Hukum Membersihkan Make Up Sebelum Wudhu

Assalamualaikum Wr. Wb.

Mohon maaf sebelumnya. Saya mau bertanya, bagaimana hukumnya bekas make up ketika akan wudu? Wajib dibersihkan atau tidak? Terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

(Tika, Sukabumi)

___________________________________________

Admin- Wa’alaikum salam Wr. Wb.

Umumnya, kehidupan wanita tidak terlepas dari make up. Namun masalah muncul ketika mereka melakukan wudhu sementara terdapat sisa make up yang menghalangi sampainya air pada anggota wudhu.

Untuk menjawab hal tersebut, yang perlu dipahami adalah karakteristik dari jenis make up yang dipakai. Jika make up tersebut membentuk lapisan baru, misalkan make up waterproof dan sejenisnya, maka wajib dihilangkan terlebih dahulu sebelum wudhu. Karena hal tersebut menunjukkan ada sesuatu yang menghalangi sampainya air pada kulit. Imam an-Nawawi menjelaskan dalam karyanya yang berjudul Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab:

إذَا كَانَ عَلَى بَعْضِ أَعْضَائِهِ شَمْعٌ أَوْ عَجِيْنٌ أَوْ حِنَاءٌ وَاشْتِبَاهُ ذَلِكَ فَمَنِعَ وُصُوْلَ الْمَاءِ اِلَى شَيْئٍ مِنَ الْعُضْوِ لَمْ تَصِحَّ طَهَارَتُهُ سَوَاءٌ كَثُرَ ذَلِكَ أَمْ قَلَّ وَلَوْ بَقِيَ عَلَى الْيَدِ وَغَيْرِهَا أَثَرُ الْحِنَّاءِ وَلَوْنُهُ دُونَ عَيْنِهِ أَوْ أَثَرُ دُهْنٍ مَائِعٍ بِحَيْثُ يَمَسُّ الْمَاءُ بَشَرَةَ الْعُضْوِ وَيَجْرِي عَلَيْهَا لَكِنْ لَا يَثْبُتُ صَحَّتْ طَهَارَتُهُ

“Apabila pada sebagian anggota wudhu terdapat lapisan lilin, adonan, inai (kutek), dan sesamanya dan hal tersebut mencegah sampainya air pada anggota, maka wudhunya tidak sah, baik banyak atau sedikit. Dan apabila di tangan atau sesamanya terdapat bekas inai (kutek) dan warnanya, bukan lapisannya, atau terdapat bekas minyak cair sekiranya air masih bisa mengenai kulit anggota wudhu dan mampu mengalir di atasnya meskipun tidak menetap, maka wudunya sah.” (Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, I/468)

Sebaliknya, jika make up tersebut tidak membentuk lapisan baru, namun hanya sekedar bekas yang dapat hilang atau menyerap air dengan mudah, maka tidak wajib dibersihkan terlebih dahulu. Kecuali keberadaan make up yang tipis tersebut dapat bercampur dan merubah sifat air, maka juga wajib dibersihkan. Imam Ibnu Hajar juga menegaskan dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj demikian:

وَأَنْ لَا يَكُونَ عَلَى الْعُضْوِ مَا يُغَيِّرُ الْمَاءَ تَغَيُّرًا ضَارًّا أَوْ جُرْمٌ كَثِيفٌ يَمْنَعُ وُصُولَهُ لِلْبَشَرَةِ

“Hendaklah pada anggota tubuh tidak ada sesuatu yang dapat merubah air dengan perubahan yang berpengaruh (pada sifat air) atau sesuatu yang tebal yang mencegah sampainya air pada kulit.” (Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Asy-Syarwani, I/187) []waAllahu a’lam

Baca juga:
HUKUM NUMPANG TOILET MASJID

Subscribe juga keluarga channel kami
Pondok Pesantren Lirboyo
Santri Mengaji
LIM Production

Hukum Menambah Uang Belanja di Hari Asyura

Di hari Asyura (10 Muharram) banyak umat Islam yang menyambutnya dengan meningkatkan pola konsumsi sehingga mengeluarkan biaya lebih banyak dan melebihi hari-hari lain. Dalam menjelaskan masalah ini, Syekh Nawawi Banten menulis:

أََنَّ الْأَعْمَالَ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ اِثْنَا عَشَرَ عَمَلًا الصَّلَاةُ وَالْأولَى أََنْ تََكُوْنَ صَلَاةَ التَّسْبِيْحِ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَََقَةُ وَالتَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ وَالْاِغْتِسَالُ وَزِيَارَةُ الْعَالِمِ الصَّالِحِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيْضِ وَمَسْحُ رَأْسِ الْيَتِيْمِ وَالْاِكْتِحَالُ وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ وَقِرَاءََةُ سُوْرَةِ الْإِخْلَاصِ أَلْفَ مَرَّةً وَصِلَةُ الرَّحِمِ

“Sesungguhnya amal-amal di hari Asyura ada dua belas amal, yaitu salat dan yang lebih utama ialah salat tasbih, puasa Asyura, sedekah, melapangkan nafkah keluarga, mandi, berkunjung pada orang alim yang salih, menjenguk orang sakit, mengusap kepala anak yatim, memakai celak, memotong kuku, membaca surat Al-Ikhlas seribu kali, dan silaturahim. Hadis yang ada hanyalah pada puasa Asyura dan melapangkan nafkah keluarga.” (Nihayah az-Zain, 190)

Mengenai tujuan melapangkan nafkah keluarga di hari Asyura, Imam asy-Syarwani menjelaskan:

وَيُسَنُّ التَّوْسِعَةُ عَلَى الْعِيَالِ فِي يَوْمِ عَاشُورَاءَ لِيُوَسِّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ السَّنَةَ كُلَّهَا كَمَا فِي الْحَدِيثِ الْحَسَنِ

“Disunahkan melapangkan nafkah keluarga di hari Asyura agar Allah melapangkan kepada orang tersebut di hari-hari yang lain dalam satu tahun Sebagaimana dijelaskan dalam hadis Hasan.” (Hawasyi asy-Syarwani, III/455)

Dengan demikian, melapangkan nafkah keluarga disunahkan di hari Asyura. Hal tersebut bisa dilakukan dengan menambah uang belanja atau uang saku pada keluarga. Namun harus dengan tujuan yang baik. Sebagaimana keterangan Syekh Khatib as-Syirbini menulis dalam kitab al-Iqna’:

وَأَوْقَاتِ التَّوَسُّعَةِ عَلَى الْعِيَالِ كَيَوْمِ عَاشُورَاءَ وَيَوْمَيْ الْعِيدِ وَلَمْ يُقْصَدْ بِذَلِكَ التَّفَاخُرُ وَالتَّكَاثُرُ بَلْ لِطِيبِ خَاطِرِ الضَّيْفِ وَالْعِيَالِ وَقَضَاءِ وَطَرِهِمْ مِمَّا يَشْتَهُونَهُ

“Dan waktu untuk melapangkan nafkah keluarga ialah di hari Asyura dan dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha). Hal tersebut bukan bertujuan untuk membanggakan diri dan bersaing. Melainkan untuk menyenangkan hati keluarga dan memenuhi kebutuhan yang mereka inginkan.” (Iqna’ Hamisy Bujairami ‘ala al-Khatib, IV/327) []waAllahu a’lam

CERPEN: Guruku; Rimba-Raya

Semilir angin berkelit di antara jendela kelas, membuat rambutmu yang biasa disisir rapi terlihat memberontak bosan, berusaha bercengkrama dengan alam. Sedikitpun kau tak bergeming, tetap fokus pada buku pelajaran. Mendung di luar membuat seisi ruangan menjadi gelap. Kau suruh salah seorang muridmu menyalakan lampu meski saat itu masih pukul 10 pagi.

“Cuaca akhir-akhir ini tak memungkinkan kita untuk mengadakan praktek di lapangan sekolah. Sebagai gantinya saya akan bercerita pada kalian.” Tuturmu membuka pelajaran.

               “Anak-anak, ketahuilah, akibat dari pemanasan global cuaca sekarang tidak menentu dan sulit diprediksi.” Kau bercerita bahwa kebakaran hutan menyebabkan polusi udara, laut sekarang tak sebiru di masa lalu. Kami, anak zaman kerusakan selalu dikambing-hitamkan oleh angkuhnya moral manusia.

               “Masih penak zamanku, toh?” Dengan gaya bapak pembangunan kau mengejek kami. Separah apapun kau merendahkan kami, anak zaman sekarang, di akhir kelas kau selalu meniupkan semangat kepada kami, untuk bangkit dari keterpurukan.

Kau jelaskan bahwa air yang mengalir selalu mencari tempat yang lebih landai. Sesuai yang sudah digariskan oleh penciptanya, air takkan menggenang pada dataran yang lebih tinggi. Kau lanjutkan dengan mengutip teori Galileo, manusia tidak akan selamanya berada pada posisi yang sama dalam sehari-semalam. Bahkan, akan terus berputar dari tempat tinggi lalu beranjak ke posisi terendah. Walhasil, kehidupan tak selamanya indah, suatu saat akan berubah menuju titik terburuk yang tak pernah dirindukan. Begitupun sebaliknya.

               “Kita terluka hari ini, mereka terluka selamanya. Kalian harus bertahan dalam masa perjuangan, agar esok menuai hasil yang memuaskan. Karena sukses itu dinilai dari usahanya, bukan hasilnya. Nikmati prosesnya, jangan hanya berandai-andai esok hari kita akan menjadi seperti apa.” Ucapmu waktu itu menyulut sorak-sorai dan tepuk tangan dari kami, murid-muridmu. Menggugah jiwa-jiwa yang masih setia di titik nyaman, agar beranjak pergi menyaksikan dunia di luar sana yang begitu indah untuk sekedar diratapi.

Layaknya sungai, kau adalah mata air yang mengalirkan semangat pada muara di hati kami.

               Hari-hari menjadi lebih berwarna sejak kau hadir di sekolah kami. Kuingat kebiasaanmu membubuhkan kalimat motivasi di papan tulis, untuk kemudian kami baca bersama-sama dengan lantang. Man jadda wajada, adalah salah satunya. Aku sendiri awalnya tak mengerti maksud tulisan itu, hingga suatu hari kau bercerita bahwa kalimat arab itu kaudapat dari gurumu dulu di pesantren. Arti kalimat itu adalah barang siapa yang bersungguh-sungguh maka ia akan mendapat hasil yang memuaskan.

               Kau juga begitu perhatian pada setiap muridmu. Selalu kau tanyakan kabar muridmu yang tidak hadir karena sakit atau uzur yang lain.

               Bagiku kau bukan sekedar PNS pengharap gaji pemerintah. Dengan ikhlas kau sumbangkan sebagian uang gajimu kepada orang tua siswa yang kurang mampu. Tak perlu ragu, aku yakin anak-istrimu pastilah tercukupi dengan hasil pekerjaanmu di luar jam sekolah. Kau sering berpesan, “Sebagian dari penghasilan yang kita terima, terdapat hak yang harus diberikan kepada orang lain, agar kehidupan ini seimbang.”

               “Lihatlah, betapa banyak anak kecil yang terpaksa bekerja, berpanas-panasan di pinggir jalan . Sementara kita sering lupa betapa perih kehidupan yang mereka jalani. Bersyukurlah, kalian masih bisa menikmati indahnya belajar!” Nasehatmu pada kami.

               Sebagai ketua kelas, aku menoleh ke kanan-kiri, memastikan seisi kelas memperhatikan ucapanmu. Tepat saat mataku berhenti, di bangku paling belakang kulihat sesosok muridmu tertunduk bagai pohon kelapa di tepi pantai, terhempas oleh kencangnya angin, akarnya rapuh tak sanggup mencengkeram tanah yang lemah akibat terkikis abrasi kehidupan.

               Tak berselang lama, lonceng sekolah terdengar memekik di telinga, begitu angkuh menghabisi kami yang sedang asyik-masyuk oleh keterangan-keterangan yang kau paparkan. Kami seolah dipaksa pergi dari rumah sendiri.

               “Anak-anak, sekarang waktunya istirahat. Silahkan kalian gunakan dengan bijak.” katamu meredakan kejengkelan kami.

               Setelah seisi kelas berhamburan pergi, aku beranjak menemui sosok lesu di bangku belakang tadi. “Boleh aku duduk di sampingmu?” Aku memohon padanya.

               Dengan satu anggukan ritmis, sosok itu sepertinya berkenan dengan keberadaanku di sampingnya.

   “Perkenalkan namaku Rimba!” Aku menawarkan tangan.

“Aku Raya.” Ucapnya lirih tak bersemangat.

Kulihat jauh di dalam matanya, ada sesuatu yang merongrong sebentuk kepedihan bertumpuk-tumpuk. “Kenapa kamu tidak keluar kelas?” Dengan canggung aku berusaha membuka pembicaraan.

               “Kalau pun aku menjawabmu, kau pasti takkan mengerti maksudku.” Jawabnya ketus. “Rimba. Dari awal aku sudah tahu namamu. Kau pasti heran melihatku lemas saat siswa lain bersemangat. Sadarlah! Sejatinya aku tidak pernah ada dalam kehidupan yang kaujalani.”

               Aku tak mengerti apa yang ia bicarakan. Jawaban Raya tidak sesuai dengan pertanyaanku. “Apa maksudmu?” Tanyaku lagi.

               “Perlu kau ketahui, aku ada bukan sebagai kenyataan yang sesungguhnya. Aku hanyalah isyarat alam terhadapmu. Lihat sekitarmu! Alam sudah tidak lagi bersahabat dengan manusia. Mungkin hanya dengan bencana kita bisa sadar, berusaha merawat, dan memperbaiki kerusakan di muka bumi.” Lanjut Raya.

               Aku semakin heran dengan Raya. Ia tiba-tiba melampiaskan kekesalannya padaku. Sedang, apa penyebabnya hingga ia bertingkah seakan aku telah berbuat kesalahan yang sebegitu besar? Padahal baru kali ini aku melihatnya di kelas. Kemana saja dia selama ini? Ataukah, aku saja yang terlalu acuh sampai teman sekelas saja tidak semua aku kenali, padahal aku ketua kelas?

               Hening semakin menyeruak di antara kami. Raya masih terdiam, tak nampak akan melakukan sesuatu. Namun, dugaanku salah. Ia sedikit bergeser dari tempat duduknya, berusaha mendekat padaku. Tanpa rasa canggung, tiba-tiba Raya berbisik lirih di dekat telingaku.

               “Rimba, kau harus tetap hijau! Tunggulah, suatu saat alam akan menyirami duniamu.”

*

               “Rimba, bangun!” Ucapmu sambil menepuk kencang pundakku.

               “Hah….!” Aku terlonjak. Bangun dari tidurku. Keringat membasahi tubuhku dan membuat nafasku naik-turun. Kau membangunkanku.

               “Kita harus segera pergi mencari tempat berlindung. Ada gempa bumi!”     Ruangan kelas begitu riuh oleh teriakan. Semua siswa berlarian tak tentu arah. Syahdan, ternyata sedari tadi aku lelap tertidur. Dan pertemuanku dengan Raya hanya sebatas mimpi!

“Ah, aku harus lari!” Seruku dalam hati.

*

               Nahas, gempa dan tsunami banyak menelan korban. Ribuan jiwa terenggut nyawanya, menyisakan kecamuk pada pikiran orang-orang yang ditinggalkan. Aku menyisir kesana-kesini. Kulihat pohon-pohon berserakan, bangunan jungkir-balik tak beraturan, bercampur bersama bekas air laut yang mengamuk hingga daratan. Hari itu, dengan bermodal seragam sekolah koyak, aku berjalan tertatih. Ada sedikit luka lebam akibat tertimpa reruntuhan saat banjir bandang berlangsung. Syukur aku selamat.

               Kusadari, bencana adalah sebuah perwujudan dari murka alam. Hutan yang dahulu hijau tertanami pepohonan rindang menjelma gedung pencakar langit. Laut biru kini tak lagi indah karena tercemar limbah. Katanya itu semua adalah satu bentuk perkembangan zaman. Namun imbas yang timbul darinya adalah rusaknya lingkungan. Perkembangan harusnya tak merusak! Jika merusak, patutkah dikatakan demikian? Sebut saja, globalisasi kalian itu adalah awal menuju kematian dunia.

*

               Langit kembali cerah. Hari di mana aktivitas sekolah kembali berjalan seperti semula. Gempa-tsunami telah lalu, membekas pada ranting, bangunan dan bekas-bekas lain di setiap sudut sekolah. Juga pada hati kami yang runtuh saat mendengar kabar bahwa kau menghilang! Hingga detik di mana kisah ini ditulis kau belum juga ditemukan.

               “Akan selalu ku kenang tiap nasihatmu. Kau disana, atau entah dimana, akan tetap menjadi guru kami!”

               Do’aku sepanjang waktu.[]

Lirboyo, 24 November 2019

*Penulis Muhammad Abdu Fadlillah. Santri 22 tahun asal Indramayu, Asrama HMC-15.

Baca juga:
KERUKUNAN ANTAR UMAT BERAGAMA DALAM KEHIDUPAN BERBANGSA DAN BERNEGARA (BAG. 1)

Subscribe Juga: Pondok Pesantren Lirboyo

Lafal Niat Puasa Tasu’a dan Asyura’

Puasa Tasu’a (9 Muharram) dan Asyura’ (10 Muharram) merupakan salah satu kesunahan di bulan Muharram. Syekh Zakaria al-Anshari dalam kitab Fathul Wahhab halaman 145 mencantumkan dalil kedua amaliah tersebut. Yakni dari dua sabda Rasulullah SAW:

لَئِنْ بَقِيتُ إلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

“Jika aku tetap hidup hingga tahun depan niscaya aku benar-benar akan puasa Tasu’a.” (HR. Muslim)

وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Dan puasa hari Asyura’ aku mengharap kepada Allah agar menghapus dosa satu tahun lalu.” (HR. Muslim)

Tata cara melakukan puasa Tasu’a dan Asyura’ adalah sama dengan puasa pada umumnya. Yang berbeda hanyalah dari segi niat. Karena keduanya merupakan puasa sunah, maka dianjurkan niat pada malam harinya. Namun juga diperbolehkan niat di pagi hari sebelum tergelincirnya matahari.

Contoh lafal niatnya sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةِ تَاسُوْعَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Aku niat puasa sunah Tasu‘a karena Allah Ta’ala”

نَوَيْتُ صَوْمَ سُنَّةِ ِعَاشُورَاءَ لِلّٰهِ تَعَالَى

“Aku niat puasa sunah Asyura’ karena Allah Ta’ala.”

Baca juga:
MERAGUKAN AMALIAH ‘ASYURA

Follow juga facebook:
LIRBOYO

Khutbah Jum’at: Mengendalikan Diri dengan Rasa Malu

الحَمْدُ لِلَّهِ الّذي جَعَلَ لِكُلِ أُمَّةٍ شِرْعَةً ومِنْهاجًا وخَصَّ هَذِهِ الْأُمَةَ بِأَوْضَحِهِما أَحْكَامًا وحُجَجًا والصَّلاةُ والسَّلامُ على سَيِّدِنا وحَبِيْبِنا مُحمَّدٍ مِفْتاحِ بَابِ رَحْمَةِ اللهِ عَدَدَ مَا فِي عِلْمِ اللهِ صلاةً وسَلامًا دائِمَيْنِ بِدَوَامِ مُلْكِ اللهِ. وأشهدُ أَنْ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ شَهادَةً شاهِدَةً بِصِدْقِ شاهِدِها وإِيْقانِه. وأشهدُ أَنَّ سَيِّدَنا محمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه الْمُطَهَّرُ سِرُّهُ وإِعْلَانُه نَبيٌّ أَظْهَرَ اللهُ بهِ الْحَقَّ وأَبانَه. اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على عَبدِك ورَسُولِك مُحَّمدٍ وعَلى آلِهِ وأَصْحَابِه  بُدُوْرِ الدُّجَى ونُجُوْمِ الاِهْتِدْاء  وَلُيُوْثِ الْعِدا وسَحائِبِ النَّدَى الْهَتَّانَه .أمّا بعدُ. يآأَيُّهاالَّذِيْنَ آمنُوا اتَّقُوا اللهَ وقُوْلُوا قَوْلًا شَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ ويَغْفِرْ لَكُمْ دُنُوْبَكُمْ ومَنْ يُطِعِ اللهَ ورَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang di rahmatiAllah Swt. …

            Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita tingkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt. dengan senantiasa menajalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab, keimanan dan ketakwaan menjadi modal utama tatkala mengahadap kepada Allah besok di Akhirat kelak.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang di rahmatiAllah Swt. …

            Seriing dengan dunia yang kian semakin tua, umat Muslim saat ini telah banyak kehilangan yang berharga. Berbagai perilaku sunnah dan ajaran yang sejak lama dicontohkan oleh baginda Nabi Muhammad Saw. Kini lambat laun semaikin terkikis. Pergeseran masa dan perputaran waktu telah membuat ajaran baginda Nabi seolah-olah hal asing di telinga. Bahkan menganggap hal demikian merupakan sesuatu yang tabu. Umat Muslim saat ini semakin jauh dari perilaku akhlak yang mulia yang merupakan misi utama Rasulullah sebagai utusan Allah Swt. Salah satu hal  yang  paling berharga, di mana kini semakin hilang dari umat Muslim saat ini adalah rasa malu.   

Hadirin Jam’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

Jika kita amati, banyak sekali kita lihat fenomena dari perstiwa keseharian yang membuktikan semakin hilangnya rasa malu. Contoh kecil dalam kehidupan sehari-hari adalah banyaknya umat Muslim yang kurang memperhatikan persoalan menutup aurat, pergaulan muda-mudi yang semakin tak terbatas, dan berbagai tindak penyimpangan yang kini tidak lagi disadari sebagai perbuatan dosa. Bahkan, tidak sedikit hal demikian menjadi kebanggaan karena telah melakukannya.

            Perasaan bangga karena telah melakukan perbuatan dosa merupakan salah satu penyebab terkikis atau hilangnya sifat malu dalam hati seseorang. Karena, tidak seorang pun berani melakukan perbuatan maksiat jika di dalam hatinya masih tersimpan rasa malu.

Hadirin Jama’ah jum’at yang berbahagia …

            Peranan sifat malu dalam mengendalikan diri memang sangatlah besar. Oleh karenanya, sifat malu termasuk bagian cabang dari iman. Rasulullah Saw. Bersabda :

ﺍَلْإِيْماﻥُ ﺑِﻀْﻊٌ ﻭﺳَﺒْﻌُﻮﻥَ أَوْ سِتُّونَ ﺷُﻌْﺒَﺔً ، فَأَﻓْﻀَﻠُﻬﺎ ﻗَﻮْﻝُ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭأَﺩْﻧﺎﻫَﺎ إِﻣﺎﻃَﺔُ ﺍلْأَﺫَﻯ ﻋَﻦِ ﺍﻟﻄَّﺮِﻳﻖِ ، ﻭَﺍﻟْﺤَﻴﺎءُ ﺷُﻌْﺒَﺔٌ ﻣِﻦَ ﺍﻹْﻳﻤﺎﻥِ .

Artinya : “ Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan kalimat ( La ilaha Illallah ), dan yang paling redah adalah menyingkirkan duri (gangguan ) dari jalan. Malu adalah salah satu cabang dari iman “. ( H.R. Bukhari  dan Muslim ).

Bahkan, dalam kesempatan yang lain Rasulullah bersabda :

اَلْحَياءُ والإِيْمانُ قُرِنَا جَمِيْعًا , فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُما رُفِعَ الأَخَرُ.

Artinya : “ Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya “. ( H.R. al-hakim dan ath-Thabrani).

Hadirin Jama’ah Jum’at yang berbahagia …

            Malu adalah perasaan yang yang muncul dalam nurani seseorag karena menyadari agungnya nikmat dan anugerah dari Allah Swt., serta mengakui kelemahan dan kecerobohan diri dalam menjalakan perintah-Nya. Dengan perasaan ini tidak mungkin seorang Muslim sampai hati melakukan kemaksiatan. Ia menyadari betul bahwa semua perilakunya selalu diperhatikan Allah dan akan dipertanggungjawabkan kelak.

            Malu adalah sebuah perasaan yang sangat terkait dengan hidup dan matinya hati seseorang. Dalam bahasa Arab malu disebut dengan al-haya’ , dimana kata itu berasal dari kata al-hayah yang berarti hidup. Artinya, dengan sifat malu hati menjadi hidup dan peka terhadap keadaan. Ia tidak mudah terjerumus dalam jurang kemaksiatan. Bahkan, untuk sekedar melakukan tindakan yang tidak pantas saja, hati akan merasa berat dan tidak rela.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang di rahmati Allah Swt. …

            Namun demikian, perlu dipahami lebih dalam, bagaimanakah malu yang terpuji dan dianjurkan dalam Islam, dan bagaimanakah rasa malu yang tercela? Sebab, jika tidak dipahami dengan benar, bukan kebaikan yang didapat, melainkan akan menuai keburukan. Buktinya, sering sekali seseorang merasa malu untuk berbuat kebaikan dan menengakkan kebajikan, tetapi berbangga diri dengan perbuatan yang menyebabkan berdosa. Semua ini adalah karena ia kurang memahami arti malu dengan benar, dan tidak menerapkannya dengan tepat.

            Secara umum, rasa malu yang terpuji adalah rasa malu yang dapat membatasi seseorang dari berbuat kemaksiatan, serta tidak menghalanginya unutk berbuat kebaikan. Seseorang harus pandai dan cerdas, kapan ia harus malu dan kpan ia harus berbuat tegas (tidak malu) . Sayyidah ‘Aisyah pernah berkata tentang sifat para wanita Anshar :

نِعْمَ النِّساءُ نِساءُ الْأَنْصارِ ,  لَمْ يَمْنَعْهُنَّ الحَياءُ أَنْ يَتفَقَّهْنَ فِي الدِّيْنِ .

Artinya : “ Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar, rasa malu tidak mengahalangi mereka untuk belajar agama “. ( H.R. al-Bukhari ).

Hadirin Jama’ah sholat Jum’at yang berbahagia …

            Untuk dapat menumbuhkan rasa malu dalam hati kita, kita harus memulainya dengan hal-hal yang kecil. Kita harus membiasakan dan melatih hati kita menjadi peka terhadap hal yang remeh dan ringan. Melakukan kebaikan sekecil apapun, dan meninggalkan keburukan sekecil apapun. Karena, segala sesuatu yang besar berasal dari yang kecil. Dalam hal ini Nabi Isa As. bersabda :

إِيَّاكُمْ والنَّظْرَةَ فَإِنَّها تَزْرَعُ الشَّهْوَةَ فِي الْقَلْبِ  وكَفَى بِها فِتْنَةً لِصاحِبِها .

Artinya : “ Takutlah kalian, hindarilah dari pandangan ( yang diharamkan) , karena satu pandangan dapat menanamkan syahwat dalam hati. Dan pandangan itu cukup menjadi fitnah bagi pelakuya “.

            Perbuatan dosa sekecil apapun, bila tidak segera ditaubati, dapat membekas dalam diri seseorang dan akan menjalar pada perbuatan dosa yang lainnya. Saat pertama kali melakukan perbuatan dosa, atau meninggalkan suatu kewajiban, mungkin seseorang merasa malu dan menyesal, namun bila dibiarkan, lama kelamaan hal demikian akan menjadi kebiasaan. Rasa malu dalam hati pun akan terkikis, dan ia akan semakin ringan melakukan perbuatan dosa.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang berbahagia …

            Oleh karenanya, setiap kali melakukan tindakan, kita harus membiasakan diri menimbangnya dengan hukum agama, atau mungkin dengan perasaan hati nurani kita. Malukah kita andai perbuatan kita diketahui oleh orang lain? Malukah kita kepada Allah Dzat yang Maha Melihat? Jika kita merasa malu, maka janganlah perbuatan itu kita lakukan. Rasulullah Saw. bersabda :

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ  مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى إِذا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ .

Artinya : “ Sesungguhnya salah satu perkara yang telah diketahui oleh manusia dari kalimat kenabian terdahulu adalah ‘ Jika kamu tidak merasa malu , maka berbuatlah sesukamu. ( Karena kelak perbuatanmu akan dipertanggungjawabka”. ( H.R. al-Bukhari).

            Seorang Ulama salaf berkata kepada putranya : “ Ketikannafsu mendorongmu untuk berbuat dosa, maka pandanglah langit dan malu lah kepada Allah, dan pandanglah bumi dan malu lah kepada penduduk bumi. Jika engkau tidak takut kepada Allah dan tidak malu kepada penduduk bumi , maka samakanlah dirimu dengan hewan “.

Hadirin Jama’ah Sholat Jum’at yang bersahaja …

            Kiranya itu saja khutbah singkat pada kesempatan kali ini, semoga kita di karuniai hati yang hidup, yang peka untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan perbuatan yang tercela. Amin.

أَعُوذُ بِاالله مِنَ الشَّيطانِ الرَّجِيمِ. وَلِكُلِّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيها فَاسْتَبِقُوا الْخَيْراتِ أَيْنَ ما تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَميعًا إِنَّ اللهَ علَى كُلِّ شَيْئٍ قَدِيرٌ. بارَكَ اللهُ لِي ولَكُمْ فِي الْقُرْءانِ الْعَظِيمِ  ونَفَعَنَا وإِيَّاكُمْ مِنَ الْآياتِ  وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ إِنَّه تعالى جَوادٌ كَرِيمٌ مَلِكُ بَرٌّ رَءُوْفٌ رَحِيمٌ.

Khutbah II

اَلحمْدُ للهِ حَمْدًا كما أَمَرَ.وأَشْهدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ إِرْغامًا لِمَنْ جَحَدَ بِه وكَفَرَ. وأَشْهَدُ أَنَّ سَيّدَنا محمَّدًا عَبدُهُ ورسُولُهُ سَيِّدُ الْإِنْسِ والْبَشَرِ.اللَّهمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ على سيِّدِنا على عَبْدِكَ  ورَسُولِك محمَّدٍ وآلِه وصَحْبِه مَااتَّصَلَتْ عَينٌ بِنَظَرٍ وأُذُنٌ بِخَبَرٍ. ( أمّا بعدُ ) فيَآايُّهاالنّاسُ اتَّقُوا اللهَ تعالى وَذَرُوا الْفَواحِشَ ما ظهَرَ مِنْها وما بَطَنَ وحافَظُوا على الطَّاعَةِ وَحُضُورِ الْجُمُعَةِ والجَماعَةِ . وَاعْلَمُوا  أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيه بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلائكةِ قُدْسِهِ. فَقالَ تعالى ولَمْ يَزَلْ قائِلاً عَلِيمًا: إِنَّ اللهَ وَملائكتَهُ يُصَلُّونَ على النَّبِيِّ يَآ أَيّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

اللَّهمَّ صَلِّ وسَلِّمْ على سيِّدِنا محمَّدٍ وعلى آلِ سيِدِنَا محمَّدٍ  كَما صَلَّيْتَ على سيِّدِنا إِبراهِيمَ وعلى آلِ سيِّدِنَا إِبراهِيمَ في الْعالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. اللَّهمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاء الرّاشِدِينَ الَّذينَ قَضَوْا بِالْحَقِّ وَكانُوا بِهِ يَعْدِلُونَ أَبي بَكْرٍ وعُمرَ و عُثْمانَ وعلِيٍّ وَعَنِ السَتَّةِ الْمُتَمِّمِينَ لِلْعَشْرَةِ الْكِرامِ وعَنْ سائِرِ أَصْحابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعينَ وَعَنِ التَّابِعِينَ وتَابِعِي التَّابِعِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسانٍ إِلَى يَومِ الدِّينِ. اللَّهمَّ لا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ مِنْهُمْ فِي عُنُقِنَا ظَلَامَة ونَجِّنَا بِحُبِّهِمْ مِنْ أَهْوالِ يَومِ الْقِيامَةِ. اللَّهمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ والمُسلمينَ وأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ والمُشْركِينَ. ودَمِّرْ أَعْداءَ الدِّينِ.

اللَّهمَّ آمِنَّا فِي دُوْرِنا وأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنا. وَاجْعَلِ اللَّهمَّ وِلَايَتَنا فِيمَنْ خافَكَ وَاتَّقَاكَ. اللَّهمَّ اغْفِرْ لِلمُسلِمينَ والمُسلماتِ والمُؤْمنينَ والمُؤْمِناتِ الْأَحْياءِ مِنْهُمْ والْأَمْواتِ بِرَحْمَتِكَ يَا وَاهِبَ الْعَطِيَّاتِ. اللَّهمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ والوَباءَ والزِّنا والزَّلَازِلَ وَالمِحَنَ وَسُوءَ الفِتَنِ ما ظَهَرَ مِنْها وما بَطَنَ عَنْ بَلَدِنا هَذا خاصَّةً وعَنْ سائِرِ بِلَادِ الْمُسلمينَ عامَّةً يا رَبَّ الْعَالَمِينَ.رَبَّنا آتِنا في الدّنيا حَسَنَةً وَفي الآخرة حَسَنَةً  وقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ والْإِحْسان وإِيتاءَ ذِي الْقُرْبَى  ويَنْهَى عَنِ الْفَحْشاءِ والْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ على نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْئَلُوهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَكْبَرُ.

Baca juga:
KHUTBAH JUMAT: MUHASABAH MEMBUAT DIRI BERUBAH

Subscribe juga:
Channel Pondok Pesantren Lirboyo

Lembaga Pendidikan Islam Salaf Berakidah Ahlussunnah Wal Jamaah