Tag Archives: 212

Jangan Ceramah Sambil Berteriak

Beredar pemahaman di kalangan kelompok masyarakat tertentu—yang selanjutnya berafiliasi membentuk kelompok islam garis keras—bahwa amar makruf nahi munkar berbeda dengan dakwah. Sehingga, mereka berasumsi bahwa dalil-dalil dakwah yang berisi ajakan dan seruan dengan cara hikmah, toleran, lembut, bijaksana, nasihat yang baik tidak bisa diterapkan dalam amar makruf nahi munkar. Dalam al-Qur’an, Allah swt. berfirman:

ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ

Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl [16]: 125)

Kelompok itu pun mengakui bahwa dakwah selayaknya dilakukan dengan hikmah sesuai ayat tersebut. Namun kerap kali dijumpai orasi dan ceramah dari golongan mereka dengan tensi nada yang tinggi sambil berteriak-teriak, bahkan sering pula dengan mencaci-maki. Mereka menganggap semua itu dalam rangka amar makruf nahi munkar maka yang menuntut sikap tegas dan keras. Kelompok ini berargumen menggunakan hadis Nabi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَطَبَ احْمَرَّتْ عَيْنَاهُ، وَعَلَا صَوْتُهُ، وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ، حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

Ketika nabi berkhotbah, mata beliau memerah, suara beliau meninggi, amarah beliau meluap, sampai seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang.” (HR. Muslim)[1]

Dari kesimpulan mereka, terdapat beberapa kesalahpahaman dalam memahami dalil yang perlu diluruskan. Hadis tersebut dipotong sehingga sangat memungkinkan menimbulkan salah persepsi. Karena apabila diteruskan akan berbunyi:

يَقُوْلُ: بُعِثْتُ أَنَا وَالسَّاعَةُ كَهَاتَيْنِ، وَيَقْرُنُ بَيْنَ إِصْبَعَيْهِ السَّبَابَةِ وَالْوُسْطَى

Nabi berkata; jarak diutuskanya diriku dan hari kiamat seperti ini. Nabi berisyarat dengan menggunakan jari telunjuk dan jari tengahnya.”[2]

Apabila dicermati bersama, dalil khotbah Nabi tersebut tidak ada kaitannya sedikit pun dengan amar makruf nahi munkar. Konteks dari hadis di atas adalah ketika Nabi saw. menjelaskan tentang hari kiamat. Sehingga tensi suara khotbah beliau sebagai bentuk isyarat atas gentingnya keadaan hari kiamat. Hal ini juga dibuktikan dengan hadis senada dengan riwayat lain yang berbunyi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذَا ذَكَرَ السَّاعَةَ احْمَرَّتْ وًَجْنَتَاهُ وَاشْتَدَّ غَضَبُهُ وَعَلَا صَوْتُهُ حَتَّى كَأَنَّهُ مُنْذِرُ جَيْشٍ

Saat Rasulullah saw. Menjelaskan hari kiamat, wajah beliau memerah, amarah beliau meluap, suara beliau meninggi, seolah-olah beliau adalah komandan angkatan perang.” (HR. Ibnu Hibban)[3]

Dengan demikian, penggunaan dalil khotbah Nabi sebagai pembenaran untuk ceramah yang berteriak-teriak dalam rangka amar makruf nahi munkar terkesan kurang ilmiah dan salah paham.

Adapun perkataan mereka bahwa dakwah dan amar makruf nahi munkar tidak memiliki kaitan adalah klaim sepihak tanpa dasar. Sebab apabila dipahami secara menyeluruh, dakwah dan amar makruf nahi munkar memiliki relasi yang sangat kuat. Sebagaimana penjelasan Imam Ibnu Taimiyah:

وَقَدْ تَبَيَّنَ بِذَلِكَ اَنَّ الدَّعْوَةَ نَفْسَهَا أَمْرٌ بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ فَإِنَّ الدَّاعِيَ طَالِبٌ مُسْتَدْعٍ مُقْتَضٍ لِمَا دُعِيَ اِلَيْهِ وَذَلِكَ هُوَ الْأَمْرُ بِهِ

Maka sudah jelas bahwa esensi dakwah adalah memerintah kebaikan (amar makruf) dan mencegah kemungkaran (nahi munkar). Karena orang yang berdakwah pasti meminta, menyeru, dan menuntut pada apa yang ia ajak. Dan hal tersebut dinamakan perintah (amar).[4]

Dalam keterangan lain, pakar tafsir kenamaan, Imam Fakhruddin Ar-Razi, mengatakan dalam penafsirannya mengenai surat Ali Imran ayat 104:

اَلدَّعْوَةُ اِلَى الْخَيْرِ جِنْسٌ تَحْتَهُ نَوْعَانِ اَحَدُهُمَا التَّرْغِيْبُ فِيْ فِعْلِ مَا يَنْبَغِيْ وَهُوَ الْاَمْرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَالثَّانِي التَّرْغِيْبُ فِي تَرْكِ مَا لَا يَنْبَغِيْ وَهُوَ النَّهْيُ عَنِ الْمُنْكَرِ

Dakwah pada kebaikan merupakan pembagian yang di dalamnya mencakup dua hal. Pertama, seruan untuk melakukan kebaikan, ini dinamakan amar makruf. Kedua, seruan untuk meninggalkan keburukan, ini dinamakan nahi munkar.”[5]

[]waAllahu a’lam


[1] Shahih Muslim, vol. II hal. 592

[2] Ibid

[3] Shahih Ibn Hibban, vol. VII hal. 332

[4] Majmu’ Al-Fatawa, vol. XV hal. 166

[5] Tafsir Al-Kabir, vol. VIII hal. 146

Larangan Memberontak Pemerintah

Telah menjadi konsensus Ulama bahwa tindakan makar dan memberontak terhadap pemerintahan yang sah adalah haram, meskipun pemerintan fasik dan zalim. Sebagaimana penjelasan imam An-Nawawi berikut:

وَأَمَّا الْخُرُوْجُ عَلَيْهِمْ وَقِتَالُهُمْ فَحَرَامٌ بِالْإِجْمَاعِ وَإِنْ كَانُوْا فَسَقَةً ظَالِمِيْنَ

Adapun keluar dari ketaatan terhadap penyelenggara negara dan memeranginya maka hukumnya haram, berdasarkan konsensus ulama, meskipun mereka fasik dan zalim.”[1]

Dengan bahasa lain yang menyejukkan, Dr. Wahbah az-Zuhaily menegaskan dalam kitabnya yang berjudul al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu:

وَلَا يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ عَنِ الطَّاعَةِ بِسَبَبِ أَخْطَاءٍ غَيْرِ أَسَاسِيَّةٍ لَاتُصَادِمُ نَصًّا قَطْعِيًّا سَوَاءٌ أَكَانَتْ بِاجْتِهَادٍ أَمْ بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ حِفَاظًا عَلَى وِحْدَةِ الْأُمَّةِ وَعَدَمِ تَمْزِيْقِ كِيَانِهَا أَوْ تَفْرِيْقِ كَلِمَاتِهَا

Tidak diperbolehkan memberontak pemerintah sebab kesalahan yang tidak mendasar yang tidak menabrak nash qath’i, baik dihasilkan dengan ijtihad atau tidak, demi menjaga persatuan umat dan menghindari perpecahan dan pertikaian di antara mereka.”[2]

Alasannya sederhana, masuk akal, dan dapat dilihat dalam bukti sejarah. Sesuai penjelasan dalam kitab Ghayah al-Bayan bahwa pemberontakan akan mengobarkan fitnah yang lebih besar, pertumpahan darah, perselisihan antar golongan, dan seterusnya.[3]

Tidak ditemukan satu pun istilah memberontak dalam ajaran dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah. Bahkan pelaku pemberontakan disebut dengan istilah Khawarij, meskipun istilah ini mulanya hanya mengarah kepada kelompok yang membelot dari kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra., namun secara dinamis juga digunakan untuk setiap kelompok yang melakukan tindakan makar terhadap pemerintah yang sah. Sebagaimana keteranganAbu Fadhl as-Senori dalam kitab Syarh al-kawakib al-Lamma’ah:

فَكُلُّ مَنْ خَرَجَ عَلَى الْإِمَامِ الْحَقِّ الَّذِي اتَّفَقَتِ الْجَمَاعَةُ عَلَيْهِ يُسَمَّى خَارِجِيًّا سَوَاءٌ كَانَ الْخُرُوْجُ فِيْ أَيَّامِ الصَّحَابَةِ عَلَى الْأَئِمَّةِ الرَّاشِدِيْنَ اَوْ كَانَ بَعْدَهُمْ عَلَى التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ وَالْأَئِمَّةِ فِيْ كُلِّ زَمَانٍ

Setiap orang yang berbuat makar terhadap pemimpin yang sah yang menjadi kesepakatan golongan dinamakan Khawarij, baik yang berbuat makar di zaman sahabat terhadap Khulafaur Rasyidin atau para Tabi’in serta setiap pemimpin di setiap zaman seterusnya.[4]

Salah satu ulama Ahlussunnah wal Jama’ah kontemporer, Syaikh Abdul Fatah Qudaisy Al-Yafi’i, menceritakan dalam kitab Al-Manhajiyyah Al-‘Ammah Al-‘Aqidah, bahwa dalam rekam sejarah, pada saat pemerintah Islam dipimpin oleh rezim Muktazilah Jahmiyyah seperti Khalifah Al-Makmun, Al-Watsiq, dan Al-Mu’tashim, tidak satupun ulama Ahlussunnah wal Jama’ah memberontak. Mereka juga tidak pernah memfatwakan haram berjamaah di belakang para pemimpin yang bukan Ahlussunnah wal Jama’ah tersebut. Tidak pula mengharamkan agresi militer bersama mereka. Padahal pada saat itu banyak ulama seperti imam Ahmad bin Hanbal, Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan ulama besar lainnya. Demikian teladan etika ulama Ahlussunnah wal Jama’ah terhadap pemerintah.[5]

[]waAllahu a’lam


[1] Al-Minhaj Syarh Shahih al-Muslim, XII/229.

[2] al-Fiqh al-islami Wa Adillatuhu, VI/705.

[3] Ghayah al-Bayan, I/27.

[4] Syarh al-kawakib al-Lamma’ah, hal. 13.

[5] Al-Manhajiyyah Al-‘Ammah Al-‘Aqidah, 32-33

Hakikat Bela Islam

Saat ini masyarakat banyak sekali yang ghirah semangatnya terpacu ketika mendengar sautan “Bela Islam”. Mereka seolah-olah merasa bahwa menghadiri aksi “Bela Islam” adalah suatu tanggung jawab atas nama agama (jihad) yang harus untuk dilakukan.

Menanggapi fenomena seperti ini, baiknya kita selaku umat islam sebelum tergerus arus untuk mengikuti berbagai aksi bela islam ini, patutnya memahami terlebih dahulu sebenarnya apakah makna dari bela islam? Dan benarkah aksi yang mereka lakukan adalah wujud konkrit dari “Bela Islam”?

Dalam kaedah fikih dijelaskan:

العبرة بالمعنى لا بالجوهر والشكل

Hal yang menjadi pijakan adalah esensi (perbuatan) bukan bentuk dan nama

Berdasarkan kaidah diatas dapat dipahami bahwa hal-hal yang mengatasnamakan agama belum tentu itu adalah bagian dari agama. Sebab yang dipandang bukanlah nama dari suatu tindakan tapi wujud tindakannya apakah benar-benar tergolong bagian dari agama atau justru hanya sebatas kedok dengan mengatasnamakan agama yang berujung pada kegaduhan dan perpecahan bangsa.

Salah satu hal yang dianggap bagian dari agama adalah jihad, jihad bukan hanya sebatas perang atau memberantas musuh saja, tapi lebih dari itu, jihad merupakan ajaran syara’ agar setiap orang mengoptimalkan peran mereka dalam bidang yang menjadi keahliannya, dalam istilah kekinian pelaksanaan hal demikian biasa disebut dengan “bela negara”, mereka lah yang sebenarnya layak untuk menyandang predikat “mujahid” karena jasanya telah melaksanakan kewajiban fardu kifayah ini.

Penjelasan tentang “Bela Negara” salah satunya dijabarkan oleh Imam Nawawi:

إن الجهاد ليس مختصا بالأجناد وهذا أمر لم ندعه ولكن الجهاد فرض كفاية فإذا قرر السلطان له أجنادا مخصوصين ولهم أخباز معلومة من بيت المال كما هو الواقع تفرغ باقي الرعية لمصالحهم ومصالح السلطان والأجناد وغيرهم من الزراعة والصنائع وغيرها مما يحتاج الناس كلهم إليه

Jihad tidak hanya terkhusus bagi para tentara, persepsi ini adalah hal yang tidak kita akui, tetapi jihad adalah fardu kifayah (wajib bagi setiap orang secara kolektif). Ketika pemimpin telah menentukan tentara khusus dan mereka mendapatkan jatah makanan dari kas negara, sperti halnya yg terjadi sekarang. Maka rakyat sipil (non-militer) harus tetap melaksanakan perbuatan yg maslahat bagi mereka, bagi pemerintah, bagi militer dan juga bagi rakyat secara umum seperti dengan bercocok tanam, buruh kerja dan pekerjaan lain yg dibutuhkan oleh rakyat secara umum” (biografi al Imam al Nawawi, karya Abdul Ghani Daqr, Juz 1, Hal. 70-71)

Referensi diatas memberi kepahaman bahwa “bela negara” dengan bentuk mengoptimalkan peran masing-masing rakyat sesuai keahliannya justru merupakan wujud konkrit dari “bela agama” yaitu jihad.

Dengan begitu, melakukan sesuatu yang justru membuat kewajiban ini menjadi terbengkalai maka dianggap sebagai perbuatan yang tidak layak untuk dilakukan, karena akan mencegah dan menunda terlaksananya kewajiban, walaupun perbuatan ini mengatasnamakan agama.

Jangan sampai kita selaku umat islam merasa berbangga diri dan merasa benar hanya dengan mengikuti aktifitas yang sebenarnya bukan bagian dari agama, seperti yang disindir dalam Al-Qur’an:

الذين ضلّ سعيهم في الحياة الدنيا وهم يحسبون أنهم يحسنون صنعا

Orang-orang yang sesat perbuatannya di kehidupan dunia, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat baik” (QS. Al-Kahfi, Ayat 104)

Semoga kita bukan bagian orang-orang yang termasuk dalam ayat diatas. Amin. Wallahu A’lam.

sumbaer: @santrimengaji17