HomePojok LirboyoPenutupan FMPP XXXVI, Menag Fachrul Razi: Bangsa ini Merdeka, karena Peran Besar Pesantren
Kemenag RI

Penutupan FMPP XXXVI, Menag Fachrul Razi: Bangsa ini Merdeka, karena Peran Besar Pesantren

Pojok Lirboyo 0 1 likes 380 views share

LirboyoNet, Kediri—Menteri Agama Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menutup secara resmi acara FMPP (Forum Musyawarah Pondok Pesantren) ke-XXXVI se-Jawa Madura pada kamis malam jumat (14/02).

Acara tersebut, dihadiri juga oleh segenap Masyayikh dan Dzuriyah Pondok Pesantren Lirboyo, dan Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Acara yang dimulai sehabis isya itu dibanjiri oleh segenap delegasi FMPP dan santri Pondok Pesantren Lirboyo.

Dalam kesempatan ini, Menag RI Jenderal TNI (Purn.) Fachrul Razi menyampaikan sambutan beliau, bahwa “Saya di amanahi oleh Presiden dan Wakil Presiden sebagai menteri Republik Indonesia.”

“Jabatan ini cukup berat, namun saya berprinsip, sepanjang ada doa dan barokah dari para kiai,”

“Terutama keluarga besar Pondok Pesantren Lirboyo, insyaAllah Allah akan memudahkan tugas-tugas saya.”

Beliau juga menyampaikan, bahwa beliau merasakan ketenangan ketika berkunjung ke Pondok Pesantren Lirboyo ini.

“Bangsa ini dapat merdeka, karena peran besar Pesantren”,

“Negara dan pemerintah tidak pernah lupa atas jasa para syuhada’ bangsa dari kalangan Pesantren.”

“Indonesia dari dulu tidak pernah memisahkan antara identitas islam dan identitas kebangsaan,” kata beliau,

“Dan ujung tombak paling utama adalah Nahdlatul Ulama.” Pungkas beliau.

Para ulama kita adalah nasionalis sejati. Jauh sebelum kita merdeka, ulama dan pesantren sudah berkontribusi nyata, mengambil bagian, mengukir peradaban, serta mencerdaskan kehidupan bangsa lewat lembaga-lembaga pendidikan yang didirikannya.

Mereka tetap mempertahankan identitas ke-indonesia-an, menguatkan nasionalisme santri dalam situasi apapun juga.

Pada bulan September 2019 lalu, telah disahkan undang-undang tentang pesantren. Undang-undang ini terbit bukan untuk menyeragamkan pesantren, seperti sekolah, madrasah, atau mengatur pesantren agar mau mengikuti pemerintah. Undang-undang ini hadir dalam rangka menjaga khas pesantren.

Apa yang selama ini dilakukan oleh pesantren, berupa proses belajar-mengajar dengan segala khas-nya.

Baik segi metode, kurikulum dan lainnya tetap akan dipertahankan sebagai sebuah sistem pendidikan yang diakui sebagai sistem pendidikan nasional.

Kalau kita membaca sejarah, bisa akan tergambar dengan jelas bahwa pendidikan asli Indonesia adalah pendidikan pesantren.

Acara pungkas diisi dengan mauidzoh hasanah yang disampaikan oleh KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, dan ditutup dengan doa yang dibawakan oleh KH. Zainuddin Jazuli.

Baca Juga: Khutbah Jumat: Muhasabah Membuat Diri Berubah