Tiga Macam Panggilan Haji

Saat memberikan ijazahan santri tamatan, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus dawuh dengan gaya khasnya, “Panggilan haji itu ada tiga. Pertama, yang paling mandi atau paling ampuh, ini adalah panggilannya Nabi Ibrahim. Berangkat haji, kemudian pulang dengan haji mabrur. Ada lagi haji panggilan iblis. Begitu haji, pulang, tambah remuk. Yang sebelumnya jarang salat, malah gak pernah salat. Mesti mardud itu. Nah, yang paling enak itu haji panggilan Izroil. Begitu haji, gak pulang, meninggal nang mekah”.

Bacaan Bilal dalam Shalat Idul Adha

Di belahan bumi bagian manapun, bisa mengikuti ibadah salat hari raya sangatlah membahagiakan bagi seorang muslim. Ibadah tersebut seakan menyempurnakan rentetan ibadah-ibadah sebelumnya. Kalau dalam suasana Idul Adha, berarti menyempurnakan ibadah puasa sepuluh hari atau hanya dua harinya saja (puasa Tarwiyah dan Arafah).

Hukum mengerjakan salat Idul Adha adalah sunnah muakkad, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Salat Idul Adha sendiri boleh dikerjakan dengan berjamaah dan bisa juga dikerjakan sendirian. Untuk orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji lebih baik mengerjakan salat Idul Adha berjamaah, sedang bagi mereka yang sedang berhaji sebaiknya melakukan salat Idul Adha sendiri-sendiri.

Waktu mengerjakan salat Idul Adha dimulai sejak terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai dengan masuknya waktu Dzuhur hari tersebut. Dan sebelum kita berangkat salat ied, kita disunnahkan mandi dengan niat: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلأَضْحَى سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Bahasa Indonesianya: Nawaitul ghusla li’idil adha sunnatan lillahi ta’ala. Yang artinya, Saya berniat melakukan sunnahnya mandi untuk salat Idul Adha ikhlas karena Allah ta’ala. Setelah itu, kita juga disunnahkan berhias dengan pakaian yang bagus (lebih afdhal warna putih) dan memakai wewangian. Pada pagi hari sebelum salah Idul Adha, tidak ada kesunnahan makan. Kita disunnahkan makan setelah menunaikan salat.

Bagi bilal yang bertugas, sebelum salat Idul Adha dimulai, tidak disunnahkan mengumandangkan adzan dan iqamat. Tetapi disunnahkan mengumandangkan kalimat

أَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ atau  الصَّلاَةَ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

Untuk kalimat niatnya makmum salat Idul Adha adalah:

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِهَِاْ تَعَالَى

Bahasa Indonesianya: Ushalli sunnatan li’idil adha rok’ataini makmuman lillahi ta’ala. Yang artinya: Saya berniat menjadi makmum salat sunnah Idul Adha dua rakaat ikhlas karena Allah ta’ala.

Sedangkan tata cara salat Idul Adha 2 (dua) rokaat adalah rokaat pertama diawali dengan takbirotul ihrom ditambah 7 (tujuh) kali takbir. Sedangkan rakaat kedua sebanyak 5 (lima) kali takbir. Setiap setelah takbir tersebut, baik dalam rakaat pertama atau kedua disunnahkan membaca tasbih:

سُبْحَانَ اللَّهِِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِِ وَلَا إلَهَ إلَّااللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Bahasa Indonesianya: Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar.
Artinya: Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar.

Seusai salam, bilal melakukan tugasnya. Dia berdiri menghadap jamaah, lantas mengucapkan kalimat :

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، إِعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمُ عِيْدِ الْأَضْحَى وَيَوْمُ السُّرُوْرِ وَيَوْمُ الْمَغْفُوْرِ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ، إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ أَنْصِتُوْا أَثَابَكُمُ اللهُ، وَاسْمَعُوْا أَجَارَكُمُ اللهُ، وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ الله

Setelah bilal selesai membaca, imam naik ke mimbar lantas mengucapkan salam. Setelah imam salam, bilal berbalik menghadap kiblat kemudian membaca shalawat dan doa sebagai berikut :

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَاناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ … اللهم قَوِّ الْإِسْلَامَ وَالْإِيْمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِ الدِّيْنِ، رَبِّ إخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Setelah khutbah selesai, ada baiknya semua jamaah tidak beranjak dahulu. Akan lebih baik jika seluruh jamaah melakukan musfofahah/ saling bersalaman dengan membuat formasi yang rapi (tidak berjubel) sambil sama-sama mengumandangkan shalawat. Dan selama tiga hari setelahnya (sampai selepas salat Ashar di tanggal 13 Dzulhijjah), ada kesunnahan membaca takbir sehabis salat lima waktu ataupun sehabis melakukan salat sunnah./-

Hukum Adegannya Aktor

Dalam tayangan sinetron, sering terjadi adegan pegang-pegangan, peluk-pelukan antara artis laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim. Dan bahkan juga ada adat nikah di dalam sinetron. Pertanyaan saya :
1. Bagaimanakah hukumnya adegan peluk-pelukan di dalam sinetron?
2. Apakah hukum akad nikah dalam sinetron tetap sah atau batal?
3. Apakah akad nikah dalam sinetron mempermainkan agama Islam?

Ibnu Abdul Aziz

Admin – Bapak Ibnu yang mudah-mudahan dirahmati Allah, terima kasih atas kunjungan dan kesediaanya bersama Kami kita belajar bersama. Dan sebelum menjawab pertanyaan Anda, Kami kira akan lebih mengena jika kita menyinggung tentang hiburan keluarga.

Berbicara tentang hiburan yang dinikmati keluarga kita, dalam hal ini televisi, tentu saja dewasa ini kita harus lebih berhati-hati. Karena harus diakui, prosentase tayangan yang mendidik dan tidak sangatlah berbanding terbalik, terlebih sinetron. Meskipun tidak semuanya, kenyataannya kebanyakan sinetron (setahu Kami) menampilkan adegan yang jauh dari realita. Jangankan soal tayangan mendekati realita, hal yang positif saja kebanyakan ditampilkan kurang sesuai. Misalnya karakter yang suka membaca atau kutu buku. Coba Anda perhatikan, karakter ini antara diperankan oleh tokoh yang berpenampilan “keren” dibandingkan dengan yang digambarkan culun lebih banyak mana? Padahal, bukankah membaca itu positif, tapi kenapa karakternya culun?

Begitulah kenyataannya tayangan televisi kita. Sebuah hiburan yang semestinya mampu meninggalkan hal-hal positif pada memori penonton, yang terjadi malah sebaliknya. Maka di sini, peran kepala keluarga sangatlah vital. Karena biar bagaimanapun, meskipun kepala keluarga punya tanggungjawab agar seluruh keluarganya berada pada rel yang benar, dia juga dituntut bisa membahagiakan/ memberikan hiburan pada keluarganya. Jika memang soal hiburan kepala keluarga baru bisa mampu memberikan tontonan televisi pada keluarganya, ada baiknya ketika ada pertemuan keluarga disampaikan agar mereka hendaklah lebih bisa memilih acara yang ditonton dan lebih bijak menyikapinya.

Kembali pada pertanyaan Anda. Terkait soal peluk-pelukan, kiranya harap kita terima dengan bijak bahwa soal percampuran laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, agama sangat keras melarang. Jangankan sampai peluk-pelukan, untuk saling melihat wajah tanpa ada sebuah hajat saja, mayoritas ulama Syafi’iyah menghukumi haram baik menimbulkan birahi ataupun tidak. Namun begitu menurut sebagian ulama Hanafiyah, diperbolehkan dengan catatan tidak menimbulkan birahi. Dan kiranya memang pendapat inilah yang cocok dengan negara kita. Karena memang tatap muka antar lawan jenis di negara ini bisa dipastikan tidak bisa dihindarkan. Kalau nanti sudah ada angkutan umum khusus perempuan dan laki-laki, pasar yang berbeda untuk masing-masing jenis kelamin, atau juga ruang sekolah yang dibedakan antara siswa dan siswi, mungkin akan lain ceritanya.

Maka menjawab pertanyaan Anda, jika kedua aktor yang berpelukan itu bukan mahrom, kemudian wali yang berperan dalam adegan akad nikah bukan wali asli pengantin wanitanya (tidak sesuai dengan syarat dan rukun nikah), maka jelas pelukan itu haram dan tentu akad nikahnya tidak sah. Tentang apakah adegan akad nikah mempermainkan agama, Kami kira tentu harus diperjelas detail adegan yang dipertontonkan itu seperti apa.

Kiranya demikian, semoga membantu dan harap maklum adanya. Untuk referensi bisa dijumpai dalam Fathal Muin Juz 3, Faidul Qodir Juz 5, Al-Mausuatu Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah Juz 31, Addarul Mukhtar (syarah Tanwirul Abshar) Juz 1, dll.

Puasa Arafah

Semua bulan dan hari pada hakikatnya adalah baik. Namun diantara yang baik itu, ada beberapa yang lebih baik atau istimewa, hari arafah misalnya. Bulan Dzulhijjah sendiri termasuk dari bulan yang istimewa selain Ramadhan, Rajab, Dzulqo’dah, dan Muharram. Dan tidak terasa, kita sudah bertemu lagi dengan bulan Dzulhijjah, bahkan lusa kita akan bertemu kembali dengan lebaran kurban, Idul Adha.

Hari Arafah sendiri adalah saat dimana umat muslim yang melakukan ibadah haji sedang melakukan Wukuf di Padang Arafah. Dalam sebuah riwayat dikatakan, pada hari Arafah Allah mengundang para malaikat dan berkata, “Wahai malaikatKu, lihatlah hamba-hambaKu. Mereka datang dari berbagai belahan bumi dengan tampang yang acak-acakan, menghabiskan harta dan menyusahkan badannya, demi berkumpul jadi satu di padang Arafah. Saksikanlah wahai malaikatKu, bahwa hari ini Aku ampuni dosa-dosa mereka.” Begitulah kemuliaan mereka yang diberi panggilan bisa berkumpul di padang Arafah.

Untuk kita yang kebetulan saat ini belum mendapatkan panggilan, jangan berkecil hati. Karena kita yang saat ini berdiam diri di rumah pun, sejatinya bisa mendapatkan banyak pahala dari keistimewaan bulan Dzulhijjah ini. Sungguh, sebuah kebahagiaan tersendiri bagi mereka yang bisa melakukan puasa 10 hari sejak awal bulan Dzulhijjah kemarin. Bagi yang kebetulan berhalangan, masih ada sisa sehari. Mudah-mudahan besok kita tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dengan berpuasa.

Hukum melaksanakan ibadah puasa Arafah adalah sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Imam Nawawi berkata, “Adapun hukum puasa Arafah menurut Imam Syafi’i dan ulama Syafi’iyah: disunnahkan puasa Arafah bagi yang tidak berwukuf di Arafah.”

Puasa Arafah memiliki beberapa keistimewaan dan keutamaan, diantaranya: 1). Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang akan datang, 2). Allah SWT akan menjaganya untuk tidak berbuat dosa selama dua tahun, dan 3). Dibebaskan dari api neraka.

Dalam sebuah riwayat dikatakan. Dahulu, ada seorang anak muda yang ketika masuk bulan Dzulhijjah dia berpuasa. Kabar tentang anak muda ini lantas terdengar hingga ke Baginda Nabi. Tidak lama kemudian, anak muda tadi dipanggil Nabi dan dia pun segera menghadap. Nabi bertanya, “Anak muda, aku ingin tahu alasan kamu berpuasa?” Si anak muda menjawab, “Ya Rasulallah, demi ayah dan ibu saya, sungguh hari ini adalah hari kebesaran Islam dan juga hari dimana umat Islam berhaji. Saya berharap, Allah memasukkan saya dalam doa-doa mereka yang sedang berhaji.” Nabi lantas menjawab, “Anak muda, sungguh, bagi setiap hari yang kamu puasai, ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 100 budak, 100 unta, dan 100 kuda. Dan untuk puasa di hari Tarwiyah, ada ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 1000 budak, 1000 unta, dan 1000 kuda. Dan untuk puasa di hari Arafah, ada ada pahala sebanyak kamu bersedekah di jalan Allah 2000 budak, 2000 unta, dan 2000 kuda.”

Begitulah keutamaan puasa Arafah. Untuk Anda yang besok mau melaksanakan puasa Arafah, jangan lupa niatnya. Karena sebagaimana yang tentu sering kita dengar, amal itu tergantung niatnya. Dan meskipun letak niat sesungguhnya dalam hati, menjelaskan atau mengucapkan niat punya sirri tersendiri. Inilah niat puasa Arafah : َنَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً للهَ تعالى
“Nawaitu Shauma ‘Arafata Sunnatan Lillahi Ta’ala, Artinya: Saya berniat melakukan sunnah puasa Arafah karena Allah ta’ala.”

Pembukaan Kuliah Ushul Fikih

LirboyoNet – Sejak tahun kemarin, Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo punya agenda bulanan yang terbilang baru. Kegiatan itu dinamai Kuliah Ushul Fikih dengan tutor tetap KH. Azizi Hasbullah. Kegiatan ini oleh pihak LBM boleh diikuti oleh siapa saja santri yang berminat, tidak ada batasan tingkatan. Meskipun toh yang diharapkan adalah santri tingkat Aliyah, karena secara keilmuan tingkatan ini “lebih ngeh” dengan apa yang disampaikan oleh tutor.

Tidak seperti tahun lalu yang digelar malam hari, kuliah ushul fiqh dengan materi dasar kitab matan Lubbul Ushul tahun ini  dilaksanakan sabtu siang (19/9/2015) sekitar pukul 14.30 WIS/14.00 WIB, bukan waktu biasa untuk mengikuti aktivitas LBM bagi yang sudah sekolah malam, karena pada jam tersebut banyak bentrok dengan pengajian yang digelar masyayikh. Meski begitu, antusiasme peserta tidak nampak surut.

Seperti tahun lalu, teknis kuliah juga tak banyak yang berbeda. Dimulai dengan sesi pemurodan, diteruskan penjelasan langsung oleh KH. Azizi, dan dilanjutkan sesi tanya jawab seputar bab yang sedang dibahas.

KH. Azizi menjelaskan muqoddimah seputar mabahisul aqwal, apa saja yang nantinya dapat dijadikan pijakan atau tendensi dalam merumuskan hukum fikih, lebih khusus lagi, Alquran sebagai referensi yang benar-benar bisa dijadikan rujukan. “Kalau kita melihat Alqurannya itu qoth’y atau pasti, namun dalalah dari Alquran sendiri tidak ada yang qoth’y, semua sebatas dhonny (praduga -Red.), kecuali didukung dengan dalil lain.” Maka jelas tak terhindarkan terjadinya perbedaan pendapat dalam pemahaman yang muncul dari sebuah kata atau kalimat. Kemudian, dalam sejarahnya, dahulu Alquran mulai ditulis atas inisiatif sahabat Umar RA. ketika masa kekhalifahan sahabat Abu Bakar RA. Waktu itu sahabat Abu Bakar RA. sempat menolak inisiatif dari sahabat Umar RA. karena sahabat Abu Bakar RA. enggan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan nabi Muhammad SAW. Namun, mempertimbangkan sudah tujuh puluh sahabat hamilul qur’an (hafal Alquran-Red.) yang syahid dalam perang Yamamah, perang melawan Musailamah Al-Kadzab, dan dikhawatirkan Alquran akan musnah, akhirnya sahabat Abu Bakar RA. menyetujui inisiatif pembukuan Alqur’an. Beliau menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis.

Alquran yang ditulis sahabat Zaid bin Tsabit waktu itu masih tanpa menggunakan titik dan harokat. Alquran tersebut dipegang khalifah dan kemudian disimpan oleh Sayyidah Hafshoh putri sahabat Umar RA. Dalam perkembangannya, di masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan RA. muncul kontroversi dimana setidaknya waktu itu ada sekitar seratus qiro’ah yang berkembang di masyarakat luas, mengingat waktu itu Alquran masih polos tak berharokat dan tak bertitik. Dan lebih parah lagi, antar satu dan lain saling menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan. Hal tersebut dilaporkan kepada khalifah Usman RA. Lantas beliau mengambil tindakan tegas dengan menarik seluruh mushaf Alquran yang ada di dunia dan menyatukan qiro’ah yang ada. Beliau mendaulat sahabat Zaid bin Tsabit untuk menulis ulang Alquran yang disimpan sayyidah Hafshoh menjadi enam. Enam Alquran inilah yang dikenal dengan mushaf Rosm Usmani.

Beliau juga sempat menjelaskan Alquran adalah kitab yang jami’ul kalim. Bahkan penjelasan ini beliau kuatkan dengan tambakan “yakin”, karena KH. Azizi sendiri sudah merasakan bagaimana satu ayat bisa untuk dilarikan ke seluruh fan ilmu, mulai tashowuf, fiqh, tauhid, dan lain sebagainya. Beliau menganalogikan dengan contoh “Jaa’a Zaid” bukan hanya bisa digunakan sebagai contoh jumlah fi’liyyah saja, namun bisa juga digunakan sebagai contoh i’rob rofa’, contoh isim, contoh fi’il, contoh bina’ shohih, contoh bina’ salim, contoh kalam khabar, dan lain sebagainya. Semua hanya diwakilkan dengan satu kalimat yang nampak sederhana, jaa’a zaidun. Misalkan saja ayat,
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
Selain bisa dijadikan dalil zakat dalam bab fikih, bisa juga dijadikan dalil tashowwuf, “ilmunya Allah (الصَّدَقَاتُ) hanya diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya (لِلْفُقَرَاء)”.

Setelah sesi tanya jawab usai, kuliah ushul sore itu ditutup dengan do’a. Harapannya, untuk tahun-tahun ke depan para penggiat ilmu syar’i tak bosan-bosannya mengkaji ushul fiqh. Meskipun tak lagi “berfungsi” untuk berijtihad, namun bisa digunakan untuk memperkuat dan memperjuangkan madzhab imam yang kita anut, seiring akhir-akhir ini semakin marak “islam minoritas” yang sering menggugat pendapat-pendapat imam empat. (wf)

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah