Khutbah Jumat November 2020: Sabar, berserah diri, dan Ridho

Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي تَفَرَّدَ بِالْعِزِّ والْجَلَالْ.  وتَوَحَّدَ بِالْكِبْرِياء ِوالْكَمالْ.أَحْمَدُه عَلى كُلِّ حالٍ حَمْدًا يُقابِلُ نِعَمَه , ويُدافِعُ نِقَمَه, ويُساوِي مَزِيْدَه فِي الْحالِ والْمَآل. أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهْ ذُو الْمَنِّ والْإفْضَالْ. وأَشْهَدُ  أَنَّ سَيِّدَنا  مُحمدًا عَبْدُهُ ورَسُولُهْ الْمُنْقِذُ مِنَ الضَّلَالْ الدَّاعِي  إِلَى أشْرَفِ الْحِصَالْ, ومُبِيْنُ الْحَرامِ مِنَ الْحَلَالْ. صلَّى اللهُ عليهِ وسَلَّمَ وعلى أَصْحابِهِ وآلِه خَيْرِ آلْ.

أمَّا بعدُ. فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hadirin Kaum Muslim yang berbahagia …

Dalam kesempatan yang penuh barokah ini, khatib berwasiat kepada kita sebagai umat Islam dan terutama khatib pribadi untuk  senantiasa selalu memperbaiki kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larang-Nya. Dan semoga kita semuanya mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah Swt. Amiin.

Hadirin Jama’ah sholat Jum’at yang Dirahmati Allah Swt. …

Manusia selalu mengalami pasang surut dalam hidupnya. Suka, duka, senang, dan susah datang silih berganti. Menghadapi kenyataan yang semacam ini, Islam mengajarkan kepada kita sifat sabar dan syukur. Dalam masa-masa sulit tertutama kondisi pandemi yang sampai sekarang belum ada kejelasan sampai kapan akan berakhir, kita sebagai manusia dianjurkan untuk bersabar. Di sini kesabaran diperlukan agar kita mempunyai kesiapan mental dalam mengahadapi kesulitan ini. Allah Swt. berfirman dalam al-Qur’anul Karim :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصابِرُوا وَرابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kalian beruntung”. ( Q.S Ali Imron : 200 )

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

            Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa sabar itu ada tingkatannya. Pertama, sabar dalam arti siap mental menghadapi berbagai kesulitan. Kedua, sabar dalam arti ulet dan tahan banting dalam usaha mencari jalan keluar. Ketiga, sabar dalam arti tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan. Antara sabar dan syukur ada keterkaitan sebagaimana keterkaitan antara nikmat dan cobaan. Setiap kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan dan tidak pernah lepas dari nikmat dan cobaan. Semua itu meliputi ketaatan, kemaksiatan, dan cobaan merupakan gambaran kehidupan. Oleh karenanya, sabar adalah separuh keimanan.

Keluh kesah yang kita rasakan di kala mendapat cobaan dan ujian merupakan sebuah perbuatan yang tercela, yang akan membawa kehancuran. Dalam kehidupan ini tidak ada pilihan dari kita sebagai seorang muslim untuk menjalani kehidupan kecuali dengan sikap sabar. Oleh sebab itu, sifat sabar tidak bisa dipisahkan dengan berserah diri dan ridho kepada takdir yang telah ditentukan oleh Allah Swt.

Hadirin Kaum Muslimin yaang dirahmati Allah …

Di dunia ini kita sebagai penduduk bumi tak pernah sepi dari ujian. Kita tidak bisa menghindarinya, sebab jika menghindari ujian dan cobaan, berarti kita gagal dalam menempuh kehidupan yang lebih baik. Sesungguhnya Allah ingin mendewasakan kita dengan cara diberi pelajaran berupa ujian hidup. Barang siapa yang sabar dan tangguh serta tidak putus asa dalam menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan ia akan akan lulus ujian. Hal ini selaras dengan firman Allah Swt.

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الأمْوَالِ وَالأنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.

 Arinya : “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wainna ilaihi raji’un”. ( Q.S al-Baqarah : 55-156 )

            Ujian dan cobaan memang tidak menyenangkan, kecuali bagi orang-orang yang sabar dan mampu menghadapinya dengan tenang. Tidak ada kebahagiaan yang datang secara tiba-tiba tanpa ada perjuangan yang harus dilalui. Ini merupakan hukum Allah yang berlaku bagi siapa saja. Allah Swt. menjanjikan kebahagiaan jika kita bersabar dalam mengahadapi ujian hidup.

Hadirin jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

            Allah menganugrahi sifat orang-orang yang sabar dengan berbagai sifat keutamaan, kemuliaan, dan derajat yang tinggi. Hal ini bisa kita temui dalam firman Allah Swt.

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Artinya : “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar”. ( Q. S as-Sajdah : 24 )

Kesabaran juga mendatangkan pertolongan dari Allah Swt. dalam firman Allah Swt. :

وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ الْحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

Artinya :” Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”( Q.S. al-A’raf : 137 )

Hadirin yang berbahagia …

            Dalam setiap ibadah, Allah telah menentukan kadar pahalanya, kecuali pahala sabar. Oleh karenanya, puasa merupakan ibadah yang pahalanya merupakan rahasia Allh dan menunjukan pahala yang di perolah sangatlah besar. Hal itu dikarenakan puasa adalah separuh dari kesabaran.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang di rahmati Allah Swt. …

Sekian khutbah singkat pada kesempatan ini, mudah-mudahan kita semuanya dijadikan orang-orang yang sabar dan tangguh dalam menghadapi ujian dan cobaan agar kita bisa meraih ridho Allah Swt. Amiin.

أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ اُولٰۤىِٕكَ يُؤْتَوْنَ اَجْرَهُمْ مَّرَّتَيْنِ بِمَا صَبَرُوْا وَيَدْرَءُوْنَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ.

فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ.

اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: JANGAN PERNAH MEREMEHKAN KEBAIKAN

Subscribe juga:
Bukti Cinta Pada Nabi | KH. M. Anwar Manshur

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 Hadis

Bangsa Arab, sebelum datangnya Islam yang merombak seluruh lini kehidupannya, merupakan bangsa yang tidak diperhitungkan peranan dan kiprahnya di dunia timur maupun barat. Peradaban mereka masih tertinggal jauh. Jangankan minat mengembangkan bidang keilmiahan dan penemuan-penemuan, justru mereka masih sibuk dengan konflik internal yang berkepanjangan. Perang antar suku yang setiap detiknya bisa tercetus, seperti api yang menemukan dedaunan kering untuk disantap. Bahkan pemantiknya bisa datang dari perkara-perkara yang remeh temeh.

Bukannya latah hendak berkata “semua berubah setelah negara api menyerang”, tapi memang nyatanya demikian. Tentu perubahan yang dimaksud tidaklah yang berkonotasi negatif seperti dalam cerita film The Legend itu. Islam hadir membawa cahaya kehidupan baru bagi bangsa kakbah ini. Mereka yang awalnya hanya direpotkan dengan perang, kini Islam mampu mempersaudarakan mereka dengan begitu mengharukan tiada dua.

Perubahan yang divisikan Islam merambah di segala porsi kemanusiaan mereka. Dalam sekejap, mereka bertransformasi menjadi bangsa super power yang mencengangkan. Menggulung kemusyrikan di timur dan barat. Namun demikian tanpa berlaku vandalisme seperti kebanyakan bangsa yang tengah berada di atas angin sepanjang sejarah kehidupan manusia.

Fotomemory

Cukuplah, sebenarnya saya ingin mengulas soal lain, yakni daya hafalan yang dimiliki penduduk bangsa ini yang sangat luar biasa. Sudah tidak perlu ambil contoh jauh-jauh, Al-Quran dan ribuan hadis yang sampai kepada kita dengan jalan mutawatir itu saja bisa menjadi bukti kualitas mereka. Terlepas dari jaminan Allah untuk menjaga keotentikan Al-Quran itu sendiri.

Padahal, mungkin di masa yang sama, di negeri kita ini, sedikit sekali perkataan-perkataan moyang kita yang sampai ditelinga kita dengan selamat tanpa penambahan maupun pengurangan.

Mula-mula, sebelum mengenal istilah tulis menulis lebih dalam, yang diimpor dari bangsa Persia saat mendapati tawanan mereka pandai akan hal ini dan dijadikan sebagai tebusan pembebasan dengan syarat mau mendidik beberapa orang arab untuk belajar menulis dan membaca, bangsa Arab sangat malu-kalau enggan mengatakan antipati- terhadap bidang kepenulisan.

Mencatat informasi dalam selembar pelepah kurma atau kulit binatang, bagi mereka adalah sebuah aib, sebab hal tersebut menandakan lemahnya daya ingat yang mereka banggakan itu. Konon sampai sekarang, orang-orang dengan gen kekuatan hafalan yang luar biasa ini masih bisa kita jumpai di sana. Jadi, pada waktu itu, kalau mau membawa pensil dan mencatat, seseorang harus sembunyi-sembunyi, jangan sampai ketahuan orang lain, kalau tidak ia akan mendapatkan cemoohan.

Isyarat Al-Quran menjelaskan :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”

Rahasia Abu Hurairah Hafal 5374 hadis

Nama aslinya sebelum masuk Islam adalah Abdul Syam, datang dari tanah wali, Yaman. Setelah masuk Islam namanya berubah menjadi Abdul Rahman, lalu lebih dikenal dengan Abu Hurairah Ra.

Beliau adalah Sahabat yang paling banyak periwayatan hadisnya, sejumlah 5374 hadis yang beliau hafal. Bahkan, sahabat Abdullah ibn Umar Ra yang jumlah hafalannya 2630 hadis dan tepat di urutan setelahnya hanya mencapai hitungan separuh dari keseluruhan hafalan milik Abu Hurairah. Karena memang beliau sangat totalitas dalam bidang ini.

Saat kebanyakan Sahabat Muhajirin sibuk dengan urusan transaksi di pasar, dan Sahabat Anshar dengan perniagaannya, beliau tak pernah menjauh dari mengais mutiara-mutiara yang keluar dari lisan orang termulia, Nabi. Seharusnya memang seperti itu semangat seorang santri. Mendekatkan diri pada mata air.

Tak heran nama kunyah yang familiar terhadap beliau adalah Abu Hurairah yang artinya bapaknya kucing. Sebab beliau selalu mengikuti di mana pun Nabi pergi, yang seperti ini mirip dengan perilaku kucing yang mengincar seekor ikan teri. Tapi kenyataannya memang beliau sangat menyukai hewan yang juga dicintai Nabi tersebut.

Kunyah itu memang nama anugerah bagi Abu Hurairah yang disematkan langsung oleh baginda nabi saat menjumpainya sedang membawa ia seekor anak kucing, hingga setelah itu tiada seorang pun yang memanggilnya dengan nama asli.

Pemacu

Dalam sebuah riwayat yang dituturkan oleh beliau sendiri, pernah suatu ketika beliau ingin menemui Nabi untuk mengadukan permasalahan dari hafalannya yang sering lupa. Ia sangat takut akan hal ini. Padahal spiritnya untuk memperbanyak untaian mutiara dari kalam nabi itu agar ia tidak tergolong dari kelompok yang diancam Allah dengan siksaan yang pedih, yakni kelompok yang menyembunyikan ilmu tanpa menyebar dan mengajarkannya kepada orang lain.

Akhirnya beliau beranjak pergi menemui Nabi. Setelah berjumpa, ia ungkapkan kekhawatirannya itu.

“Wahai Rasulullah, sungguh aku telah menghafalkan banyak hadis dari engkau, namun aku sering dibuat lupa. ” Begitu keluhnya, yang bisa ditangkap nabi kalau Abu Hurairah meminta solusi kepada beliau tentang permasalahannya itu.

Tanpa banyak berbicara, beliau meminta Abu Hurairah menggelar selendang miliknya.

“Gelarlah selendangmu.” perintah Nabi yang segera disambut Abu Hurairah. Setelah selendang tergelar di tanah, beliau Nabi mendekat. Lalu menyaukkan kedua telapak tangan suci beliau di udara, seakan beliau sedang mendapatkan sesuatu. Lalu ‘sesuatu’ yang beliau ‘ambil’ dari udara itu di letakkan di atas selendang.

“Dekaplah selendang itu.” ujar baginda Nabi. Mendengar perintah dari orang yang paling dicintainya melebihi apa pun, Abu Hurairah lekas menaati titah. Ia mendekap selendangnya. Ajaib, dengan izin Allah, setelah kejadian ini, Abu Hurairah tidak pernah mengalami kelupaan dalam meriwayatkan ribuan hadis yang telah rapi terkodifikasi dalam memori otaknya.

“Setelah itu aku tak pernah mengalami kelupaan.”

Berselera humor tinggi

Mungkin selama ini kita tahu kalau Abu Hurairah selalu berkutat dengan ilmu saja, sangat wirai dan zuhud terhadap dunia. Karena memang datang ke kota nabi tanpa membawa harta bendanya. Ia khusus mengkhidmahkan diri kepada nabi dan cukup baginya hanya bertempat tinggal di shuffah Masjid Nabawi bersama kawan-kawannya.

Namun ternyata ada sisi lain yang mungkin jarang kita ketahui, Abu Hurairah adalah seorang yang periang dan humoris. Seakan kehidupannya serba kekurangan dan tanpa memiliki materi. Bahkan untuk makan pun harus menunggu uluran tangan para dermawan, bukanlah alasan bagi beliau untuk tetap bisa berkelakar.

Setiap berjumpa dengan bocah-bocah sahabat Anshar-Muhajirin, beliau pasti membuat mereka tertawa. Ketika bertemu orang-orang yang sedang beraktivitas di pasar, beliau menghibur mereka hingga bisa membuat lupa beban pikiran.

Dan dari tingkahnya yang selalu menjadi penghibur banyak orang itu, beliau akan menjadi hamba yang penuh pasrah kala malam menjelang, khusyuk bermunajat kepada Rabbul izzah menyingkirkan kerikil-kerikil hubbuddunya. [ABNA]

Menangkal Disrupsi Informasi Melalui Kitab Kuning di Era Digital

“Diam adalah jawaban terbaik untuk semua pertanyaan. Tersenyum adalah reaksi terindah dalam semua situasi”.
Begitulah seharusnya kita. Namun tidak untuk manusia spesialis millenial. Hadirnya internet dan maraknya pengguna gawai menjadi alarm—menandakan bahwa kita, telah memasuki era disrupsi. Era di mana kekacauan mulai merambah luas. Media informasi baik di internet maupun media cetak, sampai saat ini terus berkembang mengikuti arus perubahan zaman. Tak dapat dipungkiri, jika informasi sangat mempengaruhi pola pikir masyarakat awam maupun kaum berpendidikan.

Dari arah sini, terdapat benang merah yang dapat ditarik yaitu—sangat dibutuhkannya berita informasi yang benar—baik secara lisan, media cetak, atau internet. Karena faktanya internet atau media sosial menjadi pilar utama dalam perkembangan berita palsu. Santri sebagai penerus perjuangan para ulama yang selalu menebarkan citra baik, sepatutnya dapat selalu mengaktualisasikan bagaimana perkembangan informasi yang terjadi dalam masyarakat. Bukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok semata, namun sebagai upaya menanggulangi dan meminimalisir dampak negatif arus perubahan yang mengkibatkan disrupsi ini. Demi menyemerbakkan rasa damai dalam setiap jiwa insan.

Dalam tinjauan hasil riset Kapolda Sulawesi Tenggara menjelaskan, bahwa saat ini jumlah pengguna internet atau media sosial terus bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Bahkan, Kementrian Komunikasi dan Informasi mencatat, jumlah pengguna di Indonesia telah mencapai 132.7 juta orang. Data tersebut juga menyebutkan, “ada sekitar 800.000 situs di Indonesia yang telah terindikasi sebagai penyebar informasi palsu.” Kominfo menuturkan, bahwa internet sudah salah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya dengan cara menyebarkan konten negatif yang menimbulkan keresahan dan saling mencurigai antar masyarakat.

Mengabsahkan Kitab Kuning

Saat ini, generasi santri millenial mengalami tantangan yang sangat berat. Dengan keadaan pola pengajaran yang tetap menggunakan Kitab Kuning (turats karangan ulama terdahulu), mereka harus bisa mengimbangi arus perubahan sosial yang meliuk-liuk dengan begitu deras. Karena jika tidak, mereka hanya akan menjadi generasi penonton, bahkan korban dari kemajuan teknologi yang terus berkembang dari revolusi industri 4.0 hingga menuju revolusi society 5.0.

Sebagai warisan khazanah Islam, keberadaan Kitab Kuning yang sampai saat ini masih dijadikan sebagai kurikulum wajib dari semenjak puluhan abad lalu, tak pernah mencecap rasa kadaluwarsa dari negara yang mayoritas Islam ini untuk terus dinikmati. Di dalamnya, mencangkup kajian ilmiah dari para intelektual Muslim tentang ilmu tauhid, tasawuf, fikih, tata bahasa arab (nahwu), hadist, ahlak, serta keilmuan lainnya. Sebagai aktualisasi dalam ilmu pengetahuan melalui penciptaan yang sanadnya sampai kepada Rasulullah Saw., Kitab Kuning menjadi salah satu alat untuk menangkal adanya disrupsi informasi atau sering disebut hoaks.

Namun sangat miris sekali, jika ada anggapan perihal Kitab Kuning terbelakang dan tidak relevan.

Mempelajari Kitab Kuning merupakan salah satu upaya paling mudah untuk menyelaraskan pemahaman yang tepat dalam mengamalkan syariat Islam. Hal ini dapat ditasawurkan melalui kajian yang sering dilakukan oleh kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah dalam memecahkan sebuah problematika umat. Diantaranya melalui musyawarah bahtsul masa’il. Kenapa dalam hal ini referensi yang diambil menggunakan Kitab Kuning? Sudah maklum, Kitab Kuning merupakan hasil dari goresan tangan terpercaya dari Intelektualis Muslim yang memiliki kredibilitas dalam bidangnya. Dengan begitu, tidak diragukan lagi kekhawatiran pemahaman yang salah untuk dijadikan sebagai tendensi kajian ilmiah. Tidak hanya itu, bahkan kefalidan data yang terkandung dalam Kitab Kuning sangat dibutuhkan oleh peneliti, mahasiswa dan sekolah Islam sebagai suatu yang sangat diperhitungkan dalam pedoman keaslian sumber. Karena dengan kerumitan metode penulisan menggunakan bahasa Arab, bisa diasumsikan hanya orang-orang tertentu sajalah yang dapat menuliskannya.

Melalui hal di ataslah, Kitab Kuning yang dijadikan pedoman di setiap pondok pesantren menemukan relevansitasnya—juga menjadi fakta baru bahwa dengan mempelajarinya, berarti telah memberikan sumbangsih maha penting dan berharga bagi masyarakat sebab dapat menangkal adanya disrupsi informasi.

Pekerjaan sekarang bagi santri millenial yaitu mengupayakan bagaimana menciptakan ide kreatif dan inovatif dalam menyampaikan keagamaan di tengah fenomena sosial yang terus berubah. Era disrupsi menjadi tantangan sekaligus peluang baru bagi kaum sarungan untuk menyampaikan narasi keagamaan yang sesuai dengan ajaran Islam dan merujuk pada sumber yang tepat. Dan yang menjadi perhatian penting saat ini adalah bagaimana Kitab Kuning menjadi sumber referensi keilmuan yang dapat mengisi ruang media internet sekaligus media sosial lainnya. Yaitu perlunya digitalisasi Kitab Kuning yang disebar-luaskan di berbagai platfrom media, sebagai ikhtiar menyemarakkan aktivitas mengonsumsi Kitab Kuning—dengan hal ini dapat meminimalisir opini keagamaan tidak sejalur yang telah menyebar luas karena digitalisasi.[]

Penulis: Laeli Zakiyah

Baca juga:
PENGGUBAH SHOLAWAT BADAR ITU SANTRI LIRBOYO

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

Khutbah Jumat: Jangan Pernah Meremehkan Kebaikan

KHUTBAH I

الْحَمْدُ للهِ بِجَمِيعِ مَحامِدِهِ كُلِّها, ونَحْمَدُهُ حَمدًا يُوافِي نِعَمَه و يُكَافِي مَزِيدَهُ ويُدافِعُ النِّقَمَ  ونَشْكُرُهُ عَلى ما فَقَّهَ مَنْ أَرادَ لَهُ خَيْرًا كامِلًا فِي الدِّيْن الأَقْوامِ. اللهمَّ صَلِّ و سَلِّمْ  عَلى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ الرَّسُولِ الْأَعْظَمِ وعلى آلِه فَلَكِ الْأُمَمِ وأصْحابِهِ مَصابِيحِ الظُّلَمِ  والتابِعِينَ لَهُم  إِلى يَوْمِ يُكْشَفُ فِيْهِ كُلُّ وَصَمٍ بعَدَدِ كُلِّ حَرْفٍ جَرى بِهِ الْقَلَمُ.

أمّا بَعْدُ,  فَيا عِبادَ اللهِ أُوصِيْكُمْ  ونَفْسِي  بِتقوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ فَقَدْ قالَ الله تعالى في كِتابِهِ الكَرِيْمِ : وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang dirahmati Allah …

Dari atas mimbar khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa meningkatkan kwalitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan cara menajalankan segala kewajiban yang di perintahkan Allah Swt. kepada hamba-Nya dan menjauhi segala apa yang telah di haramkan-Nya.

Kaum Muslimin yang berbahagia …

Menyikapi keaadan Dunia yang semakain tua ini, sebuah kebaikan yang di dasari dengan tulus dan ikhlas sudah mulai langka, bahkan kemungkaran dan kerusakan malah semakin membabi buta. Kebaikan–kebaikan yang muncul di Dunia yang sekarang ini mayoritas para pelakunya di dasari sebuah kepentingan pribadi dan tidak demi kepentingan umum yang sehingga jika kebaikan itu tidak berpihak kepada dirinya maka sangatlah sukar untuk dilakukan. Padahal jika kita mampu menjadi penyebar kebaikan, Allah akan menggerakkan tangan-tangan orang mulia yang akan menyiramkan kebaikan pada taman kehidupan dunia.

عَن جابِرِ بْنِ عبدِاللهِ رضي الله عنه قال : قال رَسُولُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم : مَنِ اسْتَطاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخاهُ فَلْيَفْعَلْ ( رواهُ مُسلم ).

Artinya : “Dari Jabir bin Abdillah ia berkata : Bahwa Rasulullah Saw. bersabda : “ Barang siapa yang bisa memberi kemanfaatan kepada saudaranya, maka hendaklah ia melakunnya”. ( H.R. Muslim ).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

Dari hadist di atas, telah memberikan gambaran bahwa janganlah pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun. Jika kita merindukan cinta dan simpati dari orang lain, jangan pernah meremehkan amal yang dapat kita sumbangkan buat orang lain. Tidak sedikit amal atau kata-kata yang dianggap kecil oleh pelakunya namun besar bagi yang menerimanya. Jangan kita lupakan ketika seseorang mengalami ketidakberdayaan dan menunggu uluran tangan dan dukungan, bisa jadi satu kata ucapan kita menjadi obat baginya. Sikap lemah lembut, murah senyum, dan santun bertutur kata dapat meredahkan sebuah amarah, memupus dahaga, dan mengikis dengki. Rasullah Saw. bersabda :

لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا  وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ ( رواهُ مُسلم ).

Artinya : “ Jangan pernah meremehkan kebajikan sedikitpun walaupun denagn berupa senyuman yang berseri tatkala bertemu saudaramu “. ( H. R. Muslim ).

Nasihat Rasulullah Saw. mendorong kita untuk mengerahkan segala kebajikan dengan warna-warni dan ragam tingkatan. Sekaligus berpesan agar selalu berkesinambungan. Dalam arti dalam 24 jam setiap harinya, kita dituntut untuk menyebar kebaikan apapun, baik berupa  bentuk dan derajatnya. Hal ini berarti kita telah membuka ribuan pintu-pintu kebaikan bagi orang lain.

            Kita bisa belajar kepada orang yang hidupnya teratur. Mereka yang memiliki agenda harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan. Sebuah agenda tersebut menjadi panduan yang  berisi aktivitas yang dilakukan untuk diri, keluarga, dan berkontribusi kepada kaum muslimin. Hal itu untuk membangun kebaikan dalam dari kita sehingga peduli akan butuhnya orang lain terhadap bantuan kita. Sehingga hidup kita kan lebih menafaat. Rasulullah Saw. bersabda :

عَنْ جابِرٍ رضي الله عنه قال : قال رَسُولُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم : خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ. ( رواه الطَبْرانِي)

Artinya : “ Dari Jabir Ra. ia berkata bahwasanya Rasulullah bersabda, “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia”. ( H.R At-thabrani ).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

Penting kita sadari, bahwa kita ini selain sebagai makhluk individu juga sebagai makhluk sosial. Seorang Sufi yang bernama yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata :

“ Berikanlah bagian dari tiga hal yang menjadi hak mukmin lainnya darimu : 1) jika tidak mampu memberikan manfaat, jangan pernah membahayakannya, 2) jika tidak mampu membahagiakannya, jangan sampai menyusahkannya, 3) jika tidak mampu memujinya, jangnlah mencelanya. “

Allah sangatlah murka kepada orang yang menyakiti orang lain. Allah menetapkan perbuatan tersebut sebagai dosa dan perbuatan dusta angkara murka. Hal ini bisa kita kemukakan dalam al-Qur’anul karim :

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا

Artinya :” Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata “ ( Q.S Al- Ahzab : 58 ).

Cinta dan simpati Manusia tidak dapat di raih dengan sikap yang meyakitkan. Sebab sekuat, sepintar dan sehebat apapun pasti dalam hidup kita tidak lepas dari bantuan dan saluran orang lain, maka jika kita telah menyakiti orang lain,  berarti kita telah memutus sebuah kebaikan dan menanam satu kenistaan dalam hidup kita. Berkaitan denagn Hal ini, Rasulullah Saw. bersabda :

عَن عَبدِ اللهِ بْنِ بِسْرٍ رضي الله عنه  أَنَّ أَعْرَبِيٍّا قالَ : يا رَسُولَ اللهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ ؟ قال : مَنْ طالَ عُمْرُهُ وحَسُنَ عَمَلُهُ.( رواه التِرْمِدِي ).

Artinya : “ Dari Abdullah bin Bisr Bahwa ada seoarang Badui bertanya, “ wahai Rasullah Siapakah manusia yang paling baik ? Rasullah menjawab “ yaitu orang yang panjang umurnya dan bagus amalnya”. ( H.R. Tirmidzi ).

Hadirin kaum Muslimin yang berbahagia …

            Marilah kita banyak belajar hidup dari para ulama yang hidupnya selalu teratur. Mereka sangatlah disiplin dan cerdas dalam membagi waktu. Sehingga tidak ada waktu yang terbuang  secara percuma kecuali bernilai amal soleh. Mereka memberikan kontibusi penuh adalam mengurusi umatnya , terutama para janda, kaum du’afa, fakir miskin, dan orang-orang yang membutuhkan. Sejalan dengan Firman allah dalm al-Qur’anul karim.

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآخِرَةَ وَلا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأرْضِ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya :” Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.( Q. S. Al-Qashsash :77).

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

 Mungkin sekian dulu khutbah singkat pada kesempatan kali ini , semoga kita semuanya di berikan kemudahan untuk menjadi penyebar kebaikan kepada sesama dan selalu menadpat pertolongan dalam menjalannya

.بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنِي وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ أَقُلُ قَوْلِي  هذا وَأَسْتَغفِرُ اللهَ لِيْ ولَكُمْ ولِجَمِيعِ الْمٌسلِمِين فاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ. اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Waktu dan Tata Cara Merayakan Maulid Nabi

Mayoritas ulama menilai perayaan maulid Nabi Muhammad Saw. sebagai amaliah legal dalam syariat yang bernilai pahala bagi yang melakukannya. Hal tersebut telah dijelaskan oleh beberapa ulama, seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Kitab Al-Hawi li al-Fatawi, Sayyid Abi Bakar Syato ad-Dimyati dalam kitab I’anah at-Thalibin, Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Fatawi Rasail, dan lain-lain.

Perihal waktunya, pada umumnya masyarakat memahami bahwa maulid Nabi SAW dapat dilakukan hanya pada tanggal 12 Rabiul Awwal. Begitu pula terkait cara merayakan maulid Nabi, sudah menjadi pemahaman yang mengakar di masyarakat bahwa merayakan maulid Nabi hanya bisa dilakukan dengan cara membaca bacaan maulid seperti ad-Diba’i, al-Barzanji, Simtud Duror dan semacamnya.

Dalam sebuah hadis diceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW memasuki kota Madinah, beliau menemui orang-orang Yahudi yang berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram). Ketika Rasulullah SAW bertanya kepada mereka perihal puasa tersebut, mereka menjawab bahwa hal itu dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan Nabi Musa dan tenggelamnya pasukan Firaun. (Lihat: Syarh An-Nawawi’ala Shahih Muslim, VIII/10)

Dari hadis tersebut, Syekh Abdul Hamid asy-Syarwani mengurainya dalam kitab Hawasyi asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj:

فَيَنْبَغِي أَنْ يَتَحَرَّى الْيَوْمَ بِعَيْنِهِ حَتَّى يُطَابِقَ قِصَّةَ مُوسَى فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ وَمَنْ لَمْ يُلَاحِظْ ذَلِكَ.
.لَا يُبَالِي بِعَمَلِ الْمَوْلِدِ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنْ الشَّهْرِ بَلْ تَوَسَّعَ قَوْمٌ فَنَقَلُوهُ إلَى يَوْمٍ مِنْ السَّنَةِ وَفِيهِ مَا فِيهِ
.هَذَا مَا يَتَعَلَّقُ بِأَصْلِ عَمَلِهِ وَأَمَّا مَا يُعْمَلُ فِيهِ فَيَنْبَغِي أَنْ يَقْتَصِرَ فِيهِ عَلَى مَا يُفْهِمُ الشُّكْرَ لِلَّهِ تَعَالَى
مِنْ نَحْوِ مَا تَقَدَّمَ ذِكْرُهُ مِنْ التِّلَاوَةِ وَالْإِطْعَامِ وَالصَّدَقَةِ وَإِنْشَادِ شَيْءٍ مِنْ الْمَدَائِحِ النَّبَوِيَّةِ وَالزُّهْدِيَّةِ الْمُحَرِّكَةِ لِلْقُلُوبِ إلَى فِعْلِ الْخَيْرِ وَالْعَمَلِ لِلْآخِرَةِ

“Sepatutnya dalam memperhatikan hari perayaan (Maulid Nabi) sehingga cocok dengan cerita Nabi Musa pada hari Asyura’. Namun orang yang tidak begitu memperhatikan (tanggal perayaan maulid Nabi) itu, ia tidak masalah untuk merayakan maulid pada hari apa pun sepanjang bulan. Bahwa kebanyakan orang justru melakukannya pada hari apa pun sepanjang tahun. Hal ini berkaitan dengan pokok perayaannya. Adapun yang dapat dilakukan dalam merayakan maulid sebisa mungkin melakukan hal yang dapat menunjukkan rasa syukur kepada Allah dari penjelasan yang telah lewat, yakni merayakan dengan bacaan Alquran, memberi makan, bersedekah, bersenandung dengan pujian-pujian pada Nabi dan pujian-pujian bernuansa zuhud yang mampu menggerakkan hati untuk melakukan kebaikan dan amal akhirat.” (Lihat: Hawasyi asy-Syarwani ala Tuhfah al-Muhtaj, VII/423)

Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki pun menegaskan:

وَجَرَى النَّاسُ عَلَى قِرَاءَتِهَا لَيْلَةَ مَوْلِدِهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … وَالأََنَاشِيْدِ فِى مَدْحِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي الْمَسَاجِدِ وَالْجَوَامِعِ.
وَتَوَسَّعُوْا فِى ذَلِكَ حِرْصًا عَلَى اسْتِجْلَابِ بَرَكَتِهِ فَصَارُوْا يَقْرَءُوْنَهَا فِي الدَّوْرِ وَالْبُيُوْتِ فِي أَيِّ يَوْمٍ كَانَ مِنْ شَهْرِ رَبِيْعِ الْأَوَّلِ بَلْ فِي أَيِّ يَوْمٍ مِنَ الْعَامِ

“Umat Islam biasa membaca Maulid pada malam kelahiran Nabi SAW … Dan senandung pujian kepadanya di berbagai masjid dan perkumpulan. Mereka memperluas lagi demi mendapatkan berkahnya. Untuk itu, mereka membacanya di rumah-rumah setiap hari di bulan Rabiul Awwal bahkan pada hari apapun sepanjang tahun. ” (Lihat: Kanz an-Najah wa as-Surur, hal. 132)

Dengan demikian, sudah jelas bahwa maulid Nabi tidak terbatas waktu. Hanya saja, pada tanggal 12 Rabiul Awwal memiliki keutamaan lebih. Begitu pula cara merayakannya bisa dilakukan dengan cara apapun yang terpenting menunjukkan bentuk syukur atas kelahiran Nabi SAW. []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM BERDIRI SAAT MAULID NABI

Youtube:
Pondok Pesantren Lirboyo

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah