Siasat Dakwah Ala Walisongo

Siasat Dakwah Ala Walisongo

               Perlu kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia, menandingi negara-negara Timur Tengah yang notabenenya Islam lahir dan berkembang pesat di sana. Dan sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa Islamisasi di bumi Nusantara khususnya di pulau Jawa, tidak bisa lepas dari peranan Wali Songo, sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara ini, sekaligus memiliki andil besar dalam penyebaran agama Islam.

Dan dalam proses penyebarannya, Wali Songo mempunyai metode-metode khusus dalam berdakwah, satu diantaranya adalah dengan metode dakwah siasat ala Wali Songo dengan berpegang teguh pada konesep “mau’idhotul hasanah mujadalah billati hiya ahsan” yang berarti metode dakwah dengan menggunakan tutur bahasa yang baik untuk menarik simpati serta empati masyarakat jawa kapitayan yang memuja roh-roh halus dengan mengonsep strategi dakwah yang lebih sederhana dan relevan dalam penyesuaian terhadap budaya dan kultur masyarakat setempat melalui proses asimilasi dan juga sinkretisasi. Walaupun berdakwah dengan cara ini, agaknya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Wisata Religi, Mengirim Doa Ke 9 Wali | Agenda Indonesia

Dan diungkapkan pula dalam perimbon Prof. KH. R. Moh. Adnan dikatakan bahwa para tokoh-tokoh Wali Songo dalam mengubah dan menyesuaikan terhadap tatanan nilai sosial budaya masyarakat butuh mengadaptasi bebagai macam cara, satu diantaranya yakni “susuhunan ing ngampel denta handamel pranating agama islam kanggenipun ing titiyang jawi”. Versi Sunan Ampel yang kurang lebih maksud dari penjelasan di atas adalah adanya peraturan yang dibuat oleh Sunan Ampel terhadap masyarakat jawa kapitayan yang dalam peraturan tersebut mengandung nilai-nilai Islami.

Selanjutnya, dakwah Wali Songo dalam meng-Islamisasi-kan tanah Jawa juga tidak lepas dari pengaruh Sufisme, dengan adanya bukti lahirnya beberapa tarekat (thariqoh) yang diamalkan oleh masyarakat Jawa khususnya hingga saat ini, seperti halnya tarekat syathariyyah dan akmaliyah dengan menisbatkan kepada para tokoh-tokoh Wali Songo seperti; Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Giri. Maka bisa disimpulkan bahwa ada dua paham pemikiran besar Sufisme di Nusantara yang dianut oleh para kaum Sufi sejak era zaman Wali Songo.

Satu di antara pemahaman besar tersebut adalah paham wujudiyyah, menurut Khan Sahib Khaja Khan dalam Cakrawala Tasawuf (1987) ataupun paham wujudiyyah juga bisa disebut sebagai ajaran Mollisme, menurut P.J Zoetmolder dalam Manunggaling Kawulo Gusti, Pantheisme Dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa (1990) yang bermakna mendoktrin bahwa alam (manusia) itu berasal dari pengetahuan Ilahi dan akan mendapatkan sebuah pengalaman dari dunia menuju ‘ainnya. Selanjutnya Walisongo juga menerapkan metode dakwah lewat asimilasi pendidikan dengan cara mengembangkan sistem pengajaran serta pembelajaran (pendidikan) yang bermodalkan asrama, padepokan, dan dukuh yang dikemas sedemikian rupa melalui bentuk pesantren-pesantren, pesulukan-pesulukan, dan lain sebagainya.

Di pulau Jawa misalnya, banyak orang rutin mengadakan ziarah ke makan Wali Songo. Tujuan dari wisata religi adalah mendekatkan diri … | Dunia bawah, Ziarah, Sejarah

Kemudian salah satu bentuk proses dari model dakwah ini ialah dengan berupa usaha mengambil alih lembaga pendidikan syiwabuddha yang disebut dengan “asrama” atau “dukuh” yang kemudian diformat menyesuaikan terhadap ajaran Islam lalu menjadi lembaga pendidikan pondok pesantren.

Sedangkan ada pendapat yang mengatakan bahwa konteks pendidikan ala pesantren yang representatif menegaskan tentang gambaran sistem pendidikan Islam Nusantara, menurut Zaini Achmad Syis dalam bukunya yang berjudul “Standardisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren” (1984) menjelaskan bahwa pondok pesantren merupakan metode dakwah warisan ala Walisongo yang hingga saat ini masih tetap eksis disebagian pondok pesantren terutama pondok pesantren salaf seperti halnya yang diterapkan di pondok pesantren Lirboyo Kediri dengan sistem klasikalnya menerapkan sistem bandongan diawal pendiriannya terhadap kurikulum pelajaran yang dijarkan kepada para santri guna untuk mempertahankan dan melestarikan ajaran ala Walisongo.

Dan metode dakwah ala Walisongo yang terakhir adalah berdakwah melalui kesenian dengan kebudayaan masyarakat sekitar yang dianggap sebagai sarana dakwah yang efektif. Sebab ada nilai lebih jikalau berdakwah menguunakan cara ini, karena mayarakat lebih mudah dalam menerima transformasi informasi yang yang disampaikan kepada mereka, seperti berdakwah melalui pertunjukan gamelan dan wayang kulit, tembang-tembang macapat, pamancangah men-men (dengan dongeng keliling), dan lain sebagainya.

Terbukti berdakwah dengan cara ini mampu menarik simpati masyarakat Jawa kapitayan untuk memeluk agama Islam dengan prinsip dakwah yang kita kenal dengan istilah “Al-mukhafadhotu ‘Ala Qodim Sholih Wal Akhdu Bi Jaididil Ashlah” yang juga mengandung unsur budaya lokal yang beragam dan dinilai sesuai dengan ilmu katauhidan dalam dakwah Islam. Demikianlah sedikit ulasan mengenai metode ala Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.[]

Penulis : Lukmanul Khakim

Santri asal  : Mojokerto

Follow Instagram; @pondoklirboyo

Subscribe; Pondok Lirboyo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.