HomeSantri MenulisPerempuan yang Dimuliakan di Bulan Rajab

Perempuan yang Dimuliakan di Bulan Rajab

0 12 likes 13.9K views share

Kemuliaan bulan Rajab bukan hanya milik manusia-manusia di Makkah. Atau orang-orang yang shalat di depan Ka’bah. Bulan Rajab itu, di sudut Baitul Makdis, seorang perempuan dengan tekun menghadap tuhannya. Bukan hanya bulan Rajab sebenarnya. Ia juga rajib beribadah di bulan-bulan sebelumnya. Namun khusus bulan itu, ia membaca surat al Ikhlas sebelas kali setiap harinya.

Demi mengagungkan mengagungkan bulan itu, ia juga enggan memakai pakaian yang indah. Ia menggantinya dengan pakaian lusuh. Dengan keengganannya itu ia seperti ingin melepaskan segala ego dan kepentingan duniawi, dan memilih mendedikasikan dirinya untuk beribadah dan berbakti.

Di tengah ketekunannya itu, ia jatuh sakit. Sakit yang parah. Sebegitu parahnya, ia bahkan merasa tak bakal sembuh. Ia pun berwasiat kepada putranya, barangkali maut menjemput sewaktu-waktu. “Anakku, ketika aku meninggal nanti, kuburkan aku dengan kain lusuh.” Ia sepertinya benar-benar telah memutus hubungannya dengan nafsu duniawi.

Dan tibalah waktu itu. ia meninggalkan dunia tempatnya memunajatkan harapan dan permohonan-permohonan. Sayangnya, satu permohonan yang ia pintakan pada anaknya ternyata tak terwujud. Sang anak tidak melakukan apa yang ibunya inginkan. Sebaliknya, ia memilih mengkafani ibunya denga kafan yang baru. Akan sangan memalukan bagi dirinya kalau saja ibundanya dikafani dengan kain lusuh. Apa kata masyarakat nanti.

Seusai pemakaman, ia terlelap. Dalam tidurnya, ia bermimpi bertemu ibunya. “Anakku, mengapa tak kau tunaikan wasiat dariku?” sang anak merasa ada sesuatu yang mengganja hatinya: rasa bersalah. “Aku tak meridloimu.”

Seperti mendengar sambaran petir, ia sontak bangun dari tidur. Ia merenung. Sedih. Takut. Hatinya dipenuhi rasa bersalah yang teramat sangat. Tanpa menunggu waktu, ia bergegas menuju pemakaman ibunya. Ia gali kembali kuburan ibunya. Ia tak menemukan apapun selain tanah yang kosong. Jenazah ibunya tak ada. Kesedihannya semakin menjadi-jadi. Hatinya hancur. Jiwanya remuk. Ia hanya bisa menangis. Tersedu sedan.

Tiba-tiba ada suara yang berbicara di dekatnya. Barangkali suara itulah yang menghibur dirinya nanti. “Tak tahukah engkau bahwa bulan Rajab adalah bulan agung. Orang yang memuliakannya tak akan dibiarkan di dalam tanah sendirian.”

Ia masih bersedih. Ia menyesal karena tak memenuhi permohonan terakhir dari ibunya. Tetapi tentu ia juga bahagia. Kini ia tahu ke mana jenazah dan jiwa ibunya: ada di tempat istimewa di samping tuhannya.

_______________________________________

Penulis: M. Hisyam Syafiqir Rahman, Pengurus Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien (MHM) P2L