HomeSantri MenulisRekonstruksi Doktrin “Seng Penting Tamat”

Rekonstruksi Doktrin “Seng Penting Tamat”

0 4 likes 90 views share

“Kunci sukses mondok di Lirboyo, di samping mempeng adalah menamatkan madrasah”

-KH. Ahmad Marzuqi-

Manakala disebut nama Lirboyo, tentu pikiran kita akan langsung tertuju pada sebuah pondok pesantren legendaris di Kota Kediri. Pondok pesantren yang selama ini konsisten dengan upaya produktifnya dalam melahirkan tokoh-tokoh mumpuni, yang memiliki tempat di hati masyarakat. Sekarang, Lirboyo sedang mengandung puluhan ribu bibit-bibit unggul, dan bibit-bibit itu semakin hari semakin tak terbendungkan, tumbuh pesat dan semoga tetap seperti itu. Kenyataan ini tentu membuat hati kita gembira. Karena, pesantren salaf tak lagi dipandang sebagai barang antik yang lebih pantas dimuseumkan dari pada dilestarikan. Malah pesantren salaf, khususnya Lirboyo yang bisa dikatakan sebagai pondok pesantern salaf terbesar di Indonesia, menjadi semacam mercusuar, jujukan para nahkoda yang masih menggunakan akal warasnya di tengan gelombang badai kesemerawutan akhlak anak bangsa.

Lirboyo menyuguhkan oase segar, terlebih ketika cawan yang berisi kejernihan hikmah dituangkan melalui lisan-lisan mulia para masyayikh. Namun begitu, tak selamanya air jernih dituangkan dan diterima oleh wadah yang bersih. Adakalanya, kejernihan itu menjadi keruh setelah bersinggungan dengan penadah yang bedebah. Semisal dawuh masyayikh, yang mendiktekan bahwa kita di Lirboyo itu “Seng penting tamat”. Selanjutnya dawuh tersebut dikonsumsi bulat dan mentah-mentah oleh sebagian santri. Sejurus kemudian, dawuh itu tumbuh menjadi dogma. Sebatas dogma tak masalah. Namun, yang menjadi permasalahan berikutnya adalah banyak dari kawan-kawan santri baik tingkat Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah terlebih ketika sudah Aliyyah mengisi hari-harinya dengan cangkrukan, ngopi, tidur serta membuka kitab hanya ketika musyawaroh saja. Setelah itu, kitab lebih sering dijadikan hiasan kamar dari pada dibaca dan dikaji. Ironisnya, ketika ditanya kenapa? Dengan entengnya mereka menjawab “jarene mbah yai seng penting tamat”. Sungguh prihatin mendengarnya. Mereka telah meletakan dawuh masyayikh tidak dalam proporsinya. Dan barang siapa yang meletakan sesuatu bukan pada tempatnya, maka ia dzolim. Mereka merasa dan meyakini bahwa tujuan paling utama mereka di Lirboyo adalah tamat, tanpa merasa perlu lagi untuk bermuthola’ah dan mujahadah.

Mungkin tamat madrasah di Lirboyo memang mempunyai keistimewaan tersendiri, sehingga masyayikh sering mengingatkan akan hal itu. Tapi, jangan sampai kesalahpahaman mengenai hal tersebut menjadikan benalu kemajuan rihlah ta’allum kita di Lirboyo. Bukankah ketika kita sudah merampungkan jenjang pendidikan berarti kita sudah sampai di puncak pendakian, telah memandang luas hamparan hijau ladang dakwah, dan kita akan menjajal sejengkal demi sejengkal mengajarkan ajaran nubuwah, mengharap ridho masyayikh. Kita tak akan mampu menjawab varian problematika umat yang semakin kompleks, jika kita tidak mempersiapkannya sadari awal dengan cara mempeng dan belajar, tidak sekedar tamat madrasah.

Mengembalikan “Seng Penting Tamat” Pada Khittahnya

Agar kejernihan mata air dari bawah masyayikh tidak keruh akibat ulah piro-piro wong kang aras-arasen,  maka perlu adanya upaya untuk mengembalikan adagium di atas ke khittah-nya, tempat yang steril dari propaganda para pencari justifikasi dari sifat malasnya.

Yang pertama perlu kita sadari sebagai santri kita harus cermat dan kontekstual dalam memahami setiap persoalan, terlebih yang ada  keterkaitan daengan dawuh masyayikh. Karena, tak jarang sebuah teks yang tersurat, belum tentu memuat kandungan komprehensif dari apa yang dimaksudkan oleh pembicaranya (mutakallim). Kadang ada maksud tersirat, kadang pula kata-kata itu hanya satu potong dari rangkaian puzzle yang perlu dicari batang pelengkapnya. Atau kata-kata itu masih berupa mukadimah sughro (premis minor) yang untuk menghasilkan natijah (konklusi) masih memerlukan adanya premis mayor (mukadimah kubro). Sama, kata-kata “seng penting tamat” tidak bias kita artikan dengan hanya yang penting tamat. Tamat itu penting, tapi yang lebih penting lagi dalam menapaki tangga menuju purna adalah mengisinya dengan mempeng, sebuah syarat mutlak untuk memperoleh kesuksesan belajar, tidak hanya di Lirboyo, tapi memang sudah menjadi semacam konsensus para ulama dari masa kemasa untuk diamalkan para santri di seantero dunia.

Ilmu itu dapat diperoleh dengan belajar dan bersungguh-sungguh, tidak dengan faktor genetik, maupun sekedar tamat”

Ala kulli hal, sekali lagi, penulis bukan hendak membangun opini bahwa tamat itu tidak penting. Namun, yang perlu dikoreksi adalah pemahaman sebagian kawan santri yang memiliki pandangan bahwa di Lirboyo yang penting tamat, entah rajin atau tidak itu urusan belakangan. Padahal, seperti dawuh Mbah Yai Ahmad Idris allahumma yarhamhu, kunci sukses mondok di Lirboyo, ya di disamping mempeng, adalah menamatkan madrasah. Dua kata kramat itu, memiliki ikatan simbiosis-mutualistik yang satu dengan lainnya saling memberikan manfaat. Maka pemahaman yang benar adalah “tamat iku penting” bukan “seng penting tamat”.[]

 

________

 Oleh Muhammad Mizad, kamar G 14, santri asal Pasuruan.