Sejarah Kurban: Kisah Pengorbanan Nabi Ibrahim yang Diselewengkan

Ilustrasi kurban Ilustrasi kurban

Sebagai Muslim yang taat, kita berusaha menjalankan perintah Allah meskipun penuh dengan cobaan. Dan kita bisa belajar dari kisah Nabi Ibrahim yang menyembelih anaknya, Nabi Isma’il, betapa mereka telah memberi contoh untuk berpegang teguh terhadap iman di tengah derasnya cobaan. Sebagai penghargaan atas pengorbanan mereka, Nabi Muhammad saw. memerintahkan umat Islam untuk berkurban. Dalam kisah ini pula, ada oknum yang ingin menyelewengkan sejarah hanya demi memperkuat validasi kaumnya.

Baca juga: Hari Reformasi Nasional dalam Pandangan Islam

Oknum yang menyelewengkan kisah

Sebelum menceritakan kisah penyembelihan Ibrahim terhadap anaknya, ada pihak yang sengaja memutarbalikkan fakta demi memenuhi hawa nafsunya dengan mengubah sejarah, mereka menyatakan bahwa yang menjadi kurban adalah Nabi Ishaq, bukan Nabi Ismail.

Mengambil dari cerita Israiliyyat

Penyelewangan dari oknum itu terekam oleh Syaikh Ibnu Katsir dalam kitab Bidayah wa an-Nihayah.

وَمَنْ جَعَلَهُ حَالًا فَقَدْ تَكَلَّفَ، وَمُسْتَنَدُهُ أَنَّهُ إِسْحَاقُ إِنَّمَا هُوَ إِسْرَائِيلِيَّاتُ، وَكِتَابُهُمْ فِيهِ تَحْرِيفٌ، وَلَا سِيَّمَا هَاهُنَا قَطْعًا لَا مَحِيدَ عَنْهُ فَإِنَّ عِنْدَهُمْ أَنَّ اللَّهَ أَمَرَ إِبْرَاهِيمَ أَنْ يَذْبَحَ ابْنَهُ وَحِيدَهُ وَفِي نُسْخَةٍ مِنَ الْمُعَرَّبَةِ: بِكْرَهُ إِسْحَاقَ فَلَفْظَةُ إِسْحَاقَ هَاهُنَا مُقْحَمَةٌ مَكْذُوبَةٌ مُفْتَرَاةٌ؛ لِأَنَّهُ لَيْسَ هُوَ الْوَحِيدَ وَلَا الْبِكْرَ وَإِنَّمَا الْوَحِيدُ الْبِكْرُ إِسْمَاعِيلُ،

Sementara itu, mereka yang menganggap bahwa yang disembelih adalah Ishaq sebenarnya terlalu memaksakan, dan landasan mereka bahwa yang disembelih adalah Ishaq hanya berasal dari cerita-cerita Israeliyah, yang seringkali mengandung penyimpangan.

Di dalam kitab-kitab mereka ada banyak perubahan, dan khususnya dalam salinan terjemahan mereka, mereka menyebutkan bahwa Tuhan memerintah Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang tunggal, yang bahkan dalam beberapa versi mereka menyebutkan sebagai anak pertama, yaitu Ishaq. Padahal, Ishaq bukanlah anak tunggal atau anak pertama, melainkan yang pertama adalah Ismail.

Baca juga: Peristiwa Perjanjian Hudaibiyah; Tentang Perdamaian Sejati

Karena kecemburuan

وَإِنَّمَا حَمَلَهُمْ عَلَى هَذَا حَسَدُ الْعَرَبِ فَإِنَّ إِسْمَاعِيلَ أَبُو الْعَرَبِ الَّذِينَ يَسْكُنُونَ الْحِجَازَ الَّذِينَ مِنْهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَإِسْحَاقَ وَالِدُ يَعْقُوبَ، وَهُوَ إِسْرَائِيلُ الَّذِينَ يَنْتَسِبُونَ إِلَيْهِ، فَأَرَادُوا أَنْ يَجُرُّوا هَذَا الشَّرَفَ إِلَيْهِمْ فَحَرَّفُوا كَلَامَ اللَّهِ وَزَادُوا فِيهِ وَهُمْ قَوْمٌ بُهْتٌ، وَلَمْ يُقِرُّوا بِأَنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ،

Mereka menurunkan hal ini karena kecemburuan terhadap bangsa Arab, mengingat Ismail adalah bapak bangsa Arab yang tinggal di Hijaz, tempat dari mana Nabi Muhammad saw. berasal.

Sementara Ishaq adalah ayah dari Ya’qub, yang terkenal sebagai Israel, dan mereka ingin menarik kehormatan ini untuk diri mereka dengan memutarbalikkan kalam Allah dan menambahkannya, padahal mereka tidak mengakui bahwa keutamaan itu ada di tangan Allah yang memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Baca juga: Pelajaran dan Cerita Singkat Perang Bani Quraizhah

Cobaan Nabi Ibrahim

Dalam hadis yang Ibn Abbas riwayatkan:

رُؤْيَا الْأَنْبِيَاءِ وَحْيٌ

“Mimpi para nabi adalah wahyu.”

Ini merupakan ujian dari Allah bagi kekasih-Nya, Ibrahim, untuk menyembelih anaknya yang sangat ia cintai, yaitu Ismail, yang lahir ketika Ibrahim sudah menginjak usia senja.

Ibrahim telah mengalami banyak cobaan, seperti ketika Allah memerintahkannya untuk menetap di tempat yang terpencil, tanpa kehidupan atau sumber daya, namun Ibrahim tetap taat dan menyerahkan diri kepada Allah dengan penuh tawakkal. Allah memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak ia sangka.

Peristiwa penyembelihan

Setelah itu, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya yang sangat ia cintai, yang merupakan satu-satunya anaknya. Ibrahim kemudian mengajukan hal ini kepada putranya, Ismail, agar Ismail bisa merasa lebih ringan hati dan tidak merasa terpaksa.

Ibrahim berkata, {Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka lihatlah apa yang kamu pikirkan} [Q.S. As-Saffat: 102].

Ismail yang sabar dan taat kepada Allah, menjawab:

{Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insya Allah kamu akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar} [Q.S. As-Saffat: 102]. Jawaban ini menunjukkan ketaatan Ismail kepada ayahnya dan kepada Allah.

Allah kemudian berfirman {Ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim meletakkan anaknya di atas dahinya} [Q.S. As-Saffat: 103].

Maksud “kedua berserah diri” berarti keduanya telah pasrah dan siap melaksanakan perintah Allah. Ibrahim pun meletakkan anaknya dengan posisi wajah menghadap ke tanah, agar tidak melihat proses penyembelihan.

Baca juga: Peristiwa Haji Wada’

Proses penyembelihan

Menurut sebagian pendapat, ketika Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi tersebut, Nabi Ismail sedang berumur tujuh tahun, ada juga yang mengatakan berumur tiga belas tahun, sebagaimana yang Syekh Wahbah Zuhaili jelaskan dalam Kitab Tafsir Al-Munir.

Beberapa riwayat menyatakan bahwa Ibrahim menyapu pisau di leher Ismail, namun pisau tersebut tidak mampu memotong. Sebagian berkata bahwa antara pisau dan leher Ismail ada pelindung dari tembaga.

Setelah itu, terdengar panggilan dari Allah: {Wahai Ibrahim, kamu telah membenarkan mimpi itu} [Q.S. As-Saffat: 104], yang berarti Allah mengakui ketulusan ujian dan ketaatan Ibrahim.

Allah juga berfirman {Sesungguhnya ini adalah ujian yang nyata} [Q.S. As-Saffat: 106], yaitu ujian yang jelas dan terang.

Kemudian Allah mengganti penyembelihan Ismail dengan seekor kambing yang besar, sebagaimana pendapat sebagian besar para ulama, termasuk dalam kisah yang datang dari berbagai sumber Israeliyyah. Namun, dalam Al-Qur’an sudah cukup menjelaskan tentang ujian besar ini dan bahwa Ismail terganti dengan penyembelihan yang besar (kambing).

Kambing yang disembelih

Dalam hadis, menyebutkan bahwa kambing tersebut adalah kambing yang putih, bertanduk, dan memiliki mata yang tajam, yang terlihat terikat di pohon Samurah di bukit Thabir. Ada juga riwayat dari Ibn Abbas yang menyatakan bahwa kambing itu telah merumput di surga selama empat puluh tahun.

Demikian pula, ada riwayat yang mengatakan bahwa kepala kambing itu digantung di pintu Ka’bah sampai kering. Hal ini menunjukkan bahwa yang menjadi kurban adalah Ismail, karena ia tinggal di Mekah, sedangkan Ishaq tidak pernah datang ke Mekah pada masa kecilnya.

Referensi: [Baca: Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, (Dar Hajr), I/366]

Kunjungi juga akun media sosial Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses