340 views

Saat Nabi Mintakan Ampun Pamannya yang Musyrik

Saat Nabi mintakan ampun pamannya yang Musyrik | Abu Thalib, paman Nabi merupakan benteng perlindungan Nabi yang sangat kokoh dari serangan kaum Musyrikin Quraisy setelah kepulangan sang kakek, Abdul Muthallib. Kecintaanya Abdul Muthallib kepada Nabi melebihi cinta yang ia curahkan kepada anak sendiri. Tidak tidur kecuali bersanding dengan Baginda Nabi, sampai-sampai beliau memberikan makanan spesial kepada Nabi yang tidak beliau berikan kepada anak-anaknya.

Demikian juga dengan Abu Thalib tak ubahnya orang tua Nabi. Beliau siap mengorbankan jiwa dan hartanya agar Muhammad bisa terus mendakwahkan agama yang dibawanya. Beliau selalu pasang badan untuk menghalau gangguan-gangguan yang dilancarkan kaum Quraisy kepada keponakannya itu.

Saat kondisinya sedang kritis menjelang kewafatannya, pembesar-pembesar kafir Quraisy pimpinan Abu Jahal datang menjenguk. Saat itu beliau Nabi juga sedang berada di sampingnya. Sorot kedua pasang mata Nabi memancarkan rasa iba. Bagaimana tidak, orang yang menjadi pembelanya dengan sepenuh tenaga itu kini tergeletak tak berdaya, menunggu aba-aba maut menghampiri.

Paman, ucapkanlah Laa ilaha Illallaah satu kalimat yang akan kujadikan sebagai hujjah dihadapan Allah untuk membelamu kelak.” Ucap Nabi mengiba, beliau telah sejak lama ingin mendengarkan kalimat persaksian yang keluar dari mulut pamannya terkasih tersebut. Belum juga sang paman menjawab, gembong Musyrikin Makkah, Abu Jahal menyela.

“Abu Thalib, apa engkau membeci agama Abdul Muthallib (Moyangmu sendiri)?” Selalu itu kata-kata yang dipilih mereka untuk menyudutkan paman Nabi. Abu Jahal tak akan membiarkan Abu Thalib bersaksi. Ia tahu kalimat itu begitu ‘ampuh’ statusnya dalam agama Muhammad. Apalagi Abu Thalib sekarang sedang dalam masa penentuan. Nabi mengulangi permohonannya, dan lagi-lagi Abu Jahal dan kawan-kawan menghalangi Abu Thalib.

Sampai ajal menjemput, paman terhebat nabi itu belum juga sempat melafalkan kalimat syahadat. Saking sayangnya Nabi kepada sang paman, beliau memintakan ampun kepada Allah. Akan tetapi Nabi justru mendapat teguran dari Allah melalui sebuah wahyu:

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ يَّسْتَغْفِرُوْا لِلْمُشْرِكِيْنَ وَلَوْ كَانُوْٓا اُولِيْ قُرْبٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُمْ اَصْحٰبُ الْجَحِيْمِ

Tidak pantas bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memohonkan ampunan (kepada Allah) bagi orang-orang Musyrik, sekalipun orang-orang itu kaum kerabat(nya), setelah jelas bagi mereka, bahwa orang-orang Musyrik itu penghuni neraka Jahanam.” (QS. At-Taubah: 113)

Bisa kita rasakan bagaimana sedihnya beliau, paman yang menjadi pion pelindungnya dalam berjuang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengikuti jejak agama yang beliau sebarkan. Menyikapi status Abu Thalib, Allah menegaskan dalam wahyu berikutnya:

إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (AS. Al-Qasas: 56)

Betapapun jasa Abu Thalib terhadap nabi tidak bisa dianggap sebelah mata, setelah kepulangannya, masyarakat kafir Qurasy semakin leluasa untuk ‘menghajar’ nabi. Itulah sebabnya beliau berusaha semampunya agar pamannya itu bisa meninggal dengan husnul khatimah, namun kehendak-Nya berkata lain. Allahu a’lam. []

baca juga: Allah Pamerkan Umat Muhammad kepada Nabi Musa
tonton juga: Besarnya Perhatian KH. Marzuqi Dahlan Terhadap Putranya

Saat Nabi mintakan ampun pamannya yang Musyrik
Saat Nabi mintakan ampun pamannya yang Musyrik

5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.