Hujan-hujanan, Kenapa Tidak?

Sore ini langit Kediri tidak secerah biasanya, awan gelap terlihat bergelantungan di atas sana. Mungkin pertanda akan turun hujan, hujan yang tentu sudah diidamkan sejak beberapa waktu belakangan. Jika benar sore ini atau malam nanti turun hujan, alhamdulillah. Sebuah karunia Allah SWT yang patut disyukuri.

Di kalangan Nahdliyyin, setidaknya mungkin bagi yang mukim di pedesaan, tentu suatu ketika dahulu pernah mendengar cerita atau bahkan diajak berhujan-hujanan oleh orang tuanya. Atau bahkan ikut serta hujan-hujanan dengan pemuka agama atau kiai desanya. Ya, berhujan-hujanan, terlebih saat hujan pertama setelah sekian lama kemarau, adalah kegiatan yang sepatutnya kita lestarikan.

Harus diyakini bahwa semakin kesini ‘serangan’ yang dilakukan oleh golongan diluar ahlu sunnah wal jamaah semakin gencar. Dengan berbagai cara, mereka terus memojokkan/ menyalahkan segala aktivitas yang dilakukan ahlu sunnah. Dari ritual yang sifat ibadahnya dimaklumi orang banyak, hingga aktivitas sederhana yang sejatinya penuh makna warisan para pendahulu. Dan menurut penulis, hujan-hujanan masuk dalam kategori ini.

Mendapatkan kesunahan berhujan-hujanan disinyalir oleh sebagian golongan adalah hal yang mengada-ada. Padahal nyatanya, dalam banyak redaksi dikatakan bahwa Nabi dan para sahabat melakukannya.

Imam Nawawi dalam Majmu-nya mengatakan, disunnahkan hujan-hujanan ketika pertama kali turun hujan dengan berlandaskan hadis yang diriwayatkan Anas: “Hujan turun membasahi kami (para Sahabat) dan Rasulullah SAW. Lantas Rasululullah SAW membuka bajunya sehingga hujan mengguyur Beliau. Kami bertanya, ‘wahai Rasul, untuk apa engkau berbuat seperti ini?’ Rasulullah menjawab, ‘karena sesungguhnya hujan ini baru saja Allah ciptakan’.” Hadis ini, bagi sebagian golongan dipahami bukan dalil disunnahkannya hujan-hujanan.

Dalam Ma’rifatussunan Wal Atsar terdapat keterangan jika Abu Said mengabarkan, beliau diceritakan oleh Abu Abbas bahwa menurut cerita dari Robi’, Imam Syafii pernah berkata, “Telah sampai kabar kepada Kami bahwa Nabi hujan-hujanan saat pertama kali turun hujan hingga air hujan mengenai badannya.”

Selain itu, para ilmuwan sendiri menjelaskan air hujan adalah tetesan air hasil penyulingan yang dibuat sedemikian rupa, hingga menjadi pembersih dan pembasmi kotoran terbaik yang mampu mensterilkan bumi yang tercemar. Proses jatuhnya air hujan pun cukup rumit. Bahkan, jika dibandingkan dengan penelitian ilmuwan mengenai air jernih, air yang paling baik untuk membersihkan adalah dari air hujan. Meskipun toh saat ini akibat pencemaran lingkungan, sebelum jatuh ke bumi air hujan telah mengisap material dan gas sulfur serta zat tambang lainnya.

Begitulah kiranya sekilas tentang air hujan dan hujan-hujanan. Hemat penulis, mari kita hujan-hujanan jika kondisi badan memungkinkan. Karena disamping kita bisa mendapatkan kesunnahan, air hujan juga menyehatkan. Dan meski begitu, ada baiknya kalau durasi hujan-hujanannya tidak terlalu lama. Setelah hujan-hujanan segeralah mandi, berwudhu lalu melakukan salat sunnah mutlak dan berdoa sepenuh hati. Karena saat hujan adalah satu diantara beberapa waktu yang mustajab untuk berdoa dan tentunya sayang untuk kita lewatkan. Wallahu a’lam. /-

Bunga Istimewa Hanya Untuk yg Istimewa

Oleh: Bayu Gautama

Bunga adalah simbol kesegaran, keceriaan dan kebahagiaan. Bisa jadi ada makna yang lebih dalam dari penamaan Rasulullah atas putri tercintanya, Fatimah az Zahra, yang mana az Zahra sendiri berarti ‘bunga.’ Tidaklah mengherankan jika Fatimah menjadi anak yang paling disayang dibanding saudara-saudara Fatimah lainnya. Hal itu teriihat dari ungkapan Rasulullah, “Siapa yang membuatnya sedih, berarti juga membuat aku sedih. Dan barang siapa menyenangkannya, berarti menyenangkanku pula.”

‘Bunga’ Fatimah yang tumbuh dan berkembang dalam binaan langsung dari ayahanda Rasul yang baik, lemah lebut dan terpuji menjadikannya seorang gadis yang penuh kelembutan, berwibawa, mencintai kebaikan, plus akhlak terpuji meneladani sang ayah. Maka, tidaklah aneh, bunga yang di-nisbatkan Rasul menjadi wanita penghulu surga itu menjadi primadona di kalangan para sahabat Rasulullah.

Tercatat, beberapa sahabat utama seperti Abu Bakar dan Umar bin Khattab pemah mencoba melamar Fatimah. Hanya saja, sayangnya dengan halus Rasulullah menolak lamaran para sahabat itu. Hingga akhirnya datanglah Ali bin Abi untuk meminang Fatimah.

“Aku mendatangi Rasulullah untuk meminang putri beliau, yaitu Fatimah. Aku berkata: ‘Demi Allah aku tidak memiliki apa-apa, namun aku ingat kebaikan Rasulullah, maka aku beranikan diri untuk meminangnya’.” Akhirnya Rasulullah menerima pinangan Ali meski hanya mempersembahkan baju besi al Khuthaimah (yang juga merupakan pemberian Rasul).

Fatimah adalah bunga yang terpelihara, tidak tanggung-tanggung, yang mendidik, membina, memeliharanya adalah manusia agung nan mulia, Muhammad SAW, yang memiliki segala keterpujian. Bunga yang indah dengan segala keistimewaannya, harus dipelihara dan dijaga oleh orang yang istimewa dan memiliki berbagai kelebihan pula, dalam hal ini Ali bin Abi Thalib. Siapa yang meragukan kapasitas Abu Bakar dan Umar bin Khattab, yang keduanya kemudian berturut-turut menjadi khalifah meneruskan perjuangan kaum muslimin menggantikan Rasul. Lalu kenapa Nabi menolak mereka?

Pertanyaan setanjutnya, kenapa Ali yang hanya bermodalkan baju besi (yang juga pemberian Rasul) menjadi pilihan Rasul untuk mendampingi Fatimah? Meski memang Rasulullah yang paling tahu alasan itu (termasuk juga alasan menolak pinangan dua sahabat yang juga istimewa), namun kita bisa melihat sisi kelebihan dari Ali bin Abi Thalib, pemuda pemberani ini.

Ali adalah lelaki istimewa, masuk dalam as Sabiqunal Awalun (golongan pertama yang masuk Islam) dengan usia termuda. Soal keberanian, jangan pernah menyangsikan lelaki satu ini. Perang Badar yang diikuti seluruh menusia pemberani didikan Rasul, terselip satu lelaki muda yang dengan gagahnya maju ke depan ketika seorang pemuka dan ahli perang kafir menantang untuk duel. Meski awalnya dilecehkan karena dianggap masil kecil, namun Ali dengan kehebatannya mampu mengalahkan musuh duelnya itu. Tidak sampai di situ, Rasulullah tak bisa melupakan jasa besar dan keberanian Ali menggantikan Rasul tidur di pembaringannya saat Rasulullah ditemani Abu Bakar menyelinap ke luar saat hijrah. Padahal, resikonya adalah mati terpenggal oleh bala tentara kafir yang telah mengepungnya.

Tentu masih banyak dan tidak akan cukup tulisan ini untuk mencatat kelebihan Ali yang menjadikannya begitu istimewa. Satu yang bisa kita tangkap secara jelas, bahwa wanita istimewa memang dipersiapkan untuk lelaki istimewa. Seperti halnya, ‘bunga’ Fatimah yang hanya Ali bin Abi Thalib yang diizinkan Rasulullah untuk memetiknya. Oleh karenanya, jangan pernah berharap akan datangnya seseorang istimewa jika tak pernah menjadikan diri ini istimewa. Wallahu a’lam bishshawaab.

Hujannya Kok Gak Turun

Turunnya hujan yang penuh berkah menjadi harapan semua orang. Tapi entah kenapa hujan tahun sekarang belum juga turun. Salat Istisqo sendiri di pondok ini telah dilakukan beberapa kali. Mungkinkah ini cobaan atau ujian dari sang Maha Kuasa, atau cuma karena iklimnya saja yang tidak mendukung?

Di bumi Nusantara ini, ada beberapa adat untuk mendatangkan hujan. Bahkan konon, dahulu sebelum datangnya Wali Songo, cara meminta hujan itu lebih tragis dengan cara mengorbankan anak perawan untuk dibunuh dan dipersembahkan bagi Dewa Langit.

Dalam kitab Multaqotul hikayat ada sebuah hikayat yang bercerita tentang kisah Nabi Musa as. dan kaumya Bani Israil. Dikisahkan, pada zaman Nabi Musa AS. pernah terjadi kekeringan. Kaumnya mendatangi beliau seraya berkata, “Wahai Kalimullah (gelar Nabi Musa) berdoalah pada tuhanmu agar menurunkan hujanNya pada kami.”

Nabi Musa lantas berdiri dan keluar bersama mereka ke sebuah gurun pasir. Jumlah mereka sebanyak 70 ribu orang lebih. Nabi Musa Berdoa, “Ya tuhanku, berilah kami hujan. Sebarkanlah bagi kami rahmatMu. Kasihanilah bayi-bayi yang sedang menyusui, binatang yang digembala, dan orang-orang tua yang masih bersujud.”

Langit tidak kunjung mendung. Tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan, malah matahari bersinar tambah panas. Nabi Musa berdoa lagi, “Ya tuhanku, kehormatanMu ada di sisiMu, Engkau bagiku adalah yang Maha Mulia.” Allah SWT. berfirman, “wahai Musa, akan tetapi ada seseorang di antara kalian yang terang-terangan berbuat maksiat di hadapanKu. Suruhlah dia keluar, karena dialah aku tangguhkan hujan pada kalian.”

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Nabi Musa bertanya, “Ya Tuhanku, aku seorang hamba yang lemah dan suaraku juga lemah, bagaimana mungkin bisa terdengar oleh mereka yang berjumlah 70 ribu lebih?” Allah SWT. berfirman, “serukanlah dan nanti Aku yang akan menyampaikannya.”

Lantas Nabi Musa berseru pada umatnya, “Wahai hamba yang sudah terang-terangan berbuat maksiat di hadapan Allah SWT. Selama 40 tahun, keluarlah dari kami, karena kami tidak mendapatkan hujan karenamu.”

Hamba yang bermaksiat itu pun menoleh ke kiri dan kanan tapi tidak ada seseorangpun yang keluar, dia sadar bahwa dirinyalah yang dicari. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Jika aku keluar dari perkumpulan ini maka terbukalah aibku di kalangan Bani Israil. Tapi jika aku tidak keluar, maka mereka tidak akan mendapatkan hujan karenaku.”

Lantas orang ini pun memasukan kepala ke dalam baju yang dikenakan seraya berkata, “Ya Tuhanku, aku telah bermaksiat padaMu selama 40 tahun, tapi Engkau tangguhkan siksa padaku. Aku menghadapMu dengan rasa taat maka terimalah aku.”

Sebelum selesai hamba itu berbicara, tiba-tiba mendung mulai tampak, dan turunlah hujan. Nabi Musa berkata, “Ya tuhanku, tidak ada seseorangpun yang keluar dari kami.” Allah SWT. berfirman, “wahai Musa, aku menurunkan hujan kepada kalian sekaligus kepada orang yang menyebabkan hujan itu tidak turun karenanya.”

Nabi Musa bertanya, “Ya tuhanku, tunjukanlah hamba yang taat ini,” Allah SWT. berfirman, “sesungguhnya aku tidak menghinakannya karena dia bertaubat kepadaku. Apakah aku akan menghinakan seseorang yang taat kepadaku? Wahai Musa, sesungguhnya aku sangat membenci kepada orang-orang yang suka mengadu domba.”

Alhasil, dari cerita di atas, terserah pembaca ingin mengartikannya dengan sudut pandang mana. Kalau menurut penulis, bisa jadi hujan yang tak kunjung turun disebabkan oleh dosa-dosa kita. Sudah saatnya mari kita sama-sama merenungi dan mengeja kata mengungkap makna suara yang selalu terdengar dari speaker saat menjelang adzan shubuh. Hasibuu anfusakum qobla antuhasabu, mari mengevaluasi diri sendiri sebelum mengoreksi orang lain.[]

Penulis, Godhonfar Khan

Pesan dan Harapan KH. A. Idris Marzuqi

Harapan saya, setelah Pondok Pesantren Lirboyo mencapai usia satu abad ini mudah-mudahan para keluarga tetap menjaga keharmonisan dan keberlangsungan pondok. Selain itu, semoga mereka mampu menjaga apa yang diwariskan oleh sesepuh dahulu. Yang dimaksud warisan di sini berupa ilmu pengetahuan, bukan bentuk fisik pondok.

Salah satu alasan mengapa Lirboyo tetap mempertahankan metode salafiyahnya hingga saat ini adalah, karena ini merupakan wasiat yang selalu disampaikan dari generasi ke generasi, agar para penerusnya tetap mempertahankan metode salaf. Tetapi, berkat ilmu yang bermanfaat, banyak alumni yang dulunya hanya menguasai satu bidang ilmu setelah mengabdi di masyarakat mereka terkenal ahli dalam berbagai bidang.

Nasehat yang selalu saya tekankan kepada para santri adalah agar berusaha sekuat tenaga menamatkan jenjang pendidikan di Pondok Pesantren Lirboyo. Kunci kesuksesan belajar di Lirboyo selain mempeng adalah harus menamatkan madrasah. Meskipun ketika mondok itu seperti belum bisa apa-apa, insyaallah setelah menamatkan madrasah ada nilainya tersendiri. Yang kedua, setelah tamat harus lebih memprioritaskan memperjuangkan ilmu dulu. Jika lebih mengutamakan bekerja dan mengabaikan mengamalkan ilmu, maka akan menemukan hasil yang jauh dari maksimal. Ketika belajar di Lirboyo, jangan pernah sekali-kali merasa putus asa, apapun yang terjadi. Ketiga, jangan sekali-kali mengandalkan kecerdasan otak, namun andalkanlah rajin dan tekun mengaji, insyaallah jika sudah di rumah walaupun tidak ada niatan mendirikan pesantren, pasti ada saja orang yang hendak mengaji.

Dari berbagai pengalaman yang ada, mendirikan pondok itu tidak semudah mendirikan pabrik atau perusahaan. Kalau ingin mendirikan perusahaan misalnya, ada dana miliaran sudah bisa mencukupi dan perusahaan bisa berjalan dengan lancar. Tetapi kalau mendirikan pesantren, tidak bisa demikian. Kalau diberikan dana miliaran untuk membangun pondok, memang berwujud bangunan megah tetapi santrinya belum tentu berkembang.

Mendirikan pesantren itu harus dimulai dari nol, seperti Mbah Abdul Karim yang babad tanah Lirboyo dan memulainya dari langgar atau surau kecil dengan berbekal seadanya. Untuk mendirikan pesantren itu butuh modal kesabaran, keuletan dan keikhlasan. Di samping itu pendirinya harus berasal dari orang pesantren. Bpk. Hamzah Haz pernah membangun pesantren megah di luar jawa, dia meminta guru bantuan dari berbagai daerah. Dan yang dikirim ke sana salah satunya santri Lirboyo, setelah santri Lirboyo mengabdi di sana ternyata sering terjadi beda pemahaman. Ahirnya ia keluar dari pondok itu dan mendirikan sendiri pondok di sana, dan sampai sekarang mampu berkembang dan bertambah besar.

Disarikan dari Buku “Pesantren Lirboyo : Sejarah, Peristiwa, Fenomena dan Legenda”.

Gaji Takmir dari Kas Masjid

Assalamualaikum Wr. Wb.

Sekarang ini, khususnya di perkotaan banyak sekali masyarakat muslim yang karena kesibukannya/ tidak adanya kemampuan untuk mengurus masjid/ mushola mengangkat seseorang untuk mengurusnya dengan imbalan gaji yang diambilkan dari kas masjid/ mushola. Sedangkan yang harus dikerjakan antara lain mengurus kebersihan masjid/ mushola tersebut, menjadi muadzin, mengimami salat, khutbah, dan hal-hal lain yang masih berhubungan.

Yang menjadi pertanyaan saya adalah: Bolehkah mengambil gaji dari kas masjid/ mushola dengan pekerjaan di atas? Dan bagaimana menurut pandangan tasawuf, apakah gaji tersebut baik untuk dimakan?

Atas jawabannya kami ucapkan terima kasih teriring do’a,  Jazakumullah ahsanal jaza’.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Ibnu Kosim

Admin – Waalaikumsalam warahmah wabarakah. Terima kasih Kami sampaikan atas kenan singgah Anda pada website Kami.

Dalam perspekstif fikih, status tanah atau bangunan yang sudah diwakafkan untuk dijadikan masjid, musholla, madrasah, pondok, dan lain-lain, merupakan harta yang terlepas dari hak kepemilikan manusia. Artinya, harta tersebut telah berpindah menjadi hak milik Allah. Konsekuensinya tidak dapat diwariskan, dijual, atau diberikan pada siapapun. Dalam metode pengelolaan dan pembelanjaannya (tasharuf), setiap muslim berhak memanfaatkannya sesuai dengan tujuan pewakafan, seperti dibuat salat untuk wakaf masjid, musholla, dibuat sekolah, dan seterusnya.

Sedangkan kekayaan masjid dan musholla yang diwakafkan, seperti uang kas masjid, pola pembelanjaannya dibedakan sesuai dengan sumber dari mana dana tersebut dihasilkan. Secara terperinci dapat dipetakan dalam beberapa perincian sebagai berikut:

  1. Bila kekayaan tersebut dihasilkan dari sedekah dan hibah, maka bentuk pembelanjaannya disesuaikan dengan tujuan pemberi (qosdu al muhdi). Hal tersebut dapat diketahui dari ucapan atau indikasi-indikasi yang ada, seperti melihat tradisi yang umum terlaku di masyarakat. Hal ini dapat berlaku jika dalam tradisi, pemberian itu dimaksudkan untuk kemaslahatan masjid secara umum atau secara khusus, semisal hanya untuk pembangunan saja.
  2. Bila kekayaan itu dari hasil barang-barang yang di wakafkan pada masjid (roi’ul mauquf ‘ala al masjid), seperti kebun yang diwakafkan untuk kepentingan masjid (bukan dijadikan masjid), maka hukumnya dipilah: Pertama, bila kepentingan masjid itu yang dikehendaki mutlak atau untuk meramaikan masjid, maka pembelanjaannya untuk pembangunan masjid, menara, ongkos, dan penjaga masjid. Sedangkan untuk ongkos muadzin dan imam atau biaya beli karpet, lampu, para ulama berbeda pendapat. Kedua, bila yang dikehendaki dengan kepentingan masjid adalah untuk kemaslahatan masjid, maka boleh ditasharufkan untuk semua keperluan di atas dengan kesepakatan para ulama. Dan untuk mengetahui kepentingan ini adalah dengan menyesuaikan kehendak orang yang mewakafkan (waqif) ketika mewakafkan. Namun, apabila waqif memutlakkan kepentingan yang dikehendaki, maka tata cara pembelanjaannya mengikuti tradisi (urfy) yang berlaku, yang pada prinsipnya adalah arah pembelanjaannya lebih mendekati tujuan waqif.

Dengan demikian, uang kas masjid atau mushola boleh digunakan untuk gaji penjaga apabila tidak menyalahi tujuan pemberi atau tujuan waqif yang dapat diketahui dengan ungkapan atau indikasi (qarinah) ketika terjadi pemberian atau pewakafan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah bahwa standar gaji yang berhak ia peroleh dari uang kas masjid ditentukan dengan syarat sebagai berikut:

  1. Tidak kaya/ masih membutuhkan.
  2. Menurut Imam Rofi’i, besar gaji diukur sesuai dengan kebutuhan nafkahnya. Sedangkan menurut pendapat Imam Nawawi, setidaknya diukur dengan dua perkara, yaitu biaya nafkah dan ongkos umum sebagai penjaga masjid. Dan pendapat inilah yang dinilai paling ihthiyat (hati-hati).

Walllahu a’lam bisshowab. Untuk referensi bisa dilihat pada al Syarwani Juz VI, I’anah at Thalibin Juz III, dan al Mahalli Juz III.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah