Tag Archives: adat

Problematika Hadiah Dalam Tradisi Walimah

Bukan menjadi rahasia lagi di masyarakat, berkembangnya sebuah tradisi untuk saling memberi hadiah ketika diselenggarakan semacam perayaan pernikahan, khitanan, dan lain-lain. Pemberian hadiah itu pun memiliki kebiasaan yang berbeda, ada yang berupa barang yang dikemas dalam sebuah kado, atau sejumlah uang yang dimasukkan dalam selembar amplop. Model pemberiannya pun sangat beragam, ada yang mencantumkan nama dan ada juga yang tidak mencantumkan nama sehingga tidak diketahui dari siapa pemberian tersebut.

Di suatu daerah tertentu, kebiasaan memberi hadiah itu menuntut bagi penerimanya untuk membalas apa yang telah diberikan apabila pihak yang memberi merayakan semacam perayaan serupa di waktu mendatang. Dengan artian, pemberian itu terkesan menjadi sebuah hutang yang dibebankan kepada penerima hadiah. Namun praktek itu sangat berbeda dengan di daerah lain, pemberian hadiah dalam sebuah acara perayaan tertentu murni merupakan hadiah tanpa adanya tuntutan untuk membalas di kemudian hari.

Secara otomatis, berbagai model tradisi pemberian tersebut akan menarik sebuah pertanyaan mengenai status hadiah tersebut. Apakah memang pemberian itu murni hadiah sehingga tidak ada tuntutan bagi penerimanya untuk mengembalikan di waktu mendatang, ataukah praktek tersebut justru merupakan praktek hutang piutang yang menuntut adanya balasan serupa sebagaimana yang telah terlaku dan mentradisis di berbagai daerah.

Dalam kitabnya, Hasyiyah I’anah at-Thalibin, syekh Abi Bakar Utsman bin Muhammad Syato ad-Dimyati memberikan pencerahan yang sangat bijak terkait persoalan tersebut:

وَمَا جَرَتْ بِهِ الْعَادَةُ فِيْ زَمَانِنَا مِنْ دَفْعِ النُّقُوْطِ فِي الْأَفْرَاحِ لِصَاحِبِ الْفَرْحِ فِيْ يَدِهِ أَوْ يَدِ مَأْذُوْنِهِ هَلْ يَكُوْنُ هِبَّةً أَوْ قَرْضًا؟ أَطْلَقَ الثَّانِيَ جمْعٌ وَجَرَى عَلَى الْأَوَّلِ بَعْضُهُمْ الى ان قال- وَجَمَّعَ بَعْضُهُمْ بَيْنَهُمَا بِحَمْلِ الْأَوَّلِ عَلَى مَا إِذَا لَمْ يُعْتَدِ الرُّجُوُعُ وَيَخْتَلِفُ بِاخْتِلَافِ الْأَشْخَاصِ وَالْمِقْدَارِ وَالْبِلَادِ وَالثَّانِيْ عَلَى مَا إِذَا اِعْتِيْدَ وَحَيْثُ عُلِمَ اخْتِلَافٌ تَعَيَّنَ مَا ذُكِرَ

Perihal adat kebiasaan yang berlaku di zaman kita, yaitu memberikan semacam kado hadiah perkawinan dalam sebuah perayaan, baik memberikan secara langsung kepada orang yang merayakan atau kepada wakilnya, apakah hal semacam itu termasuk ketegori pemberian cuma-cuma atau dikategorikan sebagai hutang?. Maka mayoritas ulama memilih mengkategorikannya sebagai hutang. Namun sebagian ulama lain lebih memilih untuk mengkategorikan pemberian itu sebagai pemberian cuma-cuma…. Sehingga dari perbedaan pendapat ini para ulama mencari titik temu dan menggabungkan dua pendapat tersebut dengan sebuah kesimpulan bahwa status pemberian itu dihukumi Hibah atau pemberian cuma-cuma apabila kebiasaan di daerah itu tidak menuntut untuk dikembalikan. Konteks ini akan bermacam-macam sesuai dengan keadaan pemberi, jumlah pemberian, dan daerah yang sangat beragam. Adapun pemberian yang distatuskan sebagai hutang apabila memang di daerah tersebut ada kebiasaan untuk mengembalikan. Apabila terjadi praktek pemberian yang berbeda dengan kebiasaan, maka dikembalikan pada motif pihak yang memberikan” (lihat: Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah).

Dari pemaparan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pemberian yang biasa dilakukan dalam momentum semacam pernikah, khitanan, dan lain-lain dibagi menjadi dua; Pertama, berstatus Hibah (pemberian cuma-cuma) apabila kebiasaan yang berlaku tidak ada tuntutan untuk mengembalikan. Kedua, berstatus Qordlu (hutang) apabila kebiasaan yang berlaku di daerah tersebut menuntut adanya pengembalian.

