Studi Ilmu Balaghoh

Studi Ilmu Balaghoh

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar ilmu balaghoh? Sekilas kita akan mengingat kembali kajian ilmu balaghoh yang sudah menjadi objek pembelajaran di madrasah kita. Kami tidak bermaksud mengajak Anda membuka kembali kitab Jauharul Maknun atau Uqudul Juman yang sudah tertata rapi di rak kitab. Atau mungkin sudah Anda masukan ke dalam kemasan kardus. Sayang kan, kalau berantakan lagi malah repot jadinya. 🙂 Belum lagi menurut pengalaman penulis pelajaran ini memang cukup sulit untuk dicerna. Paling tidak, kita tahu betapa pentingnya ilmu ini kaitannya dalam memahami bahasa dan makna ayat Alqur’an secara tersirat. Ketika dorongan rasa ingin tahu menggelora, maka pengembaraan pengkajian itu terasa indah dan bergairah.

Kalau pelajaran ini sangat sulit sangatlah wajar. Karena setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasa mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Dalam tradisi ilmu sastra arab, balaghoh telah menjadi ilmu pengetahuan yang mempunyai formulasi sebagai basis konkretisasi sastra dan tolak ukur keindahan. Oleh karena itu secara teori prasyarat mempelajari balaghoh harus menguasai morfologi (nahwu) dan sintaksis (shorof) sebagai faktor penunjang.

Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghoh, kita bisa mengetahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya. Serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits. Bahkan para pakar sastra era kenabian telah mengakui betul akan keindahan bahasa Al-Quran. Dari situ mereka yakin betul bahwa apa yang tertera dalam Al-Qur’an bukanlah karya manusia. Dengan begitu Al-Qur’an merupakan inspirator bagi para ahli bahasa Arab untuk mengkonsep berbagai macam pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjaga keasliannya.

Bahkan, sebelum ilmu-ilmu tersebut dikenal, esensinya telah mendarah daging dalam praktek berbahasa orang-orang Arab dulu. Berbagai macam pengetahuan manusia, mulai dari ilmu, filsafat, seni, dan lainnya telah berada dalam akal dan lisan manusia dalam kehidupannya jauh sebelum diajarkan dan dikodifikasikan. Pada perkembangan selanjutnya, semakin luasnya percampuran orang Arab dengan non-Arab seiring kemajuan peradaban Islam menjadikan perlunya penyusunan sebuah ilmu pengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Hal ini karena mereka orang-orang non-Arab tidak dapat mengetahui keindahan bahasa Arab kecuali jika terdapat kaidah ataupun pembanding. Hal ini penting terutama karena mereka punya keinginan besar untuk mengetahui kemukjizatan Al-Quran.

Mempelajari balaghoh tidak ubahnya mempelajari bidang seni yang lain yang tidak cukup dengan kemampuan bawaan, akan tetapi memerlukan latihan dalam waktu yang panjang.Praktek merupakan instrumen penting untuk tercapainya langkah awal. Dalam pengajian tafsir yang digelar di pesantren semisal, ini bisa kita jadikan acuan untuk menerapkan ilmu balaghoh yang kita perloleh.

Jika kita perhatikan, pembahasan ilmu ini tidak keluar dari ruang lingkup studi kalimat (jumlah). Dengan begitu kita akan terbiasa melihat retorika bahasa al-Qur’an dan pesan-pesan yang tertuang di dalamnya.

Para pakar bahasa ketika menghendaki menafsirkan satu ayat atau menetapkan makna dari satu kata yang sulit dipahami, maka mereka mendatangkan syair jahiliy yang memuat kata tersebut beserta makna dan gaya bahasanya. Banyak yang menyebut bahwa Yusuf Assakaki sebagai tokoh yang mengubah balaghoh dari shina’ah (induktif) menjadi ma’rifah (deduktif). Studi balaghah terbatas pada tiga pokok dasar keilmuan, yaitu ma’ani, bayan, dan dengan badi’. Dan umumnya faidah yang terkandung di dalamnya berporos pada intuisi ( dzauq ) orang arab sebagai standarisasi. Selain itu juga mengungkapkan penerapan bahasa yang indah, nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hal (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.

Pengetahuan tentang sisi sejarah balaghah perlu kita pahami agar muncul kesadaran bahwa ilmu ini memang bukan benda mati yang yang tidak dapat diperbarui. Kesadaran inilah yang dapat menjamin perkembangan ilmu ini yang lebih maju, tidak mengalami kejumudan atau bahkan kepunahan. Kemajuan yang dimaksud di sini meliputi berbagai segi, entah dari segi pengajarannya yang lebih mudah, cakupan materi yang lebih luas, ataupun hasil penerapan dari ilmu itu sendiri yang memuaskan. Atau bahkan munculnya ilmu baru dari ilmu yang telah ada.

One thought on “Studi Ilmu Balaghoh

  1. Terima kasih pencerahannya Kang Tubagus Godhonfar. Pembahasan ini membuka pemahaman saya mengenai perlunya santri untuk memahami Balaghah dari sisi perbedaan bahasa dan bangsa yang berbeda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.