Perbedaan Kurban Sunnah dan Wajib

Artikel berikut akan menjelaskan tentang perbedaan kurban sunah dan wajib yang perlu masyarakat khususnya kaum muslimin ketahui.

Hukum

Hukum asal berkurban adalah sunnah kifayah (kolektif), artinya bila dalam satu keluarga sudah ada yang mengerjakan, sudah cukup menggugurkan tuntutan bagi anggota keluarga yang lain. Bila tidak ada satu pun dari mereka yang melaksanakan, maka semua yang mampu dari mereka terkena imbas hukum makruh.

Kurban bisa berubah menjadi wajib bila terdapat nazar, misalnya ada orang bernazar kalau lulus sekolah atau dikaruniai anak, ia akan berkurban dengan seekor sapi. Saat cita-cita yang diharapkan tercapai, maka wajib baginya untuk mengeluarkan hewan kurban yang ia nazarkan. Dalam kondisi demikian, hukum berkurban baginya adalah wajib.

Antara kurban sunah dan wajib memiliki kesamaan dan perbedaan yang penting diketahui:

Kesamaan

Baik kurban sunah dan wajib memiliki waktu khusus untuk pelaksaannya yakni pada hari raya kurban (hari nahar) dan hari-hari tasyriq (10, 11, 12, dan 13 Dzulhijjah). Menyembelih hewan kurban di selain hari-hari tersebut tidak sah sebagai kurban.

Memiliki syarat, rukun menyembelih serta kesunahan yang sama.

Perbedaan;

Niat

Baik kurban sunnah maupun wajib kedua-duanya membutuhkan niat. Pelaksanan niat adalah kala mudlahhi (orang yang kurban) menyembelih atau saat pemilihan kurban. Mudlahhi boleh menyembelih sendiri hewan kurbannya atau mewakilkan kepada orang lain. Dalam niat pun demikian, boleh niat sendiri atau mewakilkan kepada orang lain.

Berikut adalah perbedaan lafal kurban sunnah dan wajib;

نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ عَنْ نَفْسِيْ لِلهِ تَعَالَى

“Aku niat berkurban sunnah untuk diriku karena Allah.”

Contoh niat kurban sunnah yang dilakukan oleh wakilnya mudlahhi:

   نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْمَسْنُوْنَةَ عَنْ زَيْدٍ مُوَكِّلِيْ لِلهِ تَعَالَى

 “Aku niat berkurban sunnah untuk Zaid (orang yang memasrahkan kepadaku) karena Allah”.

Contoh niat kurban wajib yang diniati sendiri oleh mudlahhi:

  نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْوَاجِبَةَ عَنْ نَفْسِيْ لِلهِ تَعَالَى

 “Aku niat berkurban wajib untuk diriku karena Allah”

 نَوَيْتُ الْأُضْحِيَّةَ الْوَاجِبَةَ عَنْ زَيْدٍ مُوَكِّلِيْ لِلهِ تَعَالَى

 “Aku niat berkurban sunnah untuk Zaid (orang yang memasrahkan kepadaku) karena Allah”.

Hak Konsumsi Daging Bagi Mudlahhi

Bagi mudlahhi kurban sunah, boleh untuk memakan sebagian bahkan keseluruhan daging kurban kecuali kadar yang wajib disedekahkan. Adapun yang lebih utama adalah memakan beberapa suap saja untuk mengambil keberkahan dan menyedekahkan sisanya.[1]

Sedangkan kurban wajib, mudlahhi haram memakannya, begitu juga keluarga yang nafkahnya dalam tanggung jawab mudlahhi. Mudlohhi harus mensedekahkan seluruh bagian dari kurban wajib kepada fakir miskin dalam keadaan mentah.[2]

Kadar Kewajiban Sedekah.

Kadar minimal daging yang wajib disedekahkan dalam kurban sunnah adalah kadar daging sekira layak disedekahkan, semisal satu kantong plastik. Tidak cukup sedekah dengan kadar remeh semisal satu atau dua suapan. Kadar wajib ini harus disedekahkan kepada fakir miskin dalam keadaan mentah. Selebihnya boleh dimakan sendiri atau diberikan kepada orang yang berkecukupan.[3]

Sementara kurban wajib, mudlahhi harus mensedekahkan seluruh bagian dari hewan kurban tanpa terkecuali. Meliputi daging, kulit, tanduk dan sebagainya wajib disedekahkan kepada fakir/miskin tanpa terkecuali. Bila ada bagian kurban yang distribusinya tidak tepat sasaran, maka wajib mengganti rugi kepada fakir/miskin.[4]

Pihak Yang Berhak Menerima Daging Kurban

Sebagai mana keterangan sebelumnya, dalam kurban wajib pihak yang berhak atas daging kurban adalah fakir miskin. Mudlahhi harus mensedekahkan semua anggota hewan kurban, daging, kulit, gajih dan yang lain kepada fakir miskin dalam keadaan mentah.

Sementara kurban sunnah mudlahhi hanya wajib mensedekahkan sebagian saja dari hewan kurban sekira layak. Selebihnya mudlahhi boleh memakan sendiri atau memberikan daging kurban kepada orang kaya.

Namun yang menjadi catatan di sini adalah hak orang fakir atas daging kurban berbeda dengan orang kaya. Daging kurban yang diterima orang fakir adalah bersifat tamlik, yakni pemberian secara mutlak. Ia boleh mensedekahkan kembali bahkan menjualnya.

Sementara hak daging yang diterima orang kaya terbatas pada hak konsumtif. Artinya, Ia boleh memakan daging kurban secara pribadi atau memberikan kepada orang lain sebatas untuk dimakan. Akan tetapi, Ia tidak boleh menjualnya kepada orang lain, menghibbahkan dan pemberian-pemberian lain yang dapat memberikan kepemilikan secara utuh.[5]

Pengertian orang kaya dalam bab ini adalah setiap orang yang haram menerima zakat, yaitu orang yang memiliki harta atau usaha yang mencukupi kebutuhan sehari-hari, baik untuk dirinya atau keluarga yang wajib ia nafkahi. Sedangkan fakir/miskin sebaliknya, yaitu orang yang aset harta atau usahanya tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, baik untuk diri sendiri atau keluarga.[6]

Sekian, semoga bermanfaat.

[1] Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 6, hal. 135

[2] Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani, Tausyikh ‘Ala Ibni Qasim, hal. 531.

[3] Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 6, hal. 135.

[4] Syekh Ibnu Qasim al-Ubbadi, Hasyiyah Ibni Qasim ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 9, hal. 363

[5] Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha al-Bakri, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 378.

[6] Syekh Abu Bakr bin Muhammad Syatha al-Bakri, Hasyiyah I’anah al-Thalibin, juz 2, hal. 379.

Baca Juga: Hari Raya Kurban di Pondok Pesantren Lirboyo

Subscribe: Pondok Lirboyo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.