HomePojok LirboyoSantri Putri Bersiap Mendidik Putra

Santri Putri Bersiap Mendidik Putra

0 3 likes 487 views share

LirboyoNet, Kediri — Setelah melangsungkan Forum Bahtsul Masail di pagi hingga sore harinya (26/01), Pondok Pesantren Putri (P3TQ) menyuguhkan Seminar Bahtsul Masail kepada para peserta pada malam harinya. Seminar ini juga diikuti oleh seluruh santri, termasuk para santri yang bermukim di pondok timur. Untuk diketahui, pesantren ini terbagi menjadi dua lokasi yang agak berjauhan. Pondok timur terletak di samping ndalem lama almaghfurlah KH. A. Idris Marzuqi (sebelah selatan Masjid Lawang Songo). Sementara pondok barat bersanding dengan ndalem beliau yang berada di selatan Aula Muktamar.

Menghadirkan KH. Munawar Zuhri sebagai tutor, seminar ini fokus pada peran wanita dalam keluarga dan pendidikan anak. Sebagaimana tuntunan dalam kutubussalaf (kitab-kitab yang ditulis ulama klasik), orangtua, terutama ibu, adalah mereka yang diberi amanah oleh Allah swt. Untuk mendidik dan mengasuh anak agar menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, dan dapat memberi kemanfaatan dan kebaikan bagi sesama manusia.

Di dalam Ihya Ulumiddin karya Abu Hamid Al-Ghazali, tercantum satu hadits, yang memberi konsep dasar bagaimana seharusnya anak dididik. “Pada hari ketujuh kelahirannya, anak hendaknya diakikahi, diberi nama, dan dijaga dari hal-hal yang berbahaya baginya.” Di usia sembilan tahun, ia harus sudah dipisah tempat tidurnya dengan lain jenis. Di usia tiga belas tahun, harus ada penegasan dari orangtua dalam mengajarinya beribadah, terutama salat. Adapun tata krama harus diajarkan sejak dini sekali. Rasulullah saw. Memberi batasan usia enam tahun untuk itu.

Suatu hari, Rasulullah saw. Duduk berbincang dengan sahabat-sahabatnya. Tiba-tiba saja, dua cucu Rasulullah saw., Hasan-Husain datang dan menaiki punggung beliau. “Cucuku sayang, turunlah.” Sayidina Ali, ayah dua anak kecil itu menatap mereka tajam. Nabi saw. Melihat gelagat ganjil pada mereka. “Kami takut kepada ayah,” jawab keduanya polos. Sayidina Ali memukul pelan pada paha mereka, dan menasehati mereka dengan nada agak tinggi, “bersopan santunlah kalian, putra-putraku.” Nabi saw., yang begitu menyayangi dua cucu itu menegur Sayidina Ali, agar tidak membentak putra-putranya. Namun, beberapa saat kemudian malaikat Jibril datang dan memberitahu Nabi saw., bahwa apa yang dilakukan Sayidina Ali adalah benar. “Rawatlah, berilah nama yang baik, beri mereka gizi yang baik, karena di akhirat nanti anak-anakmulah yang akan memberi pertolongan,” pesan Jibril. Nabi saw. pun menyampaikan itu kepada para sahabatnya,  “wahai kaum muslim, siapapun dari kalian yang diberi anak oleh Allah, wajib baginya untuk mengajarkan sopan santun dan mendidiknya dengan baik. Jika itu dilakukan, Allah akan menerima permohonan syafaat anaknya. Tapi barangsiapa yang membiarkan anaknya bodoh, tidak mengenal agama, suka melakukanpelanggaran dan tidak berakhlak, maka setiap pelanggaran dan dosa yang dilakukan anak-anaknya, dia akan ikut menanggungnya.”

Dalam mendidik anak, Rasulullah mengisyaratkan empat hal yang harus dipenuhi, yakni jiwa yang lapang, sifat kasih sayang, tenang dan berwibawa, serta merendahkan diri di hadapan Allah swt. Jika empat hal ini kemudian benar-benar terwujud dalam diri seseorang, maka ia akan dapat mengajar dengan lisanul hal, mengajar dengan perangai, bukan hanya dengan ujaran-ujaran. Lisanul hal inilah yang terus menerus ditunjukkan Rasulullah saw. Kepada para umatnya.][