HomePondok Pesantren Unit LirboyoPondok Pesantren HM ANTARA

Pondok Pesantren HM ANTARA

0 3 likes 2.7K views share

Pendirian pondok pesantren ini berawal dari seringnya KH. M. Anwar Manshur (Pengasuh PP. Putri Hidayatul Mubtadi-aat) beserta istri, menerima keluhan dari masyarakat yang khawatir akan perkembangan dan masa depan anak-anaknya. Karena mereka menganggap, lingkungan pergaulan saat ini cenderung mengarah pada perilaku-perilaku yang tidak sesuai. Setelah mengadakan musyawarah keluarga, maka beliau menunjuk putra dan menantu beliau, KH. Atho’illah Sholahuddin dan Ny. Hj. Amaliah Mukmilah untuk menampung para santri yang notabenya masih anak-anak.

Hal itu kemudian ditindaklanjuti dengan menginstruksikan kepada seluruh ketua HP (Himpunan Pelajar) guna mengumpulkan para santri yang masih di bawah umur. Dan pada tanggal 19 Mei 1996 M. / 01 Muharram 1417 H. beliau mendirikan PP. HM Antara dengan kondisi yang masih sangat sederhana, baik fisik maupun aktivitas kegiatannya. Nama HM ANTARA sendiri selain merupakan singkatan dari Hidayatul Mubtadi-ien Anak Tahap Remaja, juga dikarenakan posisinya berada di antara 2 pondok HM, yaitu PP. Haji Mahrus (HM) dan PP. HM Putra Al-Mahrusiyah.

Kala itu, santri yang menetap sekitar 18 orang. Diantaranya adalah Martha Aly (asal Bekasi), Suherman (asal Jakarta), Bahroni (asal Pasuruan), dan Rusydiyansah (asal Kalimantan). Untuk membantu membimbing para santri, beliau mempercayakan kepada Mujahid Kholili (asal Jogjakarta), Rifa’I Atho’ (asal Brebes), Abdurrouf Qosasih (asal Jakarta), dan Daud Hendi Isma’il (asal Bekasi).

Sesuai dengan nama dan tujuan awal pembentukannya, pondok pesantren ini lebih ditekankan pada pembinaan santri yang masih anak-anak dan menjelang remaja. Dan lambat laun, PP. HM Antara mengalami banyak perkembangan, baik secara fisik maupun aktivitas kegiatan yang diselenggarakan. Saat ini program kegiatan PP. HM Antara diantaranya: sekolah diniyah (bergabung dengan Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien), wajib salat berjama’ah, istighotsah (tiap malam Senin dan Jum’at), pengajian Alquran, sorogan kitab kuning, pengajian kitab-kitab salaf, jam wajib belajar, dan kegiatan keilmuan lainnya. Selain itu, para santri juga mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler, mulai dari qiro’ah, diba’, praktek ‘ubudiyyah dan lain sebagainya.