Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah

PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah dirintis sejak tahun 1987 M. Lembaga pendidikan ini adalah penampung siswa, mahasiswa dan mahasiswi yang belajar dibawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Tribakti (YPIT). Pondok pesantren ini sendiri memiliki beberapa lembaga: PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putra/Putri, Madrasah Diniyah Al-Mahrusiyah, Madrasah Murottilil Qur’an Al-Mahrusiyah, Institut Agama Islam Tribakti (IAIT), Madrasah Aliyah HM Tribakti, Madrasah Tsanawiyah HM Tribakti, TK Kusuma Mulia Tribakti, koperasi Pondok Pesantren dan perpustakaan Pondok Pesantren.

Untuk PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putri, diresmikan pada tanggal 06 Januari 2001. Dan sekarang, pesantren unit Lirboyo ini berlokasi di tiga tempat. Satu bertempat di jalan KH. Abd. Karim No. 99 Lirboyo, dua berada di jalan Penanggungan No. 44B Lirboyo, dan tiga berada di daerah Ngampel, Kediri, beberapa kilometer arah utara Pondok Induk Lirboyo.

Tahun 1992 (1 Muharom 1413 H.) berdirilah Madrasah Diniyah (Madin di PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah Putra berdasarkan SK.PP.HMP.No.23/SK/PP HMP/VII/1992). Pendidikan yang dikembangkan memiliki beberapa jenjang : I’dadiyah 2 tahun, Tsanawiyah 3 tahun, dan Aliyah 3 tahun. Metode yang digunakan Madin yang tidak jauh beda dengan metode MHM, seperti Musyawarah, Muhafadloh, ataupun Lalaran. Madin PP. HM Putra Al-Mahrusiyyah digelar malam hari, karena pagi harinya para santri menuntut ilmu umum.

Dan pada tahun 2004, madrasah tsanawiyah Madinnya telah disamakan dengan tingkatan tsanawiyah lembaga umum, dan ijazahnya telah disahkan bisa untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di Negara lain, sepeti Yaman, Al Azhar, dan negara lainnya. Selain itu, untuk menunjang para santrinya, PP. HM Putra Al-Mahrusiyyah memiliki beragam sarana dan prasarana, mulai puluhan lokal belajar, lapangan basket, voly sampai lapangan tenis, yang ditunjang juga dengan berbagai kegiatan ekstra kurikuler. Diantaranya : Manaqib, Sab’ul Munjiyat, dan Bela Diri (Pagar Nusa), Wushu, Taekwondo).

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PP Lirboyo HM Al-Mahrusiyah bisa didownload di link berikut:

Pendaftaran Online Al-Mahrusiyah

Instagram
elmahrusy.media

KH. Mahrus Aly ( 1907 – 1985 )

KH. Mahrus Aly lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Sa’id, tahun 1906 M. Beliau adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahiran. Sifat kepemimpinan beliau sudah nampak saat masih kecil. Sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga. Beliau diasah oleh ayah sendiri, KH Aly dan sang kakak kandung, Kiai Afifi.

Saat berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah, asuhan Kiai Mukhlas, kakak iparnya sendiri. Disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH. Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni. Selain itu KH. Mahrus Aly juga belajar silat pada Kiai Balya, ulama jawara pencak silat asal Tegal Gubug, Cirebon. Pada saat mondok di Tegal inilah KH. Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 M.

Di tahun 1929 M, KH. Mahrus Aly melanjutkan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah asuhan KH. Kholil. Setelah 5 tahun menuntut ilmu di pesantren ini (sekitar tahun 1936 M) KH. Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni KH. Mahrus Aly berniat tabarukan di Pesantren Lirboyo. Namun beliau malah diangkat menjadi Pengurus Pondok dan ikut membantu mengajar. Selama nyantri di Lirboyo, beliau dikenal sebagai santri yang tak pernah letih mengaji. Jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabarukan dan mengaji di pesantren lain, seperti Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Pondok Pesantren Watucongol, Muntilan, Magelang, asuhan Kiai Dalhar dan juga pondok pesantren di daerah lainnya seperti; Pesantren Langitan, Tuban, Pesantren Sarang dan Lasem, Rembang.

KH. Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidak lama, hanya sekitar tiga tahun. Namun karena alimnya kemudian KH. Abdul Karim menjodohkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab, tahun 1938 M. Pada tahun 1944 M, KH. Abdul karim mengutus KH. Mahrus Aly untuk membangun kediaman di sebelah timur Komplek Pondok. Sepeninggal KH. Abdul Karim, KH. Mahrus Aly bersama KH. Marzuqi Dahlan meneruskan tambuk kepemimpinan Pondok Pesantren Lirboyo. Di bawah kepemimpinan mereka berdua, kemajuan pesat dicapai oleh Pondok Pesantren Lirboyo. Santri berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH. Marzuqi dahlan dan KH. Mahrus Aly, bahkan ditangan KH. Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti).

KH. Mahrus Aly ikut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan ini nampak saat pengiriman 97 santri pilihan Pondok Pesantren Lirboyo, guna menumpas sekutu di Surabaya, peristiwa itu belakangan dikenal dengan perang 10 November. Hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH. Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di sekitar Kediri.
KH. Mahrus Aly mempunyai andil besar dalam perkembangan Jamiyyah Nahdlatul Ulama, bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah Jawa timur selama hampir 27 Tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mustasyar PBNU pada tahun 1985 M.

Senin, 04 Maret 1985 M, sang istri tercinta, Nyai Hj. Zaenab berpulang ke Rahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama diderita. Sejak saat itulah kesehatan KH. Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH. Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan. Banyak yang menyarankan agar KH. Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya. Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 Mei 1985 M, kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bhayangkara Kediri, beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo, Surabaya. Delapan hari setelah dirawat di Surabaya dan tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985 M, KH. Mahrus Aly berpulang ke rahmatullah. Beliau wafat diusia 78 tahun. (al Fatihah…)

Kisah selengkapnya bisa Anda lihat di buku Tiga tokoh Lirboyo.

KH. Marzuqi Dahlan ( 1906 – 1975 )

KH. Marzuqi Dahlan lahir tahun 1906 M, di Desa Banjarmelati, sebuah desa di bantaran barat Sungai Brantas, Kota Kediri. Beliau putra bungsu dari empat bersaudara, dari pasangan KH. Dahlan dan Nyai Artimah. Dibawah pengawasan langsung kakeknya (KH. Sholeh Banjarmelati) Gus Zuqi kecil menerima pengajaran dasar-dasar Islam seperti aqidah, tajwid, fiqh, ubudiyah, dll. Pernah satu waktu, sang ayah (Kiai Dahlan) meminta agar Gus Zuqi kembali ke kampung halaman (Pondok Pesantren Jampes) guna menuntut ilmu langsung di bawah asuhan ayah kandung sendiri. Gus Zuqi bersedia, namun beberapa saat kemudian Gus Zuqi kembali ke Banjarmelati.

Ketika Gus Zuqi beranjak muda, beliau pindah menuntut ilmu di Lirboyo, dibawah asuhan KH. Abdul Karim yang merupakan paman Gus Zuqi. Disinilah kemampuan berpikir Gus Zuqi semakin terasah, sehingga dalam waktu yang singkat beliau dapat menyerap berbagai ilmu keagamaan. Usai dari di Lirboyo, Gus Zuqi meneruskan pengembaraan di pelbagai pondok pesantren, diantaranya; Pondok Pesantren Tebuireng asuhan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk, asuhan KH. Zainuddin, Pondok Pesantren Bendo Pare asuhan Kiai Khozin, cukup lama beliau mondok di Pare hingga berusia 20-an tahun. Selanjutnya beliau kembali ke kampung halaman untuk belajar langsung ke KH. Ihsan Al-Jampasy, sang kakak yang juga pengarang kitab Shirojut Tholibin. Sebuah kitab monumental dalam bidang tasawuf.

KH. Marzuqi Dahlan menikah dengan Nyai Maryam binti KH Abdul Karim dan berdomisili di Lirboyo tahun 1936 M. Meski telah menikah, semangat beliau dalam mengaji tidak pernah luntur, hal ini merupakan salah satu amanat yang disampaikan KH Abdul Karim kepada beliau, sesaat usai aqad nikah berlangsung, hingga himmah beliau untuk tetap mendidik santri terus terjaga dan sangat istiqomah.

Pada tahun 1961 M, Nyai Maryam berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan beliau untuk selama-lamannya. Namun untuk menghapus kedukaan yang berlarut-larut, keluarga menikahkan KH. Marzuqi Dahlan dengan Nyai Qomariyah yang tak lain adalah adik bungsu Nyai Maryam.

Sosok KH. Marzuqi Dahlan adalah sosok sederhana dan sangat bersahaja, hal ini terbukti dari penampilan beliau sehari-hari yang jauh dari kesan mewah dan perlente. Padahal saat itu beliau sudah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo. Ketika bepergian dan atau berziarah ke makam-makam Auila’ disekitar Kediri, KH Marzuqi Dahlan lebih sering bersepeda. Bukan hanya kendaraan, kediaman beliaupun terbilang sangat sederhana, yakni berdindingkan anyaman bambu, hingga pada tahun 1942 M barulah kediaman beliau berganti dengan tembok.

Pada Tahun 1973 M KH. Marzuqi Dahlan menunaikan Ibadah haji. Dua tahun setelah menunaikan ibadah haji, kondisi beliau mulai terganggu, sebab usia beliau memang sudah sepuh. Namun meski demikian, semangat beliau untuk memimipin Pesanten Lirboyo tetap terjaga, hingga pada bulan Syawal pada tahun 1975, beliau jatuh sakit dan harus dirawat di RS. Bhayangkara, Kediri. Dua minggu lamanya beliau dirawat. Karena tidak ada perubahan yang menggembirakan, akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa pulang KH. Marzuqi Dahlan ke kediaman beliau, hingga pada hari Senin Tanggal 18 Nopember 1975 M beliau dipanggil sang pencipta, dihadapan keluarga dan para santri yang sangat mencintainya. (al Fatihah…)

Kisah selengkapnya bisa Anda lihat di Buku Tiga Tokoh Lirboyo.

KH. Abdul Karim ( 1856 – 1954 )

KH. Abdul Karim lahir tahun 1856 M di desa Diyangan, Kawedanan, Mertoyudan, Magelang, Jawa Tengah, dari pasangan Kiai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Manab adalah nama kecil beliau dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Saat usia 14 tahun, mulailah beliau melanglang buana dalam menimba ilmu agama dan saat itu beliau berangkat bersama sang kakak (Kiai Aliman).

Pesantren yang pertama beliau singgahi terletak di desa Babadan, Gurah, Kediri. Kemudian beliau meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, di sini kurang lebih selama 6 Tahun. Setalah dirasa cukup beliau meneruskan ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk Jatim, disinilah beliau memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran. Lalu beliau melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorof-nya, 7 tahun lamanya beliau menuntut ilmu di Pesantren ini. Selanjutnya beliau nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya. Hingga akhirnya, beliau kemudian meneruskan pengembaraan ilmu di salah satu pesantren besar di pulau Madura, asuhan ulama’ kharismatik; Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama beliau menuntut ilmu di Madura, sekitar 23 tahun.

Pada usia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada akhirnya KH. Hasyim Asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kiai Sholeh dari Banjarmelati Kediri, pada tahun1328 H/ 1908 M.

KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah Binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo.

Kemudian pada tahun 1913 M, KH. Abdul karim mendirikan sebuah masjid di tengah-tengah komplek pondok, sebagai sarana ibadah dan sarana ta’lim wa taalum bagi santri.

Secara garis besar KH. Abdul karim adalah sosok yang sederhana dan bersahaja. Beliau gemar melakukan riyadlah; mengolah jiwa atau tirakat, sehingga seakan hari-hari beliau hanya berisi pengajian dan tirakat.

Pada tahun 1950-an, tatkala KH. Abdul Karim menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya -sebelumnya beliau melaksanakan ibadah haji pada tahun 1920-an- kondisi kesehatan beliau sudah tidak memungkinkan, namun karena keteguhan hati akhirnya keluarga mengikhlaskan kepergiannya untuk menunaikan ibadah haji, dengan ditemani sahabat akrabnya KH. Hasyim Asy’ari dan seorang dermawan asal Madiun H. Khozin.

Sosok KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan keadaan bagaimanapun, hal ini terbukti tatkala beliau menderita sakit, beliau masih saja istiqomah untuk memberikan pengajian dan memimpin sholat berjamaah, meski harus dipapah oleh para santri. Akhirnya, pada tahun 1954, tepatnya hari senin tanggal 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim berpulang ke rahmatullah, beliau dimakamkan di belakang masjid Lirboyo. (al Fatihah…)

Kisah selengkapnya bisa Anda lihat di buku Tiga Tokoh Lirboyo.

Perjuangan Abuya Dimyathi Meraih Ilmu

Abuya Dimyati Cidahu Banten (1925-2003 M.) saat masih menjadi santri jika pergi ke pondok tidak pernah membawa bekal apapun kecuali sedikit beras dan sebotol minyak kelentik (kelapa).

Jika ada pengajian, Abuya tidak pernah membawa kitab seperti lazimnya santri yang lain, karena kitab pada waktu itu masih sangat langka dan juga karena Abuya tidak memiliki cukup uang untuk membelinya. Akan tetapi apabila Tubagus Abdul Halim (guru beliau) mengajar santri, Abuya selalu hadir dan mengikuti dengan seksama dan penuh takzhim.

Untuk memperdalam ilmunya, Abuya hanya mampu meminjam kitab kepada temannya untuk dimuthola’ah (mengkaji dan mempelajari) sendiri. Dan hal ini dilakukannya setiap malam di atas jam 00.00 Wib (tengah malam). Tatkala ada suatu masalah atau kaidah atau mauizhah, maka ditulisnya di atas kertas yang amat sederhana kemudian dihafalnya.

Untuk mendapatkan secarik kertas Abuya harus mencari di tempat-tempat sampah. Jika didapatinya dalam keadaan kotor, maka kertas tersebut dicuci dengan sangat hati-hati, karena takut robek.

Abuya pernah mengumpamakan kepada H. Muhammad Murtadlo, putranya, apabila mendapatkan kertas sebesar dua tapak jari saja, maka Abuya merasa sangat senang. Apalagi mendapatkan kertas sebesar amplop. Oleh sebab itu Abuya sampai akhir hayat sangat rajin mengumpulkan kertas-kertas sekecil apapun. Abuya tidak pernah membuang atau membakar sehelai kertas atau amplop atau bungkus rokok sekalipun.

Apabila Abuya tidak melakukan muthola’ah pada waktu yang sama, maka Abuya akan mengisi waktunya dengan taqarrub ila Allah (wirid/berzikir sirri), baik sambil duduk di dalam kamar maupun sambil mengelilingi kamar-kamar jika diserang rasa lelah dan kantuk. Sekaligus juga menikmati sunyinya malam. Sesuai dengan ajaran tasawuf bahwa

بِقَدْرِ الكَدِّ تَكْتَسِبُ المَعَالِي

وَمَنْ طَلَبَ العُلَا سَهَرَ اللَّيَالِي

“Hendaklah kamu dengan sepenuh jiwa dapat menggapai kemuliaan. Dan barang siapa mengharap kemuliaan, maka hendaklah ia bangun di tengah kesunyian malam.”

* * *

Semoga bisa menginpirasi santri-santri yang sekarang sedang isytighal menuntut ilmu dimanapun berada.

*Dikutip dari Manaqib Abuya Cidahu.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah