HomeArtikelQunût Nâzilah, Doa Nabi Kala Turun Musibah

Qunût Nâzilah, Doa Nabi Kala Turun Musibah

0 0 likes 873 views share

Jika kita biasa mengenal doa qunut hanya dilakukan ketika menjalankan salat subuh, atau sesekali dalam salat witir pada pertengahan akhir bulan Ramadhan saja, maka ada satu lagi doa qunut yang mungkin bagi sebagian orang terdengar asing dan memang jarang dilakukan. Qunut tersebut dinamakan sebagai qunut nâzilah. Mengacu pada akar kata nâzilah, yang berarti “turun”, kalimat ini dikonotasikan sebagai turunnya musibah atau bencana. Qunut nâzilah ini disunnahkan untuk dilakukan ketika terjadi bencana, wabah, peperangan, atau bala’ yang menimpa kaum muslimin pada suatu daerah atau bahkan suatu negara.

Nabi pertama kali melakukan qunut ini setelah beliau hijrah ke kota Madinah. Tepatnya pada tahun ke empat kalender hijriyyah. Pada masa itu Islam sedikit demi sedikit sudah mulai mencapai masa kejayaannya. Dan pada masa itu pula Islam mulai mendapatkan pengaruh kuat di sekitar jazirah Arab. Islam telah memiliki nama besar dan punya cukup banyak pengikut. Islam sudah bisa dikatakan mapan di kota Madinah. Dan karena itu jugalah dakwah di luar kota Madinah mulai dirasa perlu. Mengingat banyak sekali masyarakat yang antusias akan kehadiran agama Islam, namun masih butuh akan bimbingan. Banyak para sahabat terpilih yang didelegasikan ke luar Madinah untuk berdakwah dan menyebarkan panji-panji agama islam. Biasanya mereka yang dikirim bukanlah orang-orang sembarangan. Mereka adalah para penghafal Alquran, sahabat-sahabat yang berakhlaq terpuji, senantiasa tak pernah putus menjalankan salat malam, dan juga memiliki keluasan ilmu pengetahuan.

Dimulainya masa pengiriman delegasi dakwah disambut gembira oleh banyak kabilah Arab yang letaknya jauh dari Madinah. Mereka jadi bisa mengenal Islam lebih dekat, sebab diantara mereka akhirnya ada para sahabat Nabi yang bisa dijadikan rujukan.

Namun tentu saja, hal ini tidak selalu berjalan dengan baik. Ada saja orang-orang yang tidak suka dengan Islam. Mereka menggunakan siasat licik yang akhirnya justru dimanfaatkan untuk membunuh dengan keji para delegasi dakwah Nabi yang tak bersalah ini.

Salah satu tragedi besar yang memulai rangkaian musibah bagi umat muslim adalah apa yang kita kenal hari ini dengan tragedi Bi’r Ma’unah (sumur Ma’unah). Kala itu, pada bulan Shafar tahun ke empat hijriah, seorang pemuka dari kabilah Bani ‘Amir, namanya Abu Barra’ bin Malik bekunjung menemui Nabi Muhammad SAW. Nabi mengajak Abu Barra’ untuk masuk Islam, namun Abu Barra’ belum bersedia. Sebagai gantinya, Abu Barra’ menawarkan kepada Nabi untuk mengirimkan para sahabatnya agar mau berdakwah di daerah Najd. Tentu saja Nabi menyambut tawaran itu dengan suka cita, apalagi Abu Barra’ juga menawarkan jaminan keselamatan kepada sahabat Nabi yang dikirim. Nabi mengirimkan tujuh puluh orang sahabat terpilih. Beliau menunjuk Mudzir bin ‘Amr dari Bani Sa’idah untuk menjadi pemimpin delegasi tersebut. Sahabat-sahabat terpilih tersebut menurut cerita merupakan para penghafal Alquran terbaik pada masanya.

Tiba di Bi’r Ma’unah yang terletak tak jauh dari pemukiman kabilah Bani ‘Amir, rombongan para sahabat justru diserang dan dibunuh oleh beberapa kabilah gabungan yang dipelopori oleh ‘Amir bin Thufail. ‘Amir bin Thufail memang dikenal sebagai musuh Islam. Di kesempatan tersebut, ia berhasil memanfaatkan peluang untuk membunuh para sahabat Nabi yang tengah bermukim sementara.

Meskipun pada akhirnya, menurut cerita, ‘Amir bin Thufail dapat dibunuh oleh Abu Barra’ yang telah menjamin keselamatan para sahabat Nabi yang dikirim, duka akan kehilangan para sahabat terpilih ini tak bisa dengan mudah hilang. Nabi dan kaum muslimin merasa amat berduka dan kehilangan atas terjadinya peristiwa tersebut.

Belum habis kesedihan atas peristiwa Bi’r Ma’unah, pada tahun dan bulan yang sama, terjadi juga peristiwa yang dikenal dengan yaum al-râji’. Saat itu, datanglah beberapa orang dari ‘Adhal dan Qarah. Orang-orang ini meminta kepada Nabi untuk mengirimkan para sahabatnya ke wilayah mereka. Agar nantinya mereka bisa diajari bagaimana cara salat dan membaca Alquran.

Namun ternyata hal ini hanyalah tipu muslihat belaka. Orang-orang ini memiliki niat jahat untuk menangkap para sahabat Nabi yang akan dikirim, untuk nantinya sahabat yang ditangkap akan ditukarkan dengan tawanan dari kabilah mereka yang ditahan suku Quraisy.

Nabi Muhammad SAW menyanggupi permintaan orang-orang Adhal dan Qarah tersebut. Beliau mengirimkan enam orang sahabat pilihan beliau yang ahli membaca Alquran, untuk dikirim berdakwah disana. Mereka adalah Martsad bin Abi Martsad al-Ghanawi, ‘Ashim bin Tsabit, Abdullah bin Thariq, Zaid bin Datsinah, Khubaib bin Ady dan satu orang lagi sahabat Nabi yang tidak diketahui namanya.

Maka benar saja, ketika rombongan tiba di bukit Raji’, mereka sudah ditunggu oleh sekitar tiga ratus pasukan Adhal dan Qarah. Tiga dari enam sahabat gugur sebagai syuhada, sementara tiga lainnya ditangkap untuk diserahkan kepada suku Quraisy. Namun ditengah jalan menuju Mekah, Abdullah bin Thariq yang ditawan akhirnya juga gugur sebagai syuhada karena melakukan perlawanan. Sehingga yang mampu diserahkan orang-orang Adhal dan Qarah hanya dua sahabat Nabi saja. Pada akhirnya, dua sahabat Nabi terakhir ini wafat dieksekusi oleh kaum Quraisy.

Berita ini sampai kepada Nabi dan menjadi berita duka untuk beliau dan seluruh kaum muslimin. Musibah yang demikian bertubi-tubi menimpa kaum muslimin membuat Nabi Muhammad SAW yang tidak hanya berperan sebagai pembawa risalah dan utusan Allah, tapi juga menjadi pemimpin dan panutan umat muslim bersedih. Masalah demi masalah yang tak kunjung usai menuntut beliau segera bertindak. Umat islam telah kehilangan banyak saudara. Tujuh puluh sahabat terbaik syahid ketika mengemban tugas mulia. Dan ketika masa berkabung belum usai, berita duka lain menyusul secara tiba-tiba.

Sejak itu, selama sebulan penuh Nabi Muhammad SAW selalu menyisipkan qunut nazilah dalam tiap kali salat jamaah yang beliau pimpin. Beliau menambahkan doa ini di setiap rakaat terakhir dengan harapan agar kaum muslimin diberikan kesabaran, dan cobaan yang datang bertubi-tubi tersebut segera hilang. Tidak ada lagi kejadian buruk yang menimpa kaum muslimin, dan tak ada lagi musibah yang mungkin akan membuat luka umat islam semakin dalam. Juga harapan agar orang-orang yang menghianati perjanjian dapat segera dikalahkan. Allah SWT akhirnya memenangkan kaum muslimin dalam perang Dzatu Riqa’. Perang melawan beberapa kabilah gabungan yang menyerang para sahabat Nabi di Bi’r Ma’unah.

Hingga hari ini, kita juga masih disunnahkan untuk membaca doa qunut nâzilah ketika terjadi peristiwa besar dan musibah yang menimpa umat muslim. Dan dengan semakin tidak terkendalinya situasi di Palestina, Pondok Pesantren Lirboyo menginstruksikan kepada seluruh alumni untuk membaca qunut nâzilah, dan mengamalkan Hizib Nashar yang ditujukan untuk kehancuran Zionis Israel.

Teks qunut nâzilah bisa didownload di link ini.