Istighotsah 1 Muharram 1434 H

LirboyoNet, Kediri – Sore itu, bertepatan dengan pergantian tahun Hijriyah yang ke 1434, sepanjang jalan menuju Masjid Agung sangat sesak dengan kendaran yang berlalu lalang memadati ruas jalan Bandar Kidul. Terutama pada jalur menuju jantung kota Kediri. Para Polisi Lalu Lintas, BANSER dan SATPOL PP, tampak sibuk mengatur lalu lintas agar kemacetan bisa dihindarkan.

Meski cuaca panas karena tak kunjung hujan, namun hal tersebut tak menyurutkan animo para santri Pondok Pesantren Lirboyo dan masyarakat muslim Kediri untuk mengikuti agenda tahunan yang di gelar di Masjid Agung Kota Kediri. Mereka berbondong-bondong guna mengikuti doa akhir tahun dan awal tahun baru orang islam.

Dengan didominasi baju warna putih dan berbekal sajadah para santri beramai-ramai berjalan kaki menuju Masjid kebanggaan Kota Kediri. Hanya saja, agar lebih tertib para santri harus melewati jalan yang sudah ditentukan oleh pondok. Tampak para keamanan Pondok berjaga-jaga di beberapa titik-titik tertentu yang mengarahkan santri ke tujuan utama.

Pukul 17.00 WIB Masjid Agung kota Kediri mulai dipadati oleh masyarakat dan santri. Puncaknya saat acara istighotsah dimulai. Saking banyaknya pengunjung dan Masjid tak mampu membendung, para pengunjung rela mengikuti acara itu di ruas jalan raya, bahkan sampai taman alun-alun dan halaman dhoho plaza.

Acara itu di hadiri oleh beberapa Kyai terkemuka dan Pemkot Kota Kediri diantaranya; pengasuh Pon Pes Lirboyo KH. Anwar Manshur, KH. Ilham Nadlir, KH. Anwar Iskandar, KH. A. Mahin Toha, KH. An’im Falahuddin Mahrus dan Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar, SE.

Pertama kali yang mengisi sambutan dalam acara itu adalah Wakil Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, SE. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa istighosah semacam ini merupakan ungkapan rasa syukur kita terhadap Yang Maha Kuasa. Dan seharusnya acara semacam ini bisa menjadi pengingat kita akan adanya peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Kota Makkah menuju Kota Madinah. Sehingga akhirnya kita mampu merefleksikan dan mengaktualisasikan dalam tindakan kita sehari-hari agar hari ini bisa menjadi lebih baik dari hai kemarin. Beliau juga mengutip sebuah hadits yang berbunyi; “Barangsiapa hari ini lebih baik dari kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung, barangsiapa hari ini sama saja dengan hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi dan barang siapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka dia termasuk orang yang merugi”.

Disusul kemudian sambutan atas nama pengurus cabang NU Kota Kediri oleh KH. Anwar Iskandar, Pengasuh Pon. Pes  Assaidiyyah Jamsaren Kediri.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Dalam sambutannya beliau mengingatkan segenap Kaum Nahdliyyin, betapa sulitnya perjuangan NU di masa kini dalam mempertahankan ajaran Ahlussunah Waljama’ah yang berbasis tawazun, tasamuh, dan tawasut . Hal ini dikarenakan adanya kecaman dan tantangan dari sisi kiri maupun kanan. Terutama oleh Islam radikal yang tak henti melecehkan kita dan menuduh kita telah berbuat bid’ah dholalah dan neraka. Mereka juga beranggapan bahwa para Wali Songo adalah sumber perbuatan syirik (baca: ziarah).

Beliau menambahkan, di sisi lain kita juga berhadapan dengan Islam Liberal yang membebaskan segala macam termasuk diantaranya praktek poliandri (wanita boleh bersuami lebih dari satu).Tak sampai disitu, menurut beliau saat ini kaum gay dan lesbi telah berusaha memperjuangkan pernikahan antar jenis. Terus lagi, kaum PKI yang keberadaanya dulu pernah dilarang oleh pemerintah kini sudah mulai bermunculan kembali.

Beliau mengimbau bahwa inilah saatnya bagi kita untuk meneladani Kisah Hijrah Nabi Muhammad SAW. Karena, berkat hijrah pula Islam yang sebelumnya adalah kaum minoritas, dikerdilkan dan termarjinalkan oleh masyarakat Makkah akhirnya dapat berkembang subur di Madinah dan terus tumbuh sampai sekarang ini. Oleh karena itu kita tak boleh berpangku tangan dan bertopang dagu dalam menghadapi tantangan yang semacam itu agar ajaran Ahlussunah Waljama’ah dapat dipertahankan.

Sebelum mengakhiri sambutannya beliau mewanti-wanti agar tak lengah oleh fasilitas dunia yang bisa membuat diri kita melupakan ajaran agama Islam.

Setelah KH. Anwar Iskandar selesai memberikan sambutan, acara dilanjutkan dengan pembacaan do’a akhir tahun sekaligus sholat maghrib berjama’ah yang diimami langsung oleh KH. Anwar Manshur.

Selanjutnya pembacaan do’a awal tahun yang di pimpin oleh KH. Ilham Nadzir di teruskan dengan sholat isya berjam’ah yang juga di imami oleh KH. Anwar Manshur.

Pukul 19.30 Wis acara Istighotsah dan Do’a bersama yang diadakan oleh Pengurus NU bekerja sama dengan Pemerintah Kota Kediri itu pun usai. Kembang api dinyalakan sebagai penutup acara diiringi dengan penampilan rebana ala habsyi yang memang diundang untuk memeriahkan acara itu.[]

Pesantren dalam Dunia Maya

LirboyoNet, Kediri – Yang mengendalikan dunia adalah yang mampu memahami dan memanfaatkan teknologi. Beberapa hari yang lalu pihak ponpes Lirboyo bekerja sama dengan T elkom, Kemkominfo (Kementerian Komunikasi dan Informasi) dan UPN (Universitas Pembangunan Nusantara) Surabaya menyelenggarakan workshop pelatihan pemanfaatan teknologi internet oleh santri. Acara yang bertajuk Workshop TIK Masuk Pesantren ini melibatkan delegasi dari sekitar 30 pesantren di daerah Kediri dan sekitarnya. Antara lain pesantren unit-unit di Lirboyo, Kediri, Bltar, Tulungagung bahkan ada peserta yang jauh-jauh dari Langitan juga. Tiap pesantren mengirimkan dua orang delegasi untuk digembleng teknologi yang sehat selama acara berlangsung.

Acara yang diselenggarakan tiga hari dimulai sejak Jum’at, 16 hingga Ahad, 18 November 2012 ini memang acara terbatas dan hanya bisa diiuti oleh para delegasi resmi dari pesantren masing-masing.

Hari pertama acara dibuka dengan seremonial resmi yang dilaksanakan di Aula Al Muktamar. Karena peserta tidak sampai seratus orang aula serasa sangat lapang. Dengan antusias mereka menyimak sambutan-sambutan dari masing-masing perwakilan penyelenggara mengenai agenda apa yang akan mereka ikuti berikut sasaranya.

Sambutan pertama disampaikan oleh Novianto Puji Raharjo, dosen sekaligus perwakilan rektor UPN. Dalam sambutan singkatnya lelaki yang selalu berpakaian ala habib ini menyampaikan banyak hal tentang pentingnya santri dalam menjadi pemegang kendali utama arus informasi.

“Bukan hanya memanfaatkan, tapi juga mengisi. Selain itu bukan hanya dimanfaatkan sendiri tapi juga disebarkan di masyarakat luas dan pesantren lain,” ujar pria yang lebih dikenal dengan panggilan Gus Novi ini. “Dulu orang-orang nongkrong di mall, warung kopi kini pindah nongkrong di facebook. Dulu mencari referensi, infromasi, artikel di Koran, majalah atau perpustakaan kini lebih ampuh bertanya ke mbah Google,” tambahnya disambut oleh gelak tawa hadirin.

Sambutan kedua dari Telkom Jawa Timur, penyenggara utama acara ini. Dalam hal ini disampaikan oleh Radian Sigit dari Telkom Kota Kediri sebagai perwakilan. Dalam sambutannya pria berkumis ini banyak menyampaikan visi dan misi Telkom dalam menyelenggarakan acara ini.

“Acara sekarang ini merupakan workshop keempat yang diselenggarakan Telkom jatim. Pertama di Sidoarjo dengan peserta pesantren-pesantren sekitar daerah Tapal Kuda dan pesisir utara, kedua di pesantren Al Haromain, Sampang dengan peserta pesantren-pesantren di Madura dan yang ketiga di Ponorogo,” urainya.

Biacara tentang internet ada paradoks yang terjadi. Di dalamnya ada hal yang baik dan yang buruk. Ironisnya yang jahat selalu berusaha mendominasi. Inilah yang menjadi alasan utama kendali internet harus dipegang oleh santri agar setidaknya bisa mengimbangi keadaan ini.

“Perjuangan kini terjadi di dunia online, yakni dengan memerangi kejahatan di dalamnya,” ujar bapak berbaju batik ini.

Untuk mensukseskan acara ini Telkom memberikan layanan wifi gratis di area Aula Al Muktamar.
Sambutan yang ketiga disampaikan oleh Prawoto dari Kemkominfo kota Kediri. Dalam sambutannya bapak paruh baya ini banyak mengungkapkan kondisi teknologi di nusantara saat ini. “Indonesia ini luas tapi infrastrukturnya belum merata,” ungkapnya. Termasuk di pesantren. Dengan diadakannya workshop ini setidaknya pemerataan pemanfaatan teknologi bisa diperluas.

Selain itu bapak yang murah senyum ini juga mengungkapkan 3 hukum dasar dalam TIK, yaitu cepat, berjaringan dan efisien. “Jika dalam santri berdakwah juga bisa menerapkan 3 hukum dasar ini, niscaya dampaknya akan lebih efektif,” tandasnya.

Seremonial pembukaan workshop ini kemudian ditutup dengan sambutan dari KH. Anwar Mansur dari pihak tuan rumah sekaligus doa.

Selanjutnya selama tiga hari ke depan para peserta akan diberi wawasan seputar TIK dan pelajaran yang tidak bisa didapatkan di kelas madrasah, yakni sosial media dan streaming. Apa itu?
Sosial media adalah istilah untuk website yang berisikan suatu komunitas lengkap dengan berbagai informasi di dalamnya. Namun yang menjadi sasaran utama di sini adalah para santri bisa membuat situs yang berisi tulisan, berita, artikel dari masing-masing pesantren yang bisa diakses oleh siapapun. Para peserta diajari bagaimana membuat blog sebagai wadahnya.

Sedangkan streaming adalah istilah untuk berbagai macam rekaman yang dicantumkan dalam suatu situs dan bisa diakses siapa saja. Bisa berupa rekaman video maupun audio. Bahkan untuk bisa membuat radio online bisa dengan mudah lewat media streaming ini. Selain itu tak perlu pemancar seperti pada stasiun radio pada umumnya. Cukup bermodal modem aktif dan rekaman.

Selama dua hari, sejak Jum’at hingga Sabtu para peserta digembleng dua materi ini oleh para mahasiswa UPN. Dari dua delegasi masing-masong pesantren dibagi rata, satu mengikuti kelas sosial media, satu streaming. Penyampaian materinya cenderung santai dan tidak kaku. Semua mendengarkan penjelasan singkat dari pemateri kemudian langsung praktek di laptop masing-masing dengan dibimbing oleh para mahasiswa.

Di hari terakhir agenda yang dilaksanakan adalah menonton film dokumenter tentang peran internet, khususnya sosial media di kancah nasional. Dalam film berdurasi 45 menit itu menampilkan beberapa profil orang-orang Indonesia yang berhasil sukses memanfaatkan media. Ada tukang becak yang memanfaarkan facebook. Hingga kasus-kasus nasional seperti Koin Prita dalam kasus Prita Mulyasari vs RS Omni dan dukungan kepada Bibit Chandra vs KPK yang heboh karena facebook juga.

“Sudah tak perlu repot-repot demo untuk mempropaganda dan menggerakkan massa,” tambah Gus Novi ketika film selesai.

***
Teknologi memang luar biasa. Aspek kehidupan yang tersentuh teknologi akan lebih optimal dan efisien. Dewasa ini masyarakat hidup tidak bisa lepas dari teknologi. Sejak bangun tidur hingga kembali ke kasur. Semua kini mudah. Mau mandi nyalakan pompa, mau ngopi panaskan air lewat dispenser, mau cari hiburan setel teve, mau ngobrol dengan saudara atau teman tinggal pencet hape, mau keliling dunia gratis cukup nge-klik internet.

Beralihnya gaya hidup masyarakat ini menuntut santri untuk juga mulai meramabah ranah teknologi jika mau berdakwah. Dengan memanfaatkan teknologi syiar agama Islam ala pesantren dan Ahlusunnah wal Jamaah bisa lebih efektif tanpa perlu memeras keringat lebih.

Melalui workshop ini diharapkan, walau sedikit, para delegasi dalam adalah pilihan emas yang dikirim oleh masing-masing pesantren. Sehingga apa yang menjadi misi penyelenggara tidak hanya jadi isapan jempol. Terakhir, hanya ada dua pilihan dalam menyikapi teknologi, menjadi pelaku yang mampu mengubah wajah dunia atau hanya penonton yang terus saja menjadi pengikut. Semua pilihan ada di tangan kita.[]

Tabligh Akbar Muwasholah

LirboyoNet, Kediri – Ribuan jamaah memadati gedung aula muktamar pondok pesantren Lirboyo kota kediri. Gedung aula muktamar yang lumayan begitu luas tetap tidak mampu menampung membludaknya Para jamaah. Bahkan sampai meluber di lapangan area Aula Muktamar. Diperkirakan jamaah yang hadir pada malam penuh berkah itu lebih dari lima belas ribu.

Acara malam Ahad tanggal 01/1/ 2012 kemaren itu dihelat oleh panitia Majelis Muwasholah Baina Ulamail Muslimin wilayah Mataraman yang rutin setiap tahun diadakan di pondok pesantren Lirboyo.

Tampak hadir pula beberapa pejabat tinggi yaitu, Gubernur Jawa Timur Dr. Soekarwo yang akrab disapa dengan PakDe Karwo, Wali Kota Kediri, dr. H. Samsul Ashar beserta wakilnya dan Kapolresta Kediri AKBP Ratno Kuncoro.

Mengawali sambutan atas nama Shohibul bait, disampaikan oleh KH. Ahmad Idris Marzuqi dilanjutkan sambutan Gubernur Jawa Timur PakDe Karwo.

[ads script=”1″ align=”center”]

 

Jamaah dijamin benar-benar puas, karena disuguhkan taushiyah dari beberapa muballigh kondang. Bahkan tak terasa pengajian yang dimulai pukul 19.00 WIB ini berakhir hingga pukul 02.00 WIB dini hari.

Taushiyah pertama disampaikan oleh Habib Musthofa Al-idrus dari Tuban dilanjutkan Habib Thohir Al-kaf dari Tegal, Habib Ubaidillah Al-Habsy dari Surabaya, Habib Ubaidillah bin Muhsin Al-Atthos dari Yaman dan taushiyah pungkasan sekaligus do’a penutup oleh Habib Umar Al-muthohar dari semarang.

Tak lupa Al-habib Ubaidillah bin Muhsin malam itu juga berkenan memberikan ijazah Rotibul Atthos kepada seluruh hadirin pengajian, sementara yang didaulat sebagai mutarjim beliau adalah Habib Ubaidillah al-Habsy dari Surabaya. Kedatangan Habib Ubaidillah bin Muhsin di Lirboyo ini atas utusan gurunya Yaitu Al-Musnid Al-Habib Umar bin Hafidz Hadromaut Yaman.

Acara tersebut juga ramaikan dengan Gema Sholawat grup rebana Pondok pesantren lirboyo. Ada sekitar seratus lebih penabuh rebana ditampilkan pada saat acara tersebut untuk melantunkan bait-bait pujian kepada Rosululloh. (Nang)

Kemarau Panjang, Lirboyo Minta Hujan Lagi

LirboyoNet, Kediri – “Mari kita bersama-sama melakukan Sholat Istisqo dengan rasa tadloru’(rendah diri) dan bertobat kepada Allah”, dawuh beliau setelah tahlil di maqom sebelum pelaksanaan sholat Istisqo’. pelaksanaan sholat minta hujan ini sudah yang kelima kalinya yaitu kemarin pada hari Jum’at 09/11/12 pukul 14.00 WIS.

Cuaca yang panas kian menyengat tak menyurutkan para santri untuk ikhtiyar memohon kepada Allah agar segera menurunkan hujan rahmat dengan melalui sholat Istisqo yang bertempat di lapangan sebelah utara masjid Al-Hasan pondok pesantren Lirboyo.

Sembari menunggu kerawuhan beliau, para santri melantunkan bait-bait Qoshidah Istisqo’ yang berisi doa dan istighfar. Sekitar pukul 14.00 WIS romo KH.M. Anwar Manhsur rawuh untuk memimpin sholat Istisqo’. Setelah sholat yang takbirnya tujuh kali ini rampung, dilanjutkan dengan khutbah yang diawali dengan istighfar. Ditengah-tengah khutbah dibawah sengatan terik matahari, keadaan begitu khusyu’. Beliau sempat berhenti beberapa kali dalam membacakan khutbah, dengan rasa tadlorru’, beliau mengucurkan air mata, khutbah pun selesai dan diakhiri dengan do’a. Seusai khutbah beliau tak lupa memberikan mauidzoh kepada ribuan santri bahwa, “hujan turun atas kehendak Allah, kita sebagai hamba hanya bisa berusaha dan berdoa dan tidak boleh putus asa apabila Allah belum juga memberikan hujan”. Akhlish

Pondok Pesantren Haji Mahrus (PPHM)

Pondok Pesantren Lirboyo Haji Mahrus (PPHM) merupakan satu di antara beberapa pondok unit yang berada di bawah naungan Pondok Pesantren Lirboyo. Pondok unit ini terletak sekitar 100 meter sebelah timur pondok induk. Tepatnya pada tahun 1952 M. pondok ini didirikan oleh KH. Mahrus Aly, ketika itu kondisi stabilitas nasional sedang diganggu oleh kaum komunis.

Awal-mulanya, sang pendiri KH. Mahrus Aly tidak bermaksud mendirikan pondok. Hanya secara kebetulan KH. Mahrus Aly diberi lahan oleh KH. Abdul Karim untuk membuat rumah sekaligus majelis taklim sebagai sarana mangajarkan atau membacakan kitab-kitab kepada para santri. Kemudian di sebelah utara dari majelis taklim dibuat sebuah kamar yang sangat sederhana berukuran lebar 2×4 m, sekedar sebuah tempat istirahat bagi santri yang sehari-harinya menjadi khadim beliau.

Pada tahun 1958, santri yang bermukim bertambah menjadi 20 orang sehingga tempat yang disediakan tidak cukup menampungnya. Akhirnya beliau dengan para santri membuat tiga kamar sederhana yang disediakan untuk para santri. Namun santri terus saja bertambah dan masih banyak santri yang ingin ikut bersama beliau. Sehingga tiga kamar tersebut diperbaiki sekaligus ditingkat menjadi enam kamar. Sedangkan dana untuk pembangunan kamar tersebut hanya mengandalkan dari simpatisan dan dermawan. Dikarenakan waktu itu belum berani meminta iuran dari wali santri, sebab santri yang ada belum seberapa banyak dan juga majelis taklim yang diselenggarakan beliau belum menjadi lembaga pesantren yang independen.

Tidak lama setelah dibangun enam kamar santri, maka dibangunlah kamar hunian santri yang khusus untuk masing-masing daerah. Pertama kali yaitu dari daerah Losari, Cirebon, membangun kamar yang terletak di sebelah selatan majelis taklim di atas jeding kobok, yang kemudian diberi nomor delapan (karena sebelum itu sudah ada tujuh kamar). Selang beberapa tahun setelah itu, seorang dermawan dari daerah Gebang, Cirebon, Bapak HM. Ma’mun bersama rekan-rekannya ikut membangun tempat hunian santri. Saat itu santri yang ada mayoritas dari daerah Jawa Barat dan sedikit dari Brebes, Tegal serta daerah lainnya. Pesatnya perkembangan pembangunan tempat hunian santri, ternyata juga diimbangi oleh perkembangan santri yang terus bertambah hingga mencapai 150 santri.

Sejauh itu, KH. Mahrus Aly masih tetap belum berani mengatakan bahwa tempatnya adalah pondok pesantren tersendiri, tapi hanya merupakan Himpunan Pelajar (HP) di antara beberapa HP yang ada di Lirboyo. Maka kemudian disebut dengan HP HM, artinya Himpunan Pelajar yang berada di majelis taklim KH. Mahrus. Sementara masalah keorganisasian dan tata administrsi lainnya masih mengikuti pada kebijaksanaan pondok induk, kepengurusannya juga mengikut pada pondok induk.

Dalam organisasi (jam’iyyah) juga masih merupakan wilayah JSP (Jam’iyah Subaniyah Pusat) Pondok Pesantren Lirboyo yang pada waktu itu meliputi tiga wilayah:

  1. Wilayah I, anggotanya para santri dari Jawa barat yang bertempat di Pondok Induk Lirboyo.
  2. Wilayah II, anggotanya para santri dari wilayah Pekalongan, Brebes dan Tegal (PABETA) yang berada di Pondok Induk Lirboyo.
  3. Wilayah III, anggotanya seluruh santri yang betempat di HM (H. Mahrus). Kesemuanya, kegiatan jam’iyyahnya dilaksanakan di Pondok Induk.

Situasi HM ketika itu masih cukup gelap dengan beberapa pepohonan yang tumbuh di sekitar lingkunganya. Tahun 1960-an, setelah KH. Mahrus Aly mengkhitankan putranya yang paling besar, Imam Yahya Mahrus, banyak tanaman yang rusak. KH. Mahrus Aly mengusulkan agar tempat tersebut dibangun pemukiman santri (sekarang tempat Jam’iyah Ukhuwah). Mengingat dana yang dibutuhkan tidak sedikit, akhirnya para santri senior pada saat itu mulai berfikir untuk meminta iuran pembangunan dari wali santri. Pada saat itu pula mereka mengajukan permohonan ke Pondok Induk agar HM ini bisa menjadi pondok tersendiri. Puncaknya pada tahun 1962 Pondok HM resmi menjadi pondok mandiri yang segala administrasi dan kepengurusannya ditentukan oleh Pondok HM. Bertepatan pada masa itu, KH. Mahrus Aly mengumumkan kepada para santri bahwa mushala di HM beralih status menjadi masjid yang bisa dibuat untuk i’tikaf, sebab seperti telah disinggung di atas bahwa mushala itu pada mulanya hanya merupakan majelis taklim.

Pasca kepergian KH. Mahrus Aly pada tanggal 06 Ramadlan 1405/ 26 Mei 1985, kepemimpinan Pondok Unit HM dilanjutkan oleh putra-putra beliau, yaitu KH. Imam Yahya Mahrus, K. Harun Musthofa SE, KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, KH. Zamzami Mahrus dan KH. An’im Falahuddin Mahrus.
Waktu itu, di antara putra-putra Mbah Mahrus yang lebih berperan aktif dalam mengurusi pondok pesantren HM adalah KH. Imam Yahya Mahrus mengingat KH. Imam Yahya merupakan putra terbesar. Setelah kurang lebih selama tiga tahun KH. Imam Yahya Mahrus mengurusi Pondok Pesantren HM, beliau mempunyai inisiatif untuk membangun Pondok Pesantren Lirboyo HM Al-Mahrusiyah.

Informasi pendaftaran dan pembiayaan PPHM bisa didownload di link berikut:

Instagram
pphm_lirboyo

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah