Warisan Rasulullah

Suatu ketika Sahabat Abu Hurairah Ra. lewat di pasar Madinah. Tempat itu penuh akan lalu lalang manusia. Seperti biasa tentunya, aktifitas perdagangan sudah dimulai. Ada penjual dan pembeli yang menawarkan dan mencari kebutuhan sehari-hari.

Sahabat Abu Hurairah Ra berdiri di sana. Seraya memandang kesibukan pasar, beliau berkata agak keras ke semua orang. “Hei penghuni pasar, kenapa sih kalian malah nggak bersemangat?”

Mendengar itu, orang-orang di pasar bingung, apa yang dimaksud sebenarnya oleh sahabat Abu Hurairah Ra. Mereka bertanya, “Memangnya ada apa ya Abu Hurairah?”

Sahabat Abu Hurairah Ra segera menimpali, “Itu loh, Rasulullah Saw sedang bagi-bagi warisan. Kalian kok malah cuma diam disini gak pergi ke sana untuk ikut ambil bagian.”

Orang-orang di pasar menjadi antusias. Mereka jadi bersemangat mendengar bahwa Rasulullah Saw ternyata sedang bagi-bagi harta warisan.

Dengan penuh harap mereka mengejar pertanyaan ke Sahabat Abu Hurairah Ra. “Dimanakah beliau membagi warisan nya?”

“Itu loh, di masjid Nabawi.” Kata sahabat Abu Hurairah Ra singkat saja.

Mengetahui hal tersebut, berbondong-bondong banyak masyarakat yang ada di pasar segera menuju masjid. Mereka meninggalkan dagangan mereka. Mereka ingin segera dulu-duluan berebut untuk mendapatkan “warisan” Rasulullah Saw.

Sementara sahabat Abu Hurairah Ra hanya berdiri dan tidak mengikuti mereka. Beliau tidak beranjak kemana-mana. Tidak ikut berebut “warisan”.

Agak berapa lama, satu persatu penghuni pasar tadi kembali dari masjid dengan tangan kosong. Mungkin ada diantara mimik wajah mereka yang nampak kecewa karena tidak kebagian “warisan”. Ataukah mungkin warisan yang dimaksud sahabat Abu Hurairah Ra sudah habis? Mereka menuntut jawaban.

Mungkin mendapati wajah-wajah muram yang kembali dengan tangan hampa, sahabat Abu Hurairah Ra akhirnya bertanya kepada mereka. “Loh, kalian kenapa?”

Mungkin sambil tertunduk lesu karena sudah “dikerjai”, mereka mengatakan, “Gini loh, kami udah kesana. Ke masjid. Sudah sampai masuk ke dalam. Tapi kok kami gak melihat ada yang dibagi-bagikan sama sekali?”

“Mosok kalian gak lihat ada orang di masjid?” Tanya Sahabat Abu Hurairah Ra.

“Iya sih, lihat. Tapi ya cuma lihat orang-orang sedang salat, ada juga yang sedang baca Alquran, dan ada yang lagi mbahas hukum masalah halal dan haram.” Jawab mereka.

“Loh, pie toh kalian ini? Ya itu dia warisan Rasulullah Saw…!” Jawab sahabat Abu Hurairah Ra spontan.

(Disarikan oleh Imam Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Awsath)

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أنه مر بسوق المدينة، فوقف عليها، فقال: يا أهل السوق ما أعجزكم. قالوا: وما ذاك يا أبا هريرة؟ قال: ذاك ميراث رسول الله صلى الله عليه وسلم يقسم، وأنتم هاهنا لا تذهبون فتأخذون نصيبكم منه. قالوا: وأين هو؟ قال: في المسجد. فخرجوا سراعا إلى المسجد، ووقف أبو هريرة لهم حتى رجعوا، فقال لهم: ما لكم؟ قالوا: يا أبا هريرة فقد أتينا المسجد، فدخلنا، فلم نر فيه شيئا يقسم. فقال لهم أبو هريرة: أما رأيتم في المسجد أحدا؟ قالوا: بلى، رأينا قوما يصلون، وقوما يقرءون القرءان، وقوما يتذاكرون الحلال والحرام، فقال لهم أبو هريرة: ويحكم، فذاك ميراث محمد صلى الله عليه وسلم.
رواه الطبراني في الأوسط 2/114، وقال الهيثمي في مجمع الزوائد 1/123 : إسناده حسن.

Apakah Cukup Silaturahim Via Online?

Pembatasan aktivitas sosial di tengah pandemi Corona memiliki dampak besar pada momentum hari raya Idul Fitri tahun ini. Salah satunya ialah larangan mudik bagi masyarakat perantauan atau pembatasan sosial bagi masyarakat pada umumnya. Sehingga berkumpul bersama keluarga atau berkunjung ke rumah sanak saudara menjadi hal yang sulit atau bahkan tidak memungkinkan. Untuk itu, banyak dari mereka memanfaatkan smartphone untuk melakukan silaturahim via daring (online) bersama keluarga dan kerabat.

Dalam sudut pandang syariat, silaturahim dapat diaplikasikan sesuai keadaan, situasi dan kondisi. Imam an-Nawawi menjelaskan:

وَأَمَّا صِلَةُ الرَّحِمِ فَهِيَ الْإِحْسَانُ إِلَى الْأَقَارِبِ عَلَى حَسَبِ حَالِ الْوَاصِلِ وَالْمَوْصُولِ

“Adapun menyambung kekerabatan (silaturahim) ialah berbuat baik pada para kerabat sesuai keadaan orang yang menyambung dan orang yang disambung.” (Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, II/201)

Dengan demikian, tak heran jika silaturrahim dapat dilakukan dengan banyak cara. Tidak harus saling berkunjung ke rumah antara satu dengan yang lain. Imam Syihabuddin ar-Ramli menuturkan:

وَتُسَنُّ صِلَةُ الْقَرَابَةِ وَتَحْصُلُ بِالْمَالِ وَقَضَاءِ الْحَوَائِجِ وَالزِّيَارَةِ وَالْمُكَاتَبَةِ وَالْمُرَاسَلَةِ بِالسَّلَامِ وَنَحْوِ ذَلِكَ

“Disunahkan menyambung tali kekerabatan. Hal itu dapat dilakukan dengan media harta, memenuhi kebutuhannya, mengunjunginya, saling mengirim pesan dan ucapan salam atau sesamanya.” (Nihayah al-Muhtaj, V/422)

Maka dari itu, silaturahim via daring (online) sudah dianggap cukup menimbang adanya aturan pembatasan sosial yang ditetapkan pemerintah di beberapa wilayah tertentu, khususnya zona merah. Bahkan hal tersebut menjadi media silaturahim paling relevan untuk situasi dan kondisi seperti saat ini. []waAllahu a’lam

Khutbah Idul Fitri di Rumah

Kesabaran Kunci Kebahagiaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اَللهُ أَكْبَرُ 1  اَللهُ أَكْبَرُ 2  اَللهُ أَكْبَرُ 3  اَللهُ أَكْبَرُ 4  اَللهُ أَكْبَرُ 5  اَللهُ أَكْبَرُ 6  اَللهُ أَكْبَرُ 7  اَللهُ أَكْبَرُ8  اَللهُ أَكْبَرُ 9

اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالحَمدُ لِلّهِ كَثِيرًا,  وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ, صَدَقَ وَعْدَهُ, وَنَصَرَ عَبْدَهُ, وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لَآ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّين  وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ.

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيهِ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا, وَمَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ, وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ, شَهَادَةَ عَبْدٍ لَمْ يَخْشَى إِلَّا اللهَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي اخْتَارَهُ اللهُ وَاصْطَفَاهُ. اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.

أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَ النَّاسُ التَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسلِمُونَ.
وَاعْلَمُوا أَنَّ يَومَكُمْ هَذَا يَومٌ عَظِيمٌ وَعِيدٌ كَرِيمٌ, أَحَلَّ اللهُ لَكُمْ فِيهِ الطَّعَامَ, وَحَرَّمَ عَلَيكُمْ الصِّيَام. فَهُوَ يَومُ تَسبِيحٍ وَتَهْلِيلٍ وَتَمْجِيدٍ وَتَعْظِيمٍ, فَسَبِّحُوا رَبَّكُمْ وَعَظِّمُواهُ وَتُوبُوا إِلَيهِ وَاستَغْفِرُوهُ فَإِنَّهُ  هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Keluargaku tercinta jama’ah sholat idul fitri yang berbahagia,

Marilah kita selalu bersyukur kepada Allah Swt. karena kita bisa menempuh satu bulan yang sangat mulia. Keimanan dan ketakwaan mari terus kita tingkatkan, sebagai buah dari puasa yang telah kita laksanakan.

Keluargaku yang berbahagia,

Lebaran kita saat ini tidaklah seperti lebaran kita pada saat sebelum-sebelumnya. Yang semula kita bisa berkunjung ke rumah sanak saudara, sekarang kita dianjurkan untuk tidak ke mana-mana. Yang semula kita bisa berjama’ah di masjid bersama-sama, sekarang kita berjama’ah di rumah saja. Pendapatan rezeki kita yang semula melonjak, sekarang pendapatan kita berhenti sejenak. Memang, semua kelihatannya sedang serba keterbatasan. Akan tetapi di balik itu semua ada banyak hikmah yang berkelimpahan. Di antaranya adalah melatih kita kesabaran.

Kesabaran itu bukan berarti berhenti mengais rezeki di tengah pandemi.
Kesabaran itu bukan berarti hanya menunggu tanpa mencari ide yang baru.
Kesabaran itu bukan berarti berhenti berbuat baik di saat kondisi paceklik.

Lalu apa sebenarnya makna kesabaran itu?
Syaikh Jamaluddin dalam kitab mau’idzotul mukmininnya mengungkapkan,

اِعْلَمْ أَنَّ الصَّبْرَ عِبَارَةٌ عَنْ ثَبَاتِ بَاعِثِ الدِّينِ فِي مُقَابَلَةِ بَاعِثِ الْهَوَى

Ketahuilah bahwasannya kesabaran adalah ungkapan dari ketetapan kita untuk melakukan hal-hal yang dapat membangkitkan syiar agama, yang merupakan lawan dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu.

Jadi, usaha kita mengais rezeki untuk menghidupi keluarga meski di tengah pandemi merupakan bentuk kesabaran kita. Diriwayatkan bahwa Rasulallah Saw. berjalan bersama sahabat-sahabatnya dan bertemu dengan seorang lelaki yang pagi-pagi sekali telah bekerja. Terlihat dari kulit dan tingkat kerajinan bekerja menunjukkan dia tampak sudah lelah. Kemudian para sahabat bertanya, “Wahai Rasulallah, apakah pekerjaan ini termasuk perjuangan meluhurkan Agama  Allah?” Lalu Rasulullah Saw. menjawab,

إِنْ كَانَ خَرَجَ يَسْعَى عَلَى وَلَدِهِ صِغَارًا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ. وَإِنْ كَانَ يَسْعَى عَلَى أَبَوَيْهِ فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ. وَإِنْ كَانَ يَسْعَى لِيَكُفَّ نَفْسَهُ عَنِ المَسْأَلَةِ فَهُوَ فِي سِبِيلِ اللهِ.

“Apabila dia bekerja untuk anaknya yang masih kecil, maka dia termasuk berjuang meluhurkan Agama Allah Swt., apabila dia bekerja untuk kedua orang tuanya maka dia termasuk berjuang meluhurkan Allah Swt., dan apabila dia bekerja untuk dirinya agar tidak meminta-minta maka dia termasuk berjuang meluhurkan Agama Allah.” (HR. Ath-Thabrani)

Ketika pekerjaan yang kita lakukan tidak sesuai dengan kondisi saat ini, maka mencari inovasi atau ide-ide yang baru supaya kerja kita lebih profesional, itu  juga merupakan bentuk kesabaran kita.

Rasulullah SAW Bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنّ اللَّهَ تَعَالى يُحِبّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ.  (رواه الطبرني والبيهقي

Dari Sayidah Aisyah r.a., Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia mengerjakannya secara profesional”. (HR. Thabrani, No: 891, Baihaqi, No: 334)

Memberi bantuan kepada orang lain juga merupakan bentuk kesabaran.
Dari Abi Hurairah Ra., dari Nabi Saw., beliau bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ.
اَلْحَدِيث

“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu sesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) orang yang kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan baginya (dari kesulitan) di dunia dan akhirat.” (Al-Hadits)

Jadi itu semua adalah contoh-contoh kesabaran dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. Orang-orang yang sabar itu akan mendapatkan banyak sekali kebaikan dan derajat yang luhur. Allah menyebutkan tentang kesabaran sekitar 70 tempat dalam  Al-Quran. Di antaranya adalah:

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl: 96)

إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)

إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Sesungguhnya (pertolongan) Allah beserta  orang-orang yang sabar” (Q.S. Al-Baqarah: 153; Al-Anfal: 46)

Ada banyak sekali Hikmah dari kesabaran yang bisa kita peroleh.

Oleh karena itu, Keluargaku tercinta, pada hari yang fitri ini, marilah kita memfitrahkan atau mensucikan hati kita sehingga tumbuhlah sifat kesabaran dalam diri kita.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ الْعَظِيمِ. وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنْ آيَةٍ وَذِكْرِ الْحَكِيمِ. وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
وَأَقُولُ قَوْلِ هَذَا فَاسْتَغْفِرُوا اللهَ العَظِيمَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KE 2

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، فَاللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ المَيَامِيْنَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أما بعد فَأُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللَّهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى تَمَامِ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ، وَأَتْبِعُوا رَمَضَانَ بِصِيَامِ سِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ، لِيَكُونَ لَكُمْ كَصِيَامِ الدَّهْرِ وَصَلِّ اللهُمَّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا أَمَرْتَنَا، فَقُلْتَ وَقَوْلُكَ الْحَقُّ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَارْضَ اللهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ،

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ. عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Hukum Salat Idul Fitri di Rumah

Di tengah pandemi corona, di beberapa wilayah di Indonesia telah menetapkan untuk melaksanakan salat Idul Fitri di rumah demi menghindari kerumunan massa sebagai antisipasi memutus rantai virus covid-19.

Dalam sudut pandang syariat, salat Idul Fitri adalah shalat sunah yang dapat dilaksanakan secara mandiri (tidak berjamaah). Syekh Zakaria al-Anshori menuturkan:

صَلَاةُ الْعِيْدَيْنِ سُنَّةٌ وَلَوْ لِمُنْفَرِدٍ وَمُسَافِرٍ

“Salat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) disunahkan meskipun bagi orang yang salat sendirian dan musafir.” (Fath al-Wahhab, I/97)

Salat Idul Fitri juga dapat dilakukan dengan berjamaah namun dalam lingkup kecil, baik di rumah bersama anggota keluarga atau di musholla bersama anggota masyarakat dengan jumlah yang relatif sedikit. Bahkan hal ini dianjurkan ketika ada sebuah uzur atau halangan tertentu yang tidak memungkinkan untuk salat di masjid. Imam an-Nawawi mencontohkan:

وَالسُّنَّةُ أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةَ الْعِيْدِ فِي الْمُصَلَّي إِذَا كَانَ مَسْجِدُ الْبَلَدِ ضَيِّقًا

“Dan sunah mendirikan salat Ied di musholla apabila masjid di sebuah desa sempit.” (Al-Majmu’Syarh al-Muhadzdzab, V/4)

Untuk itu, seluruh tata cara salat Idul Fitri tetaplah sama, yakni salat dua rakaat dan dua khutbah setelahnya. Hanya saja untuk salat Idul Fitri yang dilakukan sendiri (tidak berjamaah) cukup melakukan salat tanpa dianjurkan khutbah. Syekh Ibrahim al-Baijuri menjelaskan:

وَلِمُنْفَرِدٍ) فَلَا تُشْتَرَطُ لَهَا الْجَمَاعَةُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ وَلَا تُسَنُّ الٰخُطْبَةُ لِلْمُنْفَرِدِ)

“Dan bagi yang salat Ied sendiri maka tidak diharuskan berjamaah, hal ini sudah jelas. Dan juga tidak disunahkan khutbah bagi yang salat sendirian.” []waAllahu a’lam

PONDOK PESANTREN DARUSSA’ADAH

Pondok Pesantren Darussa’adah merupakan lembaga pendidikan khusus untuk anak usia dini yang berorientasi pada pendidikan keagamaan dan sosial kemasyarakatan, guna mencetak santri yang berakhlaqul karimah, berilmu, disiplin, mandiri, cakap, kreatif dan bertanggung jawab. Sehingga Santri diharapkan mampu menjadi pionir di tengah-tengah masyarakat dengan tetap mempertahankan nilai-nilai salafiyah.

VISI

Mencetak generasi yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah, berilmu dan disiplin.

MISI

Mencetak generasi Islam yang beriman, bertaqwa, berakhlakul karimah dan berilmu, serta menanamkan faham-faham Ahlussunnah wal Jamaa’ah An-Nahdliyah sejak dini.

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah