demikian:

”Ya habib, apa pandangan jenengan tentang Islam Nusantara, apakah didalamnya terdapat perpecahan umat Islam atau sebaliknya?”

Beliau tentu saja sudah mendengar istilah ini, karena memang sebelumnya ada teman-teman yang bertanya kepada beliau dan tentunya beliau itu tidak telat Info: karena beliau memiliki perhatian khusus serta wawasan luas tentang Islam di Indonesia. Segala pemikiran-pemikiran di Indonesia, beliau mengetahuinya.

Sebenarnya beliau menjawab pertanyaan saya dengan panjang lebar. Tapi sayang, tidak semuanya saya ingat. Dan yang akan saya tulis, hanya yang tersisa di memori saya, dan mungkin pengutipannya dengan makna saja (tanpa merubah pendangan global beliau).

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Jawaban beliau kurang lebih demikian –kutipan ini tidak secara harfiyah tapi semakna dengan yang beliau sampaikan:

“Pemikiran ini sudah saya dengar sebelumnya, dan pemikiran ini berbeda dengan berbedanya sudut pandang yang digunakan. Di antara mereka ada yang menafsirkannya dengan Islam yang dibawa oleh Walisongo, yaitu yang sesuai dengan adat-istiadat orang Jawa (maksudnya Indonesia secara umum: karena penggunaan lafad Jawa digunakan untuk jawa dan sekitarnya/Nusantara). Tidak ada kekerasan, dan sikap kaku. Justru mereka menggunakan metode dakwah dengan kelembutan dan toleransi. Sehingga dimungkinkan untuk berbaur dan menyesuaikan diri dengan adat sekitar. Sehingga, dalam masa yang tidak lama, penduduk Jawa (Indonesia) mudah untuk menerimanya dan pada akhirnya mayoritas penduduk Indonesia masuk Islam tanpa ada keterpaksaan sedikitpun. Madzhab fikih yang mereka anut adalah madzhab Syafi’i dan akidah Asyariyyah, serta thoriqoh Shufiyyah. Tak ada nilai-nilai kekerasan sedikitpun, justru sebaliknya. Seperti inilah yang dikembangkan dari generasi ke generasi. Diantara beberapa ulama Nusantara yang mengembangkan pemikiran seperti ini ialah KH. Hasyim Asy’ari, KH. Bisyri Syamsuri , KH. Kholil Bangkalan dan lain sebagainya.

Jika Islam Nusantara ditafsirkan dengan penafsiran tersebut, maka oke, tidak ada yang dipermasalahkan. Kita setuju dengan pemikiran tersebut: karena seperti inilah yang kita temui di buku-buku sejarah ulama-ulama salafussholih. Dan perlu diketahui bahwa dakwah tokoh-tokoh Hadramaut adalah dakwah yang bersih. Tidak ada niatan untuk mengumpulkan harta, apalagi menginginkan kekuasaan dan menjajah, apalagi mempengaruhi mereka dengan menyebarkan adat-adat yang tidak beres, tidak memaksa yang lain untuk masuk Islam.

Coba kita lihat, dakwah (baca: ekspansi) Belanda. Mereka telah menjajah Indonesia selama 350 tahun lamanya. Apa yang mereka tinggalkan? Mereka tak meninggalkan apapun, tidak meninggalkan bahasa, pakaian, sekolah-sekolah, ataupun memberikan kemajuan yang berarti bagi bangsa Indonesia. Justru sebaliknya, mereka mengambil segalanya dari Indonesia, dari kekayaan dan harta Indonesia. Ditambah lagi dengan merampas buku-buku serta manuskrip-manuskrip yang telah ditulis oleh tokoh-tokoh Indonesia. Mereka tidak mau menikah dan menikahkan dengan penduduk pribumi. Jika salah satu dari mereka ada yang nikah dengan penduduk pribumi, mereka tidak segan-segan mengusirnya dari kalangan mereka dan menolak mereka dengan keras. Tidak mungkin bagi mereka untuk menerima dan berbaur dengan kehidupan orang Indonesia, tapi mereka hanya menganggap mereka hanya sebagai binatang yang ditunggangi untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari, tidak memandang mereka sebagai manusia. Dan bukti nyatanya ialah realita.

