HomePojok LirboyoSeminar Mengobarkan Semangat Kebangsaan

Seminar Mengobarkan Semangat Kebangsaan

0 3 likes 712 views share

LirboyoNet, Kediri- Sugesti tentang santri dan nasionalisme akhir-akhir ini muncul kembali ke permukaan, setelah sebelumnya hampir tak pernah terdengar, apalagi di masa-masa orde baru, menyusul ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional oleh pemerintah republik Indonesia. Peran santri yang begitu besar di masa-masa penjajahan Belanda seakan kembali dibangkitkan di era modernisasi ini. Santri diajak bernostalgia dan mengingat kembali, bahwa salah satu jasa besar pesantren adalah adanya kemerdekaan.

Kemarin malam (27/10), tak kurang dari 2.500 orang santri memadati Aula Al-Muktamar Pondok Pesantren Lirboyo. Mereka rela berdesak-desakan, hingga terpaksa menggelar sajadah di teras demi mengikuti agenda tahunan M3HM (Majelis Musyawarah madrasah Hidayatul Mubtadi-ien), seminar Jam’iyyah Nahdhiyyah. Agenda rutin seminar yang khusus membahas tema-tema besar aktual ini seakan menjadi menu wajib bagi para santri. Sejumlah 1.300 makalah yang disediakan panitia habis terjual. Banyak santri yang harus kecewa karena tidak mendapatkan makalah seminar tersebut.

Tahun ini, M3HM mendatangkan KH. Isyraqun Najah Masduqi dari Malang sebagai seminaris. Beliau adalah alumnus ponpes lirboyo tahun 1989 M, yang kini menjabat sebagai direktur UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sekaligus ketua PCNU kota Malang.

Tema seminar Jam’iyyah Nahdhiyyah tahun ini adalah “Mengobarkan Spirit Nasionalisme Santri”. Tema ini diusung, seperti telah disinggung diatas, sebagai media untuk mengobarkan kembali semangat nasionalisme santri. Karena sejatinya, santri dan nasionalisme tidak terpisahkan. “Memang benar, jika dikatakan, jiwa nasionalisme santri tidak diragukan.” Kata Ust. Umar Faruq, salah satu dewan rois M3HM yang memberikan sambutan.

Sebelum dimulai “ngaji kebangsaan”, terlebih dahulu diputarkan film dokumenter tentang sejarah berdirinya Nahdhatul Ulama (NU) dan kiprah nasionalisme kiai dan santri pada era awal NU baru berdiri. Antusiasme santri semakin nampak, bahkan sebelum acara dan film diputar, aula telah penuh sesak akan ribuan santri yang datang. Sekitar empat puluh lima menit film diputar, para santri terlihat khidmat menikmati diputarnya film dokumenter tersebut.

Dalam seminar ini, beliau KH. Isyraqun Najah menyampaikan, “Santri tidak perlu dipertanyakan nasionalismenya, karena yang mengusung negara ini merdeka adalah para kiai dan santri”. Nasionalisme dan santri seperti sudah mendarah daging, “kalau kita pertanyakan nasionalisme santri, itu pertanyaan yang konyol. Kita yang merasa lahir disini, kita yang merasa memperjuangkan negri ini, dari seluruh penjajah, maka kita berhak memilikinya”, kata beliau. Meski toh begitu, peran santri dan kiai tidaklah membutuhkan pengakuan, “Kita; santri dan kiai tidak butuh pengakuan formal, cukup Allah huwa al-mujâzi, Allah yang akan membalas”, tukas Gus Is, panggilan akrab beliau. “Pernah ada sejarah, santri dan pesantren dijauhkan dari negri dan bangsanya. Itu tidak sesuai dengan sejarah. Pembelaan perjuangan mereka itu diasaskan pada kebutuhan diri atas cara pribadi dihadapan Allah, dan atas nama bagian dari makhluk sosial dari masyarakat yang waktu itu mayoritas muslim”.

Mengenai urgensi nasionalisme dan bela negara, Gus Is mempertegas, “Mengapa hubbul wathan minal îmân dan berperang itu menjadi satu? Itu alternatif terakhir. Bagaimana umat muslim bisa beribadah dengan jenak, dengan baik, dengan nyenyak, jika kondisi bangsa, negara ini, tidak ada stabilitas. Bayangkan saudara kita di Pakistan, di Libya, tidak pernah jenak seperti kita”. Beliau semakin menguatkan dengan fakta sejarah bahwa NU tak lepas dari bingkai terbentuknya pondasi bangsa, “NU dan pesantren adalah entitas bangsa, yang menerima pancasila pertama kali sebagai asas tunggal”.  Tidak berhenti disini, sudah serasa menjadi ijma’ sukuti, bahwa pesantren, kiai, dan  santri tak pernah hanya separuh hati mengabdikan diri agar Indonesia merengkuh kemerdekaannya, dan menjadi bangsa yang tak sekedar merdeka, namun lebih dari itu, “Peran kiai, santri, pesantren itu sudah tidak lagi skala lokal”, kata Gus Is. Dibuktikan dengan disetujuinya rekomendasi dan usulan Komite Hijaz untuk Kerajaan Saudi Arabia pada waktu dulu.

Pada akhirnya, santri dan nasionalisme memiliki arti penting yang dalam. Dan kedepannya, santri jugalah yang akan menjadi konsultan atas pergerakan zaman. “Santri diposisikan sebagai insan yang memiliki kesadaran tinggi, bahwa islam bersifat komperhensif. Luas sekali cakupannya. Apalagi santri sudah dipersiapkan memiliki kemampuan yang tinggi merespojn tantangan, tuntutan, dalam konteks ruang dan waktu, baik dalam ranah nasional maupun internasional. Ini yang tidak dimiliki oleh siapapun” pungkas Gus Is.

Acara selesai sekitar pukul 24.00 WIS, seusai sesi tanya jawab. Beliau menjawab tiga pertanyaan dari peserta yang hadir dengan uraian yang gamblang.[]