Perlu kita ketahui bahwa Indonesia merupakan negara dengan populasi penduduk muslim terbesar di dunia. Indonesia telah menandingi negara-negara Timur Tengah yang notabenenya Islam lahir dan berkembang pesat di sana. Dan sudah tidak menjadi rahasia lagi bahwa Islamisasi di bumi Nusantara khususnya di pulau Jawa, tidak bisa lepas dari peranan dari metode dakwah para Walisongo. Sebagai pusat peradaban Islam di Nusantara ini, sekaligus memiliki andil besar dalam penyebaran agama Islam.
Metode Dakwah Walisongo
Salah satu metode dakwah yang digunakan oleh Walisongo dikenal dengan istilah “mau’idhotul hasanah mujadalah billati hiya ahsan.” Metode ini berarti berdakwah dengan menggunakan bahasa yang santun dan baik untuk menarik simpati serta empati masyarakat setempat. Dengan demikian, para Walisongo bisa menyampaikan pesan-pesan agama Islam dengan cara yang tidak konfrontatif dan lebih mudah masyarakat terima.
Baca Juga: Memetik Buah Tasawuf: Budi Pekerti Mulia
Mereka juga beradaptasi dengan budaya lokal melalui proses asimilasi dan sinkretisasi. Ini berarti para Walisongo menghormati dan mengintegrasikan elemen-elemen budaya setempat ke dalam ajaran Islam. Sehingga masyarakat tidak merasa terasing atau terpaksa untuk meninggalkan tradisi mereka secara tiba-tiba.
Meskipun pendekatan ini memakan waktu yang tidak sebentar. Tetapi, strategi ini terbukti efektif karena mampu menciptakan penerimaan yang lebih baik terhadap agama Islam di Jawa.

Dan terungkan pula dalam perimbon Prof. KH. R. Moh. Adnan bahwa ketika para tokoh-tokoh Walisongo mengubah dan menyesuaikan terhadap tatanan nilai sosial budaya masyarakat. Walisongo butuh mengadaptasi bebagai macam cara. Salah satunya adalah “susuhunan ing ngampel denta handamel pranating agama islam kanggenipun ing titiyang jawi”.
Baca Juga: Aktivitas Wanita di Luar Rumah: Perspektif Syariat Islam
Dalam versi Sunan Ampel yang kurang lebih maksud dari penjelasan di atas adalah adanya peraturan yang Sunan Ampel buat terhadap masyarakat jawa kapitayan yang dalam peraturan tersebut mengandung nilai-nilai Islami.
Pengaruh Paham Sufisme
Pengaruh Sufisme dalam dakwah Walisongo sangat signifikan dalam proses Islamisasi di Jawa. Bukti lahirnya beberapa tarekat (thariqah) yang masyarakat Jawa anut hingga saat ini, seperti tarekat Syathariyyah dan Akmaliyah, menunjukkan dampak mendalam dari sufisme. Tarekat-tarekat ini berkaitan dengan tokoh-tokoh Walisongo seperti Sunan Kalijaga, Sunan Gunung Jati, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Giri. Dengan demikian, bisa kita simpulkan bahwa ada dua paham pemikiran utama Sufisme di Nusantara yang para kaum Sufi pegang sejak era Walisongo.
Pandangan Wujudiyyah, seperti yang Khan Sahib Khaja Khan dan P.J. Zoetmolder jelaskan, adalah salah satu pemikiran besar dalam Sufisme Nusantara. Pemahaman ini kadang kita sebut sebagai ajaran Mollisme dan terkenal luas dalam karya sastra Suluk Jawa. Paham Wujudiyyah mengajarkan bahwa manusia dan alam berasal dari pengetahuan Ilahi dan akan mengalami perjalanan spiritual dari dunia fisik menuju kepada-Nya.
Baca Juga: Nabi Musa Sakit Gigi, Begini Kisahnya
Dalam rangka dakwah Walisongo, pendekatan ini beliau terapkan dengan cara yang sangat praktis dan terstruktur. Mereka mengembangkan sistem pendidikan yang berpusat pada asrama, padepokan, dan dukuh yang kemudian terkenal sebagai pesantren-pesantren dan pesulukan. Metode ini tidak hanya terbukti efektif dalam menyebarkan ajaran Islam tetapi juga dalam mempertahankan nilai-nilai dan budaya lokal, serta membentuk komunitas spiritual yang kokoh dan berkelanjutan.
Dengan asimilasi pendidikan ini, Walisongo berhasil menciptakan metode pengajaran yang relevan dan efektif, mengakomodasi tradisi lokal sekaligus menyampaikan ajaran Islam secara mendalam.

Pesantren Nusantara
Kemudian salah satu bentuk proses dari model dakwah ini ialah dengan berupa usaha mengambil alih lembaga pendidikan syiwabuddha yang disebut dengan “asrama” atau “dukuh”. Yang kemudian formatnya menyesuaikan terhadap ajaran Islam lalu menjadi lembaga pendidikan pondok pesantren.
Sedangkan ada pendapat yang mengatakan bahwa konteks pendidikan ala pesantren yang representatif menegaskan tentang gambaran sistem pendidikan Islam Nusantara.
Menurut Zaini Achmad Syis dalam bukunya yang berjudul “Standardisasi Pengajaran Agama di Pondok Pesantren” (1984). Menjelaskan bahwa pondok pesantren merupakan metode dakwah warisan ala Walisongo.
Baca Juga: Imam Nawawi: Ulama Madzhab Syafi’i dengan Warisan Abadi
Yang hingga saat ini masih tetap eksis disebagian pondok pesantren terutama pondok pesantren salaf. Seperti halnya yang pondok pesantren Lirboyo Kediri terapkan. Dengan sistem klasikalnya menerapkan sistem bandongan dari awal pendiriannya terhadap kurikulum pelajaran yang Lirboyo ajarkan kepada para santri guna untuk mempertahankan dan melestarikan ajaran ala Walisongo.
Dan metode dakwah ala Walisongo yang terakhir adalah berdakwah melalui kesenian dengan kebudayaan masyarakat sekitar yang dianggap sebagai sarana dakwah yang efektif. Sebab ada nilai lebih jikalau berdakwah menguunakan cara ini, karena mayarakat lebih mudah dalam menerima transformasi informasi yang yang disampaikan kepada mereka, seperti berdakwah melalui pertunjukan gamelan dan wayang kulit, tembang-tembang macapat, pamancangah men-men (dengan dongeng keliling), dan lain sebagainya.
Baca Juga: Hukum Menghadiri Undangan Resepsi Pernikahan
Terbukti berdakwah dengan cara ini mampu menarik simpati masyarakat Jawa kapitayan untuk memeluk agama Islam dengan prinsip dakwah yang kita kenal dengan istilah “Al-mukhafadhotu ‘Ala Qodim Sholih Wal Akhdu Bi Jaididil Ashlah” yang juga mengandung unsur budaya lokal yang beragam dan dinilai sesuai dengan ilmu katauhidan dalam dakwah Islam. Demikianlah sedikit ulasan mengenai metode ala Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa.[]
Penulis : Lukmanul Khakim
Santri asal : Mojokerto
Follow Instagram; @pondoklirboyo
Subscribe; Pondok Lirboyo