Jika kalangan tokoh Hadromaut, berbalik 180 derajat: karena mereka menikah dan menikahkan dengan pribumi. Saya sendiri (al-habib) menemui keluarganya (dari kabilah Jamalullail), berapa banyak dari mereka yang berkulit hitam: karena kakek-kakek mereka berdakwah dan menikah dengan penduduk Afrika. Dan aku temukan yang lainnya berkulit putih: karena mereka dakwah dan menikah dengan orang-orang Turki. Begitu pula sebagian yang lain wajahnya sama sekali tidak mirip dengan orang arab: karena mereka berdakwah dan menikah dengan orang Indonesia. Kenapa bisa demikian? Karena mereka bisa berbaur dengan orang Indonesia dan bisa memasuki adat-istiadat mereka, mereka tidak memaksakan diri mereka untuk memasukkan adat-istiadat Hadramaut ke dalam lingkup Nusantara. Justru sebaliknya, merekalah yang berbaur dengan adat istiadat Nusantara. Kenapa demikian? Karena dengan itulah lebih bisa diterima. Terkadang sebagian bahasa Indonesia terpengaruh dengan bahasa Arab. Mereka menyebarkan adab, dan sopan santun dan bagaimana menghormati orang lain. Dan inilah salah satu karakteristik dari dakwah-dakwah tokoh Hadramaut di Indonesia. Terlebih dengan Walisongo, yang notabene leluhur mereka adalah dari asli Hadramaut bukan dari India ataupun Cina.

Namun jika para politisi memolitisir penafsiran Islam Nusantara, maka itu adalah hal lain, dan memiliki keadaan yang lain. karena mereka berusaha merubah makna Islam Nusantara dari makna aslinya. Ambillah sebagian contoh seperti perkataan mereka: Islam Nusantara mengembangkan sikap toleransi beragama dengan agama-agama lain, yang dengan demikian boleh seorang muslim menikah dengan yang beragama Budha, atau seorang wanita muslimah boleh menikah dengan pengikut agama Budha (atas dasar Islam Nusantara), dan hal ini bisa dikiaskan dengan yang lainnya.

Jika mereka berpendapat dengan pendapat yang seperti ini atau mendekatinya, maka secara pasti kita menolaknya: karena mereka menjadikan Islam Nusantara sebagai tameng yang memberi perlindungan kepada pemikiran-pemikiran nyleneh mereka dan mendapat semua tujuan-tujuan mereka. Dan menjadikannya sebagai tembok yang menjadi tempat persembunyian mereka di belakangnya. Karena memang ada orang yang seperti ini. Jika mereka menyangkal kepada kita terkait penafsiran di atas (yang pertama versi ulama ahlussunnah). Maka kita katakan kepada mereka –seperti salah satu kisah ulama, kalau tidak salah namanya Al-Jahidh ketika berdiskusi dengan orang Yahudi atau Nashrani ketika melihat orang-orang muslim tidak menerima ajaran Yahudi dan Nashrani: jika penafsiranmu atas Islam Nusantara sebagaimana penafsiran Walisongo dan KH Hasyim Asyari atau yang lainnya dari kalangan ulama Indonesia masa itu baik dari segi akidah, fikih ataupun thoriqoh, maka kami pasti menerimanya. Jika tidak, maka sama sekali kami menolak mentah-mentah penafsiranmu. Oleh karenanya wahai anak-anakku, jangan terkecoh dengan nama-nama, tapi lihatlah hakikat dan isinya. Jika sesuai dengan ajaran syariat maka terimalah, kalau tidak maka tolaklah.

Inti dari permasalahan ini bahwa Islam Nusantara memiliki nilai positif dan negatif. Hal yang positif ialah agar kita ketahui bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang selayaknya harus diikuti dan ditiru oleh para muslim di negara-negara lain: karena di dalamnya mengandung akhlak-akhlak yang lemah lembut, ungkapan yang indah, dan terdapat penerapan syariah yang sempurna. Tetapi kita tidak menutup-nutupi bahwa muslimin di negara-negara lainnya juga demikian. Hanya saja di Indonesia memiliki nilai plus, begitu pula dengan yang lain, mereka juga memiliki nilai lebih. Kita yakin dan tahu bahwa di Hadromaut terdapat adat-istiadat yang positif yang tidak ada di Indonesia. Begitu pula dengan sebaliknya, dan hal ini bisa dikiaskan kepada negara-negara lain.

Maka sebaiknya, setiap muslim mengambil hal-hal yang positif dari negara muslim yang lain: karena muslim satu dengan yang lainnya seperti bangungan kokoh yang saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Jangan sampai memecah persatuan umat Islam di dunia. Ini adalah nilai positifnya.

Lima tahun sebelumnya saya memiliki proyek untuk membuat dauroh dengan kajian Islam di Indonesia dengan para kiai dan ulama di Indonesia, dan seharusnya mereka sebarkan dakwah ini ke negara-negara lainnya. Tapi kehendak-kehandak Allah memiliki kehendak lain.

Sementara sisi negatifnya ialah diantara mereka ada yang membanding-bandingkan bahwa Islam Nusantara itu lebih baik dari Islam Afrika, Amerika, dan Islam di negara-negara lainnya. Kemudian berusaha unjuk gigi dengan merasa paling benar, dan ini merupakan sikap yang pasti salahnya: karena sebagaimana yang telah dipaparkan bahwa para muslimun menguatkan antara satu dengan yang lainnya. Jika salah satu dari mereka ada yang bersikap salah, ya harus dibenarkan. Jangan sampai hanya menyalah-nyalahkan apalagi dengan merasa paling benar dan mengaku-ngaku hanya dirinyalah yang memiliki tongkat kebenaran, bahkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan adat istiadat, dan inilah yang termasuk dalam kategori sombong yang telah Allah SWT. larang.

Terkadang mereka memvonis atas sesuatu yang terjadi di negara-negara Arab dan menganggapnya sebagai bagian dari Islam, padahal sama sekali tidak termasuk dalam Islam sedikitpun, seperti fenomena takfir, membunuh para muslimin tanpa ada sebab yang diterima dan diakui oleh syariat yang sering kita temui di media sosial, seperti ISIS.

Hal yang seperti ini sama sekali tidak bisa dimasukkan ke dalam ranah Islam. Bagaimana mereka bisa menilai bahwa ini adalah Islam versi Arab atau Timur Tengah. Bahkan Timur Tengah sendiri sudah menjadi istilah yang popular di kalangan muslimin: karena istilah ini asal mulanya digunakan oleh Eropa Barat: karena letak geografi semenanjung Arab berada di Timur Tengah Eropa Barat, bukan untuk yang lainnya seperti Indonesia. Tapi sudah menjadi istilah yang popular mau bagaimana lagi?

Ujung-ujungnya, istilah ini (Islam Nusantara) bisa digunakan, tapi dengan penafsiran pertama yang telah disebutkan. Bukan dengan penafsiran yang dipelintir oleh politisi: karena yang demikian ini ditolak mentah-mentah dan merupakan penafsiran orang-orang berkepentingan. Maka, semua hal terutama hal-hal yang di atas, harus kita nilai dengan pandangan syariat. Jika sesuai dengan isi kitab dan sunnah rasul, maka betapa indahnya hal itu. Jika tidak, tinggal kita buang aja, jangan sampai kita tertipu dengan yang model begini. Dan lihatlah inti serta isi dari hal-hal yang baru tersebut.”

***

Inilah yang dapat saya tuliskan setelah memeras otak sampai habis isinya: karena waktu itu tidak bawa buku catatan atau merekam pengajian beliau dan sudah lewat dua hari dari muhadhoroh itu. Tetapi sebagaimana dalam pepatah Arab yang berbunyi: “Maa laa yudrok kulluh laa yutrok kulluh (suatu hal yang tidak bisa diambil semuanya, tidak bisa ditinggalkan semuanya)” yakni sebagian harus ada yang diambil. Terlebih ketika beliau dawuh waktu itu setelah muhadhoroh: “Kamu jangan bergantung pada rekaman-rekaman seperti ini, tapi ukirlah di dalam hati-hati kalian. Karena yang demikian itu pengaruhnya lebih besar dari yang lain dan lebih langgeng”. Semoga kita semua termasuk golongan yang beliau sebutkan. Amiin.

Yang saya sebutkan adalah versi saya (Abdul Aziz Jazuli, Lc., Mahasiswa Dirosah ‘Ulya, Universitas Al-Ahqaff Yaman) pada hari Selasa, 18 Agustus 2015, 3 Dzul Qo’dah 1436 H.

Penulis, Abdul Aziz Jazuli, Lc.

NB : Beberapa kalimat oleh Admin dirubah (termasuk teks bahasa arabnya), silahkan lihat selengkapnya di sini

Meramaikan Hari Santri dengan Ngaji

LirboyoNet, Kediri – Jika di Unit Al Mahrusiyah pagi tadi ada upacara pengibaran bendera merah putih dalam rangka ikut mensyukuri ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional (HSN), di lokasi lain, tepatnya di serambi masjid Pondok Pesantren Lirboyo, alumni Pondok Pesantren Lirboyo mengikuti rutinan pengajian Kitab Hikam yang dibacakan oleh Romo KH. M. Anwar Manshur.

Alumni dari berbagai daerah hadir mengikuti pengajian, bahkan seperti biasanya, kendaraan pribadi dan minibus dengan plat luat kota juga banyak terlihat parkir. Agenda bulanan yang di gelar pagi hingga siang tadi berjalan lancar. Acara dimulai dengan tahlil bersama, dilanjutkan dengan pembacaan kitab, tausiyah dari pengasuh, lalu ditutup dengan doa.

Mungkin karena kebetulan hari ini bertepatan dengan deklarasi HSN, KH. M. Anwar Manshur dalam tausiyahnya juga sedikit bercerita tentang perjuangan para kiai dan santri dulu. “Kebetulan hari ini adalah hari santri. Ya, meski sejarahnya (mungkin maksud beliau adalah kronologi ditetapkannya hari santri, -red.) saya sendiri tidak tahu. Yang jelas seingat saya, waktu itu para kiai dan para santri sama-sama berjuang. Ada yang bertempur memegang senjata dan sebagian yang lain ikut mendoakan. Seingat saya juga dulu Mbah Kiai Abdul Karim, Mbah Kiai Ma’ruf, Mbah Kiai Abu Bakar, dalam satu kesempatan pernah dibawa ke Surabaya. Jadi soal hari santri ini menurut saya intinya adalah mengenang pergerakan para ulama dan santri berjuang mengusir penjajah. Untuk ikut meramaikan hari santri tentu banyak bentuk acaranya, seperti pengajian ini juga ya dalam rangka meramaikannya,” ungkap beliau yang saat ini berusia 75 tahun. Para alumni terlihat khidmat mendengarkan, terlebih saat menceritakan kisah para kiai, raut kesedihan beliau terlihat jelas dan sesekali menyeka matanya dengan tissu. /-

Apel Memperingati Hari Santri Nasional

LirboyoNet, Kediri – Pagi tadi, ribuan santi putra dan putri dari Pondok Pesantren Lirboyo Unit Al Mahrusiyah, menggelar apel dalam rangka mensyukuri ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Bertindak sebagai Pembina Upacara adalah KH. Reza Ahmad Zahid, Pengasuh Unit Al Mahrusiyah. Terlihat pula upacara diikuti oleh petugas kepoliUpacara Hari Santri Lirboyosian, Ibu Nyai Hj. Zakiyatul Misykiyyah, Agus Nabil Ali Usman, staf pengajar, dan pengurus pondok.

Susunan acara sendiri sebagaimana apel upacara pada umumnya yang meliputi pengibaran bendera merah putih, pembacaan teks Pancasila, pembacaan Ikrar Santri dan amanat pembina upacara serta doa. Bertindak sebagai dirijen paduan suara adalah Gusrian Fadli, sementara petugas protokoler Dzohron Nahdowi, pemimpin upacara Rizki Priyatno dan tiga petugas pengibar bendera Puja Kusuma, Fadhol Maulana serta Hadziq Mahmud. Meskipun pada hari-hari biasanya unit ini dalam kegiatan belajar-mengajar santri putra mengenakan celana panjang dan bersepatu, saat upacara kemarin semuanya terlihat bersarung dan bersandal.

Ikrar santri dibacakan oleh Ketua Pondok Unit Al Mahrusiyah, Ilhamul Karim. Teks ikrar santri sendiri sebagaimana berikut:
Kami santri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berikrar :

  1. Sebagai santri NKRI, berpegang teguh pada aqidah, ajaran, nilai dan tradisi islam Ahlussunnah wal Jamaah.
  2. Sebagai santri NKRI, bertanah air satu, tanah air Indonesia, Berideologi negara satu, ideologi Pancasila. Berkonstitusi satu, UUD 1945. Berkebudayaan satu, kebudayaan Bhinneka Tunggal Ika.
  3. Sebagai santri NKRI, selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan raga membela tanah air dan bangsa Indonesia. Mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.
  4. Sebagai santri NKRI, ikut berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin untuk seluruh rakyat Idonesia yang berkeadilan.
  5. Sebagai santri NKRI, pantang menyerah, pantang putus asa, serta siap berdiri di depan melawan semua pihak yang akan merongrong Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal ika, serta konstitusi dasar lainnya yang bertentangan dengan semangat proklamasi kemerdekaan RI dan Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama.

Dalam sambutannya, KH. Reza Ahmad Zahid banyak memberikan semangat kepada para santri untuk mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang positif, diantanya dengan tambah tekun belajar. Beliau juga mengatakan, “Kekerasan, anarkis, arogan, terosisme dan radikalisme, bukan budaya pondok pesantren. Pondok pesantren selalu mengajarkan kesantunan dan kesejukan.” Upacara ditutup dengan doa yang dipimpin Agus Nabil Ali Usman. /-

Jihad para Santri Lirboyo

Pada hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945 setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Bangsa Indonesia, pasca menyerahnya tentara Jepang tanpa syarat. Tak lama kemudian Mayor Mahfud yang saat itu menjadi Sudanco (komandan seksi) di daerah Kediri menyampaikan berita gembira kemerdekaan itu kepada KH. Mahrus Aly, dilanjutkan dengan pertemuan para santri di serambi masjid Pondok Pesantren Lirboyo. Di sana diumumkan bahwa rakyat Indonesia yang telah sekian abad lamanya dijajah oleh pihak asing, sekarang telah resmi merdeka. Santri Lirboyo dalam kesempatan yang sama itu, sepakat melucuti senjata Jepang di Markas Kompitai Dai Nippon di Kediri (kini Markas Brigif 16 Kodam V Brawijaya) yang letaknya sekitar 1,5 Km. dari arah timur Pondok Pesantren Lirboyo.

Tepatnya pada jam 22.00 dengan peralatan seadanya berangkatlah 440 santri mengadakan pernyerbuan di bawah komando KH. Mahrus Aly, Mayor Mahfudh dan Abdul Rakhim Pratalikrama. Adalah si kecil Syafi’i Sulaiman yang di kemudian hari menjadi Wakil Ketua PWNU Jawa Timur. Santri yang masih berusia 15 tahun itu, diutus oleh Kiai Mahrus untuk menyusup ke markas Dai Nippon guna mempelajari keadaan dan memantau kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa cukup, Syafi’i segera melapor kepada Kiai Mahrus dan Mayor Mahfudh.

Invasi para santri itu berhasil. Atas kebijaksanaan Kiai Mahrus, satu truk senjata hasil lucutan Jepang itu dibawa ke Pondok Lirboyo dan setelahnya diserahkan kepada Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang hingga kini (saat buku disusun -red.) masih tersimpan di Markas Brawijaya Kediri.

Dalam kesempatan lain, Lirboyo juga ikut andil membantu arek-arek Suroboyo mengusir Sekutu. Seperti tercatat dalam sejarah bahwa, pada tanggal 21-22 Oktober 1945, para ulama yang tergabung dalam Himpunan Besar Nahdlatul Ulama (HBNU) memanggil seluruh perwakilanya yang tersebar di Jawa dan Madura. Bertempat di Kantor HBNU Jalan Bubutan Surabaya, dipimpin KH. Hasyim Asy’ari membahas kedatangan Belanda yang hendak kembali menjajah. KH. Mahrus Aly yang ikut hadir dalam pertemuan itu bersama sejumlah kiai, sepakat mengeluarkan fatwa ‘Perang Sabil’ yakni Jihad Fi Sabilillah, hukum melawan Belanda dan kaki tangannya adalah fardlu ‘ain. Dan tiga hari sejak tentara sekutu di bawah pimpinan Jenderal AWS Mallaby mendarat di Tanjung Perak Surabaya, tepatnya tanggal 28, 29, 30 Oktober 1945 pecahlah peperangan di Surabaya.

Jauh sebelum penjajah itu mendarat, Mayor Mahfudh datang ke Lirboyo menghadap KH. Mahrus Aly guna memberikan informasi bahwa Surabaya dalam kondisi darurat. Seketika itu juga, KH. Mahrus Aly mengatakan, “Kita harus pertahankan kemerdekaan ini sampai titik darah penghabisan”. Kemudian lewat Agus Suyuti, KH. Mahrus Aly mengumumkan hal ini kepada para santri dan dipilihlah beberapa santri yang tangguh untuk bertempur di Surabaya. Diantara 97 santri senior itu adalah: Syafi’i Sulaiman, Agus Jamaluddin, H. Masyhari, H. Ridlwan, Baidlowi, Imam Hanafi, Ahmad Hasyim, Damiri yang semua berasal dari Kediri. Ditambah Abu Na’im Mukhtar (Salatiga), Khudlori (Nganjuk), Sujairi (Singapura), Zainuddin (Blitar), Jawahir (Jember), Agus Suyuti (Rembang).

Di antara sekian santri yang memiliki senjata, adalah Agus Suyuti (asal Rembang) berupa granat yang sudah dirajah hasil pemberian Kiai Saefuddin, Kemuning, Kediri. Dalam penyerbuan itu para santri dapat meraih 9 pucuk senjata. Selama berperang 8 hari di Surabaya tersebut, seluruh santri menjalankan puasa yang telah diijazahkan oleh Kiai Mahrus. Sementara untuk menggembleng mental, meningkatkan kesiagaan, di Pondok Lirboyo diadakan gerakan batin yang langsung di pimpin oleh KH. Abdul Karim dan KH. Marzuqi Dahlan.

Pada tahap selanjutnya, Lirboyo mengirimkan lagi 74 orang santrinya. Peperangan ini membawa hasil rampasan 7 pucuk senjata Belanda. Hal ini berlanjut dengan pengiriman 30 santri di bawah komando Kiai Miftah, Tegal, yang berjuang bersama masyarakat dalam rangka menggempur markas pertahanan Belanda di Sidoarjo melalui tambak-tambak dan rawa-rawa.

Ketika markas ulama bertempat di Blauran, Surabaya, KH. Mahrus Aly, Kiai Dimyati dan Kiai Sa’id berangkat ke Surabaya untuk bertahan. Ketika markas itu pindah ke Sidoarjo, KH. Mahrus bersama Kiai Saefuddin Kemuning menyusul kesana. Kiai Saefudin terus maju ke depan sedangkan Kiai Mahrus sendiri karena mendengar berita genting, akhirnya kembali lagi ke Kediri. Untuk bekal perjuangan kala itu, Kiai Mahrus bersama Kiai Hasyim, Mojoroto, mengumpulkan dana dari para dermawan.

Dari sekian kali pertempuran, santri Lirboyo tidak pernah menjadi korban. Hanya saja dalam pengiriman kedua, santri bernama Damiri tertangkap Belanda di Desa Ngantilampah, sebelah utara Mojokerto. Dia kemudian dibawa ke Surabaya untuk diperiksa. Teman-teman santri pun cemas. Tahlil dan do’a pun digelar yang dipimpin oleh KH. Abdul Karim, dengan harapan Damiri bisa selamat. Selang beberapa hari, tiba-tiba Damiri datang dalam keadaan segar bugar. Entah karena kepandaiannya, berkat doa Kiai Abdul Karim, ataukah faktor lain, tidak diketahui kenapa Damiri hanya ditahan selama tiga hari.

Pasca pertempuran Surabaya yang berakhir 10 Nopember 1945, tepatnya menjelang Agresi Militer Belanda II pada bulan Oktober 1948, barisan Hizbullah dan Sabilillah digabung menjadi satu untuk meningkatkan dan memajukan daya tempur dalam perjuangan. Kedua pasukan ini diganti menjadi Satuan Batalion 508 yang dikenal dengan nama Batalion Glatik atau Batalion HM. Batalion ini di bawah pimpinan Mayor H. Mahfud selaku komandan, Kiai Muhammad Tambak Rejo, Gurah, Kediri sebagai wakil komandan, sedangkan yang bertindak selaku staf adalah M. Yaqil. Batalion 508 inilah yang sebenarnya merupakan embrio lahirnya Kodam V Brawijaya di Kediri pada tanggal 17 Desember 1948. /-

Disarikan dari buku “Pesantren Lirboyo : Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda”

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah