HomePojok LirboyoSetelah Sepuluh Tahun: Lulus Sorogan Tingkat Ulya

Setelah Sepuluh Tahun: Lulus Sorogan Tingkat Ulya

0 4 likes 877 views share

LirboyoNet, Kediri – Gedung Lajnah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Lirboyo (LBM-P2L) Senin lalu (22/8) dipenuhi ratusan siswa dari berbagai tingkatan kelas Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Mereka berkumpul dalam suasana sejuk demi menggairahkan kembali motivasi belajar di pondok pesantren dan menumbuhkan kembali hasrat dalam menuntut ilmu. Demi menghadiri Pembukaan Aktivitas Sorogan LBM itu, banyak santri bahkan tak mendapatkan ruang kosong di dalam ruangan, hingga terpaksa mengikuti acara dari luar gedung.

Pembukaan ini diisi dengan beberapa rangkaian. Salah satunya, motivasi yang disampaikan oleh Agus H. Said Ridwan. “Yang patut diperhatikan dalam kegiatan sorogan LBM adalah, sorogan itu bukan hanya sekedar datang, belajar, kemudian pulang. Selesai. Tidak begitu. (Hal yang juga penting adalah) peserta sorogan wajib kenal dengan penyorognya. Begitu juga sebaliknya.” Dengan begitu, akan terjalin suatu hubungan baik antara guru dan murid sehingga barokah yang diperoleh lebih besar. Jelas, ini akan berimbas pada hasil belajar santri.

Sebagaimana diketahui, sorogan adalah metode pembelajaran santri aktif di hadapan seorang guru. Mereka, para santri, bergantian membaca kitab kosong mereka di depan guru (baca: penyorog) untuk mendapatkan koreksi dan tashih (pembenaran). Metode ini umum digunakan dalam mayoritas pesantren untuk belajar Alquran dan kitab kuning.

Yang berlaku selama ini, terutama di LBM P2L, santri tidak hanya membaca teks yang tertera. Mereka juga dituntut untuk membacakan maknanya. Padahal, mereka tidak diperbolehkan membawa kitab yang bermakna. Walhasil, cara yang demikian ini mengharuskan mereka, terutama bagi yang masih pemula, untuk mempelajari materi berkali-kali di berbagai tempat, agar dapat menghafal tarkib (susunan kalimat) dan makna dengan tepat.

Untuk menjaga kualitas belajar santri, Cak Said, sapaan akrab beliau, menekankan bahwa kualitas penyorog juga menjadi faktor utama dalam menentukan hasil santri bimbingannya. Maka, LBM tidak main-main dalam menyeleksi siapa saja yang berhak menjadi penyorog.

Di sela pembukaan itu, peristiwa yang langka, bahkan satu-satunya. dalam kurun satu dekade terakhir semenjak diberlakukannya sistem tingkatan pada kegiatan sorogan, baru pertama kali terdapat santri yang berhasil mendapatkan sertifikasi kelulusan pada tingkatan paling tinggi (Ulya).

Sebagai informasi, sorogan LBM mempunyai dua kelompok/kategori: Sullam Taufiq dan Fathul Qorib. Keduanya masing-masing mempunyai tiga tingkatan: Ula; Wustho; dan Ulya. Untuk menyeleksi santri sehingga bisa naik tingkatan, diberlakukan ujian yang bisa dibilang berat. Jauh lebih berat daripada ujian yang diselenggarakan madrasah. Hal ini memang dilakukan untuk menjaga kualitas intelektual santri Ponpes Lirboyo. Tentunya, harus ada perjuangan ekstra keras dalam mencapai tingkatan Ulya, apalagi hingga mendapat penilaian lulus.

Santri yang telah berjuang keras itu adalah Muhammad Syafi’ul Umam, siswa kelas III Tsanawiyah. Masa perjuangannya dalam sorogan memang terbilang singkat. Ia mendaftar untuk masuk sorogan di awal tahun pelajaran 2015-2016, saat ia masih kelas II Tsanawiyah, dan lulus setahun kemudian. Namun ia harus mengorbankan banyak hal. Diantaranya, pengajian kitab kuning yang dibacakan para masyayikh dan dzuriyah. Padahal, ia sangat menyukainya. “Mau bagaimana lagi. Tapi sudah jadi prinsip saya, fokus. Selama fokus terjaga, kita akan mendapat banyak hal,” ujarnya.

Meski begitu, ini bukanlah prestasi, jika tidak mampu menjaga kualitas dan keistiqamahan dalam belajar. “Jika dibilang ini adalah prestasi LBM dalam mencetak santri yang berkualitas, ya terserah. Bagi kami, ini bukan sebuah prestasi karena ini sudah menjadi tugas kami. Yang penting adalah belajar dan terus belajar,” tukas Abdullah Anas, salah satu pengurus LBM.][