Dalam memandang problematika ini, syariat begitu memperhatikan praktek bagaimana sebenarnya hadiah itu diberikan dengan melihat indikasi-indikasi yang ada. Dengan begitu akan sangat jelas maksud dari pihak pemberi, apakah pemberiannya tersebut ditujukan untuk sedekah atau pemberian hutang yang menuntut balasan sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masing-masing daerah. []waAllahu a’lam

_____________________

Referensi:

Hasyiyah al-Bajuri, II/187, cet. al-Haromain.

Al-Fatawi al-Fiqhiyah Al-Kubro, III/373, cet. Maktabah al-Islamiyah.

Hasyiyah al-Jamal, III/601.

Hasyiyah I’anah at-Thalibin, III/48, Maktabah Syamilah.

 

Gema Suara Tarhim

Di kalangan masyarakat umum, mereka tidak asing lagi dengan istilah yang disebut Tarhim. Biasanya, suara Tarhim bergema melalui radio maupun kaset yang diputar dengan pengeras suara di masjid atau surau sekitar enam sampai tujuh menit sebelum adzan subuh.

Di bulan Ramadhan, gema Tarhim dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tanda permulaan waktu Imsak (menahan dari makan dan minum). Di luar bulan Ramadhan, lantunan suara tersebut bermanfaat untuk membangunkan mereka yang hendak melakukan ibadah shalat subuh.

Sudah menjadi realita, kebiasaan serta adat istiadat yang ada di masyarakat seperti ini tidak akan pernah terlepas dari polemik, baik pihak yang pro ataupun yang kontra. Adapun pihak yang menilai negatif lantaran suaranya yang kadang begitu keras sangat mengganggu, terutama mereka yang membutuhkan istirahat di jam-jam tersebut. Namun di lain pihak, justru banyak yang menganggapnya sebagai tindakan yang positif karena dapat membantu membangunkan dan mengingatkan dalam rangka beribadah.

Terkait problematika yang menjamur ini, sebenarnya para ulama salaf telah membahasnya jauh-jauh hari sebelum polemik baru itu muncul di permukaan. Salah satunya adalah syekh Abdurrahman Al-Jaziri memaparkan dalam kitab Al-Fiqhu ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah sebagai berikut:

أّمَّا التَّسَابِيْحُ وَالْاِسْتِغَاثَاتُ بِاللَّيْلِ قَبْلَ الْأَذَانِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنَّهَا لَا تَجُوْزُ، لِأَنَّ فِيْهَا إِيْذَاءً لِلنَّائِمِيْنَ الَّذِيْنَ لَمْ يُكَلِّفُهُمُ اللهُ، وَمِنْهُمْ مَنْ قَالَ: إِنَّهَا تَجُوْزُ لِمَا فِيْهِ مِنَ التَّنْبِيْهِ، فَهِيَ وَإِنْ لَمْ تَكُنْ عَلَيْهَا ضَرَرٌ شَرْعِيٌّ، وَالْأَوْلَى تَرْكُهَا، إِلَّا إِذَا كَانَ الْغَرْضُ مِنْهَا إِيْقَاظُ النَّاسِ فِيْ رَمَضَانَ، لِأَنَّ فِيْ ذَلِكَ مَنْفَعَةً لَهُمْ

Adapun mengenai bacaan tasbih dan istighosah pada malam hari sebelum adzan, sebagian ulama ada yang mengatakan tidak diperbolehkan. Karena terdapat unsur mengganggu terhadap orang-orang yang tidur yang pada dasarnya tidak terkena taklif (tuntutan syariat) dari Allah. Namun sebagian lagi ada yang mengatakan diperbolehkan, karena perkara tersebut tergolong memperingati hal yang baik. Meskipun tidak ada dampak negatif yang ditolerir syariat, kebiasaan ini lebih baik ditinggalkan kecuali ada tujuan yang baik, seperti membangunkan orang pada bulan Ramadhan. Hal yang demikianlah yang sangat bermanfaat bagi mereka” (lihat: Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, I/309, cetakan Darul Fikr).

Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa memutar radio atau kaset yang berisi bacaan Al-Qur’an atau semacamnya sebelum waktu subuh dapat dibenarkan menurut kacamata Fiqih. Bahkan kebiasaan tersebut tergolong hal yang dianjurkan, memandang kemanfaatan yang didapat lebih besar daripada dampak negatif yang ditimbulkannya. Andai terjadi hal-hal negatif, tentunya masih tergolong kewajaran yang masih ditolerir oleh syariat.

Walhasil, gema suara Tarhim ini lebih dominan dikatakan perkara yang positif, karena di dalamnya mengandung unsur membantu orang lain dalam hal kebaikan. Saling membantu dalam hal kebaikan dan ketakwaan sangat dianjurkan oleh syariat, sebagaimana berfirman Allah Swt dalam Al-Qur’an:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرَّ وَالتَّقْوَى

 
Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa”, (QS. Al-Maidah: 02).

[]waAllahu a’lam.