Pembukaan Diklat Aswaja

LirboyoNet, Kediri –  Kamis (5/09/2013), acara bulanan yang sejak setahun lalu menjadi agenda rutin Lembaga Ittihadul Muballighin, Diklat Kader Dai ASWAJA. Kantor Al Muktamar atas serambi keramik penuh sesak oleh para calon juru dakwah yang hendak diterjunkan oleh LIM pada Ramadhan tahun depan.

Diklat yang diasuh oleh Dr. Buya Yahya Maarif dari Pesantren Al Bahjah Cirebon ini memang selalu ramai peminat. Karena di sini para santri bukan lagi diajar mata pelajaran seperti di kelas. Melainkan teori bagaimana menyajikan materi yang telah didapat selama mondok di depan masyarakat kelak. Karena bagaimanapun juga ilmu yang telah kita dapat menuntut untuk disebarluaskan kepada yang membutuhkan, terutama masyarakat sekitar kita.

Hal ini senada dengan dawuh KH. Mahrus Aly dalam Ramah Tamah Purna Siswa tahun 1984, “Santri-santri kabeh nek muleh gak ngembangne ilmune, uripe ora barokah”.

 

Silaturrahim ke Pondok Cabang Lirboyo

LirboyoNet, Kediri – Pondok Pesantren Lirboyo mengembangkan sayapnya hingga mempunyai pondok cabang yang cukup pesat perkembangannya. Hari Kamis (12/09/13) Dewan Harian Pondok induk melaksanakan silaturrohim ke Pondok Cabang. Silaturrohim  ini merupakan agenda tahunan yang tujuannya untuk mengetahui perkembangan Pondok Cabang.

Pondok Cabang Pagung Kediri

Pondok Cabang Pagung terletak dikawasn pegunungan, suasana yang tenang nan sejuk menyelimuti kawasan pondok, sawah dan perkebunan berjejer sepanjang jalan. Rombongan tiba Pukul 12.00 WIB disambut langsung oleh sang pengasuh K. M. Salim Thobroni. Beliau almuni Lirboyo era 90an, Berasal dari Tarokan Kediri.

Bapak HM. Mukhlas Noer selaku pimpinan rombongan mengawali perbincangan kami, beliau menyampaikan maksud silaturrohim ke pondok ini. Kiaipun bercerita peristiwa dan perkembangan yang terjadi di Pondok Pagung. Alhamdulillah untuk tahun sekarang santri lebih meningkat baik putra maupun putri, tutur beliau. Beliau menambahkan, kegiatan baik madrasah maupun rutinan dengan masyarakat mendapatkan sambutan yang  baik dan antusias  yang cukup besar sehingga keberadaaanya dapat membantu masyarakat khususnya dibidang keagamaan.

Tak terasa hampir satu jam perbincangan dengan K. Salim, kamipun pamit untuk melanjutkan perjalanan menuju Jombang, sebeum mengakhiri perbincangan beliau berpesan khidmah di Pondok harus dilakukan dengan rasa ikhlas dan istiqomah. Perbincangananpun ditutup dengan doa oleh K. salim.

Sowan ke romo KH. M. Abdul Aziz Manshur

Perjalananpun dilanjutkan menuju PP. Roudlotun Nasyi-ien Pacul Gowang. Sampai disana ternyata kami tidak langsung menemui kyai Aziz , karena ada acara haul KH. Manshur Anwar yang tiada lain adalah  ayahanda beliau. Kamipun mengikuti prosesi acara haul hingga selesai. setelah itu, kami bisa bertemu dengan beliau dan selaku pimpinan rombongan bapak HM. Mukhlas Noer menyampaikan maksud dan tujuan, sebelum mengakhiri sowan kami, romo yai berpesan bahwa amanah para pengasuh yang diembankan harus dijalankan sebaik-baiknya dan beliau mengambil maqolah جدد السفينة فان البحر عميق  bahwa kita bekhidmah mampu memperbaharui tujuan dan rencana yang akan kita kerjakan, hal ini diumpamakan dalam maqolah tersebut seperti memperbaharui perahu yang akan mengarungi samudra luas.

[ads script=”1″ align=”center”]

PP. Cabang Turen Malang

Pukul 16.00 kami bertolak ke Malang, namun ditengah pejalanan ada kemacetan yang cukup lama sehingga perjalananpun mengalami kendala tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk bersilaturrohim ke pondok cabang yang berada di Turen, Malang.

Sekitar empat jam kami menempuh perjalanan yang cukup menarik, pasalnya menelusuri jalan yang berbelok dan naik turun. Disana kami disambut dengan ramah oleh sang pengasuh KH. Romadhon, setelah tamat studinya beliau berkhidmah di Pondok Lirboyo yang akhirnya mendapatkan tugas untuk mengurus Pondok Cabang.

Beliau memaparkan perkembangan pondok yang cukup signifikan, terbukti ada peningkatan santri yang belajar disitu, walaupun masih banyak yang masih sekolah di luar area pondok. Sekarang asrama santri semakin banyak ditambah dengan masjid sebagai penunjang belajar dan dakwah beliau. Di akhir pertemuan kami, kiai Romadhon berpesan dari pengalamanya ketika masih di Lirboyo bahwa ketika berkhidmah di pondok, harus dengan ikhlas dan istiqomah, karena sangat berat untuk dilakukan.

PP. Cabang Bakung Blitar

Waktu semakin larut malam, udarapun kian dingin tapi Perjalanan tetap dilanjutkan kebakung Blitar, sebelum bertolak ke Blitar, kami istirahat sejenak di rumah bapak HM. Mukhlas Noer. Sekitar jam 1.00 kami berangkat menuju blitar.

Perjalanan yang berliku-liku, pepohonan yang berderet disepanjang jalan dan udara yang dingin menemani perjalanan kami ke Bakung. Daerah ini terletak di pegunungan yang tergolong masih awam masyarakatnya. Setelah menempuh perjalanan yang panjang, akhirnya kami tiba dilokasi sekitar jam 03.30 keadaan masih gelap dan udara dingin merasuk dalam tubuh akhirnya kami istirahat untuk menunggu pagi.

Pukul 05.30 sang pengasuh K. M. Syakhson keluar dari rumah, kami langsung menghampiri beliau dan diajak kedalam, terjadilah percakapan yang seru, karena pondok ini berada di daerah yang masyarakatnya masih awam dalah hal agama, apa lagi ada yang mengatakan peninggalan pemikiran PKI masih ada. Kyai Syakhson menjelaskan perkembangan Pondok yang yang cukup pesat terutama santri yang ikut belajar walapun belum menetap, para orang tuapun antusias mengikuti kegiatan rutinan yang dilaksanakan di pondok seperti istighosah, maulidan dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan pondok ditengah-tengah masyarakat sudah diterima dan dibutuhkan. Hampir dua jam percakapan ini tak terasa dan selaku pimpinan rombongan HM. Mukhlas Noer mohon undur diri untuk pulang kepondok, sebelumnya kyai Syakson meminta doa untuk kelangsungan dan perkembangan Pondok Bakung dan beliau berpesan untuk ikhlash dalam berkhidmah.akhlish

Lawatan Sejarah Nasional

(lirboyo.net) Senin (09/13) Pondok Pesantren Lirboyo mendapatkan kunjungan kehormatan dari para pelajar perwakilan Propinsi Se-Indonesia dalam rangka Lawatan Sejarah Nasional yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudyaan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya.

Pukul 13.00 WIB rombongan tiba di Aula Muktamar dengan menggunakan empat armada mini bus dan langsung disambut oleh para Pimpinan Pondok Pesantren  Lirboyo. Acarapun dibuka dengan membaca surat al-Fatihah dengan harapan acara bisa berjalan lancar dan mendapatkan manfaat, kata pembawa acara.

Sambutan atas nama Pimpinan Pondok diwakili oleh HM. Mukhlas Noer, beliau menyampaikan ucapan terimakasih atas kunjungan kehormatan para Pelajar Se-Indonesia dalam rangka Lawatan Sejarah Nasional dan tak lupa menyampaikan mohon maaf atas segala kekurangan baik dalam penyambutan, tempat dan lain sebagainya mungkin tidak sesuai harapan dan kapasitas para peserta. Sambutan selanjutnya dari Ketua Rombongan yang diwakili oleh Dra. Amor Wanie M.Hum, beliau menjelaskan agenda lawatan ini diikuti oleh 177 Peserta dari pelajar  se-indonesia yang mewakili Propinsinya masing-masing, hanya satu yang tidak ikut yaitu Propinsi Lampung dikarenakan ada tes disekolahnya sendiri . Mengakhiri sambutannya beliau mengucapkan terimaskasih atas segala bantuan para Pengurus Pondok Pesantren Libroyo yang telah menyiapkan semuanya dan beliau merasa kagum atas penyambutan rombongan dengan kekeluargaan kerena ini sedikit berbeda dengan tempat lainnya. Beliau juga menyampaikan minta maaf atas segala kesalahan para peserta.

Acarapun dilanjutkan dengan penyampain materi oleh KH. Anwar Iskandar yang merupakan alumni Pondok Pesantren Lirboyo. Materi mengambil tema tentang “Kontribusi agamawan dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI”. Beliau mengawali penjelasannya tentang peran Walisongo  menyebarkan agama Islam di Indonesia sampai perlawanan terhadap penjajah. Kontribusi dan peran Walisongo ini diteruskan oleh para ulama baik bidang pendidikan diantaranya melaui pondok pesantren atau di bidang lainnya. Harapan beliau, generasi muda bisa meneruskan perjuangan para pendahulu dan diridoi oleh Allah Swt. Acara ditutup dengan penyerahan cindera mata dari Pondok Pesantren Lirboyo maupun rombongan. (ais)

Niat Perlu Diucapkan atau Tidak?

Suatu ketika, partai Masyumi di Yogyakarta mengadakan perdebatan mengenai sikapnya terhadap pembentukan Kabinet-Hatta yang dalam salah satu programnya hendak melaksanakan persetujuan Renville. Timbul suara pro kontra di antara tokoh-tokoh terkemuka dalam partai Masyumi, apakah bersedia memenuhi ajakan Bung Hatta duduk dalam kabinet yang programnya antara lain melaksanakan suatu persetujuan yang ditentang mati-matian oleh partai ini.

Sebagian bersikap menolak duduk dalam kabinet yang sedang dibentuk oleh wakil presiden itu dengan alasan etika politik. Sebagian bersikap pro duduk dalam kabinet yang akan melaksanakan persetujuan Renville karena persetujuan tersebut merupakan persetujuan antara negara dengan negara.

Dalam kehangatan perdebatan itu, Kiai Wahab tampil dengan pendiriannya yang tegas ; Setuju duduk dalam kabinet yang sedang dibentuk Bung Hatta. Kiai Wahab kemudian menjelaskan, “Persetujuan Renville telah kita tentang karena kita pandang sebagai perkara munkar yang merendahkan martabat kemerdekaan. Kita berkewajiban menurut agama melenyapkan tiap-tiap yang munkar dengan kekuatan maksimal. Kewajiban tersebut hanya bisa kita tunaikan jika kalau kita duduk dalam Kabinet Hatta. Kalau kita berada di luar kabinet, kita tidak bisa berbuat apa-apa, paling banter cuma gembar-gembor.” Demikian pendirian Kiai Wahab yang seketika mendapat dukungan mayoritas.

Salah seorang peserta mengusulkan,”Kalau begitu, siapa saja yang duduk nanti dalam kabinet Hatta harus berniat hendak melenyapkan pelaksanaan Pesetujuan Renville”. Semua setuju. KH. Raden Hajid dari pimpinan Muhammadiyah mengusulkan agar setiap calon menteri yang akan duduk dalam kabinet ini harus mempunyai niat bagaimana?

Kiai Wahab menjawab, “Niatnya, izalatul munkarat (melenyapkan yang munkar).”

“Kalau begitu, niatnya harus diucapkan.” usul salah satu kiai dari Muhammadiyah kala itu.

Dijawab oleh Kiai Wahab, “Mana dalil al quran atau hadisnya mengenai talaffudz bin niyyat (melafazkan niat)?”

Serentak hadirin tertawa riuh, karena dua tokoh ini mewakili dua aliran dalam Islam tentang dianjurkan atau tidaknya mengucapkan lafal niat (dengan mengucapkan ushalli) pada tiap sembahyang.

Sebagaimana diketahui, para pengikut Nahdlatul Ulama senantiasa melafalkan niat pada tiap sembahyang, sedang pengikut Muhammadiyah tidak. Tetapi dalam masalah Renville ini jadi lucu kedengarannya, karena golongan yang tidak membenarkan talaffudz dalam niat sembahyang serta merta menghendaki talaffudz dalam niat calon-calon menteri yang akan duduk dalam kabinet Hatta.

*Dikutip dari buku Mbah Wahab Hasbulloh Kiai Nasionalis Pendiri NU karya KH. Saifudin Zuhri.

Zuhud dan Modernitas

Sebuah keniscayaan bahwa setiap makhluk mengalami perubahan. Segala aspek dalam kehidupan akan berubah dan berkembang mengikuti arus zaman. Seiring dengan ini pula manusia sebagai kholifah yang bertugas imaratul ardli, tertuntut untuk mengikuti perubahan. Agar tak tereliminasi dari kancah pertarungan hidup.

Dewasa ini, era modern yang dikoar-koarkan sebagai bentuk peradaban maju justru memiliki “efek samping” yang begitu kompleks. Budaya, ekonomi, sosial serta agama tak luput dari pengaruh modernisasi tersebut. Kecenderungan masyarakat kini yang konsumerisme dan individualisme adalah dampak nyatanya.

Oleh KH. MA. Sahal Mahfudz, kondisi semacam ini, dipaparkannya sebagai akibat dari persaingan masalah-masalah sosial. Dan pelaku-pelaku sosial itu sendiri muncul sebagai efek lain dari modernitas zaman. Gesekan demi gesekan yang timbul dari berjalannya kepentingan masing-masing individu tanpa diimbangi dengan nilai spiritual akan meninggalkan keresahan-keresahan tersendiri. Pola-pola perilaku dan sikap hidup serta pandangan yang individualistik akan menempatkan manusia pada titik-titik jenuh kehidupan komunitas kolektif, sehingga pada gilirannya manusia justru acuh tak acuh terhadap lingkungannya sendiri.

Titik-titik jenuh yang dimaksudkan oleh Kiai Sahal ini, akan menimbulkan suatu konsekuensi yakni orang akan cenderung lari mencari “dunia lain” yang lebih menjanjikan kedamaian dan ketentraman. Dengan demikian, agama merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai tujuan tersebut.

Dalam konteks ini, Islam menawarkan konsep tasawuf sebagai alternatif dan langkah ideal untuk mengurangi permasalahan ini. Di antara konsepnya adalah sikap zuhud.

Zuhud sendiri oleh para ulama diartikan sebagai sikap meninggalkan ketergantungan atau keterikatan hati pada harta dunia (materi), meskipun tidak berarti antipati terhadapnya maupun tidak memiliki harta sama sekali.

[ads script=”1″ align=”center”]

Dengan penerapan sikap zuhud pada lini kehidupan akan menumbuhkan kepedulian sosial yang tinggi terhadap sesama makhluk. Karena zuhud akan mendorong seseorang untuk menjadi dermawan. Tak salah bila Imam Ghozali mengatakan, “ sifat kikir merupakan buah dari rasa cinta pada dunia sedang kedermawanan merupakan buah dari perilaku zuhud”.

Sikap semacam ini, tercermin dari perilaku Nabi Sulaiman as yang “rela” makan roti dan gandum. Meski demikian Nabi yang berjuluk Azhadiz Zaahidiin ini sering kali memberi makan pada seluruh penduduk bumi.

Pada kurun Nabi Muhammad saw sifat zuhud ini juga tampak pada para sahabat Nabi. Abdurrahman bin Auf salah satunya. Walaupun tergolong orang terkaya di Madinah namun dengan sifat zuhud yang dimilikinya, Abdurrahman bin Auf mampu mentasarufkan hartanya dengan bijak. Bahkan pada suatu kesempatan Abdurrahman bin Auf pernah membagikan seluruh muatan 700 kendaraan kepada semua penduduk Madinah dan sekitarnya, sekembalinya dari Syam.

Dari keteladanan Nabi Sulaiman as dan sahabat Abdurrahman bin Auf diatas, secara kontekstual dapat dipahami, bahwasanya kedermawanan yang begitu luar biasa itu adalah konsekuensi logis dari perwujudan sikap zuhud atau sikap tidak kumantil pada harta benda. Sehingga membuat zahid (orang yang zuhud) dengan suka rela memberikan harta bendanya kepada orang lain agar tercipta kesejahteran bagi masyarakat sekitarnya.

Tentang sikap zuhud dan kedermawanan ini, Syekh Abdul Qodir Jailani mengatakan, “semua harta benda (dunia) adalah batu ujian yang membuat banyak manusia gagal dan celaka, sehingga membuat mereka lupa kepada Allah. Kecuali jika pengumpulannya dengan motif yang baik untuk akhirat. Maka biia dalam pentasarufannya memiiki tujuan yang baik, harta dunia itupun akan menjadi harta akhirat (pahala)”.

Dengan demikian, tak berlebihan bila sikap zuhud akan bisa mengcounter back  pola hidup konsumerisme dan individualisme yang kian marak ditengah masyarakat modern. Lebih dari itu, akan pula mengurangi kecemburuan sosial oleh komunitas yang strata ekonominya lebih rendah kepada komunitas seatasnya sebagai imbas dari ketimpangan sosial.[]

Penulis, Satriatama

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah