HomeSantri MenulisSepotong Roti Penebus Dosa

Sepotong Roti Penebus Dosa

0 3 likes 732 views share

Diriwayatkan dari Abu Burdah bin Musa al Asy’ari, bahwasanya ketika menjelang wafat, Abu Musa memberikan nasihat kepada salah seorang putranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita seorang yang mempunyai sepotong roti?” kata beliau.

Dahulu kala, ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ia melakukan ibadah selama lebih dari 70 tahun lamanya. Selama itu pula ia tidak pernah meninggalkan tempat ibadahnya, kecuali pada hari-hari yang telah ditentukan. Hingga pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita cantik. Dan dia pun tergoda dalam bujuk rayunya. Akhirnya, mereka masuk dalam lautan asmara, bergelimang di dalam dosa. Tujuh hari lamanya mereka tenggelam dalam nafsu setan, melakukan hubungan layaknya suami istri.

Setelah itu, ia pun sadar akan perbuatannya yang telah melanggar perintah Tuhan, karena itu ia bertaubat. Kemudian ia melangkahkan kakinya, pergi mengembara. Dalam pengembaraannya ia selalu mengerjakan salat dan bersujud. Setelah sekian lama melanglang buana kesana kemari, akhirnya sampailah perjalanannya ke sebuah pondok yang didiami oleh dua belas orang fakir miskin. Karena sudah sangat letih, ia bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, sehingga akhirnya ia pun tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.

Di samping kedai itu, hidup seorang pendeta yang setiap malam mengirimkan beberapa potong roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu. Masing-masing mendapatkan jatah sepong roti. Suatu ketika datanglah seseorang yang membagi-bagikan sedekah kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok itu. Begitu pula lelaki itu, ia juga mendapat bagian karena disangka orang miskin.

Setelah sedekah selesai dibagikan ternyata ada seorang di antara mereka yang tidak mendapat bagian. Sehingga ia menanyakan kepada orang yang membagikan roti itu: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku?” Orang yang membagikan roti itu pun menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari sepotong roti.”

Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, lelaki itu megambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bagian tadi. Sedangkan keesokan harinya orang yang bertaubat itu didapati telah meninggal dunia.

Di hadapan Allah, ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukannya selama lebih kurang 70 tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh hari. Namun ibarat panas setahun hujan sehari. Ternyata kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh hari itu mengalahkan berat timbangan amal yang dilakukan selama lebih dari 70 tahun. Namun untunglah, pahala yang didapat dari memberikan roti itu lebih berat dari dosa yang dilakukan selama tujuh hari, dan akhirnya selamatlah ia dari api neraka yang sangat pedih.

Kepada putranya, Abu Musa berkata lagi: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sepotong roti itu.”

 

Oleh: Ieda Assalmiyah, P3TQ Lirboyo