HomeArtikelPesan Rahasia di Hari Ibu

Pesan Rahasia di Hari Ibu

0 9 likes 521 views share


Dalam kitab Shahih Al-Bukhari termuat sebuah hadis yang diriwayatkan dari Ibn Mas’ud, ia berkata:

 “Apakah amal yang paling dicintai oleh Allah?” aku bertanya kepada Rasulullah saw.

Salat pada waktunya.” jawab Rasulullah saw.

Kemudian apa lagi?”

“Berbakti kepada kedua orang tua.”

 “Kemudian apa lagi?”

“Berjihad (berjuang) di jalan Allah.” pungkas Rasulullah saw. menjelaskan.[1]

Mengapa harus berbakti? Dalam kitab Dalil Al-Falihin disebutkan:

اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ وَيَعْنِيْ: أَنَّ مَنْ بَرَّ أُمَّهُ وَقَامَ بِحَقِّهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Surga itu dibawah telapak kaki ibu. Artinya barang siapa yang berbakti dan memenuhi hak-hak ibunya niscaya ia akan masuk surga.”[2]

Lebih luas lagi, kitab Faidl Al-Qadir memaparkan:

 اَلْجَنَّةُ تَحْتَ أَقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ يَعْنِي التَّوَاضُعَ لَهُنَّ وَتَرْضِيْهِنَّ سَبَبٌ لِدُخُوْلِ الْجَنَّةِ ….وَقَالَ الْعَامِرِيُّ الْمُرَادُ أَنَّهُ يَكُوْنُ فِيْ بِرِّهَا وَخِدْمَتِهَا كَالتُّرَابِ تَحْتَ قَدَمَيْهَا مُقَدَّمًا لَهَا عَلَى هَوَاهُ مُؤَثِّرًا بِرَّهَا عَلَى بِرِّ كُلِّ عِبَادِ اللهِ لِتَحَمُّلِهَا شَدَائِدَ حَمْلِهِ وَرَضَاعِهِ وَتَرْبِيَّتِهِ

Surga itu di bawah telapak kaki ibu. Artinya rendah hati kepada ibu dan mendapatkan ridanya menjadi sebab masuknya seseorang ke dalam surga. Al-Amiri berkata: Maksudnya, berbakti dan berkhidmah kepada ibu bagaikan debu yang berada di bawah telapak kaki mereka, mendahulukan kepentingan mereka atas kepentingan sendiri dan memilih berbakti pada mereka atas seluruh hamba Allah. Karena merekalah yang rela menanggung beban penderitaan kala mengandung, menyusui, dan mendidik anak-anak mereka.”[3]

Lantas, bagaimanakah bentuk rasa terimakasih kepada seorang ibu? Yaitu dengan bersyukur kepadanya. Allah swt. telah berfirman dalam al-Qur’an:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu.” (QS. Luqman [31]: 14)

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah mengungkap mengenai implementasi dari rasa syukur tersebut dengan ungkapan demikian:

فَالشُّكْرُ لِلَّهِ عَلَى نِعْمَةِ الإْيمَانِ، وَلِلْوَالِدَيْنِ عَلَى نِعْمَةِ التَّرْبِيَةِ. وَقَال سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ: مَنْ صَلَّى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ فَقَدْ شَكَرَ اللَّهَ تَعَالَى، وَمَنْ دَعَا لِوَالِدَيْهِ فِي أَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ فَقَدْ شَكَرَهُمَا.

Bersyukur pada Allah artinya mensyukuri atas kenikmatan iman, sedangkan bersyukur pada kedua orang tua artinya mensyukuri atas jerih payahnya dalam mendidik.Tsufyan Bin ‘Uyainah berkata: Barangsiapa telah menjalani shalat lima waktu maka ia telah bersyukur kepada Allah, dan barangsiapa mendoakan kedua orang tuanya seusai salat maka ia telah bersyukur pada keduanya”.[4]

[]waAllahu a’lam


[1] Shahih Al-Bukhari, vol. I hal. 112.

[2] Dalil al-Falihin, vol. I hal. 205, cet. Darul Ma’rifah

[3] Faidh Al-Qadir, vol. III hal. 361, cet. Maktabah At-Tijariyah Al-Kubro

[4] Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah, vol. VIII hal. 64, CD. Maktabah Syamilah