HomeAngkringPuteri Sastrawan Besar dan Kesombongan si Arab

Puteri Sastrawan Besar dan Kesombongan si Arab

0 1 likes 103 views share

Nama lengkapnya Amr Bin Utsman Bin Qanbar Abu Bisyr.  Beliau  lahir di tanah Persia, tepatnya di Desa ‎Baidha  (desa di Persia yang berdekatan dengan Shiraz) pada tahun 148 H (sekitar 765 M). Meski dilahirkan di Baidha namun beliau tumbuh besar di Bashra, Iraq. Beliau tumbuh dan berkembang di sana, hingga menjadi salah satu ulama Bashra terpopuler kala itu. Ini karena di sana beliau tumbuh berkembang dalam lingkungan ilmiah. Tercatat, ilmu pengetahuan pertama yang dia pelajari adalah Fikih dan Hadits. Pelajaran yang disebut terakhir ini beliau dapat dari Hamad Bin Sahnah.

Amr bin Utsman muda lantas mendapatkan laqab (julukan) Sibawaih. Julukan ini diambil dari bahasa Persia, “Sib” artinya buah apel, dan “Waih” yang berarti wangi. Jadi Sibawaih artinya wangi buah apel. Konon, menurut cerita yang  sangat masyhur di kalangan pesantren, laqab ini diberikan bukan makna konotasinya. Tubuh jasmani beliau memang memiliki aroma wangi seperti buah apel. Dengan kealiman yang beliau miliki, Imam Sibawaih sampai membuat pamor gurunya, Imam Kholil meredup. Bahkan murid-murid gurunya itu beralih berguru kepada beliau.

Perlu diingat bahwa beliau ini bukanlah keturunan Arab asli. Maka ketika mendengar kenyataan ini, seorang Arab tulen merasa tersinggung. “Bagaimana bisa seorang asing lebih pandai dan fasih berbahasa Arab ketimbang kita (orang Arab asli)?” gumamnya. “Sungguh aku akan menemuinya dan  mengajaknya bedebat. Aku pasti bisa mengalahkannya.” Tekadnya kemudian dengan semangat penuh.

Si Arab pun berangkat, hingga sampailah ia di daerah di mana Imam Sibawaih bermukim. Sesampai di rumah beliau, dia ketuk pintunya. Pintu terbuka. Tetapi ia kecewa karena bukan Imam Sibawaih yang membukakan pintu. Seorang puteri kecil Imam Sibawaih menatapnya, terheran-heran.

“Di mana Sibawaih?” ujarnya pada sang putri, tak sabar. Sang puteri, yang masih polos, menjawab apa adanya. Tapi justru jawaban ini yang membuat si Arab takjub, sekaligus luruh kepercayaan dirinya. Sibawaih kecil berkata:

“فاء الى الفيافى ليفى لنا بفيئ فاذا فاء الفيء يفيء”

Si Arab terdiam cukup lama. Setelah tersadar, ia ngeluyur pergi begitu saja tanpa pesan sambil menelan ludah. Ia berujar dalam hatinya,  “kalau gaya bahasa anaknya saja seperti itu (mengagumkan), bagaimana dengan gaya bahasa ayahnya?!”

Sebenarnya, apa yang diucapkan puteri Imam Sibawaih cukup sederhana, yang dalam kalimat lain bisa diungkapkan:

“ذهب الى الصحراء لياتي لنا بصيد فاذا غابت الشمس رجع”

“Ayah sedang pergi berburu untuk kami, bisanya beliau pulang di sore hari”

Namun, pemilihan kosa kata sang puteri yang indah lah yang kemudian membuat malu si Arab. Wallahu a’lam.