HomeSantri MenulisSyaikh Wasil Kediri: Muslim Pertama di Indonesia (1)

Syaikh Wasil Kediri: Muslim Pertama di Indonesia (1)

0 0 likes 259 views share

Makam Syaikh Syamsuddin al- Wasil atau Sulaiman Wasil Syamsuddin, termasuk makam islam tertua setelah Fatimah binti Maimun. Makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil terletak di kompleks makam Setana Gedong, Kediri. Kompleks makam ini terletak di dalam Kota Kediri, tepatnya di pusat kota yang bisa dicapai dari Jalan Dhoho belok ke kanan, masuk kampung Setana Gedong. Sekitar 100 meter dari ujung kampung, terletak Masjid Setana Gedong. Kompleks makam Syaikh Syamsuddin al-Wasil terletak di barat laut masjid.

Menurut hasil survei epigrafi Islam yang dilakukan Louis-Charles Damais dalam laporan berjudul Lepigraphie Musulmane Dans le Sud-est Asiatique inskripsi kuno di makam Setana Gedong di Kediri, menyebutkan makam seorang “al-Imam al-Kamil”, yang efitafnya diakhiri dengan keterangan “al-Syafi’i madzhaban al-arabi nisban wa hua tadj al-qudha(t).” Namun, tidak terdapat tanggal tepat tentang inskipsi tersebut.

Inskripsi di makam Setana Gedong di Kediri itu terdiri dari tiga bidang empat persegi; satu di atas yang lain, dengan tiap bidang berisi dua baris tulisan mendatar; berarti keseluruhanya ada enam baris. Namun, permukaan lempengan itu rusak pada bidang kedua, di akhir baris pertama dan sisi baris kedua, sedangkan di bidang ketiga hanya tampak beberapa huruf di awal baris pertama serta sekelompok huruf terpisah di paruh kiri baris kedua. Menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus dalam Lemigmatique Inscription Musulmane du Maqam de Kediri, perusak itu seperti disengaja terbukti dari pukulan-pukulan yang dilakukan oleh orang beragama islam yang paham bahasa Arab, karena para perusak tidak merusak nama Nabi dalam al-hijrah al-nabawiyah setelah tanggalnya. Kelihatannya, bagian yang rusak itu pernah sengaja dimartil, artinya tulisan itu sengaja dihapus.

Masih menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus, dalam inskripsi Setana Gedong tersebut ditemukan sejumlah kata yang unik dalam epigraf Arab, seperti kata sifal al-wasil yang digunakan untuk menyifati sebuah kata benda seperti bentuk partisipal al-mustakmil. Kata al-wasil dan al-mustakmil tidak ditemukan dalam thesaurus d’epigraphie Islamque. Namun, kata al-wasil ini dihubungkan oleh masyarakat sebagai istilah yang berhubungan dengan tokoh suci yang dikebumikan di makam Setana Gedong. Sebaliknya, menurut Claude Guillot dan Ludvik Kalus, yang penting dalam inskripsi itu adalah penggunaan kata benda dalam bentuk kasus langsung tiga kali untuk menyatakan keadaan yang berhubungan dengan almarhum: (1) asy-Syafi’i madzhaban (2) al-Abarkuhi, dan (3) al-Bahrayni.

Claude Guillot dan Ludvik Kalus, menafsirkan ketiga kata dalam inskripsi tersebut berhubungan dengan tokoh yang dimakamkan di Setana Gedong. Pertama, kata asy-Syafi’i madzhaban merujuk pada penegasan bahwa tokoh yang terkubur di Setana Gedong itu bermadzhab Syafi’i, suatu hal yang tidak mengherankan di dunia Melayu, tempat Madzhab Syafi’iy menjadi madzhab fikih paling dominan. Kedua, kata al-Abarkuhi bisa jadi berhubungan dengan kota Abarquh atau Abarkuh, kota kecil di Iran antara Shiraz dan Yazd. Ketiga, kata al-Bahrayni mungkin berkaitan dengan Kepulauan Bahrain atau juga dapat dihubungkan dengan suku Arab “al-bahraniyun” yang pada masa lampau berkelana di wilayah Irak.

Dengan berbagai kesulitan mengungkap siapa jati diri almarhum yang dikebumikan di Setana Gedong karena rusaknya inskripsi, Claude Guillot dan Ludvik Kalus menyimpulkan bahwa tokoh yang dijuluki masyarakat dengan Syamsuddin al-Wasil itu adalah seorang ‘alim, mubaligh Kediri. Mereka juga berargumen bahwa kata maqam yang terdapat dalam inskripsi Setana Gedong bukanlah menunjuk kuburan melainkan lebih berhubungan dengan “momen peringatan” yang dibuat lebih belakangan.

Bersambung ke Bagian II (Habis)