HomePondok Pesantren Unit LirboyoPondok Pesantren Haji Ya’qub (PPHY)

Pondok Pesantren Haji Ya’qub (PPHY)

0 8 likes 3.7K views share

Pondok Pesantren Haji Ya’qub (PPHY) adalah pondok pesantren yang didirikan oleh KH. Ya’qub bin Soleh, adik ipar sekaligus sahabat KH. Abdul Karim (Mbah Manab) dan KH. Ma’ruf Kedunglo. Beliau adalah orang yang diberi amanat oleh KH. Soleh Banjarmlati (Ayahanda KH. Ya’qub) untuk mendampingi Mbah Manab dalam menangani keamanan di Pondok Pesantren Lirboyo dan mendampingi Mbah Ma’ruf dalam menangani keamanan di Pondok Pesantren Kedunglo, Bandar, Kediri yang dikala itu masih angker dan banyak penjahat yang meresahkan para santri.

Perkembangan PPHY mulai tampak pada tahun 1978, santri yang ada di PPHY ± sebanyak 60 orang dan pada waktu itu masih belum terbentuk Himpunan Pelajar (HP) dan sistem pembayarannyapun masih langsung ke Pondok Induk. Kegiatan ekstrakurikuler sebagai wadah kreativitas santri (khithobah, dziba’iyah, tahlil dan cara berorganisasi) saat itu masih terkemas dalam sebuah jam’iyyah yang bernama Jam’iyyah Ar-Rohmah.

Untuk menampung santri yang terus bertambah maka dibangunlah asrama pertama pada tahun 1979, biasa disebut dengan Pondok Lama yang sekarang berada disebelah selatan ndalem K. Nur Muhammad. Sementara Himpunan Pelajar baru berdiri pada tahun 1985 yang diketuai oleh Bapak Zumar M (Semarang).

Sementara di tahun 1993 perkembangan di tubuh PPHY adalah berdirinya Madrasah Diniyah Haji Ya’qub yang dikepalai oleh Bapak Widodo Ahmad (Kediri) dan Sekretaris Bapak Rosihin (Pekalongan). Tujuan didirikannya MDHY ini adalah untuk menampung santri yang sekolah di luar pesantren (sekolah formal) atau santri yang tidak bisa mengikuti Madrasah Diniyah di Pondok Induk (MHM) disamping juga anak dari kampung.

Sejak berdirinya PPHY, masyarakat sekitar pondok yang pada awalnya merasa kurang menerima adanya komunitas pesantren di sekelilingnya, lambat laun menyadari akan urgennya sebuah pondok pesantren, dengan bukti ada sebagian masyarakat yang ikut andil dalam memajukan pondok pesantren. Diantaranya dengan mengikuti sekolah madrasah diniyah di pondok pesantren, serta membantu kerja bakti di lingkungan pesantren. Sementara MDHY dengan jenjang pendidikan 12 tahun (6 tahun Ibtida’iyah, 3 tahun Tsanawiyah dan 3 tahun Aliyah) terus membenahi diri mencari format pendidikan yang efektif dan efisien dengan sistem masuk sekolah jam 19.00 – 21.00 WIS dan musyawarah/ diskusi pada jam 16.45 – 18.00 WIS serta para siswa pun diwajibkan mengikuti sorogan kitab 2 kali dalam satu minggu dan Musyawaroh Gabungan Sughro yang diadakan tiap malam Ahad (beranggotakan siswa MDHY dan siswa Ibtidaiyah MHM).