HomePojok LirboyoPembukaan Kuliah Ushul Fikih

Pembukaan Kuliah Ushul Fikih

3 3 likes 1.2K views share

LirboyoNet – Sejak tahun kemarin, Lajnah Bahtsul Masail (LBM) Pondok Pesantren Lirboyo punya agenda bulanan yang terbilang baru. Kegiatan itu dinamai Kuliah Ushul Fikih dengan tutor tetap KH. Azizi Hasbullah. Kegiatan ini oleh pihak LBM boleh diikuti oleh siapa saja santri yang berminat, tidak ada batasan tingkatan. Meskipun toh yang diharapkan adalah santri tingkat Aliyah, karena secara keilmuan tingkatan ini “lebih ngeh” dengan apa yang disampaikan oleh tutor.

Tidak seperti tahun lalu yang digelar malam hari, kuliah ushul fiqh dengan materi dasar kitab matan Lubbul Ushul tahun ini  dilaksanakan sabtu siang (19/9/2015) sekitar pukul 14.30 WIS/14.00 WIB, bukan waktu biasa untuk mengikuti aktivitas LBM bagi yang sudah sekolah malam, karena pada jam tersebut banyak bentrok dengan pengajian yang digelar masyayikh. Meski begitu, antusiasme peserta tidak nampak surut.

Seperti tahun lalu, teknis kuliah juga tak banyak yang berbeda. Dimulai dengan sesi pemurodan, diteruskan penjelasan langsung oleh KH. Azizi, dan dilanjutkan sesi tanya jawab seputar bab yang sedang dibahas.

KH. Azizi menjelaskan muqoddimah seputar mabahisul aqwal, apa saja yang nantinya dapat dijadikan pijakan atau tendensi dalam merumuskan hukum fikih, lebih khusus lagi, Alquran sebagai referensi yang benar-benar bisa dijadikan rujukan. “Kalau kita melihat Alqurannya itu qoth’y atau pasti, namun dalalah dari Alquran sendiri tidak ada yang qoth’y, semua sebatas dhonny (praduga -Red.), kecuali didukung dengan dalil lain.” Maka jelas tak terhindarkan terjadinya perbedaan pendapat dalam pemahaman yang muncul dari sebuah kata atau kalimat. Kemudian, dalam sejarahnya, dahulu Alquran mulai ditulis atas inisiatif sahabat Umar RA. ketika masa kekhalifahan sahabat Abu Bakar RA. Waktu itu sahabat Abu Bakar RA. sempat menolak inisiatif dari sahabat Umar RA. karena sahabat Abu Bakar RA. enggan melakukan apa yang tidak pernah dilakukan nabi Muhammad SAW. Namun, mempertimbangkan sudah tujuh puluh sahabat hamilul qur’an (hafal Alquran-Red.) yang syahid dalam perang Yamamah, perang melawan Musailamah Al-Kadzab, dan dikhawatirkan Alquran akan musnah, akhirnya sahabat Abu Bakar RA. menyetujui inisiatif pembukuan Alqur’an. Beliau menunjuk sahabat Zaid bin Tsabit sebagai juru tulis.

Alquran yang ditulis sahabat Zaid bin Tsabit waktu itu masih tanpa menggunakan titik dan harokat. Alquran tersebut dipegang khalifah dan kemudian disimpan oleh Sayyidah Hafshoh putri sahabat Umar RA. Dalam perkembangannya, di masa pemerintahan khalifah Usman bin Affan RA. muncul kontroversi dimana setidaknya waktu itu ada sekitar seratus qiro’ah yang berkembang di masyarakat luas, mengingat waktu itu Alquran masih polos tak berharokat dan tak bertitik. Dan lebih parah lagi, antar satu dan lain saling menyalahkan bahkan sampai mengkafirkan. Hal tersebut dilaporkan kepada khalifah Usman RA. Lantas beliau mengambil tindakan tegas dengan menarik seluruh mushaf Alquran yang ada di dunia dan menyatukan qiro’ah yang ada. Beliau mendaulat sahabat Zaid bin Tsabit untuk menulis ulang Alquran yang disimpan sayyidah Hafshoh menjadi enam. Enam Alquran inilah yang dikenal dengan mushaf Rosm Usmani.

Beliau juga sempat menjelaskan Alquran adalah kitab yang jami’ul kalim. Bahkan penjelasan ini beliau kuatkan dengan tambakan “yakin”, karena KH. Azizi sendiri sudah merasakan bagaimana satu ayat bisa untuk dilarikan ke seluruh fan ilmu, mulai tashowuf, fiqh, tauhid, dan lain sebagainya. Beliau menganalogikan dengan contoh “Jaa’a Zaid” bukan hanya bisa digunakan sebagai contoh jumlah fi’liyyah saja, namun bisa juga digunakan sebagai contoh i’rob rofa’, contoh isim, contoh fi’il, contoh bina’ shohih, contoh bina’ salim, contoh kalam khabar, dan lain sebagainya. Semua hanya diwakilkan dengan satu kalimat yang nampak sederhana, jaa’a zaidun. Misalkan saja ayat,
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ
Selain bisa dijadikan dalil zakat dalam bab fikih, bisa juga dijadikan dalil tashowwuf, “ilmunya Allah (الصَّدَقَاتُ) hanya diberikan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya (لِلْفُقَرَاء)”.

Setelah sesi tanya jawab usai, kuliah ushul sore itu ditutup dengan do’a. Harapannya, untuk tahun-tahun ke depan para penggiat ilmu syar’i tak bosan-bosannya mengkaji ushul fiqh. Meskipun tak lagi “berfungsi” untuk berijtihad, namun bisa digunakan untuk memperkuat dan memperjuangkan madzhab imam yang kita anut, seiring akhir-akhir ini semakin marak “islam minoritas” yang sering menggugat pendapat-pendapat imam empat. (wf)