1,434 views

Khutbah Jumat Dzulqo’dah : Pendidikan Nabi Ibrahim Cerminan Pondok Pesantren

Naskah khutbah kali ini adalah mencoba menjelaskan bagaimana Nabi Ibrahim As. mendidik putranya Nabi Ismail yang mana metode pendidikan tersebut begitu kental dan selaras dengan metode pendidikan yang diajarkan dalam pondok pesantren.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُه. خَيْرَ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ. أَرْسَلَهُ اللهُ إِلَى الْعَالَـمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا دَائِمَيْنِ مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. أَمَّا بَعْدُ فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ، وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الْآخِرِينَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Sebentar lagi kita akan memasuki bulan Dzulhijjah bulan dimana kita bersama-sama merayakan hari raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Hari di mana umat muslim disunnahkan untuk melaksanakan ibadah kurban yang kemudian dagingnya tak hanya dinikmati oleh yang berkurban, melainkan juga ditasarufkan kepada para fakir miskin.

Kita tahu bahwa kesunnahan berkurban pada Hari Raya Idul Adha secara historis bermula dari peristiwa di mana nabi Ibrahim As. mendapatkan perintah untuk menyembelih putra tercintanya Ismail As. Perintah tersebut pastilah merupakan sesuatu yang amat berat, bagaimana tidak, seorang ayah yang diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya, putra yang diharapkan sebagai penerusnya.

Akan tetapi karena perintah tersebut datang dari Tuhan semesta alam, maka tak ada penolakan, Ibrahim dengan mantap menyampaikan wahyu yang ia dapatkan kepada putra tercintanya Ismail. Begitu terkejut nabi Ibrahim ketika melihat respon putranya yang rela, pasrah dan justru bangga dengan kabar wahyu tersebut.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡیَ قَالَ یَـٰبُنَیَّ إِنِّیۤ أَرَىٰ فِی ٱلۡمَنَامِ أَنِّیۤ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰۚ قَالَ یَـٰۤأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُۖ سَتَجِدُنِیۤ إِن شَاۤءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّـٰبِرِینَ)

Artinya: Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.” [Surat Ash-Shaffat 102]

Selanjutnya kita ketahui bersama diakhir peristiwa penyembelihan itu Allah SWT mengganti Ismail yang akan dikorbankan dengan seekor domba yang begitu gemuk dari surga, domba persembahan putra nabi Adam Habil. Semua berakhir bahagia.

Akan tetapi tak berhenti sampai di situ, Ismail pun tumbuh menjadi seorang yang saleh sehingga kemudian diangkat menjadi Rasul. Dan darinya pula kelak lahir para Nabi dan Rasul hingga sampailah pada beliau Nabi Agung Muhammad Saw.

Bila kita bisa mengambil ibroh, semua itu tak lepas dari peran Nabi Ibrahim sebagai orang tua dalam mendidik anaknya Ismail. Selain dengan selalu beribadah dan terus mendekatkan diri kepada Allah, beliau juga senantiasa mendoakan keluarganya dalam Al-Qur’an doa Nabi Ibrahim As. diabadikan:

(رَبَّنَا وَٱجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَكَ وَمِن ذُرِّیَّتِنَاۤ أُمَّةࣰ مُّسۡلِمَةࣰ لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبۡ عَلَیۡنَاۤۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِیمُ)

Artinya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepada-Mu, dan anak cucu kami (juga) umat yang berserah diri kepada-Mu dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami, dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang. [Surat Al-Baqarah 128]

Tak berhenti di situ, bahkan pada saat putra tercintanya baru lahir langkah yang beliau lakukan justru menjauhkan istri dan putranya tersebut mengasingkannya ke jazirah Arab tanah gersang yang tak berpenghuni.

Hal demikian dilakukan tak lain karena beliau tahu pendidikan terbaik bagi seorang calon pemimpin umat adalah dengan berpisah dari pangkuan orang tua, guna belajar mengenal kehidupan yang sesungguhnya dengan hidup di tengah komunitas yang plural.
Ditegaskan dalam Al-Qur’an:

(رَّبَّنَاۤ إِنِّیۤ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّیَّتِی بِوَادٍ غَیۡرِ ذِی زَرۡعٍ عِندَ بَیۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡـِٔدَةࣰ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِیۤ إِلَیۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَ ٰ⁠تِ لَعَلَّهُمۡ یَشۡكُرُونَ
Artinya: Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.[Surat Ibrahim 37]

Selain itu, walaupun sebagai sosok ayah beliau tetap dengan tegar melaksanakan semua perintah Allah walaupun sampai mengorbankan putra tercintanya, sebagai cerminan sikap tawakal orang tua.

Dari sini nampak jelas bahwa pendidikan Kholilullah Ibrahim as sangat identik dengan metode pendidikan pesantren.

Mulai dari keharusan seorang anak lepas dari pangkuan kasih sayang orang tua demi mendapatkan pendidikan agama, yang dicontohkan Kholilullah Ibrahim As. dalam meninggalkan anaknya yang masih dalam timangan ibunya di tanah gersang jauh dari hiruk pikuk kehidupan duniawi. Hingga fokus untuk menerima pendidikan dari ibunya.

Identik sekali dengan pendidikan pesantren di mana seorang anak haruslah lepas dari kehidupan manja di rumahnya serta menghindari pergaulan yang kurang positif dilingkungan ia tinggal, fokus belajar pendidikan dan pelajaran nilai-nilai agama Islam tanpa pengaruh dunia luar serta hidup dalam lingkungan yang positif juga penuh pantauan.

Dan juga Nabi Ibrahim As. yang begitu pasrah dengan perintah Allah meskipun perintah tersebut adalah untuk menyembelih putranya sendiri.

Mencerminkan sikap pasrah dan patuh orang tua pada pengurus pondok pesantren dalam setiap kebijakannya apapun itu walaupun nyawa yang menjadi taruhannya. Karena hakikatnya semua kebijakan pondok semata-mata adalah demi kebaikan anak itu sendiri.

Tak berhenti di situ Nabi Ibrahim tak henti-hentinya beribadah kepada Allah serta senantiasa mendoakan anak-anaknya dan semua keturunannya dengan sungguh-sungguh.

Hal ini menunjukkan keharusan sikap orang tua yang juga haruslah senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan juga giat dalam mendoakan anaknya yang berada di pesantren juga menjadi kunci kesuksesan bagi santri tersebut.

Sehingga dengan semua usaha doa tersebut juga berkat pertolongan Allah, kita semua tahu, putra Nabi Ibrahim As. yaitu Ismail As. mampu meneruskan estafet kenabian dan kepemimpinan, menjadi sosok yang saleh pribadi serta pemimpin yang adil serta secara terus-menerus mampu melahirkan generasi penerus kenabian hinga junjungan kita nabi agung Muhammad Saw.

Dengan meniru metode pendidikan Nabi Ibrahim As yang nampak jelas merupakan cerminan pendidikan pondok pesantren kita berharap agar setiap santri kedepannya mampu menjadi sosok sebagaimana beliau Nabi Ismail as, pemimpin umat yang mampu secara estafet mengajarkannya nilai-nilai Islam baik di masyarakat maupun kepada keluarga.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ   أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ   اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ   عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ 

Baca juga: Khutbah Jumat Bulan Dzulqo’dah: Menata Niat Sebelum Berangkat Haji

Subscribe juga: Youtube Pondok Lirboyo

3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.