Mencuci dan Menyucikan Pakaian Saat Kemarau

Bagi Anda yang belum tahu, ibadah salat itu bisa sah menurut syariat ketika memenuhi segala persyaratannya. Juga melakukan rukun-rukun dan tidak melakukan hal-hal yang bisa membatalkan salat. Dan satu diantara enam syarat sahnya salat adalah menutup aurat. Menutup aurat sebenarnya bisa dengan apa saja, karung beras sekalipun. Namun saat kondisi wajar, kiranya muslim Indonesia semuanya mampu menutup aurat dengan pakaian.

Ketika kita salat, pakaian yang kita kenakan haruslah suci dari segala macam najis. Dan di saat kemarau yang berkepanjangan seperti sekarang ini, sebagian daerah tentu akan kesulitan mendapatkan air bersih. Jangankan untuk mencuci baju dan perabotan rumah tangga, untuk mandi dan minum saja susah.

Melihat kenyataan yang demikian, kita tentu harus berhati-hati. Karena bisa jadi, keadaan seperti itu akan memaksa kita, entah sengaja atau tidak, melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Misalnya, kita lalai menjaga kesucian pakaian.

Najis sendiri kalau menurut bahasa adalah perkara yang menjijikan. Sedangkan menurut syariat adalah benda yang dianggap menjijikan yang mencegah keabsahan salat seandainya terbawa saat sedang salat. Ada dua jenisnya, najis hukmiyah dan ainiyah. Najis hukmiyah adalah najis yang tidak berbentuk (tidak tampak secara kasat mata) dan tidak mempunyai sifat bentuk (tidak berasa, tidak berwarna dan berbau). Cara menyucikan najis ini dengan mengalirkan air (meskipun hanya sekali aliran) secara merata pada bagian suatu benda yang terkena najis. Sedangkan najis ainiyah adalah najis yang memiliki bentuk dan satu dari beberapa sifatnya bentuk (rasa, warna dan bau). Jenis najis ini ada tiga: muhoffafah, mutawassithoh dan mugholladhoh.

Tulisan ini akan fokus bagaimana tips dan trik kita menggunakan air yang terbatas itu untuk membersihkan pakaian dari najis ainiyyah yang bersifat mutawassithoh atau najis yang terbilang ringan: seperti darah, kotoran manusia dan hewan (termasuk cicak), dll.

Para ulama memberi aturan cara mensucikan najis jenis ini adalah dengan terlebih dahulu menghilangkan bentuk dan sifat-sifatnya, kemudian dibasuh (dialirkan air). Ketika tersisa warna atau baunya najis saja (tidak bersamaan) dan sulit dihilangkan, maka benda tersebut dihukumi suci. Batasan sulit dihilangkan sendiri setelah kita berupaya menghilangkannya (digosok berulang kali disertai basuhan.

Semisal contoh pakaian kita terkena kotoran ayam. Maka yang harus dilakukan adalah, terlebih dahulu kita hilangkan bentuk kotorannya (kalau kotoran itu basah, setelah kotoran hilang keringkan pakaian dahulu agar najis tidak malah menyebar), kemudian baru kita bilas dengan air yang suci serta mensucikan.

Harus diakui, kenyataan yang terjadi di masyarakat saat ini banyak dari ibu atau pembantu rumah tangga, atau bahkan pegawai laundry, mengesampingkan hal ini. Dan disayangkan pula, banyak kepala rumah tangga yang tidak mencoba mengetahui bagaimana orang rumah membersihkan pakaiannya. Itu juga kalau tidak dibersihkan sendiri.

Mengenai hal ini, setidaknya beberapa tips dan trik bisa dilakukan. Pertama, pisahkan pakaian yang hanya kotor dan pakaian yang selain kotor juga terkena najis. Kedua, saat mencuci pakaian, upayakan tidak mencampur semua pakaian dalam satu bak (kecuali sudah dalam keadaan suci). Ketiga, meskipun akan sedikit boros air, upayakan tetap mengalirkan air ke pakaian demi kesuciannya (kalau air benar-benar terbatas, taruhlah bak di bawah pakaian guna menampung air bekas bilasan. Air bekas ini bisa digunakan untuk kebutuhan lain, misalnya membasuh perabotan rumah tangga). Keempat, jika Anda menggunakan mesin cuci, usahakan pakaian yang masuk ke dalamnya sudah dalam keadaan suci.

Mudah-mudahan paparan singkat ini memahamkan dan apa itu mencuci dan bagaimana itu me-suci-kan pakaian kiranya pembaca dapat membedakannya. /-

Masa Orientasi Santri Baru

LirboyoNet, Kediri – Kemarin siang, Senin (28/09) seluruh siswa kelas IV Ibtida’iyyah Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) berkumpul di Aula Al-Muktamar Lirboyo. Aula ini merupakan ruangan terbesar yang dimiliki Pesantren Lirboyo yang berdiri megah di bagian barat pesantren. Selain untuk rutinitas para santri, gedung ini juga disewakan kepada umum (dengan catatan acara yang digelar harus memenuhi syarat dan ketentuan). Meski lokasi gedung terbilang jauh dari asrama para santri, siang itu mereka rela berduyun-duyun ke barat demi melaksanakan agenda ta’arruf bersama para dewan mustahiq (wali kelas).

Jumlah siswa kelas IV Ibtida’iyyah sendiri tahun ini mencapai angka 1.610 siswa, terbanyak dibanding siswa kelas lain. Jumlah sebanyak itu terbagi atas delapan bagian (A-H), yang menempati total 24 lokal kelas.

Acara yang bisa dikatakan sebagai masa orientasi sekolah tersebut, sebenarnya diikuti pula oleh beberapa siswa yang berangkat dari kelas di bawahnya, entah kelas III Ibtida’iyyah maupun Tingkat Idadiyah (Kelas Persiapan). Dalam acara tersebut, mereka dikasih kejelasan tentang sistem pembelajaran di Ponpes Lirboyo. Meskipun toh acara semacam ini sudah digelar pada Syawal kemarin, pihak MHM merasa perlu menggelarnya kembali karena banyak juga para santri yang datang setelah acara ta’aruf pada bulan syawal digelar.

Siang itu mereka yang masih dalam taraf mencoba beradaptasi dengan lingkungan pendidikan baru, dikenalkan dan diberi pengarahan bahwa Pondok Pesantren Lirboyo sangat menekankan pendidikan yang berdasar pada akhlaqul karimah, etika yang baik. Karena para masyayikh memandang bahwa kemampuan beretika yang paripurnalah bekal terbaik untuk berkehidupan nan harmonis di masyarakat kelak.

Apalagi, prilaku sosial bangsa Indonesia saat ini berada pada level yang mengkhawatirkan. Keresahan para tokoh bangsa atas fenomena kemerosotan moral ini bertebaran di berbagai media. “Akhlak adalah modal utama yang harus ditularkan oleh santri-santri Lirboyo pada masyarakat sekitarnya. Kita sabarkan hati kita untuk tetap berjihad dalam menyempurnakan akhlak, yang sudah dikawal oleh Rasulullah SAW, sejak dahulu,” tegas Saiful Mujab, salah seorang pengajar siswa kelas IV Ibtida’iyyah kepada para siswa.][

Pemenjaraan Nafsu

Oleh: Radhi Radliyuddin

Perilaku kehidupan dari segala macam bentuk anarkisme, seks, kriminal, dan lain sebagainya adalah wujud konkret yang serta merta bisa menghancurkan nilai-nilai etis manusia. Keadaan yang kian bergerak ke arah “Penghancuran diri sendiri” semakin jelas. Tindakan-tindakan manusia menjadi sebuah menu wajib informasi setiap hari. Di lain hal, perilaku alam yang semakin lincah terus memporakporandakan tempat kehidupan manusia, bencana merajalela tanpa mengenal siapa dan kepada siapa.

Kejadian semacam itu, memang tidak bisa dipungkiri lagi oleh siapa pun. Namun bagaimanapun fakta normatif selalu ada. Bahwa manusia adalah makhluk Allah Swt. yang butuh pembuktian. Siklus waktu telah mengundang dan mengajak kita pada perwujudan bagaimana wahana spiritual paling berharga bagi setiap muslim dapat melakukan pembongkaran atas penjara-penjara nafsu yang mengungkung dirinya menuju manusia yang tercerahkan dalam kesejatian diri untuk mengalahkan dominasi nafsu keduniaan yang secara representatif (gambaran) dilambangkan dalam aktivitas sehari-hari, semisal makan, minum, melihat, ucapan, dan pemenuhan nafsu biologis, adalah merupakan suatu proses jihad yang akbar.

Perjuangan besar muslim untuk bertempur melawan nafsu yang bercokol dalam dirinya akan terus tercampuri oleh sikap normatif (umum) yang dapat digambarkan pada seekor kuda. Jangan terlalu dikekang, jangan pula dilepaskan. Nafsu hanya perlu dikendalikan dengan dorongan keimanan yang kuat. Dengan begitu akan lebih leluasa untuk melatih kembali ‘kuda’ nafsu kita, sehingga bergerak harmonis sesuai dengan qudrah- iradah Allah SWT.

Kini, ketika dunia keislaman tercabik-cabik oleh mega proyek rehumanisasi (ketidak harmonisan) global, terlebih lagi dalam beberapa kasus yang belum lama ini terjadi, seluruh umat Islam telah menjadi korbannya. Langsung atau tidak langsung telah terjadi skenario atau rekayasa global penjerumusan umat muslim dari moral keimanan.

Menyikapi kedaan demikian itu, selayaknya umat Islam dapat menjadikan insitusi kepekaannya, sebagai upaya melakukan rehumanisasi kehidupan dari hiruk pikuk modernitas. Yakni, bagaimana mengembahkan jati diri manusia modern menuju watak dasar dirinya (fitrah) sebagai insan kamil, insan yang mengenali kesejahteraan dirinya tanpa terpancing dari penyudutan rumor yang ada. Mengenali Tuhan yangmenciptakannya, memahami semesta alam tempat dirinya bergumul dalam tata kehidupannya merupakan pemecahan jalan terbaik.

Entrypoint melakukan rehumanisasi inilah bisa dimulai dari diri seorang muslim, baik secara individual ataupun kolektif. Sehingga terjadi proses transformasi (kemurnian), dalam berbagai dimensi kehidupan, sebagai upaya untuk melakukan harmoni kemanusiaan. Maka dengan sendirinya pemenuhan nafsu dapat terkendali.

Tidakm munutup kemungkinan pemaknaan dan pengekangan nafsu dalam proses rehumanisasi ini akan terwujud ketakwaan yang harmoni terhadap manusia. Dengan begitu, bisa dijadikan wahana bagi usaha membangun solidaritas kemanusiaan yang harmoni dan damai tanpa ada sekat-sekat yang dapat meruntuhkan persaudaraan serta hubungan seorang insan dihadapan Tuhannya.

Manusia adalah makhluk Allah SWT. yang paling mulia, juga sarat kontradiksi dalam dirinya, ketimbang makhluk Allah yang lain. Sebab, dalam diri seorang manusia terdapat dua ‘kutub’ yang saling berlawanan, yakni ‘kutub’ suci dan ‘kutub’ kehinaan. Alquran menunjuk dua ‘kutub’ itu dalam potensi ‘futur’ yang cenderung pada kejahatan, atau potensi takwa yang cenderung pada kebaikan dan kesucian (QS. As Syams: 7-8)

‘Kutub’ kesucian secara historis dilambangkan oleh kehadiran Habil, putra Adam yang kemudian menjadi korban ‘kutub’ kehinaan yang dilambangkan oleh saudaranya, Qabil dan generasi Qabil lainnya. Sedangkan pada ‘kutub’ kehinaan, manusia secara destruktif memiliki naluri untuk menumpahkan darah, permusuhan, dan anarkisme.

Nafsu merebut, memburu, merampas, serta membunuh. Belakangan ternyata bukan sekedar usaha bertahan dan menjadi pemenang dalam persaingan hidup dari semua kepuasan dirinya, sehingga manusia tidak akan pernah berhenti saling berebut sampai ajal memisahkan dirinya. (QS. At-Takasur i 1-2)

Karena itu, manusia berada di antara empat penjara yang mengungkung dirinya, yakni alam, sejarah, masyarakat, dan egonya. Dan perjuangan melawan ego inilah yang paling berat dalam perjuangan seorang anak manusia. Manusia memiliki kemampuan untuk membebaskan diri dari kungkungan alam, sejarah, dan masyarakat. Namun, acap kali gagal dalam menaklukan dirinya sendiri. Akibatnya, timbul malapetaka kemanusiaan, di mana manusia modern sebagai generasi selanjutnya kini berada dalam situasi penindasan, pemusnahan, dan menjadi korban tangannya sendiri. Sebaliknya, kemampuan untuk memerangi egonya, yang berarti mampu meredam potensi kesucian yang terpendam dalam dirinya, dia adalah manusia dalam wujud sebagai insan.

Sedangkan secara ekstrinsik (keunsuran), harmoni manusia dapat diaktualisasikan oleh muslim yang mampu mengendalikan hawa nafsu dalam wujud keshalihan sosial dari hubungan kemasyarakatan di berbagai aspek kehidupan. Sikap toleran, welas-asih, empati, senasib sepenanggungan, pemaaf, suka damai, dan adil, merupakan wujud dari makna fungsional pengekangan nafsu dalam kehidupan bermuamalah (sosialisasi).

Maka hubungan sosial yang kebablasan itu, telah masuk dalam koridor pengadatan sikap dalam diri seorang manusia dan tidak menutup kemungkinan kebejatan moral akan terpampang, sehingga tidak akan ada pengendali yang bisa mengerem laju keinginan diantar manusia.

Jika pemenjaran nafsu ini menjadi sebuah suplemen hidup seorang manusia, maka dalam diri seorang insan benar-benar telah terpancar media vertikal antara sang abid & Sang Khaliq, Allah SWT. melalui pembuktian perubahan hidup.[

Salatnya Laki-laki yang Lututnya Terbuka

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Saya punya beberapa permasalahan tentang aurat dalam salat, baik bagi pria maupun wanita.
1. Adakah perbedaan definisi wajah wanita saat wudhu dan salat?
2. Bagaimana salatnya laki-laki yang terlihat bagian atas lututnya dari belakang saat sujud?
Sekian pertanyaan saya, semoga berkenan dijawab dengan tuntas.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Rohim

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Admin – Pak Rahim yang semoga saja dimuliakan Allah. Kalau kita melihat dalil yang mewajibkan membasuh wajah di dalam wudlu yang disebutkan Allah Swt. dalam firman-Nya di QS. Al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْن

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki…”

Di sana tidak dijelaskan batas wajah yang harus dibasuh, hanya umum yang berarti semua wajah. Demikian pula dalam hal salat yang disebutkan dalam hadis riwayat Hakim dan menetapi syaratnya Sahih Muslim dan disahihkan Ibnu Humaizah.

 قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَسْمَاءُ إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ . رواه الحاكم وقالا أنه على شرط مسلم ورواه أيضا الخمسة وصححه ابن خزيمة عن عائشة

“Wahai Asma’, sesungguhnya ketika perempuan itu sedang mengalami menstruasi, tidak patut melihat dirinya kecuali ini dan ini (dan Nabi memberi isyarat ke wajah dan telapak tangan)”

Hadis tersebut pun tidak memberi batasan wajah. Hanya memerintahkan menutup semua kepala. Dan dalam konteks ushul fiqh ditegaskan, manakala ada lafad syari’at yang masih mujmal (umum), maka harus diartikan dengan makna syari’at itu pula. Sebagaimana salat yang disebutkan dalam firman Allah:
أَقِيمُوا الصَّلَاةَmaka haruslah diartikan dengan makna syara’, yaitu sebagaimana hadis صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Jika syara’ tidak menyebutkan, maka harus diartikan menurut bahasa, sebagaimana لا ريب diartikan dengan لا شكّ.

Tetapi apabila syara’ tidak menyebutkan, dari bahasa juga tidak pernah memberi batasan makna, maka harus diartikan dengan makna urfy (makna yang patut menurut penilaian orang-orang yang sempurna akalnya), sebagaimana pernyataan bahwa imam dan makmum harus dekat, dengan arti satu tempat. Syara’ tidak memberi batas berapa meter pengertian jauh dekat. Demikian pula bahasa, maka dikembalikan pada umumnya kepantasan jarak disebut dengan dekat atau jauh, sesuai dengan keputusan yang ditetapkan orang yang mempunyai akal yang sampurna.

Mengingat arti wajah baik di dalam wudlu atau salat dan lain-lainnya tidak pernah tersentuh oleh batasan syara’, maka kita kembalikan dengan batasan bahasa, yaitu dari sisi panjang antara tempat tumbuhnya rambut kepala yang wajar dengan tulang rahang, lebarnya antara telinga satu dengan lainnya. Tanpa membedakan antara wajah yang ada pada wudlu dan salat. Hanya saja, di dalam basuhan wudlu harus membasuh sebagian kepala yang menjadi kesempurnaan basuhan wajah. Sedangkan menutup kepala harus menutup sebagian wajah yang menj adi penyempurna tertutupnya kepala.

Untuk permasalahan terlihatnya kaki seorang laki-laki di atas lutut karena sedang sujud, menurut pendapat yang dapat dipertanggungjawabkan, itu tidak membahayakan. Karena hal tersebut dianggap terlihat dari bawah, walau realitanya dari belakang. Yang dikehendaki dari bawah adalah bawah yang menjadi batas akhir aurat. Dan sebaliknya, walau terlihat dari bawah, namun bukan dari batas akhir aurat, seperti ketika seorang perempuan memakai rukuh potong kemudian terlihat dari sela-sela potongan dari arah bawah, tetap tidak sah karena dihukumi dari samping. Sebagaimana yang diterangkan dalam Bughyatul Mustarsyidin, Fiqh Islam, dan Bajuri.

Tambahan Libur Lebaran

LirboyoNet, Kediri – Seperti halnya kita ketahui, pemerintah akhirnya menetapkan hari ini, Kamis, 24 September 2015 sebagai Hari Raya Idul Adha 1436 H. Dan berdasarkan Surat Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2014 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, hari ini ditetapkan sebagai libur nasional.

Dengan adanya dua versi Hari Raya Idul Adha tahun ini, membuat sebagian pegawai negeri libur ganda. Karena sehari sebelumnya, mereka bisa mengajukan izin absen.

Di Pondok Pesantren Lirboyo sendiri, seperti tahun-tahun sebelumnya, Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) hanya menetapkan libur aktivitas belajar (jam wajib sekolah dan diskusi para santri) selama sehari, hanya malam dan siangnya lebaran. Jadi andaikan lebaran itu hari Rabu, Rabu malamnya para santri sudah harus masuk sekolah.

Begitulah. Kalau diluar pesantren pegawai bisa cuti, Idul Adha kali ini para santripun bisa lebih lama menikmati suasana lebaran. Karena kebetulan lebaran hari Kamis, yang otomatis Kamis malam dan hari Jum’at MHM juga meliburkan aktivitas wajibnya. “Iya nih Kang. Assik pokoe. Lumayan bisa santai sehari lagi. Hehe…,” kata salah seorang santri yang kebetulan Admin temui di dapur umum pesantren. /-

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah