Wejangan Sunan Drajat

Oleh : M. Nur Rofiq. M.J

Urip iku kadya wewayangan, lemampah sanetran kadya ing tangane dalang. Artinya kehidupan adalah sekedar bayang-bayang yang melintas sekejap bagaikan pelakon sandiwara yang beraksi menghabiskan waktunya di atas panggung kemudian tak terdengar lagi suaranya.

Unen-unen di atas adalah setetes dari wejangan Sunan Derajat. Sebuah ilustrasi kehidupan manusia di muka bumi. Hidup manusia di bumi telah dibatasi sejak tertiupnya Ruh ke dalam jasad. Kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Cuma sebatas mampir ngombe. Dan ketika tiba saatnya panggilan dari Yang Kuasa (Jawa; Dino wekasan) atau ajal telah menjemput, kita akan berjalan sangat jauh sekali. Jarak yang tiada bertepi menuju singgasana-Nya. Hal ini sesuai dengan wicanten (perkataan) Sunan Derajat “Urip iku mung kadyo mamper ngombe, sabanjure mlaku mane adoh banget parane.

Dalam memperkenalkan ajaran Islam, sunan menggunakan konsep dakwah bil Hikmah, dengan cara-cara bijak, tanpa memaksa. Dengan kearifannya ia mencetuskan kaidah untuk hidup bermasyarakat, hidup bersama dengan saling tolong-menolong dan gotong-royong sesamanya.

Yaitu berupa wejangan “Paring teken maring kang kalunyon lan wuto, paring pangan maring kan kaliren, paring sandang marang kang kawudan, paring payung kang kudanan. Bapang den simpangi, ana catur mungkur”. Artinya berikan tongkat pada orang buta, berikan makan pada yang kelaparan, berikan pakaian kepada yang telanjang, dan berikan  payung kepada yang kehujanan. Jangan mendengrkan pembicaraa yang menjelek-jelekkan orang lain, apalagi melakukan perbuatan itu.

Sunan Derajat juga mengajarkan kesantunan dalam berumah tangga. Hal ini di ketahui melalui maqolah beliau; “Wong urip kudu ngupaya boga, tuking boga saking nyambut karya. Seregep makarya biso gawe mulyo tumraping kulawargo, tumrap wong sesomahan kudu amongsi, kulawarga kang apik lamun padha rukun lan darbe panjangka amrih rahayuning jagad. Sing sopo seneng urip tetanggan kelebu janma linuwih. Tonggo iku perlu dicedaki nanging aja ditrisnani.”

Terjemahannya, orang hidup harus mencari nafkah, nafkah ada apabila rajin bekerja, rajin bekerja dapat mendapat kemuliaan kelurga. Orang berumah tangga harus saling cinta mencintai. Keluarga yang baik selalu rukun bersatu dan mencita-citakan kebahagiaan dunia dan akhirat. Barang siapa suka hidup bertetangga itu tergolong manusia yang arif. Tetangga itu perlu didekati akan tetapi jangan dicintai.

Sunan Derajat dalam berdakwah juga menggunakan pendekatan sosial budaya. Beliau selalu menjaga adat peninggalan para leluhur. Ajaran beliau yang terkenal dengan sebutan “Sapta Paweling” atau tujuh pesan fatwa petuah menjadi pusaka leluhur. Paweling dalam bahasa jawa “Weling” berarti pusaka peniggalan para leluhur yang harus diperhatikan. Tujuh petuah Sunan Derajat itu berbunyi;

  1. Memangun resep tiyasing sesama. Artinya agar kita semua senantiasa sebisa mungkin membuat hati orang lain senang. Sesunggunya membuat bahagia kepada orang lain akan terhitung dengan sodaqoh.
  2. Jeruning suka kudu eling lan waspada. Artinya tatkala senag harus ingat dan waspada. Sebab dalam perjalanan hidup ada suka dan duka, oleh karena itu manusia di tuntut sebisa mungkin untuk selalu waspada ketika dalam keadaan suka.
  3. Laskitaning subrata tan nyipta maring pringabayaning lampah. Artinya dalam perjalanan untuk mencapai cit-cita luhur jangan memperdulikan segala bentuk rintangan yang menghadang.
  4. Memperharganing ponco driyo. Artinya agar kita dapat menahan hawa nafsu karena sesunggunya nafsu bagaikan anak kecil, jika kita selalu menuruti kehendaknya ia akan selalu menginginkan secara terus menerus.
  5. Mulyo guno panca waktu. Artinya kebahagiaan lahir batin atau kemulyaan hanyalah bisa dicapai dengan melakukan sholat lima waktu. Sebab melalui sholat lima waktu derajat seseorang akan lebih tinggi.
  6. Heneng, Haning, Henung. Artinya dalam keadaan diam kita memperoleh keheningan, dan dalam keadaan hening itulah kita akan dapat mencapai tujuan luhur dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Berfikirlah dengan tenang, jernih, supaya sampai kepada yang dituju (Allah).
  7. Teruna ing samudra wirajangji, Orang Derajat menyebutnya dengan “Segara ombak pinana tunggal.” Artinya segala gejolak hidup dapat dipahami sebagai perwujudan Irodah Allah. Udzkur?

Sekilas Madrasah Diniyah Ponpes Haji Ya’qub

Madrasah diniyah Haji Ya’qub (MDHY) merupakan salah satu dari sekian banyak madrasah diniyah yang berada didalam pondok pesantren Lirboyo. Madrash ini berfungsi untuk mewadahi anak-anak yang merangkap dengan sekolah formal, mulai ditingkat  SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA sampai perguruan tinggi dan masih berkeinginan untuk memperdalam ilmu agama.

Lembaga yang berada dibawah naungan pondok pesantren Haji Ya’qub ini siswanya berjumlah sekitar 400 yang berasal dari seluruh nusantara dengan jenjang pendidikan mulai dari tingkat Ibtidaiyyah Tsanawiyyah hingga Aliyah. MDHY ini Selain diminati oleh santri PPHY sendiri, juga diminati oleh anak-anak disekitar pondok pesantren Lirboyo.

Madrasah yang telah berdiri sejak tahun 1996 ini mengenai Kurikulum dan Sistem pendidikannya mengiblat pada metode yang ada di MHM (Madrasah Hidayatul Mubtadiin) Pondok Induk, namun terdapat perbedaan yang sifatnya menyesuaikan dengan keadaan siswa. Untuk lebih jelasnya mengenai prosedur penerimaan siswa baru, rincian iuran pembayaran dan lain-lain, Pengunjung bisa download  klik halaman depan brosur dan klik halaman belakang brosur

Keluarga, Awal Kebangkitan Moral Bangsa

Allah SWT berfiman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (Al Quran surat At Tahrim: 6) Nabi Muhammad SAW bersabda, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (Hadis Riwayat Bukhari dari Adam Abi Dza’b dari Zuhri dari Abi Salamah ibn Abd. Rahman dari Abi Hurairah r.a.)

Sebagai bangsa, kita saat ini sedang menghadapi masalah dekadensi moral yang luar biasa. Anak sulit sekali patuh kepada orangtua. Susah kita temui anak yang membungkukkan badannya ketika lewat di depan orangtuanya sendiri maupun orang-orang di sekitarnya yang lebih tua. Apalagi, adegan anak mencium tangan orang tua sebagai tanda hormat kaum muda kepada yang lebih tua. Amat sangat susah kita temukan saat ini.

Demikian juga siswa hingga mahasiswa. Mereka sukar sekali menghormati guru atau dosennya. Mereka anggap pengajar itu sebagai teman. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai musuh sehingga berani menghajar sang guru. Itu belum termasuk pergaulan muda-mudi yang sudah bebas bablas dalam bergaul. Tak ada rasa malu di hati mereka bila bermesraan di depan umum. Sampai-sampai ada yang bilang, “Siapa yang malu? Yang bermaksiat atau yang melihat? ”Na’uudzubillaahi min dzaalik!.

[ads script=”1″ align=”center”]

Keadaan demikian tentu tidak bisa kita biarkan berlarut-larut. Apa jadinya bangsa kita bila kemaksiatan dalam bentuk penurunan kualitas moral itu terus menggerus? Bukankah bila kemaksiatan telah merajalela menjadi alasan kuat bagi Allah untuk mengazab bangsa kita? Kita pasti tak mau itu terjadi, bukan? Lalu, bagaimana kita seharusnya mengatasi masalah kemerosotan moral bangsa?

Solusi yang tepat secara islami adalah kita kembali kepada tuntunan Allah dan rasul-Nya. Salah satu bentuknya adalah memahami dan mengamalkan kedua dalil naqli di awal tulisan ini. Di situ, Allah telah memberikan pemecah masalah tersebut. Pertama, kita sebagai orang yang beriman kepada Allah harus menyelamatkan diri sendiri dari api neraka. Artinya, secara individual, kita wajib berusaha maksimal agar tak terjerumus ke dalam perbuatan kotor yang membuat kita memenuhi syarat sebagai penghuni neraka. Kita jauhkan diri dari laku maksiat.

Bila sebagai pribadi telah melaksanakan itu, berarti kita tidak menambah orang yang berbuat dosa di Indonesia tercinta. Malah, kita mencatatkan diri sebagai warga negara yang meningkatkan kualitas moral bangsa melalui penyucian diri dari hal yang hina dina.

Itu saja memang belum cukup, tentu saja. Kita masih harus meneruskannya dengan membentengi keluarga kita dari sesuatu yang menuruti hawa nafsu. Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak itu harus kita proteksi sedini mungkin agar tak terjilat lidah api neraka di akhirat nanti. Caranya, dengan mengajak, membimbing, dan mengingatkan keluarga kita masing-masing secara bijak tentang sikap yang benar dalam menghadapi perintah dan larangan Allah. Kita tak boleh bosan berdakwah kepada keluarga agar tetap berada dalam shiraathal mustaqiim. Dengan demikian, keluarga kita tak tercatat sebagai penghuni neraka kelak.

Di antara anggota keluarga itu, ibulah yang memegang peranan penting bagi pendidikan anak. Sebab, ibu yang paling dominan dalam mengasuh anak. Sejak di dalam kandungan, pada saat lahir, hingga pasca lahir, ibulah yang paling dekat dengan anak. Maka, dari ibulah tumpuan baik-buruknya anak.

Bagaimana peran ayah? Ayah memang juga punya andil dalam membina keluarga, yaitu sebagai kepala keluarga yang tugas utamanya adalah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ibu jauh lebih menentukan baik tidaknya moral sang anak karena ibulah yang paling banyak dan paling lama berinteraksi dengan anak dalam keseharian.

Mulai sekarang, mari kita sadari bahwa keluarga adalah pilar pendidikan pertama dan utama bagi tiap pribadi. Jika keluarga itu sudah sakiinah, maka masyarakat pun akan jadi mawaddah wa rahmah. Akhirnya, negeri kita pun menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur. Maka, mari pula kita tata apik-apik diri pribadi, kemudian keluarga kita masing-masing. Karena, itulah yang menjadi awal kebangkitan moral bangsa kita.

Semoga Alllah berkenan mengabulkan keinginan kita yang tulus dan luhur itu. Aamin, aamin, yaa rabbal ‘aalamiin

Penulis, Saiful Asyhad, pengajar ekstrakurikuler Pondok Pesantren Lirboyo

Menjaga Nama Baik

Di Arab sebelum kemunculan Islam, ada seorang raja bernama Nu’man bin Mundzir. Dia memiliki kebiasaan aneh. Dia menetapkan di dalam setahun, ada hari baik dan ada hari naas. Hari yg dia tetapkan sebagai hari baik, siapapun orang yg ditemuinya akan dihormati dan diperlakukan dengan baik. Sebaliknya, jika hari itu hari naas, orang yg menemuinya akan dibunuh tanpa alasan.

Pada suatu hari naas, Raja Nu’man melakukan perjalanan jauh untuk berburu. Saat beristirahat, Raja duduk di kemah dikelilingi para menteri dan pengawalnya. Datanglah seorang laki-laki dari pedalaman lewat di depan kemah. Dia masuk ke kemah itu kemudian menyampaikan salam hormat, ”’Im shobahan.” (Setelah Islam datang, kalimat ini diganti dengan assalamu’alaikum.)
Raja Nu’man segera memerintahkan para pengawalnya untuk menangkap laki-laki yg datang itu.

“Kamu akan aku bunuh sekarang.” kata Raja.

“Mengapa?” tanya laki-laki itu keheranan.

“Ini hari naas, setiap orang yg menemuiku harus mati.”

“Tolong jangan bunuh hamba. Hamba punya anak-anak kecil dan beberapa istri.” pinta laki-laki itu.

“Tidak ada urusan dengan itu semua. Kamu harus mati. Titik.” tegas Raja.

“Jika memang hamba harus dibunuh, beri hamba tenggat waktu. Biarkan hamba pulang dahulu mengatur segalanya untuk keluargaku. Kemudian hamba akan kembali ke tempat ini.” kata lelaki itu dengan memelas.

“Siapa yg menjamin kamu akan kembali ke sini?” tanya Raja.

Laki-laki itu memandang semua yg hadir di kemah itu satu per satu. Tidak ada satupun yang dikenalnya. Dilihatnya ada seorang yg tampan dan gagah. Dia juga memiliki sikap yg baik. Dia adalah Abbas bin Ziyad. Laki-laki yg akan dibunuh itu berkata sambil menunjuk ke arah Abbas, “Orang ini yg akan menjaminku.”

Raja memandang kepada Abbas sambil berkata kepadanya, “Apa kamu bersedia menjamin kedatangannya? Jika dia tidak kembali, aku penggal lehermu.”

“Hamba bersedia menjamin kedatangan orang ini. Kita tunggu sampai matahari terbenam.” jawab Abbas.

Raja memerintahkan untuk melepas laki-laki itu. Dia segera bergegas pergi sambil berkata, “Aku akan kembali sebelum matahari terbenam.”

Pada saat matahari berwarna kekuningan dan hampir terbenam, Raja menoleh kepada Abbas, “Orang tadi tidak akan kembali.”

“Tunggulah, hingga matahari benar-benar tenggelam.” kata Abbas penuh rasa yakin.

Ketika matahari tenggelam dan malam mulai tiba, Raja berkata kepada Abbas, “Bersiaplah untuk mati.”

“Janganlah tergesa-gesa, wahai Rajaku.” jawab Abbas.

Abbas memandang di kejauhan, dilihatnya ada sesosok benda hitam. Dia berkata, “Barangkali dia lelaki itu.”

Sesosok hitam itu semakin mendekat, ternyata dia adalah laki-laki yg akan dibunuh. Dia terengah-engah karena capek berlari. Sambil duduk dia berkata, “Apakah hamba memenuhi janji?”

Raja memandang kepadanya dengan penuh rasa takjub. Orang yg akan dibunuhnya bersedia menepati janji untuk kembali. Padahal jika dia tidak kembali, sudah ada orang yg menggantikannya untuk dibunuh. Lagi pula, tidak ada yg tahu dimana dia tinggal. Penasaran dengan peristiwa menakjubkan yg dialaminya hari itu. Raja menanyakan kepada laki-laki yg akan dibunuhnya, “Apa alasan yg membuatmu kembali kesini mengantar nyawa?”

“Hamba takut akan dikatakan, menepati janji telah hilang dari orang Arab.”

Raja menoleh kepada Abbas, kemudian bertanya juga dengan penuh rasa takjub, “Apa alasan kamu bersedia menjamin orang ini, padahal kamu sama sekali tidak mengenalnya?”

“Hamba takut akan dikatakan, saling percaya telah hilang dari orang Arab.” jawab Abbas.

Raja lantas diam berpikir sejenak. Bingung, jadi membunuh atau tidak. Kemudian berkata, “Aku tidak ingin menjadi yg terjelek di antara kalian, nanti akan dikatakan, kasih sayang & murah hati telah hilang dari orang Arab. Aku tidak jadi membunuhmu.”

Lelaki dari pedalaman itu akhirnya dibebaskan.
Semenjak peristiwa itu, raja menghapus adanya hari naas.

* * *

Coba bayangkan. Jika semua umat Islam atau warga negara Indonesia memiliki pandangan hidup yg sama dengan laki-laki yg akan dibunuh dalam cerita di atas. Setiap akan melakukan kejahatan dan keburukan dia akan mempertimbangkan nama baik agama dan bangsanya akan rusak oleh kelakuannya.

Di negara ini tentu tidak akan ada pencurian, pembunuhan, korupsi, saling ejek dan sikap-sikap tidak terpuji yang lain.

Demokrasi Pendidikan Pesantren

“Kamu jangan selalu fanatik di pendidikan, jangan paksakan anakmu sesuai dengan kehendakmu, tapi tolong arahkan bakat anak itu. Bakat anak itu apa, kemudian dukung sesuai dengan bakatnya,”  [1]

Petuah KH. Mahrus diatas sangat demokratis. Dalam arti orang tua tidak boleh memaksakan kehendaknya untuk menekankan anaknya menekuni satu bidang tertentu. Seorang anak mempunyai bakat tersendiri, dan sebagai orang tua berkewajiban mengawal anaknya dalam memupuk bakat yang diingini.

Hal ini senada dengan pengertian demokrasi yang digagas oleh Gus Dur. Baginya, landasan demokrasi adalah keadilan, dalam arti terbukanya peluang kepada semua orang, dan berarti juga otonomi atau kemandirian dari orang yang bersangkutan untuk mengatur hidupnya, sesuai dengan apa yang ia ingini.[2]

Di pesantren sangat kental dengan istilah taadduban (bertatakrama atau beretika) kepada seorang guru. Berakhlak baik didepan seorang guru adalah ajaran yang paling ditekankan kepada semua santri. Lebih dari itu, seorang santri dimanapun dia berada harus bisa menjaga sikap dan perilakunya. Dia juga harus rela melakukan semua perintah guru selagi tidak bertentangan dengan syari’at agama islam.

Jika hal diatas didasari atas hubungan status antara seorang guru dan murid, wajib bagi seorang murid untuk melakukannya. Karena, semua perintah dari seorang guru pasti mengandung nilai kebaikan. Apa yang diperintahkannya tidak akan pernah melenceng dari ajaran Rasulullah SAW. Andai ada seorang guru yang demikian, maka dia bukanlah seorang guru yang baik, yang patut untuk ditiru. Karena, seorang guru tidak akan pernah mengajarkan secuil kejelekan sekalipun kepada para muridnya.

[ads script=”1″ align=”center”]

Namun, akan sangat berbeda jika perintah itu dikaitkan dengan potensi yang harus ditekuni seorang santri. Setiap santri mempunyai bakat atau potensi yang berbeda-beda. Logikanya seorang santri yang berbakat menjadi penceramah tidak akan mau jika dipaksa untuk menjadi seorang penulis, dan begitu juga sebaliknya, meskipun keduanya mempunyai tujuan yang sama yakni; berdakwah. Dalam berdakwah, santri tidak harus berada di atas mimbar dengan berpidato. Akan tetapi dakwah bisa dilakukan melalui jalur manapun, lewat berpolitik, menulis di media, kesenian, budaya dan lain sebagainya. Dari sinilah, bisa kita pahami bahwa bakat seseorang berbeda-beda. Semua orang mempunyai keterbatasan yang dengan itu semua bisa saling mengisi kekurangan-kekurangan yang ada. Dan seharusnya guru bisa memahami hal itu.

Mengajar menurut Kennet D. Moore, adalah sebuah tindakan dari seseorang yang mencoba untuk membantu orang lain mencapai kemajuan dalam berbagai aspek seoptimal mungkin sesuai dengan potensinya (Moore, 2001:5). Pandangan ini didasari oleh sebuah paradigma bahwa tingkat keberhasilan mengajar bukan pada seberapa banyak ilmu yang disampaikan guru pada siswa, tapi seberapa besar guru memberi peluang pada siswa untuk belajar dan memperoleh sesuatu yang ingin diketahuinya, guru hanya memfasilitasi para siswanya untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuannya.[3]

Sejalan dengan pengertian diatas, Madeline Hunter mengemukakan bahwa mengajar adalah sebuah proses membuat dan melaksanakan sebuah keputusan sebelum, selama dan sesudah proses pengajaran (Hunter, 1994:6), yakni keputusan yang jika diambil oleh seorang guru, akan meningkatkan kemungkinan siswa untuk belajar.[4] Kalau kita pahami, dua pengertian diatas menunjukkan bahwa kedudukan seorang guru sangat penting demi meningkatnya kesemangatan siswa dalam belajar dan menekuni bakat tertentu. Untuk itu ia harus memberi keluasan kepada muridnya untuk memupuk bakat yang sudah dimiliki, selain memperdalam ilmu yang diajarkan di pesantren.

Sebenarnya sistem demokrasi dalam mendidik para santri di pondok pesantren lirboyo, sudah diterapkan sejak dulu. Diantaranya, melalui program-program yang dicanangkan oleh Seksi Pramuka. Seperti, Kursus Jurnalistik bagi para calon penulis handal, kursus bahasa inggris bagi peminat bahasa asing, kursus seni baca al-Qur’an bagi santri yang memiliki suara merdu, kursus computer dan lain sebagainya. Kemudian bagi santri yang berambisi menjadi seorang pencetus hukum, bakatnya bisa tersalurkan melalui ajang diskusi yang diagendakan oleh Lajnah Bahtsul Masa’il (LBM). Dan tak ketinggalan, bagi santri yang berpotensi menjadi seorang pejabat tinggi Negara, bakatnya juga bisa tersalurkan dengan menjadi pengurus dari tingkat jam’iyyah far’iyyah hingga jam’iyyah pusat ataupun menjadi pengurus pusat kelas.

Semua itu adalah sarana untuk meningkatkan bakat-bakat santri yang selama ini terpendam. Sehingga dalam berdakwah mereka tidak harus dengan berada diatas mimbar, mereka bisa berdakwah dengan bentuk dan model yang berbeda sesuai dengan bakat yang dimiliki. Namun, yang paling pokok ketika berada dalam pondok pesantren adalah menguasai ilmu agama (islam). Mengenai cara dalam meng-aktualisasikan teori turast dan mentransfernya ke masyarakat luas, tergantung bakat yang dimiliki oleh masing-masing santri.

______

 

[1] Kesan mendalam para tokoh alumni terhadap tiga tokoh lirboyo_Hal. 260

[2] Gus Dur siapa sih sampeyan?_Hal 89

[3] Paradigma pendidikan demokratis_Hal. 91

[4] Ibid Hal_ 91

Penulis, Said al-Birroe

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah