Kunjungan Pimpinan Dayah Aceh

LirboyoNet, Kediri – Kembali, Pondok Pesantren Lirboyo menjadi salahsatu tujuan rujukan studi banding rombongan dari perwakilan Badan Pendidikan Dayah Provinsi Daerah Istimewa Aceh.  Sekitar pukul 15.30 WIB kemarin (20/10/2015) mereka tiba di kompleks Pondok Pesantren Lirboyo. Segenap Pimpinan Pondok menyambut hangat kedatangan rombongan yang  tidak lebih dari 37 orang, sebagian dari mereka adalah perempuan.

Kebanyakan dari mereka merupakan pimpinan dayah (pesantren) yang ditugaskan oleh pemerintah DI Aceh untuk menimba ilmu kepesantrenan di sejumlah pondok pesantren yang berada di Jawa. Perwakilan dari rombongan, Ust. Bustami Utsman, mengatakan dalam sambutannya, “Kami sedang melakukan penelitian dan pembelajaran terkait manajemen pondok pesantren, kurikulum, pengembangan ekonomi syariah, dan peradaban santri. Di dayah kami jumlah santri paling banyak sekitar 5.000-an santri, sedangkan setahu kami di pesantren ini jumlahnya mencapai 16.839 santri. Dari sini kami ingin belajar lebih jauh bagaimana caranya supaya dayah kami memiliki kualitas baik dan semakin diminati santri.”

Agus HM. Adibussholeh Anwar, dalam sambutan Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo menceritakan sejarah singkat bagaimana awal mula Mbah KH. Abdul Karim berjuang dan merintis dakwahnya di Desa Lirboyo. Ibarat sumur yang tidak sepi didatangi oleh mereka yang membutuhkan, KH. Abdul Karim juga saat itu menjadi salah satu favorit ulama yang paling banyak diburu oleh santri yang haus akan ilmu alat (gramatika Arab). Dengan keikhlasan, tirakat, dan perjuangan keras beliau, hingga saat ini Lirboyo masih tetap konsisten memilih metode salaf  sebagai karakter kuat yang melekat di tubuh pesantren. Pada awal berdirinya, metode yang dipakai ialah sistem bandongan. Sekitar tahun 1925 M., model pendidikan memakai sistem berjenjang (klasikal), tanpa melenyapkan sistem terdahulu. Inilah cikal bakal dari Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM).

Lebih jauh Agus Adib mengatakan, “Di pesantren ini lebih ditekankan peningkatan kualitas santri dari sisi ta’allum (pengetahuan) dan tarbiyah (pendidikan, pelatihan). Di samping mempelajari ilmu agama, santri juga ditekankan untuk mengaplikasikan ilmunya dalam kesehariannya. Sepanjang 24 jam kegiatan mereka dipantau oleh pengurus. Santri di sini dituntut untuk hidup qana’ah, tidak boleh berlebihan. Makan dengan menu sederhana dan tidur di lantai sudah biasa. Dari sini santri diharapkan memiliki karakter hidup sederhana.”

Antusiasme peserta terlihat cukup tinggi, mereka menyimak dengan serius pemaparan yang disampaikan Agus Adib. Setelah sambutan sekaligus penyampaian materi studi banding selesai, acara diteruskan dengan sesi tanya-jawab. Beberapa peserta menanyakan terkait manajemen, pengembangan ekonomi syariah, kurikulum, dan badan hukum.

Acara ini ditutup dengan sambutan dan lantunan doa dari Romo KH. M. Anwar Manshur, beliau menyampaikan rasa terimakasih dan mudah-mudah bermanfaat untuk diterapkan di dayah masing-masing. Sebagai catatan, kunjungan akan dilanjutkan ke pesantren Pujon Malang dan beberapa pesantren lainnya. (Bink)

Pengkafiran Merusak Akidah dan Persatuan

Oleh: Darul Azka

Sebuah bencana besar mengancam eksistensi kehidupan muslimin di muka bumi. Radikalisme dan ekstrimisme diusung oleh kelompok-kelompok garis keras dengan dalih membela agama Islam. Pengkafiran terjadi di mana-mana memengaruhi mental umat Islam menjadi semakin ‘berangasan’ dan seolah-olah tidak ada jalan lain selain paksaan dan kekerasan. Mungkin inilah akibatnya ketika agama diubah menjadi ideologi.

Hal ini mengaburkan penilaian benar dan salah di tengah-tengah umat. Banyak sudah umat muslim semakin tidak mengerti dan memahami persoalan-persoalan prinsip terkait dengan bagaimana menetapkan parameter penilai kekafiran seorang muslim, hingga divonis benar-benar sudah keluar dari lingkaran agama Islam. Yang lazim kita saksikan, mereka terburu-buru menilai ‘kafir’ terhadap golongan lain yang tidak seideologi dan sejalan dengan perjuangan mereka. Hingga mungkin di muka bumi ini hanya segelintir umat Islam yang tersisa yang luput dari pengkafiran mereka.

Bisa jadi mungkin mereka memiliki tujuan terpuji, menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Namun secara tidak sadar mereka telah mengaburkan sesuatu yang esensial dalam pelaksanaan amar ma’ruf nahi munkar, yakni sikap santun, nesehat baik (mau’idzah hasanah), dan kearifan beradu argumentasi (mujadalah bi al lati hiya ahsan). Allah berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ…الآية النحل ١٢٥

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”

Sungguh ironis, manakala seorang muslim mengajak saudara seagamanya yang tekun beribadah, konsisten menjalankan fardlu, menjauhi larangan, memiliki etos dakwah, banyak hadir di masjid dan giat berjuang dalam dunia pendidikan, dan ajakan tersebut ditolak karena perbedaan pandangan dalam konteks masalah khilafiyah, kemudian dengan semena-mena dia menjatuhkan vonis kafir terhadap saudara seagamanya. Hal seperti inilah yang justru membahayakan dan merusak agama Islam dari dalam.

Al Imam as Sayyid Ahmad al Haddad mengatakan, “Ulama telah menyepakati larangan mengkafirkan Ahli Kiblat, kecuali atas mereka yang mengingkari Allah SWT., melakukan kemusyrikan yang jelas tanpa bisa di-ta’wil, mengingkari kenabian dan persoalan agama yang lazim difahami, atau mengingkari sesuatu yang mutawatir (informasi otoritatif) dan disepakati secara dlaruri (mesti)”. Contoh persoalan agama yang lazim dipahami sebagaimana tauhid, kenabian, akhir risalah bagi Nabi Muhammad SAW., bangkit di hari akhir, perhitungan dan pembalasan amal, serta surga dan neraka, Semua ini mengakibatkan hukum kafir bagi siapapun yang mengingkari, dan tidak ada toleransi bagi yang tidak mengetahuinya, kecuali mereka yang baru masuk Islam hingga mendapatkan pendidikan akidah yang memadai. Mutawatir adalah informasi (khabar) yang diriwayatkan segolongan pe-rawi dari golongan di atasnya, dimana kredibilitas mereka menjadi jaminan terbebas dari kebohongan kolektif.

Mutawatir memiliki beberapa klasifikasi. Pertama, mutawatir secara sanad, sebagaimana hadis:

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَالْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barangsiapa membohongi dengan sengaja, maka akan ia ambil bagian tempatnya di neraka.”

Kedua, mutawatir secara strata (thabaqat), sebagaimana ke-mutawatir-an Alquran. Dalam hal ini tingkat ke-mutawatir-annya sudah meluas di tengah umat, mulai dari bangsa timur sampai barat, dirasah, serta hafalannya. Alquran telah diajarkan dari umat ke umat dari tingkat ke tingkat yang lain, sehingga tidak lagi membutuhkan sanad.

Ketiga, mutawatir secara pengamalan dari generasi ke generasi, sebagaimana mutawatir-nya sebuah amaliyah semenjak masa Nabi hingga masa saat ini. Keempat, mutawatir secara pemahaman, sebagaimana mutawatir-nya mukjizat, meskipun sebagian berdasarkan dalil ahad (informasi non otoritatif), namun secara umum hal tersebut dinilai mutawatir atas dasar pemahaman setiap muslim.

Memvonis seorang muslim dalam konteks selain yang tersebut di atas, jelas membahayakan akidah. Dalam hadis riwayat Bukhari dari Abu Hurairah disebutkan:

إِذَا قَالَ الرَّجُلُ لِأَخِيْهِ يَا كَافِرُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

“Ketika seseorang mengatakan kepada saudaranya (yang muslim), ‘Hai Kafir,’ maka dengan ucapan itu dosanya akan kembali kepada salah satunya.”

Dan vonis kafir tidak diperkenankan keluar selain dari mereka yang memahami pintu-pintu masuk (madakhil) dan keluar (makharij) dari hukum kafir, serta mampu memilah garis pembeda (al Hudud al Fashilah) antara kekafiran dan keimanan melalui pedoman syariat. Setiap individu dilarang keras masuk dalam wilayah ini dan melakukan pengkafiran membabibuta hanya dengan bermodalkan persangkaan dan dugaan, tanpa kemantapan dan ilmu yang memadai. Karena apabila ‘kran pengkafiran’ semacam ini dibuka, akan terjadi gelombang pengkafiran besar-besaran dan serba tidak jelas, hingga tidak tersisa lagi sosok muslim sejati di muka bumi kecuali hanya segelintir orang saja.

Termasuk bagian yang dilarang agama adalah mengkafirkan seseorang dikarenakan perbuatan maksiatnya, padahal di sisi lain dia tergolong beriman dan mengikrarkan syahadat. Dalam hadis riwayat Abu Dawud dari Anas disebutkan:

ثَلَاثٌ مِنْ أَصْلِ الْإِيمَانِ: الْكَفُّ عَمَّنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ لَا تُكَفِّرْهُ بِذَنْبٍ، وَلَا تُخْرِجْهُ مِنَ الْإِسْلَامِ بِعَمَلٍ، وَالْجِهَادُ مَاضٍ مُنْذُ بَعَثَنِي اللهُ إِلَى أَنْ يُقَاتِلَ آخِرُ أُمَّتِي الدَّجَّالَ، لَا يُبْطِلُهُ جَوْرُ جَائِرٍ، وَلَا عَدْلُ عَادِلٍ وَالْإِيمَانُ بِالْأَقْدَارِ

“Tiga perkara dari pokok keimanan, (pertama) menjaga orang yang telah mengucapkan ‘laa ilaha illallah’, kami tidak akan mengkafirkannya sebab dosa, dan tidak kami keluarkan dari Islam sebab perbuatan maksiat. (Yang kedua) Meyakini bahwa jihad adalah berlangsung hukumnya semenjak Allah mengutusku sampai nanti akhir umatku memerangi Dajjal, dan (hukum fardlunya) tidak akan batal sebab kezaliman pemerintah atau adilnya mereka. Dan (yang ketiga) beriman pada takdir-takdir.”

Imam Haramain mengatakan: “Seandainya saja ada seseorang memintaku mengungkapkan pemilahan antara kriteria persoalan yang mengakibatkan kekafiran dan yang tidak, pastilah aku akan menjawab bahwa hal itu adalah harapan yang sulit terwujud. Karena persoalan ini sangat rumit dan harus digali dari dasar-dasar tauhid. Mereka yang belum mencapai puncak hakikat, tidak akan pernah mendapatkan dalil yang mantap.”

Sudah sepantasnya semua pihak merenungkan kembali semua persoalan di atas. Harus disadari bahwa pengkafiran bukan barang dagangan yang bisa dijual murah dan diteriakkan di sembarang tempat. Bisa jadi Anda berteriak lantang ‘kafir’, namun justru hakikatnya Andalah orang pertama yang dicatat sebagai ‘pendusta’ oleh Allah SWT. Na’udzu billah min dzalik

Pembangunan Sarana Pendidikan Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Beberapa pekan yang lalu, tepatnya pada Ahad pagi (27/9/2015) Kantor Pondok Pesantren Lirboyo kedatangan rombongan dari Himasal Blitar. Selain pengurus Himasal tersebut, hadir juga pengurus Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) Cabang Blitar.

Wakaf Pondok LirboyoRombongan alumni Lirboyo itu mendampingi Bapak H. Pramu dan Bapak Taqwin, warga Blitar yang ingin menghadap keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo dengan maksud tujuan ingin menyampaikan keinginan mewakafkan tanahnya kepada pondok. Didampingi Ketua Pondok Lirboyo pagi itu juga rombongan ramah tamah di kediaman KH. M. Anwar Manshur.

Setelah proses pewakafan tanah selesai, pagi itu juga disepakati bahwa terkait pembangunan di tanah yang terletak  di Desa Tanggung, Kec Kepanjen Kidul, Kota Blitar tersebut akan dilakukan pada hari Rabu tanggal 1 Muharram 1437 H. kemarin. Dan alhamdulillah, acara peletakan batu pertama pembangunan di tanah seluas kurang lebih 1.400 meter persegi tersebut berjalan dengan lancar.

Mendahului para pembaca yang sudi ikhlas memberikan doa dan dukungan demi kelancaran proses pembangunan sarana pendidikan milik Pondok Pesantren Lirboyo tersebut, disampaikan terima kasih. Semoga Allah SWT menerima amal baik Anda dan menggantinya dengan yang jauh lebih baik. Amin. /-

Revolusi Ghosob *)

Ilmu itu didapat harus dengan sungguh-sungguh. Ilmu tidak mungkin didapat dengan cara enak-enakan. Man jadda wajad. Ini yang agak merosot dibandingkan dengan orang dahulu, sebab orang dahulu itu sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh adalah kunci keberhasilan.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Mujahadah di sini bisa bermakna perang fi sabilillah, atau bisa bermakna memerangi hawa nafsu. Jadi kalian belajar yang sungguh-sungguh. Perangi hawa nafsu kalian. Kalau makan, makanannya yang halal. Minumannya yang halal. Dan sandalnya juga yang halal. Soal sandal hilang jangan dianggap masalah sepele. Semenjak dahulu, orang memakai barang orang lain tanpa izin adalah ghosob. Dan ghosob hukumnya haram. Jangan dibiasakan.

Pernah ada tamu, salat di masjid kemudian sandalnya hilang. Ini kan memalukan. Kita harus merubah tradisi yang buruk. Sebab banyak sekali orang yang merendahkan dirinya sebab persoalan dunia. Jika orang makan yang tidak halal, itu namanya merendahkan dirinya sendiri. Hati-hati, kalian harus makan yang halal. Jangan dianggap enteng, di warung yang jujur.

Proses tobat yang ada haq adamiy-nya ini repot. Sebab banyak sekali santri, ketika sudah di rumah harus mengaku minta halalnya, minta maaf. Yang pusing itu warungnya di mana, pemiliknya siapa, jangan-jangan sudah meninggal. Ini kan repot. Tidak halalnya itu loh yang repot. Nikmatnya hilang, namun tuntutan akan menghadang.

Ilmu itu nurullah, dan nurullah itu memantul di hati seseorang. Tempatnya nurullah adalah hati. Orang yang mencari ilmu itu harus punya hati yang bersih. Hati yang jernih itu bisa diupayakan dengan makanan yang halal, rumah yang halal, pakaian yang halal, dan sandal yang halal. Ini jangan dianggap remeh. Kita perlu perubahan. Perlu revolusi. Revolusi ghosob.

Orang-orang dahulu, yang sering kamu dengarkan, ketika mencari ilmu tidak banyak bergaul. Cukuplah Allah yang menemani dan malaikat. Dan cukuplah berteman kitab atau buku. Jadi orang yang sedang belajar, idealnya tidak banyak bergaul. Supaya memprioritaskan belajar. Memprioritaskan ngaji. Sebab orang ngaji itu sekali duduk, satu sa’ah, ini pahalanya lebih utama daripada salat seribu rakaat. Ini kata Imam Syafii RA. Siapa yang mampu satu hari salat seribu rakaat?

Saya ingat, dulu waktu saya masih mondok, suatu ketika saat saya salat malam, oleh orangtua saya ditegur. Beliau menyuruh saya untuk terus saja mengaji. Supaya memprioritaskan muthalaah. Sebab qiyamul lail itu bukan dengan salat saja, namun mutholaah itu juga termasuk qiyamul lail. Jadi santri dalam beribadah kepada Allah, supaya memprioritaskan banyak mengaji.

Dan ilmu bisa didapat dengan cara konsentrasi. Rasulullah sebelum menerima surat iqra, itu senang menyendiri di Gua Hira. Kalau sekarang santri nggak perlu berangkat ke gua Selomangleng. Konteksnya sudah beda. Dulu masa Rasulullah, Ka’bah dikuasai oleh orang jahiliyyah.

Di Gua Hira turunlah Jibril dengan membawa surat iqra. Ketika Rasulullah disuruh baca iqra, Rasulullah tidak bisa. Ma ana biqoriin, aku tidak bisa membaca. Sampai oleh Jibril Rasulullah dirangkul. Dilepas. Disuruh baca lagi tidak bisa. Sampai tiga kali baru bisa. Ini menunjukkan bahwa santri dalam belajar awalnya sulit. Namun kalau sungguh-sungguh, insyaallah dimudahkan oleh Allah SWT. Dan ketika sulit, kalian jangan putus asa. Sebab reaksi ilmu nanti ada. Ketika Rasulullah menerima ayat iqra ini gemetar. Beliau minta diselimuti. Ini artinya, beliau ketika menerima wahyu ada konsekuensinya. Dan wahyu yang paling berat diterima oleh Rasulullah adalah wahyu yang suaranya seperti kliningan. Artinya orang menerima ilmu kadang-kadang demikian. Kadang orang itu bingung. Bilamana kita sedang belajar Alfiyah dan lain-lain, kadangkala kita bingung. Kalau kejadiannya seperti itu, kalian harus tabah. Karena itu bagian dari proses.

Setelah kita menerima pelajaran dari guru, pelajarilah kembali berulang-ulang. Orangtua saya, Mbah Mahrus Ali almaghfurlah mengatakan kalau setelah ngaji supaya dideres sebanyak sebelas kali. Jadi kalian setelah sekolah atau ngaji, materi itu dibaca kembali sebanyak sebelas kali, itu riyadlahnya. Sebab ilmu yang didapat dengan riyadlah akan berbeda. Riyadlahnya kalian adalah dengan usaha dengan tekun. Habis ngaji dibaca bolak-balik sebelas kali, insyaallah nanti ada barokahnya. Sebab muallif (pengarang kitab, –red) itu kebanyakan wali min auliyaillah. Muallif selalu mendoakan kepada orang yang mengaji kitabnya.

Kalian harus meniggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak ada manfaatnya. Harus konsentrasi dengan ilmu. Apa yang kalian lakukan harus ada manfaatnya. Apa yang kalian perbuat, supaya diukur, ada manfaatnya apa tidak. Untuk mengukur islamnya orang itu baik apa tidak, bagaimana istigholnya orang tersebut. Bagaimana kesibukannya. Kalau dia sibuk dengan kelakuan yang baik, maka islamnya baik. Maka jangan sampai santri sibuk dengan perkara yang tidak baik. Ini supaya kita pelajari ketika kita di pesantren. Apa yang kalian lakukan supaya ada manfaatnya. Sebab yang memprihatinkan, kadang saya tahu sendiri, kadang laporan dari keluarganya, ada santri mondok kalau di rumah itu senang dolanan doro (merpati, –red). Terus ada santri yang senang dengan mercon. Ini kan tidak ada manfaatnya.

Itu supaya diperhatikan. Belajar yang tekun. Diusahakan di Lirboyo sampai tamat. Kalau orang alim ditempatkan di mana saja insyaallah bisa. Kalau orang berilmu, misalkan saja ditempatkan di alas (hutan, -Red), tidak masalah. Ada yang mendatangi. Ditempatkan di mana saja tidak masalah. Dan hidup dalam suasana apapun tidak masalah.

Memang ada perbedaan, kalau dalam zaman sahabat, sebelum mempelajari tentang Alquran mereka mempelajari tentang keimanan dulu. Jadi iman itu dulu dikuatkan. Oleh Rasulullah pada sahabat ini yang disentuh keimanan dulu. Kalau imannya kuat, insyaallah mencari ilmunya sungguh-sungguh.

Jadi prinsipnya kalau di pondok yang sungguh-sungguh. Yang tekun. Tidak perlu memikirkan yang aneh-aneh. Setelah di pondok jadi apa, makan apa, itu urusan Allah. Nanti rizki yang bagaimana, itu urusan Allah. Banyak sekali firman Allah yang menjamin rezeki hambanya. Jadi kalau kalian sudah di rumah, rezeki repot, bismillah, nikah saja. Insyaallah rezeki akan mudah. Orang kalau mencari ilmu itu rezekinya dijamin. Adapun cara Allah menjamin, kadang lewat orang tuanya, atau kakak calon mertuanya. Jadi kalian di pondok yang tekun. Tidak usah memikirkan yang macam-macam. Nanti setelah pulang supaya mengamalkan ilmu dan mengajarkan ilmu. Seperti ayat yang pertama kali turun,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

Dengan ini, kita disuruh membaca, kita mencari modal. Kemudian turunlah ayat kedua,

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ

Ini menandakan bahwa tugas kita setelah mencari ilmu, mencari modal, adalah mengajarkan dan mengamalkan. Kalau sudah mengamalkan ilmu, insya allah rezekinya barokah, dzuriyahnya barokah, dan menjadi orang yang mulia.

 

*) Disarikan dari tausiyah KH Abdullah Kafabihi Mahrus saat acara Majelis Shalawat Kubro (Masbro) ke-3

Menikmati Malam Tahun Baru

LirboyoNet, Kediri Haris, salah satu santri Pondok Pesantren Lirboyo melewati gerbang pondok dengan senyum tersungging. Pasalnya, sore itu (13/10/2015) dia bisa menghirup udara di luar pesantren. Bersama teman-temannya yang lain, langkahnya ringan menuju Masjid Agung Kota Kediri yang berjarak kurang lebih 3,5 km dari lokasi pondok.

Kesempatan ini hanya bisa didapat setahun sekali, hanya saat Istighotsah Akhir dan Awal Tahun Hijriyah. Itupun terbatas mulai pukul 16.00 sampai 20.30 Istiwa’ saja. Meski begitu, tetap tak mengurangi keriangan di muka ribuan santri.

Acara pada sore itu berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya. Didahului dengan sambutan-sambutan, kemudian ceramah agama oleh KH. Anwar Iskandar SQ, pengasuh ponpes Assaidi’yyah dan ponpes Al-Amien Ngasinan, Rejomulyo, Kediri. “Kita sebagai jamaah terbesar di Indonesia, memikul tanggung jawab yang berat dalam memelihara Indonesia,” ungkap beliau. “Sekularisme itu berbahaya. Liberalisme juga berbahaya. Ini yang harus menjadi perhatian kita. Jangan sampai i’tiqad kita tergerus dan pelan-pelan mengikuti mereka,” tegas beliau terkait isu-isu yang berkembang mengenai banyaknya aliran keliru yang sedang merebak di Indonesia.

Sebelum acara dikabarkan akan ada testimoni singkat dari perwakilan pengurus PWNU Jatim terkait wacana Hari Santri yang ramai akhir-akhir ini. Namun, acara ini dibatalkan karena yang bersangkutan berhalangan hadir.

Setelah salat maghrib, KH. Anwar Manshur memulai istighotsah awal tahun, yang kemudian diikuti secara serempak oleh para jamaah. 21 kali ayat kursi dibaca sebagai pengantar para jamaah untuk menyambut tahun baru. “Kulo sing ndungo, sampean sing ngamini nggeh, (Saya yang berdoa, kalian yang mengamini ya)” dawuh beliau sesaat sebelum berdoa awal tahun, meskipun kemudian banyak terlihat jamah yang masih juga ikut membaca doa.

Kembang api disulut begitu jamaah salat isya selesai dilaksanakan. Memang tidak se-spektakuler pesta kembang api tahun baru masehi. Tapi paling tidak, langit cerah di malam itu semakin indah dengan warna-warni. Dan ini membuat para santri enggan pulang terlebih dahulu. “Sek toh. Nyantai-nyantai dulu. Dinikmati dulu kembang apinya. Jarang-jarang nih bisa lihat kembang api,” elak Haris, saat rekannya mengajak pulang. ][

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah