41 views

Studi Ilmu Balaghoh

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar ilmu balaghoh? Sekilas kita akan mengingat kembali kajian ilmu balaghoh yang sudah menjadi objek pembelajaran di madrasah kita. Kami tidak bermaksud mengajak Anda membuka kembali kitab Jauharul Maknun atau Uqudul Juman yang sudah tertata rapi di rak kitab. Atau mungkin sudah Anda masukan ke dalam kemasan kardus. Sayang kan, kalau berantakan lagi malah repot jadinya. 🙂 Belum lagi menurut pengalaman penulis pelajaran ini memang cukup sulit untuk dicerna. Paling tidak, kita tahu betapa pentingnya ilmu ini kaitannya dalam memahami bahasa dan makna ayat Alqur’an secara tersirat. Ketika dorongan rasa ingin tahu menggelora, maka pengembaraan pengkajian itu terasa indah dan bergairah.

Kalau pelajaran ini sangat sulit sangatlah wajar. Karena setiap orang akan merasa kesukaran apabila menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibunya. Kendala untuk mengerti ilmu Balaghah atau bahasa mengenai sastra akan lebih sulit dimengerti apabila tidak mempunyai dasar pengetahuan awal. Dalam tradisi ilmu sastra arab, balaghoh telah menjadi ilmu pengetahuan yang mempunyai formulasi sebagai basis konkretisasi sastra dan tolak ukur keindahan. Oleh karena itu secara teori prasyarat mempelajari balaghoh harus menguasai morfologi (nahwu) dan sintaksis (shorof) sebagai faktor penunjang.

Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balaghoh, kita bisa mengetahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya. Serta akan terbuka rahasia-rahasia kemu’jizatan Al-Quran dan Al-Hadits. Bahkan para pakar sastra era kenabian telah mengakui betul akan keindahan bahasa Al-Quran. Dari situ mereka yakin betul bahwa apa yang tertera dalam Al-Qur’an bukanlah karya manusia. Dengan begitu Al-Qur’an merupakan inspirator bagi para ahli bahasa Arab untuk mengkonsep berbagai macam pengetahuan yang dapat digunakan untuk menjaga keasliannya.

Bahkan, sebelum ilmu-ilmu tersebut dikenal, esensinya telah mendarah daging dalam praktek berbahasa orang-orang Arab dulu. Berbagai macam pengetahuan manusia, mulai dari ilmu, filsafat, seni, dan lainnya telah berada dalam akal dan lisan manusia dalam kehidupannya jauh sebelum diajarkan dan dikodifikasikan. Pada perkembangan selanjutnya, semakin luasnya percampuran orang Arab dengan non-Arab seiring kemajuan peradaban Islam menjadikan perlunya penyusunan sebuah ilmu pengukur ketepatan dan keindahan berbahasa Arab. Hal ini karena mereka orang-orang non-Arab tidak dapat mengetahui keindahan bahasa Arab kecuali jika terdapat kaidah ataupun pembanding. Hal ini penting terutama karena mereka punya keinginan besar untuk mengetahui kemukjizatan Al-Quran.

Mempelajari balaghoh tidak ubahnya mempelajari bidang seni yang lain yang tidak cukup dengan kemampuan bawaan, akan tetapi memerlukan latihan dalam waktu yang panjang.Praktek merupakan instrumen penting untuk tercapainya langkah awal. Dalam pengajian tafsir yang digelar di pesantren semisal, ini bisa kita jadikan acuan untuk menerapkan ilmu balaghoh yang kita perloleh.

Jika kita perhatikan, pembahasan ilmu ini tidak keluar dari ruang lingkup studi kalimat (jumlah). Dengan begitu kita akan terbiasa melihat retorika bahasa al-Qur’an dan pesan-pesan yang tertuang di dalamnya.

Para pakar bahasa ketika menghendaki menafsirkan satu ayat atau menetapkan makna dari satu kata yang sulit dipahami, maka mereka mendatangkan syair jahiliy yang memuat kata tersebut beserta makna dan gaya bahasanya. Banyak yang menyebut bahwa Yusuf Assakaki sebagai tokoh yang mengubah balaghoh dari shina’ah (induktif) menjadi ma’rifah (deduktif). Studi balaghah terbatas pada tiga pokok dasar keilmuan, yaitu ma’ani, bayan, dan dengan badi’. Dan umumnya faidah yang terkandung di dalamnya berporos pada intuisi ( dzauq ) orang arab sebagai standarisasi. Selain itu juga mengungkapkan penerapan bahasa yang indah, nilai estetis (keindahan seni), memberikan makna sesuai dengan muktadhal hal (situasi dan kondisi), serta memberikan kesan sangat mendalam bagi pendengar dan pembacanya.

Pengetahuan tentang sisi sejarah balaghah perlu kita pahami agar muncul kesadaran bahwa ilmu ini memang bukan benda mati yang yang tidak dapat diperbarui. Kesadaran inilah yang dapat menjamin perkembangan ilmu ini yang lebih maju, tidak mengalami kejumudan atau bahkan kepunahan. Kemajuan yang dimaksud di sini meliputi berbagai segi, entah dari segi pengajarannya yang lebih mudah, cakupan materi yang lebih luas, ataupun hasil penerapan dari ilmu itu sendiri yang memuaskan. Atau bahkan munculnya ilmu baru dari ilmu yang telah ada.

Bahwa sebagian teori balaghah mengkaji tentang bahasa. Lebih banyaknya merupakan bagian dari seni sastra dan gaya bahasa seperti terjemahan catatan khitobah dan syair yang di dalamnya memiliki makna falsafah bukan makna sastra. Beitu pula hubungan penyair, cerpenis, dan orang-orang yang berprofesi dengan tulisan atau lisan. Apa kegunaan mempelajari ilmu ini? Apakah manusia tidak akan mampu bertutur dengan baik tanpa mempelajari kaidah-kaidah balaghah? Seperti yang dikatakan oleh ahli mantik yang telah menetapkan metode berpikir yang lurus dan tak ada seorangpun yang mengingkari keabsahan berpikir dan keindahan tutur kata meskipun tidak merujuk pada kaidah-kaidah ilmu mantik dan ilmu balghah. Ahli mantik pun menjawab bahwasanya ilmu mantik itu sebagai media untuk melatih akal terhadap metode penelitian keilmuan yang valid.

Para ahli balaghoh menjawab, ”Kita mengetahui bahwa mereka berbakat dalam memberikan penjelasan dan jiwa mereka siap menciptakan sastra yang esteteis,. Akan tetapi mereka seolah membiarkan diri mereka terjerambab dalam kesalahan yang bermacam-macam ketika berpidato, menulis cerpen atau kisah.
Dilihat dari karakteristiknya bahwa balaghah mencakup keselarasan yang tampak dalam keserasian di antara ucapan dan kebutuhan pembaca dan pendengar dalam kondisi yang jelas. Sehingga gerakan penutur memberikan ekspresi retorik. Balaghah memperkuat hubungannya dengan seni estetik karena pada hakikatnya balaghah merupakan salah satu dari seni seperti tulisan, lukisan, musik, ukiran dan juga kemampuan mengungkapkan ungkapan yang indah dengan watak bawaannya sendiri seperti mendengarkan musik, melihat warna lukisan dan keserasian warna tersebut. Kemampuan ini mempertajam kefasihan.

Akhirnya dapat kita simpulkan bahwa balaghoh termauk kajian keilmuan yang membahas hubungan antara manusia dengan jaman dan tempatnya, serta hubungan individu dengan kehidupan sosialnya.

Penulis: Luthfi Hakim
# STUDI ILMU BALAGHOH

Baca juga:
DAKWAH SYARIAH SANTRI |RESOLUSI SOSIAL DAN MORAL

Subscribe juga:
Youtube Pondok Pesantren Lirboyo

# STUDI ILMU BALAGHOH
# STUDI ILMU BALAGHOH

0

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.