Tingkat Pendidikan

Jenjang Pendidikan Madrasah di Pondok Pesantren Lirboyo;

6 Tahun – Madrasah Ibtida’iyah  (MI)
3 Tahun – Tingkat Tsanawiyah (Mts)
3 Tahun – Tingkat Aliyah (MA)
4 Tahun – Ma’had Aly
1 Tahun – I’dadiyyah (SP)

Madrasah I’dadiyah dikhususkan bagi santri yang mendaftar tidak dari awal tahun ajaran (bulan Syawal). I’dadiyah merupakan madrasah persiapan bagi santri baru yang nanti di awal tahun ajaran baru (tahun depan bagi santri baru) akan beralih jenjang pendidikan yang lain dan santri baru tersebut boleh mendaftar ke jenjang ibtida’yyah, tsanawwi maupun aliyah, tergantung kemampuan santri baru tersebut.

Berikut adalah jadwal pemberian materi pelajaran di Madrasah:

Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTS)

berlangsung Pukul 07.00 – 11.00
(dengan waktu istirahat setengah jam 09.00 – 09.30)

Madrasah Aliyah (MA) dan Ma’had Aly

berlangsung Pukul 07.00 – 11.00
(dengan waktu istirahat setengah jam 09.00 – 09.30)

Madrasah I’dadiyah (SP)

berlangsung Pukul 07.00 – 11.00
(dengan waktu istirahat setengah jam 09.00 – 09.30)

Selain pada jam madrasah santri juga wajib mengikuti kegiatan musyawarah pendalaman materi pelajaran yang diberikan dari madrasah.  Musyawarah ini berlangsung di lokal kelas masing-masing dengan dipantau oleh bapak-bapak Mustahiq.

berikut jadwal musyawarah pada tiap jenjang pendidikan:

Madrasah Ibtidaiyah (MI)
Pukul 14.00 – 16.00

Madrasah Tsanawiyah (MTS)
Pukul 14.00 – 16.00

Madrasah Aliyah (MA)
Pukul 11.00 – 13.00

Ma’had Aly
Pukul 11.00 – 13.00

Madrasah I’dadiyah (SP)
Pukul 14.00 – 16.00

Sejarah Pembangunan Gedung

Dari tahun ke tahun kuantitas santri yang mondok ke Lirboyo benar-benar mencapai klimaks tak terduga sehingga fasilitas gedung yang ada sudah tidak memadai. Belajar mengajar yang ada di Liboyo tidak terbatas pada tempat yang diselenggarakan di serambi-serambi masjid saja. Akan tetapi juga meluber ke area tempat yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat berlangsungnya Madrasah Hidayatul Mubtadi-in, sehingga tahun 1949 dimulailah proyek pembangunan Madrasah Al Ikhwan, disusul beberapa gedung yang berdiri tegak menyambut para santri belajar di dalamnya, untuk profil gedung-gedung itu diantaranya;

 Gedung Al-Ikhwan.

Menurut saksi sejarah, dibangunnya gedung Al Ikhwan yang diprakarsai langsung oleh KH. Marzuqi Dahlan (sumber lain oleh KH. Mahrus Aly) merupakan salah satu sarana pendidikan tertua selain Al-Ihsan dan Pondok Lama. Gedung Al Ikhwan mulai diproyeksikan sekitar 5 tahun sebelum gedung Al-Ihsan. Gedung pendidikan pertama ini dibangun tahun 1956 dibawah pengawasan langsung KH. Marzuqi Dahlan. Gedung ini mempunyai dua lantai. Fasilitas gedung yang berlokasi berhadapan dengan pohon juwet dan bersebelahan dengan kamar huni santri Magelang tersebut lantai dasar difungsikan sebagai tempat tinggal santri. Sedangkan lantai atas digunakan untuk penunjang pendidikan, tempat kegiatan belajar-mengajar siswa dan aktifitas diskusi santri (musyawarah). Tepatnya pada tahun 2001, lantai atas dialih fungsikan sebagai kantor pusat Lajnah Baths al-Masâîl dan menjelma sebagai perpustakaan yang dilengkapi dengan turats-turats peninggalan salaf ash-Shâlihîn.

Gedung Al-Ihsan

Nama Ihsan merupakan singkatan dari nama-nama panitia pembanguan, alif diambilkan dari nama Ilham Nadzir, Ha’ diambilakan dari nama Hafidz (Ahmad hafidz), Sin diambilkan dari nama Sunadi dan Nun diambilkan dari nama Anwar Manshur, jadilah nama Al Ihsan. Gedung ini menjelma sebagai Muqabalah (semacam gedung tandingan) dari Gedung Al-Ikhwan serta Pondok lama yang diberi nama “Iman” oleh KH. Mahrus Aly beberapa tahun sebelumnya.

Gedung ini dibangun secara bertahap, mulai tahun 1972 hingga tahun 1977. Peletakan batu pertama oleh KH. Marzuqi Dahlan, Mbah Kurdi dari Desa Lirboyo. Awal mulanya, KH. Mahrus Aly mengusulkan agar gedung Al-Ihsan dibangun dua tingkat dengan pertimbangan saat itu belum ada otot besi penguat (beton). Akan tetapi, Kyai Marzuqi menganjurkan tiga tingkat, beliau dawuh ; “Wis ora usah otot-ototan, otote shalawat wae” (tidak usah pakai otot/penguat, tapi pakai shalawat saja).

Perjuangan panitia pembangunan Al-Ihsan sangat berat, Kyai Ilham Nadzir bersama Kyai Anwar mengendarai sepeda motor mencari kayu untuk lantai dua dan tiga ke daerah Tuban. Gedung ini memiliki tiga lantai, lantai satu dan dua masing-masing memiliki enam lokal kelas dan berfungsi sebagai tempat belajar mengajar. Sedangkan lantai tiga di desain tanpa sekat dan difungsikan sebagai auditorium yang digunakan berbagai HP (himpunan pelajar) yang belum mempunyai auditorium untuk melangsungkan Jam’iyyah pusat atau seminar. Gedung yang dibangun tanpa penguat besi tersebut hingga kini belum sedikitpun direnovasi dan menjadi cagar budaya Lirboyo.

Gedung Al-Barakah

Gedung ini dibangun tepatnya pada tahun 1986, berkapasitas tiga lantai dan digunakan sebagai wahana kegiatan belajar-mengajar santri MHM. Dikarenakan membludaknya santri putri,  pada tahun 2005 gedung ini menjadi bagian dari Pondok Pesantren Hidayah Al-Mubtadiât atas permintaan lembaga tersebut sebagai sarana belajar mengajar.

Gedung Al-Ittihâd I Dan II

Menurut para saksi sejarah, santri tempo dulu jika nderes Al-Qur`an dan belajar tidak hanya di serambi masjid melainkan juga diarea persawahan yang ada disekitar Pondok. Ajaib, petilasan santri dulu itu kini malah menjelma menjadi gedung kembar Al-Ittihâd I dan II. Sang kakak, Gedung al-Ittihâd I memiliki kapasitas 28 ruang kelas. Lantai satu dan dua digunakan untuk asrama santri sebanyak 16 hunian, ditambah dengan Kantor Pramuka, Kantor Info II, dan LIM (Lembaga Ittihâd al-Muballighîn). Sedangkan lantai tiga yang dilengkapi dengan 6 ruang kelas berfungsi untuk kegiatan belajar mengajar siswa MHM. Adiknya, Gedung al-Ittihâd II dilengkapi 12 ruangan kelas yang semuanya berfungsi sebagai tempat belajar mengajar siswa MHM. Pembanguan gedung ini selesai tahun 1987. Barulah pada tanggal 8 mei 1998 gedung ini diresmikan oleh Pof. Dr. Quraish sihab.

 

Gedung Al-Ikhlâsh

Gedung yang berdampingan dengan Blok R ini dibangun tahun 1993, mempunyai tiga lantai dan berkapasitas 18 ruang kelas. Selain berfungsi sebagai kegiatan belajar mengajar, gedung ini sering digunakan untuk baths al-Masâîl HP (Himpunan Pelajar) yang belum mempunyai auditorium sendiri. Berbagai daerah yang belum memiliki ruang pertemuan sendiri juga melaksanakan Jamiyyah wilayah di gedung ini.

Gedung An-Nahdlah

Gedung ini mulai dibangun tahun 1998, pembangunannya dengan sistem bertahap, gedung ini berkapasitas 29 lokal. Lantai satu paling utara digunakan sebagai kantor pusat M3HM. Dua lokal Lantai dua sebelah utara digunakan sebagai kantor pusat kelas dua dan tiga Aliyah. 7 lokal lantai dua digunakan sebagai aula  yang berfungsi sebagai tempat digelarnya Muhafadhah Akhîr as-Sanah. Dikarenakan lokasinya berdekatan dengan Aula al-Muktamar, gedung ini sering digunakan sebagai penginapan peserta yang menghadiri acara di aula seperti pada saat muktamar NU XXX tahun 1999, Munas Himasal, Reuni Akbar Himasal tahun 2004 dan MQKN II pada tahun 2006.

Gedung Al-Muhafadzah

Gedung ini dibangun pada tahun 1994, didesain tanpa sekat dan berkapasitas menampung 500 orang. Awal dari fungsi gedung ini untuk kegiatan lalaran rutinan (muhafadzah mingguan). Gedung ini juga berfungsi sebagai pusat kegiatan Jam’iyyah atau seminar para santri. Tepatnya pada tahun 2002, gedung ini disekat menjadi 6 ruang kelas. Selain kedua fungsi di atas, mulai tahun 2005, gedung ini juga berfungsi sebagai tempat belajar mengajar siswa tingkat I’dadiyyah I dan II pada siang hari.

Mbah Yai Idris : “Tingkatkan Kewaspadaan”

LirboyoNet, Kediri – (28/04/2011) Berkembangnya berbagai isu tentang Lirboyo via sms maupun media massa, membuat alumni di beberapa daerah di tanah air menjadi gundah, sebab sebagian diantaranya mengatakan bahwa Lirboyo sedang diserang kekuatan supranatural, sehingga lantai keramik di serambi Masjid menjadi retak dan pecah tanpa sebab. Menanggai isu tersebut, secara Khusus KH. Ahmad Idris Marzuqi mengatakan bahwa isu-isu tersebut ada benarnya, sebab melihat fenomena yang terjadi belakangan ini, kita patut waspada dan tidak boleh dipandang sebelah mata.

Pernyataan yang disampaikan beliau dalam pengajian kitab Al Hikam yang rutin dilaksanakan pada setiap kamis legi ini, menjawab teka-teki yang telah beredar luas di masyarakat, apalagi setelah di beritakan oleh sebuah harian di Jawa Timur. “Saya telah bertanya kepada dua orang sepuh yang saya rasa mampu menerawang, dan kedua-duanya menjawab kita sedang diserang kekuatan Hitam,” ujar beliau serius. Tapi beliau juga menambahkan jika menurut sudut pandang ahli pertukangan, fenomena yang terjadi di serambi masjid tersebut adalah kejadian biasa, yang disebabkan oleh tekstur tanah yang panas dan bergerak. Oleh karenanya apa salahnya jika kita bersiap diri dan berhati-hati.”

Selanjutnya kiai sepuh yang akrab di panggil Mbah Yai ini menuturkan, segenap komponen bangsa sekarang sedang diteror oleh berbagai macam golongan kiri, salah satunya adalah NII, sehingga ada kemungkinan teror yang selama ini diterima oleh keluarga besar PP. Lirboyo adalah bentuk teror mereka, “ada salah satu Alumni sepuh yang bilang, Lirboyo akan ada apa-apa, maka sebaiknya waspada,” ujar beliau. Mbah yai juga menambahkan bahwa kewaspadaan perlu ditingkatkan baik berupa pengamanan fisik maupun Riyadloh dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.

Dalam kegiatan pengajian Kamis Legi yang membahas dalam tentang macam-macam derajat manusia ini (Halaman 71-73 Kitab Al Hikam), jumlah peserta lebih banyak dibandingkan hari-hari biasanya, sehingga Serambi Masjid menjadi penuh sesak oleh para Alumni yang sedang mendengarkan petuah dari Mbah Yai Idris dan Mbah Yai Anwar. Salah seorang koordinator pengajian mengatakan “ Mungkin kehadiran mereka selain Ngaos (Ngaji-red) juga ingin mendengarkan langsung jawaban Mbah Yai mengenai isu yang berkembang,” Ujar Ust. Rofi’I Asmuri ketika diwawancari lirboyo.net. untuk (Riff)

Silaturahi dan Istighosah Bersama Kapolda Jawa Timur

LirboyoNet, Kediri –  Merebaknya aksi teror belakangan ini membuat banyak kalangan menjadi gerah, terlebih lagi aparat Kepolisian, mereka seperti kecolongan, sehingga ketentraman yang selama ini telah tercipta kembali terusik. Untuk menanggulangi terjadinya bentuk terror-teror yang lain dan memperkuat keutuhan NKRI, kemarin Kepala Polisi Daerah Jawa Timur (Kapolda-Red) Irjen Pol. Dr. Untung S. Radjab SH mengunjungi Pondok Pesantren Lirboyo.

Kunjungan silaturohim yang dirangkai dengan acara Istighotsah ini. Kapolda hadir bersama Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Syaifullah Yusuf dan beberapa pengawal Kapolda. Dari unsur Ulama, hadir seluruh pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, diantaranya KH. Ahmad Idris Marzuqi, KH. M. Anwar Manshur, KH. Imam Yahya Mahrus dan KH. Abdul Aziz manshur. Acara yang dilaksanakan di Gedung Aula Muktamar komplek barat Pondok Pesantren Lirboyo ini (25/04) diikuti oleh seluruh santri Putra Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam sambutan atas nama Pengasuh dan keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, secara tegas KH. Imam yahya Mahrus mengatakan bahwa para Kyai dan Santri secara tegas akan mengawal Polisi untuk mengamankan NKRI, sebab akhir-akhir ini tugas polisi dirasa semakin berat, “diakui atau tidak, pekerjaan Pak Kapolda ini, sangatlah berat, oleh karenya para Kyai dan santri wajib untuk membantu mengamankan NKRI, dan itu adalah harga mati.”

Senada dengan sambutan Kyai Imam Yahya, Wakil Gubernur Jawa Timur Drs. H. Saifulloh Yusuf, sebagai representasi pemerintah Jawa Timur akan berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga keamanan dan ketertiban di Jawa Timur. Menyinggung salah satu tujuannya hadir di PP. Lirboyo bersama Kapolda Jatim ini, Gus Ipul mengatakan ingin menyambungkan Silaturohim yang terjalin selama ini antara Kapolda Jatim dengan pondok-pondok sejawa Timur, “saya Hadir disini sekaligus mewakili pak Gubernur ingin mengantarkan Pak Kapolda Sowan-sowan kepada Para Yai. ”

Setelah acara sambutan Wakil Gubernur, acara dilanjutkan dengan istighotsah yang dipimpin oleh KH. M. Anwar Manshur, dalam pembacaan Do’a-doa ini, suasana Aula Muktamar menjadi hening, karena bacaan doa yang dilantunkan secara bersama ini diikuti oleh seluruh santri.

Dalam sambutannya, Kapolda Jatim Irjen Pol. Untung S. Radjab banyak menyindir keberadaan golongan-golongan kiri yang merasa paling benar, sebab mereka kerap melakukan tindakan-tindakan yang meresahkan warga, “Kita dalam beribadah, pasti hanya bertujuan mengharapkan Ridlo dari Allah SWT, jadi kita tidak boleh hanya karena menghormati symbol-simbol semata,” ujarnya, lebih lanjut jenderal polisi dengan bintang dua di pundaknya ini menyatakan, sudah saatnya kita menata hati kita agar keamanan yang selama ini telah terbina selalu terjalin.

Sesaat sebelum acara Istighotsah ditutup dengan Doa, Pengasuh PP. Lirboyo KH. A. Idris Marzuqi berkenan memberikan kenang-kenangan berupa Kalender dan buku Sejarah Tiga Tokoh Lirboyo. Selanjutnya acara di teruskan dengan foto bersama dan di Akhiri dengan Do’a yang di Pimpin KH. M. Abdul Aziz Manshur. (riFF)

Majalah MISYKAT

Di era 80-an, tepatnya tahun 1986, Lirboyo berkesempatan mengirimkan delegasinya (Kru Majalah Dinding Hidayah) untuk mengikuti lokakarya kejurnalisan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Acara tersebut diikuti oleh perwakilan pesantren yang ada di tanah Jawa. Inti kegiatan itu adalah agar dalam lingkungan pesantren budaya tulis menulis kian berkembang, seperti yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Ishomuddin Hadziq, dalam sambutannya.

Menyadari akan pentingnya media informasi sebagai penunjang dakwah, tepat beberapa waktu setelah diadakannya lokakarya tersebut, hampir secara bersamaan terbitlah banyak majalah di pesantren-pesantren, seperti Suara Cipasung di Pondok Pesantren Cipasung, Majalah Tebuireng di Pondok Pesantren Tebuireng, dan Bulletin MISYKAT di Pondok Pesantren Lirboyo yang secara resmi diterbitkan berdasarkan SK. BPK P2L No. 20/BPK P2L/III/’86 Tentang penerbitan Bulletin/ Majalah.

Setelah disepakatinya penerbitan majalah di Lirboyo, dari hasil sidang tim ada dua nama yang diajukan, yaitu GAGASAN dan MISYKAT. Nama MISYKAT sendiri sebenarnya bukanlah usulan dari anggota sidang. Adalah Ghazi GZ, redaktur Majalah Panji Masyarakat (Panjimas) yang mengusulkan nama MISYKAT.

Untuk menentukan salah satu dari kedua nama tersebut, ditunjuklah Nur Badri (Kepala Madrasah PP. Raudlatul Huda, Kerokan, Kedu, Temanggung, Jateng) untuk melakukan shalat istikharah. Oleh Nur Badri –yang selanjutnya menjadi pimpinan redaksi pertama MISYKAT–  kedua nama ini kemudian ditulis pada dua helai kertas dan diletakkan di bawah sajadah. Seusai salat istikharah, kedua kertas nama yang sudah dilipat itu diajukan kepada KH Imam Yahya Mahrus untuk diambil salah satunya. Dan setelah dibuka, yang keluar adalah nama MISYKAT.

Saat penerbitan edisi pertama dilaksanakan selamatan kecil-kecilan yang diikuti oleh semua kru (saat itu kru MISYKAT diambilkan dari kru Majalah Dinding Hidayah). Dengan modal sebuah mesin ketik, satu buah tustel, dan uang sebesar Rp. 600.000,00 hasil mengikuti lokakarya UDPI di Tebuireng, terbitlah edisi perdana Bulletin MISYKAT dengan tema; Empat Belas Macam Ilmu dalam Itmamuddiroyah, yang disampaikan oleh Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) ketika berkunjung di Lirboyo dan diliput oleh Bulletin MISYKAT.

Sesuai keputusan, Bulletin MISYKAT terbit secara berkala tiga bulan sekali. Edisi pertama cetak 300 exs. dengan harga RP. 500/ exs. Dari 300 exs tersebut, terjual sekitar 200 exs., sedang yang 50 exs. dibagi-bagikan kepada para masyayikh dan simpatisan. Melihat kesuksesan edisi pertama, pada edisi selanjutnya MISYKAT memberanikan diri untuk mencetak 200 exs.

Sayang, saat MISYKAT baru mulai berkembang dan mulai dikenal masyarakat, MISYKAT hanya mampu terbit tiga edisi saja. Alasan utama kevakuman MISYKAT adalah tidak adanya regenerasi. Waktu itu, kru MISYKAT didominasi oleh santri-santri tamatan (kelas III Tsanawiyah). Jadi, sewaktu mereka harus kembali ke rumah masing-masing, secara otomatis meninggalkan MISYKAT dan hanya Faruq Zawawi, satu-satunya kru yang masih bertahan.

Merasa tidak mampu menjalankan MISYKAT sendirian, Faruq Zawawi menyerahkan inventaris yang dimiliki MISYKAT ke pihak pondok Lirboyo. Sebuah mesin ketik, kamera, dan uang tunai 750.000 ia serahkan ke pengurus untuk dimanfaatkan.

Setelah mati suri selama kurang lebih 17 tahun, pada tanggal 29 Januari 2004, tiada yang menyangka kalau akhirnya MISYKAT hidup kembali. Dengan format bulletin sebagaimana edisi terdahulu, tampilan sederhana dan bisa dikata kurang menarik. Namun ternyata, hal itu tidak mengurangi minat pelanggan.

Tahun demi tahun, berkat kegigihan serta loyalitas para krunya, MISYKAT dapat berkembang dengan pesat. MISYKAT yang hadir kembali dengan format Bulletinpun kemudian berbenah dengan format majalah. Mulai dari 12, 34, 64, 68 halaman, dan mulai Edisi 49, November 2008, MISYKAT tampil setebal 100 halaman, meskipun dengan tampilan grayscale. Baru mulai Edisi 60, Mei 2010, MISYKAT tampil full colour.

Segmen pembacanya pun terus meningkat. Tidak hanya berkutat di wilayah Jawa dan pesantren, namun sudah merambah di seluruh Nusantara. Bahkan, MISYKAT juga beredar di luar Negeri dengan oplah pada kisaran 2000 eks. dalam setiap edisi. Sebagai catatan, karena banyaknya permintaan pelanggan, MISYKAT pernah cetak sampai 7000 eks.

MISYKAT terus melakukan pembenahan. Dan melihat perkembangan teknologi kian maju, terutama dunia internet, MISYKAT pun menerbitkan versi onlinenya dengan domain http://misykat.lirboyo.net/.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah