773 views

Pengen Kaya? Jangan Meninggalkan Shalat dengan Dalih Bekerja

Perhatian kepada rezeki menjadi bagian yang paling penting dalam kehidupan manusia. Tak jarang, banyak sekali orang yang merasa khawatir, gelisah akan hal ini. Padahal, Allah SWT telah menjamin setiap rezeki dari makhluknya. Dalam al-Qur’an dikatakan:

وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۗ كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

“Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Salah satu indikator perasaan kegelisahan hati dan dipersempitnya rezeki di antaranya karena tidak bergegas melakukan bahkan melalaikan shalat. Dengan tidak melaksanakan shalat, justru pintu rezeki akan menjadi sempit. Karena Allah sendiri memerintahkan untuk melaksanakan sholat dan tidak memperkenankan untuk bertanya permasalahan rezeki.

وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ

“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabar dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)

Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud ayat ini tidak lain mengajak kepada siapa saja untuk melaksanakan shalat, meminta pertolongan kepada Allah agar mencukupi kebutuhan-kebutuhannya melalui perantara shalat, dan jangan merasa khawatir perihal masalah rezeki dan penghidupan.[1] Dalam sebuah hadis sendiri dijelaskan:

وَمِنَ الصَّلَاةِ صَلَاةٌ مَنْ فَاتَتْهُ فَكَأَنَّمَا وُتِرَ مَالَهُ وأَهْلَهُ

“Barangsiapa yang melewatkan shalat Ashar, maka seakan-akan keluarga dan hartanya hilang.”[2]

Dari hadis ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat Ashar diibaratkan seolah-olah ia ditimpa musibah dengan kehilangan seluruh keluarga dan hartanya, sehingga ia hidup dengan tanpa keluarga dan harta.

Tanggapan “Bekerja adalah ibadah, lalu meninggalkan shalat dengan dalih bekerja”

Tidak dapat dipungkiri masih juga terdapat orang yang berpendapat bahwa “bekerja adalah ibadah dan shalat juga ibadah, kemudian ia meninggalkan shalat”. Anggapan ini adalah anggapan yang salah, dan perlu adanya pembenahan.

Memang, bekerja merupakan ibadah, sedang meninggalkan shalat dengan dalih bekerja merupakan perbuatan dosa yang besar. Seharusnya, keduanya harus sama-sama dilakukan. Jika masih terdapat orang-orang yang mengatakan seperti itu, perlu diingat bahwa pepatah tersebut tidak lain merupakan tipu daya setan untuk mempermainkan pikiran orang-orang yang imannya lemah.[3]

Syekh Ismail dalam Tafsirnya menjelaskan: Pekerjaan yang bersifat ibadah adalah pekerjaan yang tidak mengalihkan perhatian seseorang dari ketaatan kepada Allah SWT. Shalat sendiri merupakan amalan (pekerjaan) yang paling mulia. Sebagaimana diungkapkan oleh Nabi Muhammad SAW:

الصَّلَاةُ خَيْرُ مَوْضُوعٍ

“Shalat adalah kebajikan yang ditetapkan Allah.”[4]

Mencari rezeki dengan bermaksiat atau taat kepada Allah?

Uraian di atas setidaknya ingin menyampaikan bahwa shalat menjadi sebab dilapangkannya rezeki. Barangsiapa yang menghendaki agar dilapangkan rezekinya, maka jangan sampai meninggalkan shalat disebabkan tersibukkan ia dengan urusan mencari rezeki.

Ketika telah mengetahui bahwa rezeki ada di sisi Allah, apakah kemudian kita mencari rezeki tersebut dengan bermaksiat kepada Allah (dengan meninggalkan shalat)? Seharusnya, kita memohon rezeki yang Allah miliki dengan cara mentaatinya. Jika kita taat, Allah pasti akan memberikan rezeki tersebut dengan cara melapangkan dan memberkatinya. Dan ingat, sholat bukan menjadi penghalang rezeki kita. Justru dengan meninggalkan shalat, rezeki kitalah yang kemudian akan menjadi sempit.

baca juga: Fadhilah Sholat Berjamaah | KH. M. Anwar Manshur

Bukan alasan menjadi malas untuk bekerja

Perlu menjadi pertimbangan juga bahwa semua uraian yang ada di atas tidak lantas menganjurkan orang untuk berhenti bekerja dan tidak menjadi alasan bagi orang-orang yang malas untuk bersantai-santai di dalam masjid. Keduanya (antara bekerja dan menjalankan shalat) harus sama-sama dijalankan. Dan yang paling diutamakan adalah menyempatkan waktu untuk melaksanakan shalat. Karena shalat menjadi tiang agama. Bukankah Allah sendiri berfirman:

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumuah: 10)

Wallahu a’lam.

tonton juga: Teladan Almahgfurlah KH. Marzuqi Dahlan Pengasuh Pondok Lirboyo


[1] Ismail al-Muqoddam, Tafsir al-Qur’an al-Karim al-Muqoddam (Maktabah Syamela), XI/99
[2] Ahmad bin Husain Abu Bakar al-Baihaqi, Sya’bul Iman (Maktabah Syamela), IV/328
[3] Ismail al-Muqoddam, Tafsir al-Qur’an al-Karim al-Muqoddam (Maktabah Syamela), XI/99
[4] Abu Qosim at-Thabroni, Mu’jam al-Ausath (Maktabah Syamela), I/84

2