Refleksi Isra Mi’raj; Pulang ke Bumi Membawa Kado Tuhan

Refleksi Mi'raj; Pulang Ke Bumi Membawa Kado Tuhan

Kisah Jenaka Sahabat Nu'aiman, Sembelih Unta Milik Tamu Rasulullah SAW - Regional Liputan6.com

Tanpa pikir panjang lagi, semua orang dari kafilah itu pun mengikuti saran Rasulullah, pergi ke wādī an-nakhl. Dan memang benar, unta yang hilang itu ditemukan di sana. Sementara mereka di wādī an-nakhl, Rasulullah Saw menghampiri perkemahan milik mereka yang dibuat untuk melepas lelah di tengah perjalanan. Di perkemahan itu beliau mendapati cawan berisi air putih, lalu beliau meneguknya dan meletakkan kembali ke tempat semula, lalu pergi.

Ketika semua orang dari kafilah itu kembali ke perkemahan, mereka mendapati cawan itu kosong, tak berisi air sama sekali. Mereka yakin, ada seorang musafir yang telah lewat dan meminum air di cawan itu. Tetapi siapakah seorang musafir itu? Mereka hanya bisa menebak.

Kafilah kedua adalah segerombolan orang yang membawa unta merah dan diikat dengan dua karung: karung hitam dan karung putih. Unta merah itu terlihat ketakutan akibat diliputi oleh cahaya terang benderang yang melintas secara tiba-tiba, lalu lari terbirit-birit dan terjatuh menghunjam di atas tanah sehingga sebagian kakinya patah.

Kafilah ketiga adalah segerombolan orang yang dilihat Rasulullah Saw sedang berada di Tan’im. Kafilah ini membawa seekor unta warna keabu-abuan yang diselimuti kain tenunan kasar penghangat berwarna hitam, dan memikul dua karung hitam.

Ketiga kafilah inilah yang nantinya akan berbicara sendiri tentang kebenaran perjalanan malam mulia Nabi Muhammad Saw ini, dan menjadi bukti tak terbantahkan.

Sebelum fajar benar-benar terbit, Rasulullah telah tiba di sumur Zamzam di dekat Ka’bah. Di sana Israfil yang sedari tadi menunggu kedatangan Rasulullah, lantas menyambut takzim. Beliau lalu turun dari Buraq dan dibopong dengan penuh penghormatan oleh ketiga malaikat itu, menuju Hijr Ismail, tempat di mana beliau tidur sebelum perjalanan malam mulia ini dimulai.

Ketiga malaikat itu pun dengan penuh kelembutan menelentangkan Rasulullah di Hijr Isma’il seperti posisi semula, yaitu telentang di antara dua orang: Hamzah dan Ja’far yang masih terlelap tidur dan tak terusik sama sekali dengan kehadiran mereka berempat. Anehnya, tempat di mana Rasulullah berbaring itu masih menyimpan kehangatan, bagai selingkar tempat di sebuah ruangan yang baru saja ditinggal beberapa detik oleh orang yang mendudukinya.

Ketiga malaikat itu sempat menyematkan simbol perpisahan sebelum betul-betul meninggalkan Rasulullah. Jibril As, Mikail, dan Israfil secara bergantian mengecup kening Rasulullah Saw, lalu dipungkasi dengan kalimat perpisahan dari Jibril, “Ya Muhammad, jika pagi sudah menjelang, ceritakanlah kepada kaum-mu apa yang sedang terjadi tadi malam. Allah akan menguatkanmu dan menolongmu.”

Dalam sekejap mata, ketiga malaikat itu pun pergi meninggalkan Rasulullah Saw.

Referensi: Badr Muhammad ‘Asl, As-Sirāj Al-Wahhāj, Hal. 101.-Ahmad ad-Dardir, Hasyiah ad-Dardir, Hal.  26.

 

Baca Juga; Amalan Jumat Terakhir di Bulan Rajab, Wajib Tahu

Follow Instagram; @pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Lirboyo

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.