284 views

Puasa Bedug, Mempunyai Dasar dalam Islam atau Hanya Sekedar Budaya?

Akhirnya, bulan Ramadhan yang dinantikan oleh seluruh Umat Islam di dunia telah tiba. Waktu dimana seluruh orang antusias melakukan kebaikan dengan cara masing-masing. Ada yang memperbanyak sholat sunah, berlomba-lomba mengkhatamkan al-Qur’an, memperbanyak sedekah dan lain sebagainya. Saking semangatnya, banyak orang tua mulai melatih anak-anaknya (yang notabene belum terkena kewajiban apapun dalam agama) untuk berpuasa walapun hanya sampai setengah hari saja. Puasa ini biasanya dalam budaya jawa disebut puasa bedug (puasa sampai bedug sholat zuhur).

Puasa bedug (mungkin beda penyebutan di daerah lain) adalah budaya turun-temurun di Indonesia (sejak era Walisongo). Di mana para orang tua menyuruh anaknya berpuasa dan memperbolehkan makan ketika azan zuhur berkumandang, kemudian si anak harus berpuasa lagi sampai waktu magrib tiba. Hal ini bertujuan untuk membiasakan anak berpuasa, sehingga ketika dewasa, ia mampu melaksanakan puasa secara penuh.

Walapun puasa bedug ini sudah menjadi tradisi yang mengakar di Indonesia, akan muncul pertanyaan: apakah ditemukan dasar (dalil) tentang puasa bedug dalam islam? Atau tradisi ini hanyalah budaya turun-temurun dari nenek moyang kita tanpa didasari agama?

baca juga: Risalah tentang Cinta yang tidak Picisan

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu kita sepakati terlebih dahulu bahwa puasa bedug tidak boleh dilakukan oleh orang dewasa. Karena pada hakikatnya puasa dilakukan mulai dari subuh sampai waktu magrib tiba. Sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Muhadzzab karangan Imam Syairazi:

 ويحرم على الصائم الأكل والشرب لقوله عز وجل: {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ} “البقرة ١٨٧”

Artinya, “Diharamkan makan minum bagi orang yang berpuasa, karena firman Allah SWT, ‘Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam (waktu fajar), kemudian sempurnakanlah puasa sampai datang waktu malam (magrib).”

Pada dasarnya, seorang anak tidak mempunyai kewajiban berpuasa karena ia belum mendapat taklif (tuntutan). Namun, para Ulama menganjurkan untuk membiasakan anak-anak berpuasa sejak dini. Dalam Madzhab Syafi’i, anak mulai diperintah untuk berlatih puasa sejak berumur 7 tahun dan dipukul (tentunya pukulan yang ringan dan tidak menyakitkan) ketika berumur 10 tahun seperti halnya sholat.

Diterangkan dalam kitab al-Muhadzzab:

وأما الصبي فلا تجب عليه لقوله صلى الله عليه وسلم: “رفع القلم عن ثلاثة: عن الصبي حتى يبلغ وعن النائم حتى يستيقظ وعن المجنون حتى يفيق” ويؤمر بفعله لسبع سنين إذا أطاق الصوم ويضرب على تركه لعشر قياساً عن الصلاة

Artinya, “Adapun anak kecil, maka tidak wajib baginya berpuasa, karena ada hadis Nabi SAW, ‘Kewajiban diangkat dari tiga orang, yaitu anak kecil hingga ia balig, orang yang tidur hingga bangun, orang gila sampai ia sadar.’ Anak kecil berumur tujuh tahun diperintahkan untuk berpuasa apabila ia kuat, dan anak yang sudah berumur sepuluh tahun dipukul jika meninggalkan puasa, diqiyaskan dengan shalat,”

Tradisi puasa bedug mempunyai segi kemiripan dengan yang dilakukan oleh Sahabat Anshor ketika melatih anak-anak mereka berpuasa. Disebutkan dalam kitab Shohih Bukhori hadits ke-1859:

١٨٥٩ – حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ ذَكْوَانَ، عَنْ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ قَالَتْ: أَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الْأَنْصَارِ: (مَنْ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ، وَمَنْ أَصْبَحَ صَائِمًا فَليَصُمْ). قَالَتْ: فَكُنَّا نَصُومُهُ بَعْدُ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا، وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُونَ عندالإفطار

Artinya, “Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata bahwa suatu pagi di hari Asyura’, Nabi SAW mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Ansor untuk menyampaikan pesan, ‘Barangsiapa yang pagi hari telah makan, maka hendaknya ia puasa hingga Magrib, dan siapa yang pagi ini berpuasa maka lanjutkan puasanya.’ Rubayyi’ berkata, kemudian kami mengajak anak-anak untuk berpuasa, kami buatkan bagi mereka mainan dari kain. Jika mereka menangis, maka kami beri mainan itu, begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka,”.

baca juga: Hutang Puasa Sampai Ramadhan lagi

Dari hadits di atas, bisa kita pahami bahwa Sahabat Anshor mempunyai tradisi melatih anak-anak berpuasa dengan cara memberikan mainan ketika si anak merengek minta makan. Walaupun tradisi Sahabat Anhsor berbeda dengan puasa bedug dalam segi kaifiyyah (cara). Namun keduanya mempunyai tujuan yang sama, yakni melatih anak untuk berpuasa. 

Dengan demikian jelas bahwa puasa beduk yang ada dan sudah menjadi tradisi merupakan bentuk tamrin (latihan) bagi anak yang masih kecil yang hukumnya adalah wajib bagi kedua orang tua ketika anak telah berumur tujuh tahun dan mampu. Namun menurut sebagian redaksi hukum mengajari puasa kepada anak yang sudah berumur tujuh tahun adalah sunah. Tentunya perintah puasa bedug harus dibarengi dengan penjelasan kepada anak bahwa puasa pada hakikatnya dilakukan mulai dari terbitnya fajar sampai waktu magrib.

Akhir kata, bisa disimpulkan bahwa tradisi puasa bedug bukanlah sekedar budaya turun-temurun, melainkan mempunyai landasan dalam syara’. Maka dari itu, tradisi ini harus terus kita lestarikan sebagai manifestasi pengamalan keagamaan sekaligus kebudayaan Indonesia, ibarat sekali mendayung dua pulau terlampaui. Semoga dengan melestarikan budaya puasa bedug ini, akan terbentuk pemuda-pemuda yang taat beragama di masa mendatang.

Penulis: M Jauharil Ma’arif An-Nur

baca juga: Setan Dibelenggu Saat Bulan Puasa, Benarkah?

kunjungi akun youtube kami Pondok Lirboyo dan ikutilah pengajian bersama para masyayeh.

Referensi:

  1. As-Syairazi, Abu al-Ishaq. 1996. Al-Muhadzzab Fi Fiqh al-Imam as-Syafi’i. Damaskus: Dar al-Qolami.
  2. Al-Asqolani, Ibnu Hajar. Tt. Fath al-Bari. Giza: Maktabah as-Salafiyyah.
  3. Fahr al-Islam, Abu Bakr as-Syasi al-Qofal. 1980. Khilyah al-ulama` fi ma’rifati madzahib al-fuqoha`. Beirut: Dar al-Arqam.
4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.