HomeSantri MenulisSanggahan Atas Ateisme

Sanggahan Atas Ateisme

0 7 likes 624 views share

Secara pengertian, ateis sendiri sesungguhnya memiliki beberapa definisi. Namun, pada dasarnya ateis adalah sebuah faham yang mengingkari adanya Tuhan. Dengan menyebarnya pemikiran bebas, skeptisisme ilmiah, dan kritik terhadap agama, istilah ateis mulai dispesifikasikan untuk merujuk kepada mereka yang tidak percaya kepada Tuhan. Sehingga, golongan ateis sangat menolak dengan terang-terangan dan memberi alasan yang terlalu rasional serta dangkal akan tidak adanya Tuhan. Bahkan, mereka mengatakan kalau Tuhan itu muncul dari ilusi manusia itu sendiri dan Tuhan ada karena dianggap ada oleh akal pikiran manusia.  Mereka bertendensi bahwa seandainya Tuhan tidak dipikirkan, niscaya tidak akan pernah terbesit adanya Tuhan.

Mereka tidak mengakui adanya peran Tuhan, karena mereka cenderung hanya  mengedepankan teori dan penjelasan ilmiah yang hanya mensyaratkan rasionalitas dalam segala objek persoalan. Dan kesimpulan itu juga didukung dengan bukti empirik bahwa Tuhan dan kekuatan gaib lainnya tidak dianggap obyektif dan tidak rasional. Tuhan tidak dapat mereka akui karena tidak ada pembuktian secara empiris melalui panca indra. Dan mereka yakin bahwa lima indra, otak, tidak akan mampu membuktikan adanya Tuhan.

Lebih parah lagi mereka mengatakan, manusia benar-benar bersifat manusiawi ketika manusia benar-benar merdeka, dan manusia merdeka ketika manusia itu menjadi seorang yang ateis.  Karena, seandainya Tuhan ada, maka manusia kehilangan martabat manusiawinya dengan memandang bahwa kemerdekaan berarti kedaulatan mutlak tanpa campur tangan dan dirampas oleh  Tuhan. Tentunya, teologi dan faham semacam ini menjadi tantangan tersendiri bagi orang-orang yang percaya dan mengimani adanya Tuhan.

Kepercayaan adalah sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan dan aktivitas manusia untuk dijadikan sebagai pedoman dan pegangan hidup, terkhusus kepercayaan kepada Tuhan. Orang yang percaya akan eksistensi Tuhan akan memiliki kepasrahan dalam dirinya. Sehingga orang tersebut akan mempunyai kepastian dalam hidupnya. Meyakini dan mempelajari sifat-sifat Tuhan yang serba maha, maka manusia akan semakin merasakan dan menyadari bahwa manusia sesungguhnya penuh dengan keterbatasan. Dengan keyakinan terhadap Tuhan maka manusia akan dapat memperkecil bahkan menghilangkan rasa egoisme yang sering menyesatkan hidupnya.

Sesungguhnya hakikat Dzat Tuhan tidak dapat diketahui dan dijangkau oleh panca indra, media input manusia tidak akan mampu mengetahui hakikat-Nya. Memang manusia tidak dibekali sarana untuk menjangkauNya. Adapun akal dan rasio memiliki wilayah sendiri. Keterbatasan akal pikiran, kelemahan dan ketidakmampuan akal untuk mengetahui sesuatu tidak berarti menafikan keberadaan sesuatu tesebut. Sebagai contoh sederhana, kelemahan panca indra dan akal manusia untuk mengetahui hakikat atom tidaklah menunjukkan bahwa atom-atom yang membentuk benda-benda itu tidak ada. Bila posisi akal sedemikian keadaannya dalam menghadapi persoalan yang ada di alam jagad raya ini, baik yang dapat dilihat maupun yang tidak dapat dilihat. Lantas bagaimana mungkin akal mengetaui Dzat Pencipta yang Maha Luhur dan berusaha untuk mengetahui hakikat-Nya? Kemungkinan batil seperti ini sudah disanggah secara tegas oleh Alquran jauh-jauh hari sebelum pemikiran tersebut terbesit dalam pikiran orang-orang ateis, yaitu firman Allah SWT :

لَا تُدْرِكُهُ الْأَبْصَارُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْأَبْصَار وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu, dan Dialah yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS al-An’am :103).

Menurut Sayyid Sabiq dalam kitabnya Al-aqidatu Al-islamiyyaty,  ketika seseorang bertendensi pada pandangan akal maupun ilmu pengetahuan, maka tidak ada satupun bukti yang dapat dijadikan sebagai sandaran dalam meniadakan dan mengingkari eksistensi Tuhan. Segala sesuatu yang disebutkan oleh orang-orang yang mengingkari eksistensi Tuhan itu tiada lain kecuali sekedar ilusi dan khayalan belaka, tidak bersandar pada logika yang sehat maupun ilmu pengetahuan yang kokoh. Pengingkaran semacam ini bukanlah hal baru bagi manusia, dan bukan pula hasil ciptaan masa kini, melainkan sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Sudah menjadi realita yang tak terbantahkan, tidak semua persoalan dapat dihadapi atau bahkan diselesaikan oleh akal. Sudah sangat jelas bahwa untuk menangkap informasi, manusia bukan hanya dibekali oleh sesuatu yang bersifat indrawi saja. Dan perlu diketahui, percaya kepada Tuhan bukanlah  masalah rasionalitas belaka. Itu juga menyangkut permasalahan perasaan dan nurani manusia. Rasio dan akal hanya  sebagian saja dari daya yang dimiliki manusia disamping daya hati, kehendak, dan perasaan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun. Dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu bersyukur” (QS An-nahl :78).

Karena itulah, menjadikan landasan keimanan dalam hati sangat berperan penting untuk merasakan kehadiran Tuhan. Karena hati lebih tajam dan lebih meyakinkan dari pada panca indra yang lain. Sebagaimana perkataan sayyidina ‘Ali RA: “Tuhan tidak dapat dilihat oleh mata dengan pandangannya yang kasat. Tapi bisa dilihat oleh hati dengan hakikat keimanan”.  Meski sampai hari ini keberadaan Tuhan belum ada yang mampu membuktikannya secara empirik, namun percaya pada Tuhan adalah sesuatu yang sangat jelas dapat dirasakan dan dibenarkan secara mutlak.

Pemahaman mereka, kaum ateis, akan hakikat manusiawi yang dimiliki manusia sangatlah keliru. Karena mereka mengingkari tabiat mereka sendiri, yakni tabiat mengharap, cemas, dan takut. Dan kebebasan mereka tidak akan bersifat total, karena kepada siapa lagi jiwanya akan mengarah jika rasa takut dan harapannya tidak lagi terpenuhi oleh makhluk, sedangkan harapan dan rasa takut manusia tidak akan pernah putus.

Dan pada akhirnya, eksistensi Tuhan merupakan suatu hakikat atau fakta yang tidak diragukan dan tidak ada celah untuk mengingkarinya. Tanpa merujuk  pada nalil-dalil naqli, teologi ateisme sangatlah mudah dimentahkan dan dipatahkan cukup dengan pendekatan nalar dan pola berfikir dasar. Sebab fitrah manusia telah membawanya untuk menyadari keberadaan Dzat yang maha segala maha dan menghadirkannya dalam bentuk iman yang lurus, jiwa yang bersih, akal yasng sempurna, dan tindakan yang bermoral sesuai dengan tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini. wallahu a’lam bis shawab.][

Penulis, Nasikhun Amin, santri asal Pasuruan