Muhafadlah

Muhafadlah, adalah sebuah metode sederhana yang dikembangkan oleh Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, untuk memudahkan para siswa dalam menghafalkan bait-bait (Nadzom) pelajaran, sehingga para siswa akan lebih mudah memahami, karena sudah dilandasi dengan hafalan yang kuat.
Metode klasik ini, sebetulnya sudah ada pada zaman keemasan Islam, yakni sekitar abad 15 Hijriyah, dimana para pelajar Islam tengah menempuh pendidikan di daerah Kuffah dan Basroh, Irak. Metode muhafadlah adalah membaca nadzam pelajaran secara bersama-sama, dengan diiringi nada yang sesuai, sehingga menghafalkan akan terasa lebih mudah.

Saat ini Metode Muhafadlah sudah dikembangkan dengan baik oleh Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Lirboyo, mulai muhafadlah Mingguan hingga Muhafadlah Akhirussanah yang dilaksanakan setahun sekali, sekaligus sebagai persyaratan mengikuti ujian.

Dalam Muhafadlah Mingguan, setiap tingkatan wajib mengikuti kegiatan tersebut, bahkan dibuatkan absen khusus Muhafadlah, sehingga perkembangan prestasi hafalan santri akan lebih mudah dipantau, Sedangkan muhafadlah akhirussanah, penataan manajemen dan persiapannya dilaksanakan lebih maksimal, karena selain sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian, Muhafadlah Akhirussanah adalah barometer untuk mengukur prosentase prestasi kelas secara umum.

Bedug Tua Bertakbir: Dug, Dug, Dug

Beribu tahun yang lalu, di malam yang sama, Nabi Ibrahim mengalami keguncangan psikis nan hebat. Mimpi yang datang tiga kali itu tidak bisa dielak kebenarannya. Mesti dilaksanakan dengan segera. Mungkin sedikit kelegaan hadir ketika Ismail, putranya, dengan lantang menjawab, “ya abati if’al ma tu’maru (wahai bapak, lakukan apapun yang telah diperintahkan kepadamu)”.

Santri pondok Unit Al-Baqarah merayakan Idul Adha dengan merangkai lampion.
Santri pondok Unit Al-Baqarah merayakan Idul Adha dengan merangkai lampion.

Agaknya, keresahan yang serupa -namun dalam porsi yang jauh lebih rendah- dirasakan oleh sebagian santri Lirboyo. Terutama bagi mereka yang belum genap tiga bulan menghela udara pesantren.

Sebenarnya, banyak alasan untuk meredam kerinduan akan rumah. Masing-masing blok maupun kamar memiliki acara tersendiri. Ada dari mereka yang memilih duduk melingkar sejenak di dalam kamar, melantunkan takbir bersama-sama. Atau sekadar membeli nasi goreng beberapa bungkus untuk mereka fatihahi sejenak, lalu tanpa ampun menghabiskannya hingga butir nasi terakhir.

Di Pondok Unit HMC, telah menjadi rutinitas wajib ketika merayakan malam Idul Adha,

Perayaan malam Idul Adha oleh Jamiyyah Khidmatul Ma'had santri HM Al Mahrusiyah
Perayaan malam Idul Adha oleh Jamiyyah Khidmatul Ma’had santri HM Al Mahrusiyah

dengan menyelenggarakan kontes adu keberanian bermain dengan api. Atraksi yang menjadi salah satu yang ditunggu adalah permainan tongkat yang kedua ujungnya ‘dibungkus’ kobaran api. Tidak hanya satu dua santri yang tertantang untuk ikut uji nyali. “Kita kan juga umat Nabi Ibrahim. Masa takut sama api,” cetus salah satu peserta. Dari tahun ke tahun, memang selalu saja ada yang cedera. Entah keseleo saat salah memposisikan lengan ketika memutar tongkat, atau sekedar bulu kaki yang rontok dibelai jilatan api. Tapi itu jauh dari cukup untuk memberi mereka alasan agar tidak melakukan kembali. Mereka yang tidak sempat berpartisipasi dalam atraksi, lebih memuaskan hasratnya untuk sama-sama bersenang-senang di malam hari raya dengan masak bareng. “Ini satu pondok masak bareng semua. Total ada 34 kamar. Jadi ada 34 tungku yang menyala di sini,” tutur Syarif, salah satu santri Unit HM.

Santri sedang menikmati malam Idul Adha di serambi Masjid Agung Pondok Pesantren Lirboyo
Santri sedang menikmati malam Idul Adha di serambi Masjid Agung Pondok Pesantren Lirboyo

Di tempat yang lebih ke timur,  yakni Pondok Unit Al-Baqoroh (asuhan KH. Hasan Syukri Zamzami Mahrus) ada sekumpulan santri yang tak bergemuruh seperti di tempat lain. Mereka lebih memilih merayakannya dengan sedikit sentuhan kreasi, yakni menghias taman kecil mereka dengan lampion-lampion kecil. Lampion itu mereka buat sederhana sekali, cukup dengan menangkupkan kertas bekas mengelilingi lilin yang terlebih dahulu dipasang di garis-garis taman. Indah memang tak harus mahal, bukan?

Ada ironi yang terjadi malam ini di Pondok Unit HM Al-Mahrusiyah. Musholla yang di sana tersedia microphone tiga, dan beberapa alat tabuh, kalah peminat dengan Takbir Bareng JKM (Jam’iyyah Khidmatul Ma’had), yang diselenggarakan di sebelah utara musholla. Tentu saja. Di sana tersaji atraksi mirip yang dilakukan santri Pondok Unit HMC. Mulai memutar-mutar tongkat api, hingga menyemburkan minyak pada obor, sehingga memaksa minat santri beralih ke sana dengan pandangan penuh takjub.

Lalu apa yang terjadi di Masjid Agung Lirboyo?

Takbir berkumandang dari Masjid Lawang Songo. Dilantunkan oleh para muadzin Pondok Pesantren Lirboyo.
Takbir berkumandang dari Masjid Lawang Songo. Dilantunkan oleh para muadzin Pondok Pesantren Lirboyo.

Karena para santri lebih memilih mengisi malam takbiran di kamar masing-masing, jadilah Masjid Lawang Songo sepenuhnya menjadi milik para muadzin. Dipimpin oleh koordinator mereka, Agus Haris Fahad, takbir demi takbir mereka melantingkan sejak selepas jama’ah salat Isya. ditemani tabuhan bedug tua yang bertalu-talu, khidmat benar takbir yang mereka kumandangkan. Adapun bedug tua itu, untuk malam ini saja, terpaksa harus memenuhi hajat para penabuh asing. banyak dari para penabuh itu masih berusia 10 tahun-an. toh bedug tua yang bagian bawahnya pernah ditempeli pengumuman oleh pendiri pesantren itu tak mengeluh. Justru ia ikut bersenandung mengikuti tempo kayu mereka pukulkan, yah, walau cuma berbunyi “dug, dug, dug.”][

 

Tiga Macam Panggilan Haji

Saat memberikan ijazahan santri tamatan, almaghfurlah KH. Imam Yahya Mahrus dawuh dengan gaya khasnya, “Panggilan haji itu ada tiga. Pertama, yang paling mandi atau paling ampuh, ini adalah panggilannya Nabi Ibrahim. Berangkat haji, kemudian pulang dengan haji mabrur. Ada lagi haji panggilan iblis. Begitu haji, pulang, tambah remuk. Yang sebelumnya jarang salat, malah gak pernah salat. Mesti mardud itu. Nah, yang paling enak itu haji panggilan Izroil. Begitu haji, gak pulang, meninggal nang mekah”.

Bacaan Bilal dalam Shalat Idul Adha

Di belahan bumi bagian manapun, bisa mengikuti ibadah salat hari raya sangatlah membahagiakan bagi seorang muslim. Ibadah tersebut seakan menyempurnakan rentetan ibadah-ibadah sebelumnya. Kalau dalam suasana Idul Adha, berarti menyempurnakan ibadah puasa sepuluh hari atau hanya dua harinya saja (puasa Tarwiyah dan Arafah).

Hukum mengerjakan salat Idul Adha adalah sunnah muakkad, baik bagi laki-laki maupun perempuan. Salat Idul Adha sendiri boleh dikerjakan dengan berjamaah dan bisa juga dikerjakan sendirian. Untuk orang yang tidak sedang melakukan ibadah haji lebih baik mengerjakan salat Idul Adha berjamaah, sedang bagi mereka yang sedang berhaji sebaiknya melakukan salat Idul Adha sendiri-sendiri.

Waktu mengerjakan salat Idul Adha dimulai sejak terbitnya matahari pada tanggal 10 Dzulhijjah sampai dengan masuknya waktu Dzuhur hari tersebut. Dan sebelum kita berangkat salat ied, kita disunnahkan mandi dengan niat: نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِعِيْدِ اْلأَضْحَى سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Bahasa Indonesianya: Nawaitul ghusla li’idil adha sunnatan lillahi ta’ala. Yang artinya, Saya berniat melakukan sunnahnya mandi untuk salat Idul Adha ikhlas karena Allah ta’ala. Setelah itu, kita juga disunnahkan berhias dengan pakaian yang bagus (lebih afdhal warna putih) dan memakai wewangian. Pada pagi hari sebelum salah Idul Adha, tidak ada kesunnahan makan. Kita disunnahkan makan setelah menunaikan salat.

Bagi bilal yang bertugas, sebelum salat Idul Adha dimulai, tidak disunnahkan mengumandangkan adzan dan iqamat. Tetapi disunnahkan mengumandangkan kalimat

أَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ atau  الصَّلاَةَ سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ جَامِعَةً رَحِمَكُمُ اللهُ

Untuk kalimat niatnya makmum salat Idul Adha adalah:

أُصَلِّي سُنَّةً لِعِيْدِ الْأَضْحَى رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِهَِاْ تَعَالَى

Bahasa Indonesianya: Ushalli sunnatan li’idil adha rok’ataini makmuman lillahi ta’ala. Yang artinya: Saya berniat menjadi makmum salat sunnah Idul Adha dua rakaat ikhlas karena Allah ta’ala.

Sedangkan tata cara salat Idul Adha 2 (dua) rokaat adalah rokaat pertama diawali dengan takbirotul ihrom ditambah 7 (tujuh) kali takbir. Sedangkan rakaat kedua sebanyak 5 (lima) kali takbir. Setiap setelah takbir tersebut, baik dalam rakaat pertama atau kedua disunnahkan membaca tasbih:

سُبْحَانَ اللَّهِِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِِ وَلَا إلَهَ إلَّااللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ

Bahasa Indonesianya: Subhanallah walhamdulillah walailaha illallah wallahu akbar.
Artinya: Mahasuci Allah dan segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah dan Allah Mahabesar.

Seusai salam, bilal melakukan tugasnya. Dia berdiri menghadap jamaah, lantas mengucapkan kalimat :

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ وَزُمْرَةَ الْمُؤْمِنِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، إِعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هٰذَا يَوْمُ عِيْدِ الْأَضْحَى وَيَوْمُ السُّرُوْرِ وَيَوْمُ الْمَغْفُوْرِ، أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيْهِ الطَّعَامَ، وَحَرَّمَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامَ، إِذَا صَعِدَ الْخَطِيْبُ عَلَى الْمِنْبَرِ أَنْصِتُوْا أَثَابَكُمُ اللهُ، وَاسْمَعُوْا أَجَارَكُمُ اللهُ، وَأَطِيْعُوْا رَحِمَكُمُ الله

Setelah bilal selesai membaca, imam naik ke mimbar lantas mengucapkan salam. Setelah imam salam, bilal berbalik menghadap kiblat kemudian membaca shalawat dan doa sebagai berikut :

اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَاناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ … اللهم قَوِّ الْإِسْلَامَ وَالْإِيْمَانَ، مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، وَانْصُرْهُمْ عَلَى مُعَانِدِ الدِّيْنِ، رَبِّ إخْتِمْ لَنَا مِنْكَ بِالْخَيْرِ، وَيَا خَيْرَ النَّاصِرِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 

Setelah khutbah selesai, ada baiknya semua jamaah tidak beranjak dahulu. Akan lebih baik jika seluruh jamaah melakukan musfofahah/ saling bersalaman dengan membuat formasi yang rapi (tidak berjubel) sambil sama-sama mengumandangkan shalawat. Dan selama tiga hari setelahnya (sampai selepas salat Ashar di tanggal 13 Dzulhijjah), ada kesunnahan membaca takbir sehabis salat lima waktu ataupun sehabis melakukan salat sunnah./-

Hukum Adegannya Aktor

Dalam tayangan sinetron, sering terjadi adegan pegang-pegangan, peluk-pelukan antara artis laki-laki dan perempuan yang bukan mukhrim. Dan bahkan juga ada adat nikah di dalam sinetron. Pertanyaan saya :
1. Bagaimanakah hukumnya adegan peluk-pelukan di dalam sinetron?
2. Apakah hukum akad nikah dalam sinetron tetap sah atau batal?
3. Apakah akad nikah dalam sinetron mempermainkan agama Islam?

Ibnu Abdul Aziz

Admin – Bapak Ibnu yang mudah-mudahan dirahmati Allah, terima kasih atas kunjungan dan kesediaanya bersama Kami kita belajar bersama. Dan sebelum menjawab pertanyaan Anda, Kami kira akan lebih mengena jika kita menyinggung tentang hiburan keluarga.

Berbicara tentang hiburan yang dinikmati keluarga kita, dalam hal ini televisi, tentu saja dewasa ini kita harus lebih berhati-hati. Karena harus diakui, prosentase tayangan yang mendidik dan tidak sangatlah berbanding terbalik, terlebih sinetron. Meskipun tidak semuanya, kenyataannya kebanyakan sinetron (setahu Kami) menampilkan adegan yang jauh dari realita. Jangankan soal tayangan mendekati realita, hal yang positif saja kebanyakan ditampilkan kurang sesuai. Misalnya karakter yang suka membaca atau kutu buku. Coba Anda perhatikan, karakter ini antara diperankan oleh tokoh yang berpenampilan “keren” dibandingkan dengan yang digambarkan culun lebih banyak mana? Padahal, bukankah membaca itu positif, tapi kenapa karakternya culun?

Begitulah kenyataannya tayangan televisi kita. Sebuah hiburan yang semestinya mampu meninggalkan hal-hal positif pada memori penonton, yang terjadi malah sebaliknya. Maka di sini, peran kepala keluarga sangatlah vital. Karena biar bagaimanapun, meskipun kepala keluarga punya tanggungjawab agar seluruh keluarganya berada pada rel yang benar, dia juga dituntut bisa membahagiakan/ memberikan hiburan pada keluarganya. Jika memang soal hiburan kepala keluarga baru bisa mampu memberikan tontonan televisi pada keluarganya, ada baiknya ketika ada pertemuan keluarga disampaikan agar mereka hendaklah lebih bisa memilih acara yang ditonton dan lebih bijak menyikapinya.

Kembali pada pertanyaan Anda. Terkait soal peluk-pelukan, kiranya harap kita terima dengan bijak bahwa soal percampuran laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, agama sangat keras melarang. Jangankan sampai peluk-pelukan, untuk saling melihat wajah tanpa ada sebuah hajat saja, mayoritas ulama Syafi’iyah menghukumi haram baik menimbulkan birahi ataupun tidak. Namun begitu menurut sebagian ulama Hanafiyah, diperbolehkan dengan catatan tidak menimbulkan birahi. Dan kiranya memang pendapat inilah yang cocok dengan negara kita. Karena memang tatap muka antar lawan jenis di negara ini bisa dipastikan tidak bisa dihindarkan. Kalau nanti sudah ada angkutan umum khusus perempuan dan laki-laki, pasar yang berbeda untuk masing-masing jenis kelamin, atau juga ruang sekolah yang dibedakan antara siswa dan siswi, mungkin akan lain ceritanya.

Maka menjawab pertanyaan Anda, jika kedua aktor yang berpelukan itu bukan mahrom, kemudian wali yang berperan dalam adegan akad nikah bukan wali asli pengantin wanitanya (tidak sesuai dengan syarat dan rukun nikah), maka jelas pelukan itu haram dan tentu akad nikahnya tidak sah. Tentang apakah adegan akad nikah mempermainkan agama, Kami kira tentu harus diperjelas detail adegan yang dipertontonkan itu seperti apa.

Kiranya demikian, semoga membantu dan harap maklum adanya. Untuk referensi bisa dijumpai dalam Fathal Muin Juz 3, Faidul Qodir Juz 5, Al-Mausuatu Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyah Juz 31, Addarul Mukhtar (syarah Tanwirul Abshar) Juz 1, dll.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah