Saat Langit Menjawab Doa Nabi: Kisah Agung Perpindahan Kiblat di Bulan Sya’ban

Pada suatu masa yang tenang di Madinah, ketika umat Islam masih menghadap ke Baitul Maqdis dalam setiap sujudnya, Rasulullah ﷺ menyimpan harapan yang tidak pernah padam. Ada rindu yang diam-diam beliau gantungkan ke langit—rindu agar kiblat kembali berpindah menghadap Ka‘bah, kiblat Nabi Ibrahim, pusat tauhid dan jejak para leluhur.

Baca juga: Inilah Syarat-Syarat Agar Sebuah Peristiwa Dinamai Mukjizat

Bulan Sya’ban: Perpindahan kiblat

Bulan Sya‘ban pun menjadi saksi ketika doa yang lama dipendam itu akhirnya diijabah. Momentum ini bukan hanya pergantian arah shalat, tetapi penegasan identitas umat, penguatan spiritualitas, dan salah satu titik balik paling bersejarah dalam perjalanan dakwah Islam.

Baca juga: Makna dan Peristiwa Penting di Bulan Jumadil Awal

Alasan Baginda Nabi menginginkan kiblat berpindah ke Ka’bah

Menurut keterangan az-Zamakhsyarī dalam Tafsir al-Kasysyāf menuturkan bahwa:

وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَقَّعُ مِنْ رَبِّهِ أَنْ يُحَوِّلَهُ إِلَى الْكَعْبَةِ، لِأَنَّهَا قِبْلَةُ أَبِيهِ إِبْرَاهِيمَ، وَأَدْعَى لِلْعَرَبِ إِلَى الْإِيمَانِ لِأَنَّهَا مَفْخَرَتُهُمْ وَمَزَارُهُمْ وَمَطَافُهُمْ، وَلِمُخَالَفَةِ الْيَهُودِ

 “Rasulullah menanti-nantikan dari Tuhannya agar kiblat berpindah menuju Ka‘bah. Karena Ka‘bah adalah kiblat nenek moyangnya Ibrahim; lebih mudah menarik hati orang-orang Arab untuk beriman, sebab Ka‘bah adalah kebanggaan mereka, tempat ziarah mereka, dan tempat thawaf mereka; sekaligus sebagai bentuk penyelisihan terhadap kaum Yahudi.”
Beliau bahkan terus mengamati turunnya Jibril—menunggu wahyu yang menegaskan perubahan tersebut. Ayat “falanuwalliyannaka qiblatan tardhāhā”(QS. Al-Baqarah: 144) pun turun sebagai jawaban atas harapan Nabi ﷺ. [Abū al-Qāsim Maḥmūd ibn ‘Amr ibn Aḥmad al-Zamakhsharī, al-Kasysyāf ‘an Ḥaqā’iq Ghawāmiḍ al-Tanzīl, cet. III (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1407 H), jil. 1, h. 202.]

Baca juga: Perang Mu’tah: Pertempuran Besar antara 3.000 Muslim dan 200.000 Pasukan Romawi

Ujian perpindahan kiblat

Selain itu, Imam Fakhruddin ar-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb (4/94) menjelaskan alasan-alasan mengapa ujian perubahan kiblat ini terjadi.

الأَوَّلُ: أَنَّ الْيَهُودَ كَانُوا يَقُولُونَ: إِنَّهُ يُخَالِفُنَا ثُمَّ إِنَّهُ يَتَّبِعُ قِبْلَتَنَا، وَلَوْلَا نَحْنُ لَمْ يَدْرِ أَيْنَ يَسْتَقْبِلُ، فَعِنْدَ ذٰلِكَ كَرِهَ أَنْ يَتَوَجَّهَ إِلَى قِبْلَتِهِمْ.

الثَّانِي: أَنَّ الْكَعْبَةَ كَانَتْ قِبْلَةَ إِبْرَاهِيمَ.

الثَّالِثُ: أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ كَانَ يَقْدِرُ أَنْ يَصِيرَ ذٰلِكَ سَبَبًا لِاسْتِمَالَةِ الْعَرَبِ وَلِدُخُولِهِمْ فِي الْإِسْلَامِ.

الرَّابِعُ: أَنَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَحَبَّ أَنْ يَحْصُلَ هٰذَا الشَّرَفُ لِلْمَسْجِدِ الَّذِي فِي بَلْدَتِهِ وَمَنْشَئِهِ لَا فِي مَسْجِدٍ آخَرَ.

Baca juga: Pandangan Imam al-Ghazali tentang Kemuliaan Mengajar dan Politik Memperbaiki Jiwa Manusia
Pertama, kaum Yahudi berkata: “Muhammad menyelisihi kami namun ia menghadap kiblat kami. Kalau bukan karena kami, ia tidak tahu arah mana yang harus dihadapi”. Karena ucapan itu, Rasulullah ﷺ tidak menyukai untuk tetap menghadap arah kiblat mereka.
Kedua, Ka‘bah adalah kiblat Nabi Ibrahim.
Ketiga, perubahan kiblat diperkirakan dapat menarik simpati bangsa Arab. Sehingga, menjadi sebab masuknya mereka ke dalam Islam.
Keempat, Rasulullah ﷺ menginginkan kehormatan ini dimiliki oleh masjid di negeri kelahirannya—Makkah—bukan masjid yang lain. [Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn ‘Umar ibn al-Ḥasan ibn al-Ḥusayn al-Taymī al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb (al-Tafsīr al-Kabīr), cet. III (Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, 1420 H), jil. 4, h. 94.]

Baca juga: Kubur Tidak Bertanya Nasab: Refleksi dari Wafatnya Sayyidah Fatimah

Kronologi kejadian

Sementara itu, al-Qurṭubī dalam Tafsīr al-Qurṭubī (2/149) menguraikan rincian waktu terjadinya peristiwa itu. Beliau menukil riwayat ad-Dāruquṭnī dari al-Barā’ yang berkata:

وَخَرَّجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنِ الْبَرَاءِ أَيْضًا، قَالَ: صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ قُدُومِهِ الْمَدِينَةَ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا نَحْوَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ، ثُمَّ عَلِمَ اللهُ هَوَى نَبِيِّهِ فَنَزَلَتْ: «قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ» الْآيَةُ.

 “Kami shalat bersama Rasulullah ﷺ setelah beliau tiba di Madinah selama enam belas bulan menghadap Baitul Maqdis. Lalu Allah mengetahui keinginan Nabi-Nya, maka turunlah ayat: ‘Sungguh Kami sering melihat wajahmu menengadah ke langit…’ (QS. al-Baqarah: 144).”
Dalam riwayat ini, disebutkan masa enam belas bulan tanpa keraguan.

Riwayat lain oleh Malik dari Sa‘īd al-Musayyab menyebutkan bahwa perubahan kiblat terjadi dua bulan sebelum Perang Badar, yaitu pada bulan Rajab tahun kedua Hijriah menurut penegasan Ibrāhīm bin Isḥāq.

Baca juga: Kisah Tsa’labah bin Hatib: Ketika Kaya Justru Menjauhkan dari Agama

Durasi kaum Muslimin beribadah menghadap Baitul Maqdis

Abu Ḥātim al-Bustī memberikan hitungan lebih detail: kaum muslimin menghadap Baitul Maqdis selama tujuh belas bulan tiga hari, mulai dari kedatangan Nabi ﷺ ke Madinah (12 Rabi‘ul Awwal) hingga perintah menghadap Ka‘bah turun pada Selasa pertengahan bulan Syaban.  [Abū ‘Abd Allāh Muḥammad ibn Aḥmad ibn Abī Bakr ibn Farḥ al-Anṣārī al-Khazrajī al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān (Tafsīr al-Qurṭubī), tahqīq Aḥmad al-Bardūnī wa Ibrāhīm Aṭfayyish, cet. II (Kairo: Dār al-Kutub al-Miṣriyyah, 1384 H/1964 M), jil. 2, h. 149.]

Penutup

Dengan demikian, perpindahan kiblat adalah peristiwa yang memadukan dimensi wahyu, sejarah, identitas umat, dan strategi dakwah. Harapan Rasulullah ﷺ yang diabadikan dalam firman “qad narā taqalluba wajhika fī as-samā’” disambut oleh Allah dengan perintah tegas: menghadap Ka‘bah, kiblat Ibrahim, pusat tauhid, dan simbol persatuan umat.

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

One thought on “Saat Langit Menjawab Doa Nabi: Kisah Agung Perpindahan Kiblat di Bulan Sya’ban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses