Renungan Hikmah Haji
Renungan Hikmah Haji dalam Islam, selalu menarik untuk digali. Allah SWT menyembunyikan banyak hikmah-hikmah di balik pensyariatan berbagai macam ibadah melalui perantara Nabi besar Muhammad SAW. Salah satunya adalah ibadah haji, ibadah tahunan yang rutin dilakukan umat islam dari seluruh dunia ini telah menjadi identitas agama islam. Dialah salah satu pilar dan rukun islam, dan dengan ditunaikannya akan menjadi benar-benar sempurna islam seseorang.
Haji ternyata bukan ritus ibadah biasa yang manfaatnya hanya kembali kepada hamba masing-masing. Sama seperti ibadah yang lain, haji memiliki rahasia sendiri, yang sedikit banyak telah disitir dalam alquran.
Haji juga momen istimewa berkumpulnya umat muslim dari seluruh penjuru dunia. Kearifan agama islam yang secara tidak langsung mengajarkan umatnya agar memiliki jiwa sosial disalurkan lewat salat jamaah lima waktu. Aktifitas ini menjadi pemersatu, tidak ada istilah tuan yang terhormat dan budak, karena setiap orang berdiri berdampingan lurus dalam satu barisan. Dalam intensitas yang lebih besar, setiap muslim dari suatu daerah dikumpulkan dalam satu majlis salat jumat. Aktifitas sosial perlahan terbentuk, dan semakin kuat karena setidaknya dalam setahun dua kali mereka juga dikumpulkan dalam salat hari raya.
Hal tersebut seolah belum cukup, dalam ritus haji, tidak hanya umat muslim yang berasal dari satu daerah yang berkumpul. Umat muslim dari seluruh dunia dikumpulkan dalam satu kalimat yang sama. Mereka menuju baitullah yang sama, dan mereka menyerukan doa yang sama.
“Manusia saling mengenal, mereka bisa bertukar beragam hal yang bermanfaat dan akhirnya berguna bagi kehidupan. Karena saling mengenal merupakaan salah satu sebab timbulnya rasa saling menyayangi. Dari sinilah Allah SWT mensyari’atkan salat berjamaah, salat jumat, salat hari raya, dan pada akhirnya wuquf di Padang Arafah. Wukuf di Padang Arafah merupakan perkumpulan umat islam yang terbesar. Berkumpulnya umat islam di Padang Arafah yang agung ibarat kata menjadi kongres besar agama islam. Orang-orang islam berkumpul dari berbagai penjuru dunia setiap tahun sekali untuk menyatukan tujuan dan sebagai bentuk persatuan umat muslim. Hanya saja, kita umat muslim hari ini telah kehilangan salah satu tujuan penting ini. Banyak dari kita hanya menilai kalau menunaikan ibadah haji tujuannya untuk sekedar menggugurkan kewajiban, dan agar bisa mendapat gelar Al-Hâj (yang telah berhaji).” Kurang lebih tulis pengarang kitab Hikmatul Hajj, Wa Tharîqati A’mâlihi ‘alâ Al-Madzâhib Al-Arba’ah.
Alkisah, ketika Allah SWT mewahyukan kepada nabi Ibrahim AS untuk membangun Kakbah, bahu membahu beliau beserta putra kesayangannya, nabi Isma’il AS membangun pondasi Kakbah hingga utuh berdiri. Sebagai salah satu amal jariyah yang tak pernah putus-putus pahalanya. Allah SWT kemudian berfirman,
{وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ } [الحج: 27]
“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh” (QS. Al-Hajj; 27)Nabi Ibrahim AS kemudian berdiri diatas maqam Ibrahim dan berseru, “Wahai para hamba Allah! Penuhilah panggilan Allah.” Kemudian secara ajaib, atas kuasa Allah SWT, orang-orang dari berbagai penjuru dunia, bahkan mereka yang hidup dan tinggal di daerah pedalaman sekalipun mulai berdatangan menuju Kakbah untuk memenuhi seruan nabi Ibrahim AS. Hingga kini, para jamaah haji selalu disunahkan membaca talbiyyah, bacaan “Labbaikallahumma labbaik”. Yang kurang lebih jika diartikan, “Kami memenuhi panggilan-Mu ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu”.
Hikmah Ibadah Haji
Haji adalah momen yang tepat untk saling tukar informasi. Tentu zaman dahulu ketika belum datang era digital dan globalisasi, orang memanfaatkan musim haji untuk berkirim kabar. Jikapun terjadi sesuatu dengan komunitas muslim di negri asal masing-masing, maka jamaah bisa minta bantuan pada jamaah lain yang memiliki komunitas yang jauh lebih kuat memanfaatkan momen haji. Itu salah satu contoh yang dikemukakan oleh Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi dalam kitab Hikmah Al-Tasyri’nya. Ketika semua umat muslim dari beragam etnis berkumpul, haji juga bisa menjadi pusat akulturasi budaya. Mekah seolah menjadi “pusat kebudayaan sementara” karena berbagai peziarah yang datang punya latar belakang adat istiadat yang berbeda-beda tumpah menyatu. Bisa disatukan kala bangsa Turki, misalkan dengan budayanya bertemu dengan bangsa China dengan budayanya. Cara hidup yang berbeda di suatu negri muslim mungkin akan cocok diterapkan di negri muslim yang lain. Para jamaah bisa saling berbagi pengetahuan dan bertukar pengalaman.
Baca juga: Hukum Miss V Keluar Angin
Tonton juga: Kilas Pandang Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur Indonesia
Haji juga merupakan ibadah yang bisa menjadi cara untuk mensyukuri nikmat. Seperti tertera dalam kutub al-salaf, segala ibadah yang kita lakukan ada yang dipenuhi dalam rangka memenuhi hak sebagai seorang hamba, dan adakalanya dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah diberikan-Nya. Yang istimewa, ibadah haji mencakup kedua-duanya. Jelaslah dalam haji kita menampakkan kehambaan kita, tidak boleh berhias, memakai minyak wangi bahkan menyisir rambut saja dilarang. Muhrim juga diwajibkan memakai baju yang sangat sederhana tanpa jahitan. Yang dengan keadaan apa adanya ini, sang hamba mengharap akan kasih sayang tuhannya. Sedangkan menampakkan rasa syukur, adalah dengan menginfaqkan harta dan kesehatan yang kita miliki guna menunaikan ibadah haji. Sesuai makna dan hakikat syukur yang benar.
Zaman dahulu, muslim haji adalah musim yang amat ditunggu-tunggu bagi penduduk tanah haram. Berkahnya terasa karena jutaan jamaah haji tidak mungkin rasanya pulang tanpa menyempatkan diri untuk sekedar membeli sesuatu. Sektor perekonomian bisa membaik dengan datangnya tamu-tamu dari berbagai belahan dunia ini. Seperti kita tahu, tanah haram, terutama Mekah adalah negri yang amat mengandalkan perdagangan untuk menunjang kelangsunan hidup. Di Mekah, orang tidak mungkin bercocok tanam karena tanahnya yang gersang dan jarang turun hujan. Dengan datangnya musim haji, berkah bagi para penduduk Mekah yang umumnya pedagang sangat dirasakan.
Syaikh ‘Ali Ahmad Al-Jurjawi juga menambahkan, jikalau ibadah haji adalah pelajaran memurnikan akhlak. “Orang yang tengah menunaikan ibadah haji adalah orang yang tengah berpidah dari satu keadaan menuju keadaan yang lain.” Dalam tanda kutip, kita tentu mengetahui akan jauh berbeda rasanya orang yang telah menyelesaikan ritus hajinya. “Dan menjadi orang yang telah diberikan kenikmatan akhlak.” Kita bisa gambarkan, tatkala seorang hamba hendak melangkahkan kaki keluar rumah, ia telah mengakui kesalahan dan bertaubat atas segala dosa-dosa yang ia perbuat. Seraya yakin akan ampunan-Nya. Ia punya gambaran niatan yang baik untuk tak pernah sekalipun mengulangi lagi kesalahan yang telah lewat dimasa lalu.
Maka mari kita syukuri datangnya musim haji tahun ini, kita selalu berdoa, semoga ada di antara kita yang nantinya bisa segera menyusul saudara muslim kita, untuk menziarahi tanah haram. Atau bagi yang sudah pernah, tak ada salahnya berdoa semoga bisa kembali mengulang masa-masa indah itu.
Renungan Hikmah Haji dalam Islam
Ibadah haji adalah salah satu pilar penting dalam Islam yang membawa berbagai hikmah tersembunyi. Berikut adalah beberapa poin penting mengenai hikmah haji:
1. Identitas dan Kesempurnaan Islam:
– Haji adalah salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan oleh umat Islam yang mampu. Dengan melaksanakan haji, kesempurnaan Islam seseorang tercapai.
2. Makna Sosial dan Persatuan Umat:
– Haji menjadi momen istimewa untuk berkumpulnya umat Muslim dari seluruh dunia, yang membina jiwa sosial dan persatuan. Ibadah ini mempertemukan Muslim dari berbagai latar belakang, menciptakan rasa saling mengenal dan menyayangi.
– Salat berjamaah, salat Jumat, dan salat hari raya juga mengajarkan pentingnya kebersamaan dan kesatuan, dengan puncaknya pada pertemuan besar di Padang Arafah.
3. Pertukaran Informasi dan Akulturasi Budaya:
– Sebelum era digital, musim haji menjadi waktu penting untuk bertukar informasi dan meminta bantuan antar komunitas Muslim dari berbagai daerah.
– Mekah menjadi pusat akulturasi budaya sementara, tempat para jamaah berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup dari berbagai latar belakang adat istiadat.
4. Syukur dan Kehambaan:
– Haji adalah ibadah yang mencakup ungkapan syukur dan kehambaan kepada Allah SWT. Jamaah menampakkan kehambaan dengan tidak berhias, memakai baju ihram yang sederhana, serta menginfaqkan harta dan kesehatan mereka.
5. Berkah Ekonomi bagi Tanah Haram:
– Musim haji membawa berkah ekonomi bagi penduduk Mekah, yang umumnya bergantung pada perdagangan. Kedatangan jutaan jamaah haji meningkatkan perekonomian setempat.
6. Pemurnian Akhlak:
– Haji merupakan pelajaran memurnikan akhlak. Seorang haji diharapkan kembali dengan akhlak yang lebih baik, setelah melalui proses taubat dan pengakuan kesalahan sebelum berangkat.
Haji bukan hanya ritus ibadah individual, tetapi juga momen penting untuk memperkuat persatuan umat, pertukaran budaya dan informasi, serta pemurnian akhlak. Mari kita syukuri datangnya musim haji dan berdoa agar kita bisa menunaikannya.
Itulah sedikit Renungan Hikmah Haji yang bisa kami utarakan semoga bermanfaat
Baca juga: Hukum Miss V Keluar Angin
Tonton juga: Kilas Pandang Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri Jawa Timur Indonesia
